Teddy Briand Wijaya, adalah pria yang setia. Mencintai 1 wanita semenjak SMA, sampai di usia 34 tahun kenyataan yang membentur dan hampir tidak bisa dipercaya wanita bernama Zarisha Allova, memilih pria lain.
Teddy sempat hancur, pekerjaan tidak fokus, dan memilih berdiri di pinggir dermaga mencoba menenangkan hati.
Ternyata di dermaga, malah menemukan gadis yang sedang menangis sejadi-jadinya. Gara-gara tugas dari konsulernya di rumah sakit jiwa tempat dia magang, ga pernah benar.
"Aku mau bunuh diri!" Teriak gadis Aira Permata Salmi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CovieVy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
28. Perawat yang Dirawat
Aira tertegun. Pelipisnya sedikit berkedut mendapat surat perintah di saat baterainya tinggal lima persen.
"Baik lah, Bu ..." ucap Aira pasrah tapi tak rela.
Nyonya Mirna membuka pintu kamar itu dan menyilakan Aira masuk. "Kamu boleh anggap kamar ini bagai kamar pribadimu," ucap wanita paruh baya itu.
Aira yang sudah tak tahu harus mengerjakan apa, hanya bisa mengecek perban yang melekat di kepala Teddy.
"Pusing nggak, Pak?" Kali ini Aira bersikap lebih sopan, sesekali melirik pada tuan dan nyonya besar itu.
Saat ia melirik pada Teddy, ternyata ada senyum kemenangan menghiasi bibirnya. Aira mendesis dengan mata melotot. Rafleks senyuman itu hilang, bibirnya dikatupkan.
Reaksi di antara mereka berdua, disaksikan dengan senyuman dari dua orang paruh baya yang duduk di sofa mewah yang ada di sudut ruangan.
"Sepertinya, kita tak bisa menunda lagi, Pah. Aira harus segera kita boyong ke kota. Mereka harus segera kita nikahkan," bisik Nyonya Mirna pada sang suami.
"Tentu. Papa sudah bingung menjawab pertanyaan rekan lama yang menanyakan berapa cucu kita. Jadi, jika ini berhasil, kita langsungkan pernikahan mereka dengan megah. Kalau bisa, kita undang sekalian presiden negara ini."
Kedua orang tua itu tertawa tipis dan kembali menonton dua orang muda yang berbeda karakter tersebut
.
.
.
.
"Aaaaghht," ringis Teddy menekan kepalanya yang diperban.
Di saat Aira menikmati makan malam yang diberikan Nyonya Mirna, Teddy meringis karena kepalanya terasa sakit luar biasa.
"Pak Teddy? Kenapa?" Aira bangkit begitu saja dari posisinya tadi yang sedang asik menikmati makanan.
Belum sempat Aira bangkit dengan sempurna, pandangan Aira perlahan memudar dan hitam. Aira tiba-tiba ambruk membentur meja yang berisi makanan yang baru dinikmati satu suap.
"Aira?!" pekik Nyonya Mirna panik.
Teddy yang tadi meringis kesakitan, langsung turun dari ranjangnya tanpa memedulikan kepala yang terluka mendadak terasa nyeri.
Teddy merangsek maju dan menangkap tubuh Aira sebelum kepala gadis itu benar-benar jatuh ke lantai.
Bruk!
Teddy berlutut di lantai dengan napas terengah-engah. Kedua lengan kokohnya mendekap erat tubuh Aira yang sudah terkulai lemas tak sadarkan diri. Wajah gadis itu sangat pucat, dengan lingkaran hitam samar di bawah matanya.
"Aira? Ra! Bangun!" Teddy berusaha memanggil dengan volume yang naik dua oktav karena panik.
"Aduh, Teddy! Kamu ngapain turun kasur lagi?! Itu selang infusmu ketarik sampai berdarah, Nak!" seru Nyonya Mirna heboh, menunjuk tangan Teddy yang mulai dialiri darah karena jarum infusnya bergeser akibat aksi nekatnya.
"Panggil dokter, Mah! Cepat!" bentak Teddy frustrasi, sama sekali tidak memedulikan tangan dan kepalanya sendiri yang terasa sakit.
Tuan Wijaya yang tadinya duduk santai di sofa langsung bergerak cepat membuka pintu dan berteriak memanggil tim medis. Sementara itu, Nyonya Mirna sibuk memegangi tiang infus Teddy yang nyaris ambruk.
