Park Soo-jin, siswi baru yang pindah ke SMA Haneul di Seoul, menghadapi beban berat: biaya sekolah dan pengobatan ayah yang terus menumpuk. Saat kehabisan pilihan, ia menemukan sebuah lowongan dengan bayaran tinggi—namun tugasnya tak terduga: menjadi pemburu hantu sekolah.
Di siang hari, ia adalah siswi biasa yang berusaha mengikuti pelajaran. Di malam hari, ia menyusuri koridor sepi, ruang kelas terbengkalai, dan lorong gelap untuk menenangkan arwah yang belum tenang. Awalnya hanya demi uang, perlahan Soo-jin menyadari tugas ini mengajarkannya lebih dari sekadar keberanian: setiap bayang memiliki kisah, dan setiap perjuangan punya makna.
Akankah ia mampu bertahan menyeimbangkan kehidupan sekolah dan rahasia kelam yang tersembunyi di balik tembok sekolahnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chiechie kim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Terungkap Kematian Min jun
Pagi yang buta, jauh sebelum jam pelajaran dimulai, Ha-eun sudah tiba di sekolah dan memasuki ruang musik yang sunyi. Pintu tertutup rapat di belakangnya, seolah ia ingin menyembunyikan dirinya dari dunia luar.
Ia berjalan perlahan ke depan piano, jari-jarinya melintasi tuts yang sudah begitu familiar. Kemudian ia mulai memainkannya lagu yang dulu sering ia mainkan bersama guru itu, lagu yang dulu selalu membuat hatinya merasa tenang. Nada piano yang lembut bergema di ruangan, tapi kali ini terdengar penuh kesedihan yang mendalam, seolah itu adalah nyanyian terakhirnya.
Setelah selesai memainkan lagu itu, Ha-eun turun dari kursi piano dan menuju sudut ruangan tempat yang biasa ia duduk saat bersamanya. Ia menatap ke arah piano, mata terlihat kosong sambil memutar balik kenangan-kenangan indah yang kini hanya menyakitkan hati.
Tanpa ragu lagi, Ha-eun mengangkat bangku yang ada di sana dan meletakkannya di atas meja. Ia berdiri di atas bangku itu dengan langkah yang lembut, lalu memasukan lehernya ke dalam tali yang sudah ia ikat erat di atap langit-langit. Air mata menetes deras ke pipinya, tapi ia tidak menangis. Ia hanya menutup mata, menghela napas terakhir, dan mengakhiri hidupnya di tempat yang dulu menjadi tempat kebahagiaannya.
Di masa kini, Soo-jin yang masih terhipnotis melihat semua itu dengan mata kepala. Air mata juga menetes dari matanya ia memahami sekarang betul, apa yang membuat arwah Ha-eun tetap terjebak di sini, apa yang membuat suara piano itu terdengar begitu menyakitkan.
Di tengah keheningan yang menyusul setelah kenangan kelam itu, Min-woo tiba-tiba terpaku. Matanya tak berkedip menatap ke arah piano di sana, berdiri sosok kakaknya, Min-jun, dengan senyum lembut yang belum pernah ia lihat sejak lama.
“Seung-hyun… kau lihat tidak sosok yang ada di dekat sana?” tanya Min-woo dengan suara bergetar.
“Itu… Min-jun?” jawab Seung-hyun tak percaya, matanya membelalak kaget.
“Siapa Min-jun?” tanya Soo-jin bingung, menyusul pandangan mereka.
“Kau lihat hantu laki-laki di sana?” tunjuk Min-woo.
Soo-jin menatap lekat-lekat sosok itu, lalu mencoba mengingat-ingat potongan ingatan yang ia lihat tadi. Perlahan matanya terbelalak.
“Aku sepertinya pernah melihatnya… di mana ya… ah!” Soo-jin menunjuk ke arah sosok yang duduk sendirian di dekat piano arwah Ha-eun. “Dia! Min-jun… dia adalah pria yang sangat menyukai gadis itu, bukan? Hantu perempuan yang ada di sana!”
Min-jun masih tersenyum, menatap adiknya dengan tatapan lega, lalu perlahan mengalihkan pandangannya ke arah Ha-eun—seolah selama ini ia tak pernah pergi, dan selalu ada di sana menjaganya.
Soo-jin menatap Min-jun dari kejauhan, dan seketika itu juga ia merasa kesadarannya terhisap lagi ke dalam masa lalu kali ini, masa lalu yang dimiliki oleh kakak Min-woo itu.
Setelah mendengar berita kematian Ha-eun, Min-jun sangat terpukul. Rasa sedihnya segera berubah menjadi kemarahan yang luar biasa semua ke arah guru musik yang merusak hidup Ha-eun.
Suatu hari, Min-jun melihat pria itu berdiri sendirian di atas halaman atas gedung sekolah. Tanpa ragu, ia melangkah mendekatinya.
“Min-jun? Ada apa denganmu di sini?” tanya guru itu dengan nada yang seolah tidak peduli. “Kenapa baju mu basah dan berantakan? Apakah mereka membully mu lagi? Kenapa tidak laporkan ke orang tuamu?”
“Tidak perlu itu,itu tidak penting!” jawab Min-jun dengan suara keras, matanya menyala kemarahan. “Yang terpenting, aku akan melaporkan Bapak ke polisi! Semua yang Bapak lakukan pada Ha-eun tidak akan terlewatkan!”
Guru itu tertawa sinis. “Hahaha! Kau ngomong apa, Min-jun? Siapa yang akan percaya padamu?”
Min-jun mendekat dengan tatapan tajam, membuat guru itu mundur mundur dengan rasa takut yang mulai muncul di mata. Min-jun menggenggam kerah baju pria itu dengan kuat.
