NovelToon NovelToon
Dihianati Setelah 20 Tahun

Dihianati Setelah 20 Tahun

Status: tamat
Genre:Selingkuh / Ibu Pengganti / Penyesalan Suami / Tamat
Popularitas:1M
Nilai: 4.9
Nama Author: husna_az

Kenanga mengabdikan hidupnya pada sang suami dan anak sambungnya, tapi pada akhirnya dia dihianati juga. Suami yang dia kira mencintainya dengan tulus nyatanya hanya kebohongan. Di dalam hatinya ternyata masih tersimpan nama sang mantan yang kini telah kembali dari luar negeri.

Rahasia yang selama ini ditutupi sang suami dan keluarga pun terbongkar. Kenanga memilih mundur dan memulai kehidupan yang baru meskipun semua itu terasa sulit.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon husna_az, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24

"Apa kalian datang ke sini hanya untuk berdiam diri saja?" tanya Halim yang telah terdiam beberapa saat.

Davina hanya diam sambil melirik ke arah Bima, berharap papanya segera berbicara. Jika tidak, pasti Halim akan terus menyindirnya. Dia sangat tahu bagaimana pria paruh baya itu akan menggunakan lisannya untuk membuat lawannya mati kutu.

"Pa, aku datang untuk meminta maaf. Aku juga ingin bertemu Kenanga dan berbicara dengannya agar mau ikut pulang bersama dengan kami," ujar Bima.

"Kenangan? Jadi Kenanga sudah pergi dari rumah kamu?" tanya Halim membuat Bima terkejut dan bingung.

Bima pun bertanya dengan gugup. "Ja—jadi Kenanga tidak ada di sini?"

"Seharusnya aku yang bertanya padamu, di mana Kenanga?"

"Kenapa bisa dia pergi dari rumahmu dan kamu sama sekali tidak tahu di mana keberadaannya? Sungguh suami yang benar-benar tidak berguna."

Bima merasa terluka harga dirinya, tapi tidak mungkin membalas ucapan mertua. Bisa-bisa nanti akan semakin menimbulkan masalah. Dia sangat tahu bagaimana Halim yang tidak akan mengalah jika berdebat. Apalagi di sini dirinya bersalah pada Kenanga.

"Pa, sebelumnya ada kesalahpahaman antara aku dan Kenanga hingga membuat kami berdebat. Kenanga akhirnya pergi dari rumah karena itu tidak tahu ke mana perginya."

"Kesalahpahaman? Yakin jika itu hanyalah kesalahpahaman bukan sebuah kebenaran? Kamu jangan mencoba untuk membohongiku. Aku lebih tahu apa yang terjadi daripada kamu sendiri."

"Pa, ini benar-benar kesalahpahaman. Aku hanya perlu berbicara dengan Kenanga. Papa tolong percaya padaku. Tentu Papa tidak ingin rumah tanggaku dan Kenanga akan berakhir, kan?"

"Kenapa tidak? Jika putriku tidak bahagia hidup bersamamu, lebih baik kalian bercerai saja. Di luar sana Kenanga pasti bisa lebih bahagia daripada hidup bersamamu. Aku juga yakin masih banyak pria yang lebih baik daripada kamu. Aku tidak akan membiarkan putriku menyia-nyiakan hidupnya untuk orang yang tidak mengerti arti cinta dan terimakasih."

"Pa, kenapa bicara seperti itu? Aku dan Kenanga masih saling mencintai. Ada Davina juga di antara kami. Apa Papa tidak kasihan terhadapnya?"

"Kasihan? Kenapa aku harus kasihan pada orang yang sudah menganggap putriku orang lain. Lagipula dia sudah berusia dua puluh tahun lebih. Aku yakin dia juga sudah bisa mengurus dirinya sendiri tanpa harus ada seorang ibu yang tidak diinginkan. Bukankah begitu, Davina?" tanya Halim sambil menatap gadis yang selama ini dirinya anggap sebagai cucunya sendiri.

Davina hanya diam dan menundukkan kepala. Dia sama sekali tidak berani berkata apa pun, khawatir jika kata-katanya malah akan semakin menjadi bumerang untuk dirinya dan sang papa. Bima pun tidak tahu harus bagaimana untuk membela putrinya.

"Sudahlah, aku tidak memiliki waktu untuk berbasa-basi lagi dengan kalian. Sebaiknya kalian segera pergi dari sini. Pintu rumah sudah tertutup untuk kalian. Lain kali tidak usah ke sini lagi. Kedatangan kalian hanya membuat udara semakin panas saja."

"Pa, ku mohon jangan seperti ini. Sebagai orang tua Papa seharusnya membantuku agar tetap bisa bersama dengan Kenanga."

