NovelToon NovelToon
Gadis Culun Milik Tuan Marco

Gadis Culun Milik Tuan Marco

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Romansa Fantasi / Diam-Diam Cinta
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Lily Quinza

NOVEL INI MENGANDUNG BACAAN DEWASA || PILIHLAH BACAAN YANG BIJAK. DILARANG PLAGIARISME!

JANGAN LUPA FOLLOW INSTAGRAM: LilyQuinza || info update visual disana yah 🥰❤

"Liora, mungkin ini semua salah mengingat aku Pamanmu, tapi, jika mengingat kita tak sedarah, aku tidak perduli!"

"MarcoI—itu apa?"

"Kau harus membiasakan diri baby, cobalah berkenalan dengannya."

"Gila benda itu tidak akan cukup jika—"

"Ssstttt, Cobalah... "

"Ini sakit!"

"Sial! Kau sangat cantik saat kau tidak memakai kacamata itu!"

"Berhenti menggodaku, aku bisa gila Marco!"

Liora adalah gadis culun yang selalu menyembunyikan kecantikannya di balik kacamata tebal, pakaian sederhana, dan sikap pemalu. Ia hanya ingin menjalani kehidupan kampus dengan tenang tanpa menarik perhatian siapa pun. Namun, semua berubah karena Marco.

Marco adalah adik angkat ibu kandung Liora yang usianya hanya terpaut lima tahun darinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lily Quinza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1 Di Usir

"PERGI DARI RUMAH INI LIORA!" bentak sang ibu tiri sembari mendorong tubuh gadis itu hingga terjatuh ke jalanan aspal.

Bugh.

Hujan deras melanda kota Amsterdam, dingin mengigit menyusup ke kulit, air mata Liora Collins turun membasahi pipinya.

"Ampun Ibu, jangan usir aku...hiks."

"Tidak ada kata ampun, kau dan mendiang ayahmu hanya bisa menyusahkanku saja" sahut Audrey tanpa belas kasih.

Liora menggeleng pelan, ia bangkit dan mengambil tas yang berisi pakaian tas itu basah terkena hujan. Disepanjang jalan, ia menangis, mengingat karena tidak mempunyai siapa-siapa.

"Silahkan pergi Liora, tidak ada tempat lagi bagimu di rumah ini, ayahmu yang cacat itu sudah tiada. Kau harus pergi dari tempat ini!"

Liora merasakan dadanya sesak, ia tidak tahu kemana harus pergi, dan kali ini ia bangkit, hujan terus turun, sesekali petir mengeluarkan bunyi guntur yang memekakkan telinga.

Liora berjalan pelan, setiap langkahnya terasa berat. Andai ayah dan ibunya tidak berpisah, ia tidak akan di posisi ini. Ia tidak akan hujan-hujan menenteng tas dengan basah kuyup menyusuri jalanan yang dingin dan sepi.

Langkah demi langkah Liora terus berjalan tanpa tujuan. Sepatu yang dikenakan sudah dipenuhi air hujan. Jari-jarinya berkerut karena dingin, sementara tubuhnya mulai menggigil hebat. Namun, rasa sakit di hatinya jauh lebih menyiksa dibandingkan hujan yang membasahi seluruh tubuhnya.

Bruk!

Tanpa sengaja bahunya menabrak seseorang.

"Maaf." ucap Liora lirih tanpa berani mengangkat kepalanya.

Pria yang ditabraknya menoleh sekilas, lalu pergi begitu saja. Tidak ada yang peduli pada gadis malang sepertinya malam itu.

Liora tersenyum pahit. "Dunia memang tidak pernah berpihak kepadaku."

Matanya basah, pada akhirnya Ia duduk di sebuah halte tua yang sudah sepi. Lampu jalan di seberangnya berkedip redup, menambah suasana yang begitu menyedihkan malam itu.

Perutnya berbunyi pelan. Seharian ia belum makan. Tangannya meremas erat tas lusuh peninggalan ayahnya. Di dalam tas itu hanya ada beberapa potong pakaian dan sebuah foto lama. Dengan tangan gemetar, Liora mengeluarkan foto tersebut. Foto dirinya saat masih kecil bersama sang ayah dan sang ibu.

Pria itu tersenyum hangat sambil menggendongnya di bahu. Seketika isakan Liora pecah.

"Ayah... kenapa Ayah pergi begitu cepat?" lirihnya.

"Ayah mengatakan jika ayah akan selalu melindungi Liora," teriaknya histeris. "Kalau Ayah masih hidup, Liora tidak akan sendirian seperti ini."

Tubuhnya bergetar hebat. Namun di saat bersamaan, sebuah mobil hitam mewah melintas di jalanan yang lengang.

Lampunya menyorot ke arah halte tempat Liora duduk. Mobil itu melambat. Lalu berhenti.