“Kamu lihat di bawah sana? Begitu tinggi bukan? Lihatlah anak-anak yang ceria bermain di sana…”
“Min-jun, hentikan ini! Bahaya!” teriak guru itu, mencoba melepaskan diri.
“Kenapa Bapak takut jatuh?” tanya Min-jun dengan nada dingin. “Lalu bagaimana dengan Ha-eun yang bunuh diri karena ulah Bapak? Apakah dia juga takut saat itu?”
Tiba-tiba, guru itu menyerang balik ia menarik Min-jun dengan kekuatan dan mulai mencekik lehernya. “Kamu sudah tahu semua! Kau tidak akan selamat!”
Mereka pun saling dorong dan bertengkar hebat di tepi lantai atas, badan mereka berguncang-guncang. Tanpa bisa dicegah, kedua mereka terjatuh bebas dari ketinggian itu, menyentuh tanah dengan bunyi yang menyakitkan telinga.
Di masa kini, Soo-jin menangis tersedu-sedu melihat semua itu. Ia akhirnya mengerti kenapa kedua arwah itu tetap terjebak di ruang musik: mereka saling mencari, saling menunggu, dan belum menemukan kedamaian yang sebenarnya.
Soo-jin segera berbalik menghadap Min-woo, lalu menggenggam erat kedua telapak tangan sahabatnya itu.
“Min-woo… pegang lah tanganku erat-erat. Sekarang kau akan melihat apa yang sebenarnya terjadi, apa yang benar-benar dialami kakakmu,” bisiknya dengan lembut namun tegas.
Min-woo mengangguk perlahan, menautkan jari-jarinya dengan jari Soo-jin. Seketika itu juga, pandangannya kabur, dan ia pun terseret masuk ke dalam penglihatan yang sama melihat dengan mata kepala sendiri kejadian yang menimpa Min-jun, pertengkaran hebat, hingga detik-detik jatuhnya kakaknya dari lantai atas gedung sekolah.
Ia melihat segalanya dengan jelas: kemarahan kakaknya demi membela Ha-eun, rasa takut guru itu, dorongan yang tak terkendali, dan akhirnya kepergian Min-jun yang tidak sempat ia ketahui sebelumnya. Tubuh Min-woo bergetar hebat, air matanya mengalir deras, namun kali ini bukan lagi karena rasa takut atau kebingungan—melainkan karena ia akhirnya tahu kebenaran yang selama ini tersembunyi.
Saat penglihatan itu perlahan memudar dan kembali ke ruang musik masa kini, Min-woo masih terisak pelan, tapi tatapannya sudah tidak lagi bingung atau penuh dendam. Ia melepaskan genggaman tangan Soo-jin, lalu melangkah perlahan mendekati sosok kakaknya yang masih berdiri tenang di dekat piano.
“hyung…” panggilnya lirih, suaranya bergetar namun jelas. “Aku akhirnya tahu. Kau tidak pergi karena kecewa pada kami… kau pergi karena ingin membela orang lain, karena tidak tahan melihat ketidakadilan.”
Min-jun tersenyum lembut, matanya berkaca-kaca seolah lega akhirnya adiknya mengerti kebenaran itu. Ia menoleh ke arah Ha-eun yang masih duduk tertunduk sendirian, lalu kembali menatap Min-woo.
“Aku tidak pernah meninggalkan tempat ini,” bisik Min-jun, suaranya terdengar samar namun bisa didengar mereka bertiga. “Aku tidak bisa pergi sebelum dia tenang. Aku berjanji akan menjaganya, dan aku menepati janji itu sampai sekarang.”
Mendengar itu, Ha-eun perlahan mengangkat wajahnya. Matanya yang dulu penuh ketakutan kini menatap Min-jun dengan pandangan yang penuh haru dan penyesalan.
“Maafkan aku…” ucap Ha-eun pelan. “Maafkan aku karena membuatmu terlibat dan ikut binasa karenaku.”
Min-jun menggeleng pelan, lalu mengulurkan tangannya ke arah gadis itu. “Tidak ada yang perlu dimaafkan. Aku melakukannya karena aku ingin melindungimu. Dan sekarang… sudah saatnya kita berhenti menahan diri di sini. Tidak ada lagi yang perlu ditakuti, tidak ada lagi yang perlu disembunyikan.”
Min-woo menatap keduanya, lalu berkata dengan suara yang mantap dan tulus:
“Kalian berdua sudah selesai dengan tugas kalian di sini. Kebenaran sudah terungkap, dan rasa sakit yang kalian simpan sudah kami pahami. Sekarang pergilah berdua… istirahatlah dengan tenang bersama.”
Perlahan-lahan, cahaya lembut mulai menyelimuti sosok Min-jun dan Ha-eun. Mereka saling menggenggam tangan, lalu menoleh sekali lagi ke arah Min-woo, Soo-jin, dan Seung-hyun sebagai tanda perpisahan. Wujud mereka perlahan memudar, berubah menjadi butiran cahaya yang terbang naik ke atas, menghilang menembus langit-langit ruang musik yang kelam itu.
Suasana ruangan pun berubah seketika. Hawa dingin yang menyakitkan lenyap, digantikan oleh udara yang terasa sejuk dan damai. Tidak ada lagi suara piano yang memekakkan telinga—hanya keheningan yang tenang.
Min-woo menarik napas panjang, merasakan beban berat yang selama ini menindih dadanya akhirnya terangkat sepenuhnya. Ia tersenyum tulus untuk pertama kalinya sejak kejadian itu, tahu bahwa kakaknya kini sudah benar-benar damai.