Persahabatan selama lima belas tahun membuat Aurel percaya bahwa Kayla adalah keluarga yang dipilih oleh hati. Mereka berbagi tawa, air mata, mimpi, bahkan janji untuk selalu ada dalam setiap langkah kehidupan masing-masing.
Hingga suatu hari, semesta merobohkan semua kepercayaan itu.
Suami yang dicintainya, Mahesa, ternyata menyimpan rahasia yang tak pernah terbayangkan. Perempuan yang diam-diam mengisi ruang di hati Mahesa bukanlah orang asing, melainkan sahabat yang selama ini duduk di meja makan rumahnya, memeluknya saat ia menangis, dan mengucapkan doa terbaik di hari pernikahannya.
Yang paling menyakitkan bukanlah perselingkuhan itu sendiri, melainkan kenyataan bahwa kebohongan tersebut dibangun oleh dua orang yang paling ia percaya.
Di antara cinta, pengkhianatan, dan harga diri yang tercabik, Aurel harus memilih, bertahan demi mempertahankan keluarga, atau melepaskan semuanya meski harus kehilangan dua orang sekaligus.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erunisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32
Di sisi lain, kabar putusan sidang perceraian akhirnya sampai ke telinga Kayla.
Begitu mengetahui Mahesa dan Aurel telah resmi bercerai, Kayla merasa inilah saat yang selama ini ia tunggu.
Tanpa membuang waktu, Kayla langsung mendatangi bengkel milik Mahesa.
Beberapa karyawan saling berpandangan saat melihat Kayla datang. Mereka sudah mengetahui gosip yang beredar, sehingga hanya bisa berpura-pura sibuk.
Kayla mengetuk pintu ruang kerja Mahesa.
"Mas, aku masuk ya."
Tanpa menunggu jawaban, Kayla langsung membuka pintu.
Mahesa yang sedang memeriksa laporan keuangan mengangkat kepalanya. Seketika wajahnya berubah datar.
"Ada apa lagi?" tanya Mahesa.
Kayla tersenyum. "Selamat."
Mahesa mengernyit. "Selamat untuk apa?"
"Sekarang kamu sudah resmi bercerai."
"Artinya sudah tidak ada lagi yang menghalangi kita."
Mahesa kembali menunduk menatap berkas di depannya. "Aku sedang bekerja."
"Aku serius, Mas." Kayla menarik kursi dan duduk tepat di depan Mahesa.
"Kapan kita menikah?"
Mahesa meletakkan pulpennya perlahan. Tatapannya berubah tajam.
"Kayla."
"Aku sedang tidak ingin membahas itu."
"Tapi kita harus membahasnya." jawab Kayla.
"Aku sudah menunggu."
"Aku sudah kehilangan Ardi."
"Aku juga dimarahi orang tuaku."
"Sekarang kamu sudah bebas. Apa lagi alasanmu?"
Mahesa mengembuskan napas panjang, berusaha menahan emosinya. "Aku bilang bukan sekarang."
"Terus kapan?"
"Sebulan lagi?"
"Enam bulan?"
"Atau kamu memang tidak pernah berniat menikahiku?" Pertanyaan demi pertanyaan terus keluar dari mulut Kayla. Nada suaranya semakin tinggi.
Mahesa mulai kehilangan kesabaran. "Aku minta berhenti, Kay."
"Tidak!"
"Aku berhak tahu!"
"Aku sudah mengorbankan semuanya demi kamu!" teriak Kayla.
Mahesa berdiri dari kursinya.
"Aku juga kehilangan semuanya!" balas Mahesa.
Kayla tidak mundur sedikit pun. "Tapi kamu masih punya bengkel."
"Masih punya pekerjaan."
"Sedangkan aku?"
"Namaku sudah hancur!"
"Aku ditinggalkan Ardi."
"Dimarahi orang tuaku."
"Semua orang memandangku rendah."
"Kalau sekarang kamu juga tidak menikahiku, apa yang tersisa buatku?" kata Kayla.
Mahesa memejamkan mata beberapa detik. Ia benar-benar lelah.
Belum selesai memikirkan usaha yang mulai menurun, kini Kayla kembali menekannya.
"Aku capek, Kay."
"Aku juga capek!" teriak Kayla.
"Tapi kamu harus bertanggung jawab!"
Kalimat itu seolah menjadi pemicu amarah Mahesa jadi lebih besar.
Mahesa menggebrak meja begitu keras hingga gelas di atasnya bergetar.
Kayla refleks terdiam. Ini pertama kalinya Mahesa semarah itu kepadanya.
"Cukup!" Suara Mahesa menggema di seluruh ruangan.
"Jangan terus mendesakku!"
"Aku sedang berusaha membereskan hidupku yang hancur!"
"Semua ini berantakan!"
"Bengkelnya bermasalah!"
"Orang tuaku membuangku!"
"Aku kehilangan Aurel!"
"Dan sekarang kamu hanya memikirkan pernikahan!" kata Mahesa dengan beruntun.
Kayla menatap Mahesa dengan mata berkaca-kaca. "Lalu aku harus bagaimana?"
