Dikhianati hingga tewas di dunia modern, Anya, seorang CEO jenius ahli strategi investasi, bertransmigrasi ke tubuh Permaisuri Xian—seorang istri kaisar yang lemah, miskin, dan ditindas oleh para selir di istana belakang.
Namun, si licik salah memilih lawan. Jiwa yang baru ini tidak mengenal kata menyerah. Menggunakan ilmu ekonomi modern, Anya mengobrak-abrik Paviliun Logistik, menyikat habis menteri korup, dan membalikkan keadaan hingga para musuhnya gemetar ketakutan!
Di tengah aksi balas dendamnya yang badass, Kaisar Liang yang dingin dan berwibawa justru mulai mendekat, terpikat oleh kepakan sayap sang Ratu yang baru.
"Kau sangat menarik, Xian. Katakan padaku... apa yang sebenarnya terjadi padamu?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bagus Dwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 27 CETAK BIRU GALANGAN KAPAL JIANGNAN
Satu minggu setelah sidang pemaparan visi maritim di Istana Phoenix, Anya memutuskan untuk melakukan inspeksi lapangan secara langsung. Di dunia bisnis modern, seorang direktur utama yang hanya duduk di belakang meja tanpa pernah melihat proses produksi di pabrik adalah direktur yang gagal. Dia perlu memastikan bahwa setiap koin emas yang dialokasikannya dari hasil menyita aset Asosiasi Naga Hitam benar-benar ditransformasikan menjadi infrastruktur nyata. Perjalanan ke Kota Jiangnan—kota pelabuhan terbesar di wilayah selatan—dilakukan secara semi-rahasia demi menghindari perhatian mata-mata asing yang mulai berkeliaran di ibu kota.
Kaisar Liang bersikeras untuk ikut mendampingi Anya dalam perjalanan ini. Baginya, keselamatan wanita ini kini telah menjadi prioritas di atas segala urusan negara lainnya. Mereka berjalan menyusuri area galangan kapal kekaisaran di Jiangnan yang membentang sepanjang beberapa mil di sepanjang tepi muara Sungai Yangtze yang langsung menghadap ke laut lepas. Suara dentuman palu godam memukul kayu, bau menyengat dari pelapis pinus hitam, serta hiruk-pikuk dari ribuan pekerja kasar, pengrajin kayu, dan ahli besi menciptakan sebuah simfoni industri yang sangat masif dan bertenaga.
Kaisar Liang berjalan di samping Anya dengan mengenakan pakaian samaran berupa jubah brokat sutra berwarna biru tua khas seorang saudagar kaya dari wilayah utara, sementara tangan kanannya tidak pernah berada jauh dari gagang pedang mustikanya yang tersembunyi di balik kain jubah. "Kau benar-benar seorang wanita yang penuh dengan kejutan tak terbatas, Xian," ucap Kaisar Liang dengan suara baritonnya yang berbisik rendah di dekat telinga Anya, memanfaatkan suara bising galangan kapal agar percakapan mereka tetap privat. "Saat para permaisuri dari dinasti terdahulu atau selir-selir di istana belakang sibuk memikirkan perhiasan giok apa yang harus mereka pamerkan dalam perjamuan musim semi, kau justru berdiri di sini, di tengah debu kayu dan bau minyak jelantah, memikirkan cara membangun monster laut yang bisa menghancurkan sebuah kerajaan."
Anya menoleh ke arah suaminya, menatap wajah tampan berahang kokoh itu dengan sepasang mata yang berkilat penuh keceriaan yang jarang dia perlihatkan. "Baginda, perhiasan yang indah dan mahal sekalipun hanya bisa menghias tubuh seorang wanita selama beberapa dekade sebelum dia menua. Namun, sebuah armada kapal yang kuat dan sistem ekonomi yang mandiri bisa menghias sejarah sebuah kekaisaran selama berabad-abad. Manakah menurut Anda investasi yang lebih berharga untuk masa depan kita?"