Pintu belakang terbuka perlahan. Dari dalam, seorang pria tua berjas hitam turun dengan payung besar di tangannya. Tatapannya tertuju pada Liora yang sedang menangis.

Pria itu tampak terkejut.

"Sungguh gadis itu sangat mirip." gumamnya pelan.

Liora mengangkat wajahnya yang basah oleh hujan dan air mata. Kacamatanya ber embun.

"Maaf maksud Anda?" tanyanya bingung.

Pria tua itu menatapnya lekat-lekat seolah sedang memastikan sesuatu. Kemudian ia mengeluarkan sebuah foto tua dari saku jasnya. Dan saat membandingkan foto itu dengan wajah Liora, matanya membelalak.

"Tidak mungkin..."

"Apa kau Liora Collins?"

Jantung Liora berdegup kencang. Bagaimana orang asing itu bisa mengetahui namanya?

Sementara itu, petir kembali menyambar langit Amsterdam. Tanpa Liora sadari, pertemuan malam itu akan mengubah seluruh hidupnya.

Liora terpaku. Jantungnya berdebar sangat keras, saat pria tua itu menyebut namanya dengan begitu yakin.

"Kau siapa Tuan?" tanyanya pelan.

Pria tua itu menatapnya beberapa saat sebelum melepas jasnya dan menyampirkannya ke bahu Liora yang menggigil.

"Kita tidak bisa berbicara di bawah hujan seperti ini. Masuklah ke mobil terlebih dahulu."

Liora mundur selangkah. Meski ketakutan, ia juga tidak memiliki tempat lain untuk pergi.

"Aku tidak mengenal Anda."

Pria itu mengangguk pelan. "Wajar. Karena kita memang belum pernah bertemu."

Ia lalu mengeluarkan sebuah foto yang sudah terlihat usang. Foto itu memperlihatkan seorang wanita cantik berambut cokelat yang sedang tersenyum. Mata Liora membelalak.

"Itu, Ibu?"

Pria tua itu tersenyum tipis. "Ya. Aku mengenal ibumu."

Tubuh Liora langsung menegang. Sejak kecil, ibunya pergi meninggalkannya dan tak pernah kembali. Bahkan ayahnya hampir tidak pernah membicarakan wanita itu.

"Bagaimana Anda mengenal Ibuku?"

"Aku adalah sekretaris pribadi keluarga ibumu."

Deg.

Liora membeku. "Keluarga ibuku?"

"Benar."

Pria itu menarik napas panjang. "Selama ini kau tidak tahu siapa sebenarnya ibumu, bukan?"

Liora menggeleng pelan. "Ayah tidak pernah menceritakannya kepadaku."

Pria tua itu tampak memahami. "Karena ayahmu mengambil seluruh Hak asuhmu Nona. Maka dari itu, ia tidak pernah bercerita soal ibumu."

Hujan masih turun deras. Liora merasa kepalanya mulai dipenuhi berbagai pertanyaan.

"Ayo ikut denganku. Ada banyak hal yang harus kau ketahui."

Liora menatap pria itu penuh keraguan. Namun akhirnya ia mengangguk pelan. Mobil mewah itu melaju meninggalkan halte tua.

Sepanjang perjalanan, Liora hanya diam memandangi tetesan air di jendela. Hingga hampir satu jam kemudian, matanya membelalak saat mobil memasuki gerbang sebuah mansion megah yang berdiri di pinggir kota Amsterdam.

Bangunan itu terlihat seperti istana. Air mancur besar berdiri di tengah taman yang luas. Puluhan lampu menerangi halaman hingga tampak berkilauan di tengah malam. Liora menelan ludah.

"Kenapa kita ke sini?"

Pria tua itu tersenyum. "Karena ini rumahmu."

"Apa?"

Liora mengira dirinya salah dengar. "Rumahku?"

"Ya."

Mobil berhenti tepat di depan pintu utama. Para pelayan yang berjajar langsung membungkukkan badan.

"Selamat datang, Nona Liora."

Liora terdiam.

Selamat datang? Apa yang sebenarnya terjadi? Kemudian pria tua itu berkata pelan,

"Namaku Harold dan mulai malam ini, hidupmu akan berubah. Karena kau bukan gadis biasa, Nona Liora. Kau adalah satu-satunya pewaris keluarga Collins-De Vries."

Mata Liora membulat sempurna. Sementara di tempat lain, Audrey yang baru saja mengusir Liora sedang menghitung uang hasil penjualan rumah mendiang ayah gadis itu.

Ia tidak tahu. Gadis yang baru saja ia usir dengan hina kini sedang berdiri di ambang kehidupan baru yang bahkan tidak pernah bisa ia bayangkan.

1
Lilyyy
HALLO GUYS, JANGAN LUPA BERIKAN ULASAN YA JIKA BERKENAN TRIMAKASIH UNTUK YANG SUDAH MAMPIR 🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!