NovelToon NovelToon
Gadis Manja Tuan Mafia

Gadis Manja Tuan Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Action / Cintapertama
Popularitas:17.9k
Nilai: 5
Nama Author: EILI sasmaya

​Niatnya cari pelarian, malah dapet "tuan muda" kematian.

​Alicia kabur ke Italia dan mencari pria paling tampan untuk menghina selera perjodohan ayahnya. Misinya berhasil ia menemukan Dante, pria dengan visual sempurna yang mau diajaknya bermalam bersama.

Tapi keesokan paginya, Alicia baru sadar kalau dia bukan baru saja menaklukkan pria biasa, melainkan seorang predator paling ditakuti di Eropa. Ternyata, merayu bos mafia saat mabuk adalah ide terburuk yang pernah Alicia lakukan seumur hidupnya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EILI sasmaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CHAPTER 33

Malam di Jakarta Di sebuah rooftop salah satu hotel bintang lima milik keluarga Kania di kawasan Sudirman, angin malam berhembus membawa aroma polusi yang bercampur dengan parfum mahal. Area itu telah disterilkan sepenuhnya. Tidak ada tamu lain, hanya ada Alicia dan lingkaran pertemanannya yang legendaris, The V-Queens.

​Alicia berdiri di dekat pagar kaca, mengenakan gaun sutra minimalis berwarna sampanye yang menonjolkan lekuk tubuhnya yang telah kembali sempurna pasca-melahirkan. Di tangannya terdapat segelas mocktail buah naga. Di sampingnya, Kania, Donna Maria (yang terbang khusus dari Italia), dan beberapa teman SMA Alicia sedang berkumpul.

​"Alicia, jujur ya, kami semua mengira kau akan pulang dengan mata lebam atau setidaknya memakai cadar karena suamimu itu," celetuk Kania sambil tertawa, namun matanya tetap melirik waspada ke arah pintu masuk.

​"Kania, sayang, lebam itu hanya untuk mereka yang tidak tahu cara memegang kendali," sahut Alicia dengan senyum licik. "Dante memang berbahaya bagi dunia, tapi di rumah, dia hanya pria yang takut jika aku mogok bicara."

​Tepat saat itu, pintu lift terbuka. Dante Vallo melangkah keluar. Ia tidak lagi memakai setelan taktis. Sesuai instruksi Mommy Victoria, ia memakai kemeja batik sutra lengan panjang bermotif Singa Mendung yang dibuat oleh pengerajin khusus. Batik itu berwarna biru tua pekat dengan sentuhan perak. Di belakangnya, Bambang dan Marcello mengikuti, namun kali ini mereka memakai batik yang lebih sederhana agar tidak terlihat seperti sedang melakukan penggerebekan.

​Suasana reuni yang tadinya bising mendadak senyap. Teman-teman SMA Alicia yang dulu meremehkannya kini terpaku. Dante memiliki aura yang tidak bisa disembunyikan oleh kain batik sekalipun. Tatapannya tajam, langkahnya berat dan berwibawa, serta bekas luka kecil di pelipisnya memberikan kesan maskulinitas yang berbahaya.

​"Sayang," suara Dante yang rendah dan berat memecah kesunyian. "Mama Victoria menelepon. Dia bilang Leo sudah tidur, tapi dia tidak setuju dengan merk bedak yang kau tinggalkan di meja."

​Alicia tertawa kecil, melangkah mendekati Dante dan merapikan kerah batiknya di depan teman-temannya. "Biarkan saja, Sayang. Mama hanya butuh sesuatu untuk dikritik. Perkenalkan, ini teman-temanku."

​Dante mengangguk singkat ke arah para wanita sosialita itu. Ia tidak banyak bicara, namun kehadirannya sudah cukup untuk membuat suasana menjadi sangat canggung bagi mereka yang hanya terbiasa melihat pria kantoran bersetelan jas biasa. Dante adalah predator di tengah kumpulan burung merak.

