Di Benua Aldabaron yang dipenuhi sihir, monster, dan teknologi Rune, seorang ronin muda bernama Ryosuke Tagawa kehilangan seluruh keluarganya akibat perang yang dipicu ambisi tersembunyi Empire Krusador. Dalam pengembaraannya, ia menemukan Tenkū Matō, pedang legendaris yang ditempa dari pecahan meteor dan menguasai sihir kegelapan. Bersama katana warisannya, Nichirin-gatana, yang memiliki sihir cahaya, Ryosuke menguasai gaya pedang Hyoho Niten Ichi-ryū. Ketika pasukan Krusador menginvasi Kepulauan Great Sea dengan senjata mengerikan Beast Crust Rune Cannon, Ryosuke harus menentukan pilihan: tetap menjadi pengembara yang menghindari perang, atau bangkit melindungi mereka yang tidak mampu melawan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mr.Mounyenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11 — Menyusup ke Negeri Musuh
Ryosuke berjalan dengan tenang hingga tiba di depan pos pemeriksaan.
Seorang prajurit Krusador mengangkat tombaknya untuk menghalangi jalan.
"Berhenti."
Ryosuke menghentikan langkahnya.
"Apa tujuanmu memasuki wilayah Empire Krusador?"
"Aku hanya seorang ronin yang mencari pekerjaan."
Ryosuke tak menyinggung desa Tagawa sedikit pun, Karena ia tahu jika ia menyebut Tagawa maka dia akan langsung di tangkap oleh mereka.
Prajurit itu memperhatikan pakaian Ryosuke dari ujung kepala hingga kaki. Pandangannya kemudian berhenti pada dua katana yang tergantung di pinggangnya.
"Ronin?"
"Ya."
Prajurit itu mendengus pelan.
"Empire Krusador tidak membutuhkan ronin asing."
"Aku hanya ingin melewati wilayah ini."
"Kembali."
Ryosuke tetap berdiri.
"Aku tidak mencari masalah."
"Kau akan mendapatkannya jika tidak segera pergi."
Beberapa prajurit lain mulai mendekat.
Tangan mereka telah menggenggam gagang pedang.
Ryosuke memahami bahwa memaksa masuk hanya akan menarik perhatian seluruh garnisun perbatasan. Ia masih harus menemukan Hana, sehingga pertarungan di tempat seperti ini hanyalah tindakan bodoh.
Tanpa mengucapkan sepatah kata lagi, Ryosuke berbalik meninggalkan gerbang.
Tawa kecil beberapa prajurit terdengar dari belakangnya.
"Lihat, ronin itu bahkan tidak berani melawan."
"Biar saja. Orang seperti itu tidak akan bertahan hidup di wilayah kita."
Ryosuke terus berjalan tanpa menoleh sedikit pun.
Ia tidak datang untuk mempertahankan harga dirinya.
Ia datang untuk mencari Hana.
Beberapa ratus langkah dari gerbang, Ryosuke berhenti di bawah sebatang pohon besar yang tumbuh di pinggir jalan. Ia memandangi lalu lalang kereta dagang yang keluar masuk wilayah Krusador sambil berpikir mencari jalan lain.
Saat itulah sebuah suara terdengar dari belakangnya.
"Ronin!"
Ryosuke menoleh.
Sebuah kereta dagang berhenti tidak jauh darinya.
Seorang pria paruh baya turun dari kereta dengan senyum lebar di wajahnya.
"Aku tidak salah mengenalimu."
Ryosuke memperhatikan wajah pria itu beberapa saat sebelum akhirnya mengingat.
"Kau..."
"Benar. Aku pedagang yang kau selamatkan dari serangan monster beberapa hari lalu."
Pria itu tertawa kecil.
"Namaku Gavin."
"Aku belum sempat memperkenalkan diri waktu itu."
Ryosuke membungkukkan kepala.
"Senang bertemu lagi."
Gavin memperhatikan gerbang perbatasan, kemudian kembali memandang Ryosuke.
"Mereka mengusir mu?"
Ryosuke mengangguk pelan.
"Aku harus memasuki wilayah utama Krusador."
Gavin terdiam beberapa saat.
"Kalau begitu... mungkin aku bisa membantumu."
Ryosuke mengangkat pandangannya.
Gavin memberi isyarat agar Ryosuke mendekat ke kereta.
"Aku berdagang ke kota-kota Krusador hampir setiap bulan. Para penjaga mengenalku sebagai pedagang tetap."
Ia membuka sebuah peti kayu di dalam kereta.
Di dalamnya terdapat beberapa potong pakaian pengawal berwarna cokelat tua, lengkap dengan mantel tebal dan penutup kepala.
Gavin mengambil salah satunya.
"Mulai hari ini, kau adalah salah satu pengawal karavan ku."
Ryosuke memandang pakaian itu beberapa saat.
"Aku tidak ingin menyeret mu ke dalam masalah."
Gavin tertawa pelan.
"Kalau dulu kau tidak datang menolong kami, seluruh barang daganganku mungkin sudah habis dimakan monster."
"Anggap saja ini caraku membalas budi."
Setelah itu ia mengeluarkan sebuah topeng sederhana berwarna hitam kusam.
