Maara Hayuning menikah dengan putra wanita yang telah menyebabkan ibunya mengalami koma.
Mira, ibunda Revan tak sengaja menabrak Maara dan ibunya karena kurang berkonstrasi hingga menyebabkan rahim Maara bermasalah dan ibunya koma lalu meninggal setelah berjuang untuk hidup.
Tak ingin rasa bersalah itu makin menderanya, Mira memaksa putranya Revan Adiyasa menikahi Maara sebagai bentuk tanggung jawab meski pria itu awalnya menolak karena telah memiliki kekasih.
Akankah Maara bertahan atau justru menemukan cinta yang bisa menerima kekurangannya?
Lalu bagaimana perjuangan seorang duda bernama Kenan Jayadi demi bisa menadapatkan hati Maara?
yuk simak....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon neng_86, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
pertemuan tak terduga
Semakin hari hubungan Maara dan Revan semakin jauh saja.
Keduanya bahkan tak saling menyapa meski mereka terikat sebuah pernikahan.
Maara melakukan pekerjaannya seperti biasa.
Tetap tenang seolah dunianya baik-baik saja padahal hancur lebur tak berbentuk.
"Maara.. Nanti temanin aku ke kantor pengadilan ya..." pinta Lisa yang berdiri menjulang disisi Maara.
"Pengadilan? Ngapain?" tanya Maar sedikit heran.
"Mau ketemu mas Rio.. Katanya dia ada sidang siang ini, jadi aku mau bawain titipan dari bunda" ujar Lisa sambil nyengir kecil.
Maara menggeleng.
"Baiklah, nanti aku temani.."
Lisa melebarkan senyumnya.
***
Kantor pengadilan siang ini cukup sibuk.
Petugas berpakaian coklat dan loreng terlihat wara-wiri untuk mengamakan tempat tersebut.
"Kayaknya lagi ada sidang Sa... Apa kita nggak ganggu?" resah Maara.
"Iya ya... Tapi aku bentar doang kok..."
Lisa menjawab tanpa melihat pada Maara. Dia masih celingak-celinguk mencari seseorang.
Begitu melihatnya, Lisa langsung melambaikan tangan dan sedikit berlari kearah laki-laki yang juga sedang berjalan kearahnya.
"Mas... Maaf ganggu... Ada titipan dari bunda..." ucap Lisa menyerahkan sesuatu kepada Rio, tunangannya.
"Nggak pa-pa.. Lagian kamu yang repot karena harus nganterin titipan bunda. Mana panas lagi..." Rio menyeka keringat dikening Lisa.
Hal sederhana tapi begitu membuat siapapun tersipu.
"Oh... Mas masih ingat Maara kan?" ujarnya menoleh kepada Maara.
"Masih.. Hai Maara..." sapa Rio melambaikan tangan yang diangguki oleh Maara.
Rio juga menoleh kebelakang dan mendapati seseorang yang datang menyusulnya.
"Yo... Sidang mau mulai.. Kita masuk!" ujar pria yang memiliki jambang tipis dirahangnya.
"Okey bos.. Eh, kenalin ini, pak Kenan, atasan ku di firma hukum..." ujar Rio pada keduanya.
Lisa menunduk sopan yang dibalas dengan anggukan kecil oleh Kenan.
"Aku sidang dulu ya... Kamu tunggu bentar bisa kan? Kalau mau masuk aja, lihat aku sidang" tawar Rio.
Lisa tanpa persetujuan Maara langsung mengiyakannya.
"Aku balik aja deh Sa... Udah terlalu siang ini..." cicit Maara.
"Bentar doang... Kapan lagi kita lihat secara langsung para pengacara sidang. Biasanya cuma lihat di drakor, eh ini kita dikasih kesempatan lihat langsung. Gratis lagi.. yuk..." Lisa menarik lengan Maara dan mereka memasuki ruang sidang.
Lisa sedikit melambaikan tangan kearah tunangannya.
Rio begitu gagah saat memakai baju Toga lengkap dengan Bef (dasi putih).
Harus Maara akui, Rio sangat berwibawa dengan penampilannya saat ini.