​Sementara Alicia menikmati momen memamerkan suaminya yang tampan, Dante tidak bisa berlama-lama di sana. Ia memiliki janji lain yang jauh lebih mendesak. Dua jam kemudian, ia telah berada di sebuah rumah kolonial megah di kawasan Menteng, kediaman pribadi keluarga Atmadja.

​Di sebuah ruang kerja yang penuh dengan buku-buku tua dan aroma cerutu mahal, Surya Atmadja sedang menunggu. Pria itu terlihat tenang, namun Dante tahu bahwa Surya adalah sosok yang membangun kekaisaran bisnisnya di Indonesia dengan cara yang tidak jauh berbeda dengan cara Vallo menguasai Eropa, tanpa ampun.

​"Duduklah, Dante," Surya menunjuk kursi kulit di depannya. Di atas meja terdapat dua gelas wiski tanpa es. "Istriku mungkin hanya peduli pada reputasi dan gengsi dari teman-temannya, tapi aku tahu kau ke sini bukan hanya untuk syukuran bayi."

​Dante menyesap wiskinya, matanya menatap langsung ke arah mertuanya. "Mama Victoria memang sangat meyakinkan dalam membuat rencana, Papa Surya. Tapi saya tahu Anda yang memberikan izin untuk pendaratan tim pengamanan saya tanpa pemeriksaan ketat di Halim."

​Surya terkekeh pelan. "Itu keuntungan punya menantu seorang Vallo. Tapi ada harga yang harus dibayar untuk kenyamanan itu, Dante." Surya memajukan tubuhnya, suaranya merendah. "Ada sebuah faksi di pemerintahan dan dunia bawah Jakarta yang mulai mencoba mengganggu proyek reklamasi saya di pesisir utara. Mereka menggunakan jasa pembunuh bayaran dari Singapura, tapi saya dengar mereka punya koneksi dengan musuhmu di Italia."

​Dante meletakkan gelasnya. "Siapa?"

​"Faksi Lorenzo," jawab Surya singkat. "Mereka mencoba bermain di tanahku untuk memancingmu keluar. Mereka pikir Jakarta adalah tempat di mana kau kehilangan perlindunganmu. Mereka ingin menghancurkan bisnisku untuk melemahkanmu."

​Dante menarik napas panjang. Jadi, firasatnya benar. Perjalanan ini bukan sekadar liburan keluarga. Ini adalah jebakan yang sedang disusun secara global.

​"Apa yang Anda inginkan?" tanya Dante.

​"Bersihkan mereka," ucap Surya dengan nada yang sangat dingin, yang menunjukkan dari mana Alicia mendapatkan sisi kejamnya. "Aku akan menyediakan lokasinya, logistiknya, dan perlindungan hukumnya. Kau hanya perlu melakukan apa yang kau lakukan seperti biasanya di Italia. Tapi ingat, jangan sampai setetes darah pun sampai ke telinga Victoria. Jika acara syukuran Leo rusak karena kekacauan ini, aku lebih takut pada ibu mertuamu daripada seluruh faksi Lorenzo."

​Di luar rumah Menteng, Bambang sedang melakukan patroli keliling. Ia tidak menggunakan mobil mewah, melainkan berjalan kaki dengan kaos oblong hitam biasa Namun, matanya tidak berhenti memindai setiap gerak-gerik di sekitar area tersebut.

​Ia berhenti di sebuah gerobak sate yang mangkal beberapa ratus meter dari gerbang rumah Atmadja.

​"Bang, sate sepuluh tusuk," ucap Bambang dengan dialek Jakarta yang sempurna.

​Sambil menunggu sate dibakar, Bambang memperhatikan sebuah mobil van putih yang terparkir terlalu lama di sudut jalan yang gelap. Ia merogoh sakunya, mengirimkan pesan singkat ke Marcello.

​Bambang: Van putih, plat B 1092 XXX. Terlihat membawa peralatan transmisi frekuensi tinggi. Kurasa mereka sedang mencoba menyadap komunikasi di dalam rumah Menteng. Lakukan 'pembersihan' halus setelah aku selesai makan sate.

​Marcello: Diterima. Tim pembersih siap bergerak. Pastikan kau tidak membawa bau sate saat kembali ke markas, Nyonya Alicia sangat sensitif malam ini.

