Kenanga mengabdikan hidupnya pada sang suami dan anak sambungnya, tapi pada akhirnya dia dihianati juga. Suami yang dia kira mencintainya dengan tulus nyatanya hanya kebohongan. Di dalam hatinya ternyata masih tersimpan nama sang mantan yang kini telah kembali dari luar negeri.
Rahasia yang selama ini ditutupi sang suami dan keluarga pun terbongkar. Kenanga memilih mundur dan memulai kehidupan yang baru meskipun semua itu terasa sulit.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon husna_az, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
"Apa kalian datang ke sini hanya untuk berdiam diri saja?" tanya Halim yang telah terdiam beberapa saat.
Davina hanya diam sambil melirik ke arah Bima, berharap papanya segera berbicara. Jika tidak, pasti Halim akan terus menyindirnya. Dia sangat tahu bagaimana pria paruh baya itu akan menggunakan lisannya untuk membuat lawannya mati kutu.
"Pa, aku datang untuk meminta maaf. Aku juga ingin bertemu Kenanga dan berbicara dengannya agar mau ikut pulang bersama dengan kami," ujar Bima.
"Kenangan? Jadi Kenanga sudah pergi dari rumah kamu?" tanya Halim membuat Bima terkejut dan bingung.
Bima pun bertanya dengan gugup. "Ja—jadi Kenanga tidak ada di sini?"
"Seharusnya aku yang bertanya padamu, di mana Kenanga?"
"Kenapa bisa dia pergi dari rumahmu dan kamu sama sekali tidak tahu di mana keberadaannya? Sungguh suami yang benar-benar tidak berguna."
Bima merasa terluka harga dirinya, tapi tidak mungkin membalas ucapan mertua. Bisa-bisa nanti akan semakin menimbulkan masalah. Dia sangat tahu bagaimana Halim yang tidak akan mengalah jika berdebat. Apalagi di sini dirinya bersalah pada Kenanga.
"Pa, sebelumnya ada kesalahpahaman antara aku dan Kenanga hingga membuat kami berdebat. Kenanga akhirnya pergi dari rumah karena itu tidak tahu ke mana perginya."
"Kesalahpahaman? Yakin jika itu hanyalah kesalahpahaman bukan sebuah kebenaran? Kamu jangan mencoba untuk membohongiku. Aku lebih tahu apa yang terjadi daripada kamu sendiri."
"Pa, ini benar-benar kesalahpahaman. Aku hanya perlu berbicara dengan Kenanga. Papa tolong percaya padaku. Tentu Papa tidak ingin rumah tanggaku dan Kenanga akan berakhir, kan?"
"Kenapa tidak? Jika putriku tidak bahagia hidup bersamamu, lebih baik kalian bercerai saja. Di luar sana Kenanga pasti bisa lebih bahagia daripada hidup bersamamu. Aku juga yakin masih banyak pria yang lebih baik daripada kamu. Aku tidak akan membiarkan putriku menyia-nyiakan hidupnya untuk orang yang tidak mengerti arti cinta dan terimakasih."
"Pa, kenapa bicara seperti itu? Aku dan Kenanga masih saling mencintai. Ada Davina juga di antara kami. Apa Papa tidak kasihan terhadapnya?"
"Kasihan? Kenapa aku harus kasihan pada orang yang sudah menganggap putriku orang lain. Lagipula dia sudah berusia dua puluh tahun lebih. Aku yakin dia juga sudah bisa mengurus dirinya sendiri tanpa harus ada seorang ibu yang tidak diinginkan. Bukankah begitu, Davina?" tanya Halim sambil menatap gadis yang selama ini dirinya anggap sebagai cucunya sendiri.
Davina hanya diam dan menundukkan kepala. Dia sama sekali tidak berani berkata apa pun, khawatir jika kata-katanya malah akan semakin menjadi bumerang untuk dirinya dan sang papa. Bima pun tidak tahu harus bagaimana untuk membela putrinya.
"Sudahlah, aku tidak memiliki waktu untuk berbasa-basi lagi dengan kalian. Sebaiknya kalian segera pergi dari sini. Pintu rumah sudah tertutup untuk kalian. Lain kali tidak usah ke sini lagi. Kedatangan kalian hanya membuat udara semakin panas saja."
"Pa, ku mohon jangan seperti ini. Sebagai orang tua Papa seharusnya membantuku agar tetap bisa bersama dengan Kenanga."
"Untuk apa? Hanya untuk dijadikan sebagai pendukung saja tanpa merasakan cinta dan kasih sayang? Kamu mempertahankan Kenanga karena uang 'kan? Kamu membutuhkan dana untuk perusahaan. Kamu sudah menghianati putriku Bima, tentu kamu tidak lupakan perjanjian yang sudah kamu buat denganku saat menikahi Kenanga dulu?"
Bima terdiam dengan tubuh memegang karena terkejut saat teringat dengan perjanjiannya dulu bersama Halim. Dia bahkan sudah melupakannya karena itulah dirinya sampai berani menghianati istrinya. Sekarang sang mertua mengingatkannya kembali, sedangkan dirinya sudah sejauh ini, sudah pasti Bima tidak akan bisa mundur lagi.