Maara masih asik memperhatikan jalannya sidang walaupun dirinya tak begitu paham saat jaksa membacakan pasal-pasal pelanggaran yang dilakukan oleh terdakwa, tapi setidaknya Maara punya pengalaman baru berkat Lisa.
Tanpa Maara sadari, sejak tadi ada sepasang mata yang terus memperhatikan dirinya.
Bukan tatapan teduh melainkan tatapan amarah.
Deg...
Maara tak sengaja bersitatap dengan Revan yang ternyata berdiri disisi meja hakim.
Susah payah Maara menelan ludahnya yang tersangkut ditenggorokan.
Perlahan, kepalanya tertunduk.
Jemarinya memilin gelisah.
"Kenapa? Kamu nggak nyaman disini?" bisik Lisa.
Maara hanya bisa mengangguk.
Lisa memutuskan membawa Maara keluar dan bertepatan dengan sidang yang juga rupanya selesai atau mungkin ditunda. Entahlah.
Lisa menahan Maara sejenak agar tak berdesakan dengan pengunjung lain.
"Huft... Aku kok jadi deg-degan ya... Padahal bukan aku yang disana..." kekeh Lisa begitu kedua perempuan itu bisa keluar dari ruang sidang.
"Kita pulang yuk..." ajak Maara lemas.
"Kamu kenapa sih? Lagian kalau kamu mau pulang cepat juga nggak ada yang nungguin... Kayak yang punya suami aja..." cemberut Lisa.
Maara meringis mendengar kalimat Lisa barusan.
Dia kan emang punya suami walaupun laki-laki itu tak pernah menganggapnya
"Siapa yang punya suami?" suara Rio membuat kedua perempuan itu berjengit kaget.
Terlebih Maara yang langsung pucat pasi.
"Mas..." seru Lisa.
"Ini Maara... Dari tadi terus ngajak pulang... Aku bilang dia kayak yang lagi punya suami aja pengen cepat pulang.. Padahal di kost juga tidur..." sindir Lisa yang disambut wajah cemberut Maara.
"Sesekali keluarlah Maara... Cari pacar..." ujar Rio ringan.
"Oh ya... kenalin, ini pak Kenan.. Ini pak Revan Adiyasa, sahabatnya pak Kenan yang bekerja disini.." ujar Rio memperkenalkan laki-laki yang berdiri disisinya.
"Aku Lisa... dan ini sabahat sekaligus partner ngajar aku disekolah..namanya Maara Hayuning atau biasa dipanggil Maara atau Ara..." ujar Lisa memperkenalkan diri dan juga Maara yang sejak tadi terus menatap kesegala arah.
Lisa menyikut lengan Maara ketika disadari tak ada suara disampingnya.
Maara yang sadar hanya bisa mengangguk kecil.
"Yo.. ajak tunangan kamu dan temannya, kita ngopi bareng... Yuk Van..." ujar Kenan yang baru saja selesai menerima telepon. Dia juga mengajak Revan ikut serta.
Rio memberi kode pada Lisa yang disambut riang oleh gadis itu.
Lagi, tanpa persetujuan Maara, Lisa menariknya masuk kedalam mobil yang dikendarai oleh Rio.
Kebetulan hari ini Maara tak membawa sepeda motornya karena bocor ban dan harus dititipkan di parkiran sekolah.
Pasrah.
Hanya itu yang kini Maara lakukan.
Sepanjang perjalanan, percakapan terus didominasi oleh pasangan Lisa dan Rio.
Kenan sesekali menimpali, sementara Maara?
Dia sibuk berperang antara hati dan isi kepalanya.
Mobil sampai disebuah cafe bergaya klasik dengan menu internasional sebagai andalannya.
"Yuk...." Rio menggandeng tangan Lisa sementara Kenan dan Maara berjalan dibelakang disusul oleh Revan disisi kiri Kenan.
Kedua pria itu terus berbicara hingga membuat Maara menjaga jarak.
Keduanya tiba di lantai 2 cafe.
Sebuah meja bulat menyambut mereka.
"Aku pesan pasta aja sama minumnya, ice chocolat..... Kamu Ra? Mau makan apa?" toleh Lisa pada Maara yang bahkan tak tahu harus makan apa.
Ini baru baginya.