​Bambang tersenyum tipis. Jakarta memang panas dan macet, tapi baginya, ini adalah medan perang yang sangat familiar. Ia merindukan adrenalin ini.

​Kembali ke rooftop Sudirman, reuni Alicia mulai memasuki fase sensitif. Salah satu teman lamanya, Siska, yang sejak dulu dikenal sebagai rival Alicia dalam memperebutkan gelar "Ratu Sekolah", mendekat dengan senyum yang tidak sampai ke mata.

​"Alicia, suamimu sangat tampan. Tapi aku dengar... hidup dengan pria seperti dia itu seperti tidur di atas bom waktu. Apa kau tidak takut suatu saat Leo akan menjadi target karena dosa ayahnya?" tanya Siska dengan nada pura-pura prihatin.

​Gelas di tangan Alicia bergetar sesaat, namun ia langsung menenangkannya. Ia menatap Siska dengan pandangan meremehkan yang sangat tajam.

​"Siska, perbedaan antara aku dan kau adalah, kau takut pada bom waktu, sedangkan aku adalah orang yang memegang pemicunya," jawab Alicia tenang. "Leo tidak akan pernah menjadi target, karena siapa pun yang berani menatapnya dengan niat buruk akan menghilang dari muka bumi sebelum mereka sempat berkedip. Kau ingin tahu contohnya?"

​Alicia memberi isyarat kecil pada Marcello yang berdiri tak jauh dari sana. Marcello melangkah maju, memberikan sebuah amplop cokelat kecil pada Alicia.

​Alicia membukanya, melirik isinya, lalu memberikannya pada Siska. Di dalamnya ada foto suami Siska yang sedang bertemu dengan seorang wanita di sebuah hotel di Bali minggu lalu.

​"Suamimu bilang dia sedang dinas ke Singapura, kan?" bisik Alicia di telinga Siska yang kini memucat. "Lain kali, sebelum mengurusi 'dosa' suamiku, urusi dulu kesetiaan suamimu yang murahan itu. Jangan pernah mencoba mengusik keluargaku lagi, atau foto ini akan sampai ke tangan ayahmu yang sangat konservatif itu."

​Siska tidak berkata apa-apa. Ia segera berbalik dan meninggalkan area reuni tanpa pamit. Kania dan Donna Maria hanya bisa melongo melihat betapa cepatnya Alicia membereskan lawannya tanpa perlu berteriak.

​"Wow," gumam Kania. "Kau benar-benar sudah berubah, Alicia."

​"Aku tidak berubah, Kania. Aku hanya belajar dari pria terbaik di dunia tentang bagaimana cara mengakhiri perang sebelum ia dimulai," jawab Alicia sambil menatap ke arah pintu masuk, di mana Dante baru saja kembali dari Menteng.

​Pukul satu dini hari, Dante dan Alicia kembali ke rumah Menteng. Di dalam mobil, Leo sudah tertidur pulas di gendongan Alicia. Dante menatap istrinya, melihat kelelahan di balik riasan wajahnya yang sempurna.

​"Bagaimana reuninya?" tanya Dante lembut.

​"Membosankan. Terlalu banyak orang yang ingin tahu, tapi terlalu sedikit yang tahu cara menjaga rahasia," jawab Alicia. Ia menoleh ke arah Dante. "Papa bilang apa tadi?"

​Dante terdiam sejenak. Ia tidak ingin membebani Alicia dengan urusan faksi Lorenzo dan proyek reklamasi. "Hanya urusan bisnis biasa. Dia ingin aku memastikan pengamanan di acara syukuran nanti benar-benar sempurna."

​Alicia menyipitkan matanya. Ia tahu Dante berbohong, atau setidaknya tidak mengatakan seluruh kebenaran. "Dante... jika kau harus membunuh seseorang di tanah kelahiranku, pastikan kau melakukannya setelah acara Mama selesai. Aku tidak mau Mama Victoria mengamuk karena ada noda darah di karpet Persia barunya."