Kaisar Liang menghentikan langkah kakinya tepat di atas sebuah bukit kecil yang menghadap langsung ke arah barisan kerangka kapal raksasa yang sedang dibangun. Pria itu menatap wajah cantik Anya yang kini sedikit memerah akibat terpaan angin laut dan sengatan matahari sore. Keindahan wanita ini tidak lagi terletak pada kepasrahan atau kelembutan feminin tradisional, melainkan pada ketajaman batin dan jiwanya yang sekeras baja. Perlahan, Kaisar Liang meraih jemari lentik Anya, menggenggamnya dengan sangat erat dan hangat di balik lengan jubah mereka yang lebar.
"Bagi kekaisaran ini, armada kapal yang kau rancang adalah fajar baru yang akan membawa kemakmuran," ucap Kaisar Liang dengan nada suara yang sangat dalam dan sarat akan emosi cinta yang semakin matang. "Namun bagiku pribadi... wanita yang jiwanya sedang menyala-nyala di depanku inilah satu-satunya permata yang paling berharga. Nilai dirimu tidak akan pernah bisa ditukar dengan seribu armada kapal berlapis emas sekalipun, Xian. Keberadaanmu di sisiku adalah satu-satunya alasan mengapa tahta naga yang dingin ini akhirnya terasa hangat."
Anya merasakan dadanya bergetar menerima pengakuan yang begitu tulus dari seorang pria yang biasanya dikenal kejam dan berdarah dingin di medan perang. Di masa lalunya sebagai CEO, dia terbiasa mengabaikan segala bentuk rayuan karena tahu semuanya selalu memiliki udang di balik batu—entah mengincar hartanya atau posisinya. Namun, tatapan mata Liang saat ini begitu bersih dari kelicikan politis; pria ini benar-benar mencintai esensi dirinya yang sebenarnya. Sebelum suasana di antara mereka menjadi terlalu intens, kepala pengrajin galangan kapal Jiangnan, Master Lu, datang mendekat dengan tergesa-gesa sambil membawa gulungan perkamen kulit rusa berisi cetak biru kapal yang baru selesai dimodifikasi.
"Yang Mulia Permaisuri Xian, hamba telah mengerahkan seluruh tenaga ahli untuk menerapkan desain lambung kapal berlapis ganda dan sistem kemudi berporos modern yang Anda instruksikan pada pertemuan dinas bulan lalu," kata Master Lu dengan tubuh yang gemetar karena rasa takjub dan hormat yang luar biasa. "Desain ini sungguh ajaib! Dengan lambung berlapis ganda, bahkan jika kapal kita membentur karang tajam di laut lepas, lapisan dalam akan tetap utuh sehingga kapal tidak akan tenggelam seketika. Selain itu, sistem kemudi baru ini membuat kapal raksasa kita memiliki kecepatan putar dua kali lebih cepat daripada kapal perang tradisional milik Kerajaan Nanyang. Kami menyebut kapal prototype pertama yang hampir selesai ini sebagai 'Naga Samudra'."
Anya menerima cetak biru tersebut, membukanya di atas sebuah meja kayu kecil dan memeriksa setiap detail garis teknisnya dengan cermat menggunakan insting analisis proyeknya. "Desain strukturalnya sudah sangat bagus, Master Lu. Namun, ada satu aspek kritikal yang harus kau ubah pada kompartemen persenjataan. Jangan letakkan seluruh meriam api di atas dek terbuka. Buatlah pintu-pintu jendela geser di bagian dek bawah, tepat di atas garis air. Ini adalah strategi militer laut modern: meletakkan persenjataan berat di dek bawah akan menurunkan pusat gravitasi kapal secara signifikan, membuatnya tetap stabil dan tidak mudah terbalik saat harus menembakkan meriam di tengah badai laut yang mengamuk. Aku ingin sepuluh kapal pertama dari jenis ini selesai dalam waktu tiga bulan ke depan. Seluruh pembiayaannya akan dicairkan dari dana likuidasi gudang Asosiasi Naga Hitam tanpa penundaan sehari pun." Master Lu membungkuk hingga dahinya hampir menyentuh tanah, menyadari bahwa wanita di depannya ini bukan hanya seorang permaisuri, melainkan seorang arsitek strategi yang sangat menakutkan.