"Untuk apa? Hanya untuk dijadikan sebagai pendukung saja tanpa merasakan cinta dan kasih sayang? Kamu mempertahankan Kenanga karena uang 'kan? Kamu membutuhkan dana untuk perusahaan. Kamu sudah menghianati putriku Bima, tentu kamu tidak lupakan perjanjian yang sudah kamu buat denganku saat menikahi Kenanga dulu?"

Bima terdiam dengan tubuh memegang karena terkejut saat teringat dengan perjanjiannya dulu bersama Halim. Dia bahkan sudah melupakannya karena itulah dirinya sampai berani menghianati istrinya. Sekarang sang mertua mengingatkannya kembali, sedangkan dirinya sudah sejauh ini, sudah pasti Bima tidak akan bisa mundur lagi.

"Pa, tolong jangan seperti ini. Perusahaan itu sudah dibangun oleh kakek buyutku dengan susah payah. Aku di sini hanya meneruskannya saja. Tolong jangan hancurkan usaha kami!"

"Kamu sendiri yang membuat ulah. Kamu yang menghianati Kenanga. Dulu aku sudah memperingatkanmu jika jangan macam-macam dengan keluargaku atau kamu akan tahu sendiri akibatnya. Sepertinya kamu tidak menghiraukan perkataanku."

"Pa, tolong jangan seperti ini. Papa dan mamaku pasti akan sangat marah padaku."

"Aku tidak peduli. Nanti akan ada orangku yang akan datang ke perusahaanmu sebagai wakilku. Kamu harus menjamunya dengan baik." Halim beralih menatap Toni dan berkata, "Toni, antar tamu ke depan. Ini sudah larut, sudah waktunya kita beristirahat."

Halim pun segera pergi dari sana bersama sang istri. Bima berusaha untuk menghentikan langkah mertuanya. Namun, Toni lebih dulu menghadangnya, dia bahkan sampai harus memanggil satpam yang berjaga di depan. Bima yang diseret paksa tentu saja merasa kalah. Apalagi tubuh mereka begitu besar. Pria itu pun hanya bisa menyerah meski tidak rela.

Begitu sampai depan rumah, tubuh Bima dilempar begitu saja hingga tersungkur di tanah. Davina pun mendekat dan membantu sang Papa untuk berdiri. Keduanya berjalan mendekati mobil dan berdiri di samping kendaraan tersebut.

"Pa, apa yang sebenarnya terjadi? Perjanjian apa yang Opa Halim maksud?" tanya Davina yang sejak tadi begitu penasaran.

Bima terdiam sejenak, ragu untuk menjawabnya, tapi tidak mungkin menutupinya terus-menerus. Dia pun menjawab, "Pengalihan saham sebesar dua puluh persen."

"Apa! Bagaimana bisa! Jadi maksud Papa, Papa sekarang kehilangan saham dua puluh persen milik Papa? Bukankah saham Papa di perusahaan enam puluh persen sekarang dua puluh persen milik Papa diberikan ke Opa Halim, jadi saham Papa tinggal empat puluh dong?"

"Begitulah kalau sampai Papa Halim bersatu dengan pamanmu, sudah pasti posisi Papa akan terancam," jawab Bima dengan lesu.

Bagaimana bisa dia melupakan perjanjian itu. Seharusnya memang dari awal dirinya tidak membuat perjanjian seperti itu. Dulu Bima pikir tidak mungkin menghianati Kenanga karena dia bukan tipe orang yang seperti itu, tapi ternyata hati dan takdir berkata lain. Alicia kembali dan hatinya pun masih mencintai wanita itu.

"Apa? Bagaimana bisa? Lagian kenapa sih, Papa harus membuat perjanjian seperti itu. Sampai-sampai harus menyerahkan saham segala," ujar Davina dengan kesal.

"Itu karena dulu Papa berpikir tidak akan pernah menghianati Kenanga. Apalagi Kenanga juga orang yang baik dan tulus. Papa tidak tahu jika kehadiran mamamu membuat Papa jadi goyah dan berakhir seperti ini."

"Itu karena Papa saja yang b*doh. Kalau saja Papa punya cara lain dan tidak menyerahkan saham begitu saja, pasti keadaan tidak akan seperti ini. Memangnya kenapa sih, Papa sampai memberikan saham itu?"

"Waktu itu Papa butuh dana yang cukup besar. Papa Halim yang memang awalnya belum begitu setuju dengan pernikahan kami, tentu saja membuat syarat sebagai bentuk ketulusan dari Papa. Papa juga tidak menyangka jika pada akhirnya akan seperti ini," jawab Bima dengan lesu.

Meskipun sebenarnya jika diperhitungkan secara rinci dana yang diberikan Halim selama dua puluh tahun ini tidak ada apa-apanya dengan saham dua puluh persen itu. Selama ini Bima seolah memeras mertuanya, hanya saja Kenanga yang tidak tahu. Itu karena Bima sengaja tidak memberitahukan istrinya. Hanya beberapa saja yang wanita itu ketahui.