​Dante terkekeh, mencium kening Alicia. "Aku berjanji sayang. Tidak ada darah di atas karpet. Hanya akan ada keadilan di balik layar."

​Di sudut jalan Menteng, van putih yang tadi dipantau Bambang tiba-tiba meledak kecil di bagian mesinnya sebuah sabotase halus yang membuatnya harus diderek, tanpa meninggalkan jejak serangan fisik. Marcello berdiri di kegelapan, merapikan batiknya, dan berjalan pergi seolah tidak terjadi apa-apa.

​"Selamat datang di Jakarta, Tuan-tuan Lorenzo," bisik Marcello pada angin malam. "Kalian baru saja masuk ke wilayah kekuasaan Nyonya Victoria. Dan di sini, kalian tidak akan punya tempat untuk bersembunyi."

1
~SasMaya ✧
hari ini satu bab dulu ya, bab lanjutannya belum sempet revisi masih banyak typo sana sini 🤭

jika berkenan jangan lupa like di setiap bab-nya yah 🥰

terima kasih dukungannya ✨
putmelyana
next Thor ceritanya 😍
putmelyana
aaaaa gak sabar banget bca cerita selanjutnya 😮‍💨
Amila FM,IG:amilaeditslife
Alicia panutanku 🫰
Amila FM,IG:amilaeditslife
ya kan Dante bener2 dah Lo Dante dante
Tevina Anggita
senenggg bangett denger ekspresi nya si dante🤭🤭
Tevina Anggita
akhhh makinnn seruuuu, semangat up nya thorr 🤭🤭🤭🤭🤭
Mita Paramita
dante ngambek nya awet 🤣🤣🤣
Tevina Anggita
yuhuuuuuu senangnyaaaa,plis sakit mental tu lebih dalam dari pada fisik😭😭😭,semangat up nya thorr👍👍
Seblak mercon..
bagus
putmelyana
next Thor ceritanya
Amila FM,IG:amilaeditslife
makasih kak, melihat alicia yang tidak terpuruk, jadi semangat lagi 💪
putmelyana
mantep lanjut Thor ceritanya banyakin adegan romantis mereka berdua dong Thor dan kelucuan baby leon
~SasMaya ✧: /Bye-Bye/tar yah... kalau mereka udah balik ke amalfi lagi.
total 1 replies
Tevina Anggita
klau Alicia menghilang pas Dante udh memaafkan seru kayaknya 🤣
~SasMaya ✧
📌 Demi mempercepat perkembangan cerita dan menghadirkan alur dari masukan kalian, author akan update 2 bab setiap harinya. ✨

Jangan lupa bantu support dengan like dan komentar yaa~ dan jangan jadi silent reader terus 🤭
Karena dukungan kalian bikin author makin semangat untuk terus melanjutkan cerita ini 🫰🏻
Sheila Aquariana
lagi thoor
~SasMaya ✧: Terimakasih 🥰
total 1 replies
Amila FM,IG:amilaeditslife
sakit bgt bacanya. berasa sakitnya Alicia dan Dante. mungkin biar cepet baikkan ada scene Alicia mengorbankan sesuatu yang bikin Dante merasa menyesal tidak percaya lagi dgn Alicia. bisa juga Alicia harus berkorban menghilangkan jejak demi menyelamatkan Dante dan Leo dan bikin Dante terpuruk dan menyesal
~SasMaya ✧: ok sip kak..
terimakasih dukungan nya 🥰
total 1 replies
Tevina Anggita
kejam banget plis.....,Alicia di buat hilang jejak aja Thor... ngak semua salah Alicia plis..
Tevina Anggita: sippp makasihhh thorrr🤭🤭🤭🤭🤭

setelan pabrik? centill nya kah?
total 2 replies
putmelyana
Thor gaada adegan hot gtu dante Ama Alice KLO GK romantis
~SasMaya ✧: 🤣🤣 sabar yah.. Dante-nya kan masih ngambek 🤭
total 1 replies
Amila FM,IG:amilaeditslife
baik-baik ya Alicia & Dante, jangan pisah 😭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!