Dia lebih biasa makan lalapan namun kini harus dipaksa memilih menu yang bahkan dirinya tak tahu itu apa.
"Kamu nggak terbiasa makan di cafe yang menyajikan menu barat?" tanya Kenan memecah kesunyian.
Maara mengangkat pandangannya kearah pria berusia 38 tahun itu.
Satu ringisan cukup membuat Kenan paham.
"Pesan spaghetti saja dengan saos pedas gimana? Ini menu yang umum yang bisa dimakan untuk pemula? Minumnya, orange juice aja, gimana?" tawar Kenan.
"Boleh" angguk Maara akhirnya.
"Kamu Van..?" tanya Kenan pada Revan yang bahkan sejak tadi juga diam.
"Samain aja" ujar Revan.
"Okey...," Kenan mulai membacakan pesanannya pada waiter.
"Maara juga ngajar di sekolah yang sama dengan Lisa?" tanya Kenan membuka pembicaraan.
"Hmmm.. Iya.." gumam Maara mengangguk pelan.
"Maara ini guru favorit anak-anak bahkan anak SMA juga... Dia kalau ngajar nggak pernah marah... Lembut banget pokoknya.." puji Lisa yang membuat pipi Maara bersemu.
"Waw.. keren... Kayaknya bisa deh buat guru les Loli... Dia pasti senang..." ujar Kenan meyebutkan nama putrinya.
Lisa menoleh pada Rio dan seolah paham, Rio menjelaskan siapa Loli.
"Pak Kenan ini duren.. alias duda keren... Beliau punya putri berusia 7 tahun yang cantik banget... Kamu kalau ketemu dia pasti betah deh buat lama-lama ngobrol. Dia juga pintar banget namanya Lolita atau akrab dipanggil Loli." puji Rio.
"Pak Kenan udah punya pengganti?" tiba-tiba Lisa bertanya hal pribadi yang membuat semua menoleh padanya.
Kenan terkekeh.
"Zaman sekarang susah cari yang cocok... Dalam artian cocok denganku, ibuku dan terutama putriku..."
"Wah pas...!" Lisa kembali dengan bahasa yang ambigu.
Semua pria melongo tak paham.
Lisa kembali tersenyum tipis.
Revan cuek tak perduli.
"Pas?" ulang Rio.
"Hmmm... Sahabat ku Maara ini jomblo pasti akan cocok dengan pak Kenan eh maksudnya putri pak Kenan, Loli... Gimana Ra? Okey nggak?" Lisa menggoda dengan memainkan kedua alisnya.
Revan sempat tersedak air yang baru diminumnya.
Sementara Maara yang jadi objek tak sanggup menatap mereka.
"Maara?" panggil Lisa.
Kursi yang diduduki Maara berderit.
"Maaf... Aku ke toilet sebentar" pamit Maara berlalu tanpa menunggu jawaban semua orang.
Sejak tadi hatinya gelisah apalagi dengan tatapan tajam Revan dan ditambah dengan celetukan Lisa.
Jika dia single, mungkin opsi yang Lisa tawarkan akan ia pertimbangkan, tapi ini kondisinya berbeda.
Dia istri seseorang walaupun Revan tak pernah mengaggapnya.
Berulang kali Maara menarik dan menghela nafas.
Berusaha menetralkan degup jantung yang menggila.
"Huuhhh.." Maara menghembus nafas kasar sebelum akhirnya keluar dari toilet.
Langkahnya terhenti tepat diujung lorong toilet.
"Tunggu aku diparkiran! " titah Revan.
"Tapi makananku belum datang" cicit Maara.
Revan menatap lurus seolah mengisyaratkan tak ingin dibantah.
Maara pasrah.
Dia lalu mengirimi pesan kepada Lisa jika dirinya harus segera pulang dengan alasan perutnya mulas.
Maara menunggu di parkiran sesuai perintah Revan.
Tak lama, sebuah klakson mengejutkannya.
"Cepat naik!" titah Revan.
Maara naik dan duduk dengan gelisah dikursi penumpang disamping Revan.
Tanpa keduanya sadari, seseorang melihat mereka.
"Ternyata saling kenal? Apa hubungan kalian?"
bersambung....