Topeng tersebut terbuat dari kain tebal yang menutupi sebagian besar wajah, hanya menyisakan bagian mata agar pemakainya tetap dapat melihat dengan jelas.
"Para pengawal karavan sering memakai topeng seperti ini ketika melewati jalur berdebu."
"Jadi tidak akan menarik perhatian."
Ryosuke menerima topeng tersebut.
"Terima kasih."
Tidak lama kemudian ia mengganti pakaiannya.
Jubah ronin yang selama ini dikenakannya disimpan di dalam kereta, sedangkan Nichirin-gatana dan Tenkū Matō dibungkus menggunakan kain kasar seperti barang bawaan biasa. Kedua pedang itu tetap berada dalam jangkauan tangannya, tetapi tidak lagi mencolok di mata orang lain.
Setelah semuanya siap, karavan kembali bergerak menuju gerbang.
Prajurit yang sebelumnya mengusir Ryosuke segera mengenali Gavin.
"Kau kembali?"
"Ya."
"Membawa kain dan rempah seperti biasa."
Prajurit itu memeriksa beberapa peti secara singkat sebelum mengalihkan pandangan kepada para pengawal.
Tatapannya berhenti sesaat pada Ryosuke.
"Pengawal baru?"
Gavin mengangguk santai.
"Dua orang lamaku terluka karena diserang monster."
"Aku terpaksa mencari pengganti."
Prajurit itu memperhatikan Ryosuke beberapa saat.
Topeng hitam yang menutupi wajahnya membuatnya sulit dikenali.
Setelah beberapa detik yang terasa begitu panjang, prajurit itu akhirnya menganggukkan kepala.
"Lewat."
Gerbang kayu perlahan terbuka.
Roda kereta mulai bergerak memasuki wilayah Empire Krusador.
Untuk pertama kalinya, Ryosuke berhasil menginjakkan kaki di negeri yang selama ini hanya ia kenal melalui cerita dan peperangan.
Perjalanan menuju kota garnisun memakan waktu hampir sepanjang hari.
Sepanjang jalan, Ryosuke memperhatikan setiap sudut wilayah Krusador.
Jalan-jalannya jauh lebih lebar dibandingkan Green Continent.
Benteng-benteng kecil berdiri di bukit-bukit strategis.
Patroli berkuda melintas hampir setiap jam.
Disiplin militer benar-benar menjadi bagian dari kehidupan negeri itu.
Namun, di balik kemegahan tersebut, Ryosuke juga melihat kenyataan lain.
Beberapa desa tampak miskin.
Para petani bekerja di ladang dengan pengawasan prajurit.
Anak-anak berhenti bermain setiap kali pasukan berkuda melintas.
Bahkan penduduk Krusador sendiri hidup di bawah bayang-bayang kekuasaan kekaisaran.
Menjelang senja, karavan akhirnya memasuki sebuah kota garnisun.
Tembok batu yang tinggi mengelilingi seluruh kota.
Barak-barak prajurit berdiri berjajar di sisi timur.
Gudang persenjataan memenuhi sisi barat.
Sementara di bagian tengah berdiri markas militer yang jauh lebih besar daripada bangunan lainnya.
"Selamat datang di Kota Garnisun Valen," ujar Gavin pelan.
"Sebagian besar barang daganganku dijual di sini."
Ryosuke menganggukkan kepala sambil terus mengamati keadaan.
Malam mulai turun ketika proses bongkar muat barang selesai.
Beberapa pedagang berkumpul di sebuah rumah makan dekat alun-alun kota.
Ryosuke memilih duduk di sudut ruangan sambil tetap mengenakan topengnya.
Percakapan para pedagang terdengar santai pada awalnya.
Mereka membahas harga gandum, jalur perdagangan, dan keamanan jalan.
Namun, topik pembicaraan berubah ketika salah seorang kusir menurunkan suaranya.
"Kalian dengar?"
"Apa?"
"Gadis yang dibawa dari wilayah perbatasan itu."
Beberapa orang langsung menoleh.
"Aku dengar dia masih ditahan."
"Di mana?"
"Di fasilitas militer bagian timur kota."
"Bukankah tempat itu dijaga sangat ketat?"
"Itulah sebabnya tidak ada yang berani mendekat."
Seorang pedagang lain ikut menyela.
"Aneh sekali."
"Hanya seorang gadis kecil, tetapi pengawal yang menjaganya lebih banyak daripada tahanan lain."
"Entah apa yang sebenarnya dicari pihak militer."
Ryosuke menundukkan kepala agar tidak menarik perhatian.
Tangannya perlahan mengepal di balik meja.
Seluruh petunjuk yang selama ini ia kumpulkan akhirnya mengarah ke satu tempat.
Hana.
Kemungkinan besar berada di kota garnisun ini.
Ia belum mengetahui alasan mengapa adiknya di sebut penghianat dan ditahan.
Ia juga belum mengetahui siapa yang memerintahkan semua itu.
Namun, satu hal kini telah menjadi jelas.
Perjalanannya tidak lagi sekadar mengejar rumor.
Target yang selama ini ia cari telah berada tepat di hadapannya.
Dan mulai malam itu, Ryosuke akan menyusun langkah pertamanya untuk menyelamatkan Hana dari tangan Empire Krusador.
..._BERSAMBUNG _...
cerita nya seru, like + bunga🌹 , semangat😉