"Pa, tolong jangan seperti ini. Perusahaan itu sudah dibangun oleh kakek buyutku dengan susah payah. Aku di sini hanya meneruskannya saja. Tolong jangan hancurkan usaha kami!"
"Kamu sendiri yang membuat ulah. Kamu yang menghianati Kenanga. Dulu aku sudah memperingatkanmu jika jangan macam-macam dengan keluargaku atau kamu akan tahu sendiri akibatnya. Sepertinya kamu tidak menghiraukan perkataanku."
"Pa, tolong jangan seperti ini. Papa dan mamaku pasti akan sangat marah padaku."
"Aku tidak peduli. Nanti akan ada orangku yang akan datang ke perusahaanmu sebagai wakilku. Kamu harus menjamunya dengan baik." Halim beralih menatap Toni dan berkata, "Toni, antar tamu ke depan. Ini sudah larut, sudah waktunya kita beristirahat."
Ilham pun segera pergi dari sana bersama sang istri. Bima berusaha untuk menghentikan langkah mertuanya. Namun, Toni lebih dulu menghadangnya, dia bahkan sampai harus memanggil satpam yang berjaga di depan. Bima yang diseret paksa tentu saja merasa kalah. Apalagi tubuh mereka begitu besar. Pria itu pun hanya bisa menyerah meski tidak rela.
Begitu sampai depan rumah, tubuh Bima dilempar begitu saja hingga tersungkur di tanah. Davina pun mendekat dan membantu sang Papa untuk berdiri. Keduanya berjalan mendekati mobil dan berdiri di samping kendaraan tersebut.
"Pa, apa yang sebenarnya terjadi? Perjanjian apa yang Opa Ilham maksud?" tanya Davina yang sejak tadi begitu penasaran.
Bima terdiam sejenak, ragu untuk menjawabnya, tapi tidak mungkin menutupinya terus-menerus. Dia pun menjawab, "Pengalihan saham sebesar 20%."
"Apa! Bagaimana bisa! Jadi maksud Papa, Papa sekarang kehilangan saham 20% milik Papa? Bukankah saham Papa di perusahaan 60% sekarang 20% milik Papa diberikan ke Opa Halim, jadi saham Papa tinggal empat puluh dong?"
"Begitulah kalau sampai Papa Halim bersatu dengan pamanmu, sudah pasti posisi Papa akan terancam," jawab Bima dengan lesu.
Bagaimana bisa dia melupakan perjanjian itu. Seharusnya memang dari awal dirinya tidak membuat perjanjian seperti itu. Dulu Bima pikir tidak mungkin menghianati Kenanga karena dia bukan tipe orang yang seperti itu, tapi ternyata hati dan takdir berkata lain. Alicia kembali dan hatinya pun masih mencintai wanita itu.
"Apa? Bagaimana bisa? Lagian kenapa sih, Papa harus membuat perjanjian seperti itu. Sampai-sampai harus menyerahkan saham segala," ujar Davina dengan kesal.
"Itu karena dulu Papa berpikir tidak akan pernah menghianati Kenanga. Apalagi Kenanga juga orang yang baik dan tulus. Papa tidak tahu jika kehadiran mamamu membuat Papa jadi goyah dan berakhir seperti ini."
"Itu karena Papa saja yang b*doh. Kalau saja Papa punya cara lain dan tidak menyerahkan saham begitu saja, pasti keadaan tidak akan seperti ini. Memangnya kenapa sih, Papa sampai memberikan saham itu?"
"Waktu itu Papa butuh dana yang cukup besar. Papa Ilham yang memang awalnya belum begitu setuju dengan pernikahan kami, tentu saja membuat syarat sebagai bentuk ketulusan dari Papa. Papa juga tidak menyangka jika pada akhirnya akan seperti ini," jawab Bima dengan lesu.
Meskipun sebenarnya jika diperhitungkan secara rinci dana yang diberikan Ilham selama dua puluh tahun ini tidak ada apa-apanya dengan saham 20% itu. Selama ini Bima seolah memeras mertuanya, hanya saja Kenanga yang tidak tahu. Itu karena Bima sengaja tidak memberitahukan istrinya. Hanya beberapa saja yang wanita itu ketahui.
"Ya sudahlah, semuanya juga sudah terjadi. Sekarang Papa harus pikirkan baik-baik apa yang harus kita lakukan. Sekarang sudah malam, kita mau balik atau menginap di sini?" tanya Davina sambil melihat sekeliling yang terlihat begitu sepi.
"Kita cari penginapan terdekat saja, besok baru kita pulang."
semoga iya dan berjodoh dan bisa punya baby sekarang banyak bngt usia puber ke dua pada tekdung
tapi jaman sekarang yg kepala 4 tuh lagi wow kaya umur 25 th ga kelihatan tuir
ayo kenangan do something temui tuh wanita yg di cintai suamimu