Teddy tidak memedulikan sekelilingnya lagi. Dengan sisa-sisa tenaga dari otot lengannya yang sebenarnya masih lemas, ia mengangkat tubuh Aira ala bridal style. Jalannya sempat limbung dan sempoyongan karena kepalanya berdenyut nyeri, membuat Nyonya Mirna menjerit ketakutan di belakangnya.
"Teddy! Biar Papa atau perawat lain yang angkat, kamu itu baru sadar!"
"Gak usah! Jangan ada yang menyentuh dia," tolak Teddy ketus dengan napas memburu.
Dengan wajah pucat berlumur keringat dingin, Teddy membaringkan Aira di atas ranjang VIP miliknya sendiri. Pria itu menaikkan selimut Aira hingga sebatas dada, membetulkan posisi bantalnya, bahkan menyugar anak rambut yang menutupi wajah pucat gadis itu dengan jari yang bergetar.
Detik berikutnya, Dokter Weri berlari masuk ke dalam kamar bersama dua perawat lain dengan wajah panik. Namun, langkah kaki sang dokter residen seketika terhenti di tempat. Matanya melotot melongo melihat pemandangan di depannya.
Bagaimana tidak? Pasien VIP yang harusnya terbaring lemah di kasur kini berdiri tegap bersimbah darah di bagian selang infusnya, sementara Suster Aira yang harusnya merawat pasien, malah tidur nyenyak di atas ranjang pasien dengan selimut. Posisinya tertukar total!
"Loh... Pak Teddy? Kenapa Anda di bawah dan Suster Aira yang di ranjang?" tanya Dokter Weri heran.
"Dia ini pingsan. Periksa dia sekarang!" perintah Teddy dingin.
Dokter Weri langsung maju memeriksa denyut nadi dan pupil mata Aira. Setelah beberapa menit yang menegangkan bagi Teddy, Dokter Weri akhirnya mengembuskan napas lega.
"Pak Teddy tenang saja. Suster Aira hanya mengalami kelelahan akut, dehidrasi, dan penurunan tekanan darah. Efek dinas empat puluh delapan jam tanpa istirahat dan telat makan. Saya akan pasangkan infus nutrisi untuknya agar keadaanya segera membaik."
Mendengar penjelasan itu, ketegangan di bahu tegap Teddy perlahan luruh. Ia mundur satu langkah, lalu mendudukkan dirinya di kursi kayu sebelah ranjang. Matanya terus terkunci pada wajah damai Aira yang sedang terpejam, mengabaikan lengannya sendiri yang kini sedang dibersihkan ulang oleh perawat lain.
Nyonya Mirna yang melihat pemandangan itu diam-diam menyenggol lengan suaminya dengan senyum penuh arti.
"Pah, lihat deh anakmu itu," bisik Nyonya Mirna geli. "Baru juga lolos dari maut, malah berubah perawat bagi susternya. Sampai lupa kalau dirinya sendiri yang pasien pasca-koma."
Tuan Wijaya hanya menggeleng-geleng prihatin tetapi ada ulasan senyum bangga pada sang putra.
Teddy hanya bisa pasrah. Malam ini, posisi terbalik. Pasien yang harusnya banyak istirahat, malah menjaga orang yang harusnya merawatnya.
* Bersambung *
Terima kasih kakak-kakakku yang baik, udah menemaniku sampai chapter ini. 🙏❤️
sepadan lah juragan dan boss besar besanan,,si Jovan dan keluarga nya bakalan kebakaran jenggot
kerjain sekalian si bujang lapuk,,biar kamu puasss🤭🤭🤭
jiaaah ada yg pengen jadi mokondo ternyata,,wes mending sama om2 bujang lapuk Aya Ra
pasti nanti kamu di ratukan sama bujang lapuk dan orang tuanya
bikin ted2 merana dulu 😁
calon mertua langsung gercep ga tuh
inikah novel tentang dia. biar Aira makin klepek2 dan nahan Teddy dekat dia. jadi sama-sama move on😍😍
Yakin kamu bisa ngalahin Arnold si dokter gemulai, jadi deg"an aku 🤣🤣🤣 memangnya kamu ngerti di bidang kejiwaan 🥺 awas entar salah revisi habislah Aira di marahi lagi 🤣🤣