"Ya sudahlah, semuanya juga sudah terjadi. Sekarang Papa harus pikirkan baik-baik apa yang harus kita lakukan. Sekarang sudah malam, kita mau balik atau menginap di sini?" tanya Davina sambil melihat sekeliling yang terlihat begitu sepi.

"Kita cari penginapan terdekat saja, besok baru kita pulang."

1
An'ra Pattiwael
kenanga juga bodok,,cerai zj to
An'ra Pattiwael
Thor yg benar zj mahasiswa to TDK pernah ad pertemuan ortu,,,thor,,,Thor,,,🙃
echa purin
👍
Dewa Dewi
anak sama bapa sama2 maling
𝗔𝗧𝘂𝗮 𝗞𝗼𝗲𝗶𝗻𝗮𝘁𝗮
𝑯𝒂𝒎𝒊𝒍? 𝑴𝒂𝒎𝒂𝒌 𝒌𝒂𝒏𝒅𝒖𝒏𝒈𝒏𝒚𝒂 𝒊𝒕𝒖 𝒑𝒂𝒔𝒕𝒊 𝒂𝒌𝒂𝒏 𝒌𝒂𝒔𝒊𝒉 𝒔𝒂𝒓𝒂𝒏 𝒈𝒖𝒈𝒖𝒓𝒌𝒂𝒏 𝒂𝒋𝒂... 𝑺𝒊𝒎𝒑𝒍𝒆 𝒅𝒂𝒏 𝒑𝒓𝒂𝒌𝒕𝒊𝒔... 𝒘𝒌𝒘𝒌𝒘𝒌𝒌𝒘𝒌𝒘𝒌𝒘... 𝑺𝒆𝒕𝒆𝒍𝒂𝒉 𝒅𝒊𝒈𝒖𝒈𝒖𝒓𝒌𝒂𝒏, 𝒎𝒂𝒎𝒂𝒌 𝒌𝒂𝒏𝒅𝒖𝒏𝒈𝒏𝒚𝒂 𝒊𝒕𝒖 𝒂𝒌𝒂𝒏 𝒎𝒆𝒏𝒈𝒂𝒋𝒂𝒓𝒊 𝒑𝒖𝒕𝒓𝒊𝒏𝒚𝒂 𝒃𝒂𝒈𝒂𝒊𝒎𝒂𝒏𝒂 𝒄𝒂𝒓𝒂 𝒎𝒆𝒏𝒋𝒂𝒅𝒊 𝒋𝒂**** 𝒔𝒆𝒋𝒂𝒕𝒊 𝒅𝒂𝒏 𝒎𝒆𝒏𝒋𝒆𝒓𝒂𝒕 𝒑𝒓𝒊𝒂-𝒑𝒓𝒊𝒂 𝒃𝒆𝒓𝒅𝒖𝒊𝒕 𝒏𝒂𝒏 𝒕𝒂𝒋𝒊𝒓... 𝒘𝒌𝒘𝒌𝒘𝒌𝒘𝒌𝒘𝒌𝒘𝒌... 😂😂😂
Soleh Sudarna
mampir nii thoorr.. moga ceritanya bukan cewek yg menye² yaa 😄
Punkpunk 234
ikut mampir ya thoorr.. cari novel yg bab nya singkat 🤭
Heni Setiyaningsih
dasar laki-laki pecundang bin parasit kau bima🤣🤣
Jamayah Tambi
Kamu muda lagi Davina.Bagaimana dgn kuliahmu Berkan syarat pada Alfian bahawa kamu boleh kembali tp benarkan kamu meneruskan kuliahmu.Bukan 24 jam juga bersama aTiara
Jamayah Tambi
Terus terang saja Davina bahawa kau akan kuliah lagi
Jamayah Tambi
Mahal klu uni swasta
Jamayah Tambi
Bagaimana nanti kalau Nia yg menggoda Alfian.Apa yg akan Lana buat.
Jamayah Tambi
Anak remaja seperti Lana tudak faham perasaan ayahnya.Ayahnya sudah lama menduda.Mungkin dia lebih rela ayahnya mencari perempuan bayaran.
Jamayah Tambi
kau tak tau apa2 Lana.Papamu masih muda.Dia perlu isteri
Jamayah Tambi
Ini apa lagi Rio
Jamayah Tambi
Kenapa kau nak cari pasal Davina.Jaga diri oau dan ayah mu saja
Dewa Nara
memangnya selama ini kenanga gak pernah periksa...
Jamayah Tambi
Macam2 hal dunia.Kaya yp suruh anak minta sedekah.
Dewa Nara
mahasiswa gak ada piket Thor, piket apaan
Dewa Nara
setau saya kalau sdh mahasiswa gak ada tuh yg namanya pertemuan orang tua, kan mahasiswa sdh dewasa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!