Mahesa mengusap wajahnya kasar. "Aku tidak tahu."
"Aku benar-benar tidak tahu." jawab Mahesa.
Jawaban itu membuat hati Kayla semakin sesak. Untuk pertama kalinya, ia mendengar langsung keraguan Mahesa. Bukan lagi soal waktu. Bukan lagi soal proses perceraian. Melainkan... Mahesa sendiri yang tidak lagi yakin dengan hubungan mereka.
Di dalam ruang kerja yang mendadak sunyi itu, keduanya sama-sama menyadari satu hal. Hubungan yang dulu dibangun dengan penuh gairah dan rahasia... Kini hanya menyisakan pertengkaran, penyesalan, dan tuntutan yang tak kunjung menemukan jalan keluar.
Mahesa masih berdiri di belakang meja kerjanya. Napasnya belum sepenuhnya teratur setelah menggebrak meja beberapa saat yang lalu.
Sementara Kayla masih mematung. Ia tidak menyangka Mahesa akan meluapkan emosi sebesar itu.
Beberapa saat ruangan dipenuhi keheningan.
Mahesa akhirnya duduk kembali. Kali ini nada bicaranya lebih pelan, tetapi terdengar sangat lelah.
"Kayla..."
"Kamu terus bicara soal menikah."
"Tapi pernah nggak kamu berpikir bagaimana hidupku sekarang?"
Kayla mengerutkan dahi. "Memangnya kenapa?"
Mahesa tertawa hambar.
"Karena semua yang dulu kupunya... sekarang sudah berubah."
Kayla masih belum mengerti.
Mahesa mengusap wajahnya sebelum melanjutkan.
"Rumah yang selama ini kutempati..."
"...aku juga tidak bisa sembarangan membawa orang masuk."
Kayla langsung memotong. "Kalau kita menikah nanti, aku kan tinggal di sana."
Mahesa langsung menggeleng. "Tidak."
Satu kata itu membuat Kayla terdiam.
"Rumah itu bukan lagi untuk kita."
"Itu adalah hak Raka."
"Hak asuh Raka sudah jatuh kepada Aurel."
"Kalau nanti Raka tinggal di sana bersama ibunya, aku tidak punya hak membawa istri baru tinggal di rumah itu."
Kayla membelalakkan mata. "Maksudmu..."
"Aku tidak boleh tinggal di rumah itu?"
Mahesa mengangguk pelan. "Rumah itu berdiri di atas tanah milik orang tua Aurel."
"Bangunannya juga hasil jerih payah dua keluarga."
"Aku sudah mengikhlaskan keputusan itu."
"Kalau nanti rumah itu menjadi tempat tinggal Raka bersama Aurel, aku harus menghormatinya."
Kayla menggigit bibir bawahnya. Ia sama sekali tidak pernah memikirkan persoalan itu.
Di benaknya selama ini, setelah Mahesa bercerai, mereka akan langsung hidup bersama di rumah tersebut.
Namun kenyataannya jauh berbeda. "Lalu kita tinggal di mana?" tanya Kayla lirih.
Mahesa menggeleng pelan. "Aku juga belum tahu."
Jawaban itu membuat dada Kayla semakin sesak. Belum sempat ia kembali berbicara, Mahesa melanjutkan.
"Itu baru soal rumah."
"Masih ada masalah lain yang jauh lebih besar."
Kayla menatap Mahesa.
"Pinjaman bank."
"Sertifikat rumah yang dulu dijadikan jaminan masih ada di bank."
"Belum lagi pinjaman di leasing."
"Dua BPKB mobil masih menjadi jaminan."
Mahesa mengembuskan napas panjang.
"Dulu..."
"Semua cicilan itu kami pikirkan bersama."
"Penghasilan Aurel ikut membantu keuangan keluarga."
"Meskipun usaha bengkel menjadi sumber penghasilan utama, gaji Aurel membuat kondisi keuangan kami jauh lebih ringan."
Mahesa tersenyum pahit.
"Sekarang..."
"Aku harus menanggung semuanya sendiri."
Kayla mulai terdiam.
Mahesa kembali membuka laporan keuangan di hadapannya.
"Belum lagi keadaan bengkel."
"Beberapa minggu terakhir aku terlalu sibuk mengurus perceraian."
"Banyak pelanggan kecewa."
"Spare part terlambat datang."
"Omzet turun."
"Bahkan ada beberapa pelanggan yang memilih pindah ke bengkel lain."
Setiap kalimat yang keluar dari mulut Mahesa terdengar semakin berat.
"Aku sedang berusaha menyelamatkan usahaku."
"Kalau bengkel ini sampai bangkrut..."
"...aku benar-benar kehilangan segalanya."
Kayla menelan ludah. Untuk pertama kalinya, ia melihat kenyataan yang selama ini tidak pernah ia pikirkan. Ia hanya membayangkan kehidupan indah setelah Mahesa resmi bercerai.
Tanpa pernah menyadari bahwa perceraian itu juga membawa begitu banyak beban.
Mahesa menatap Kayla dengan sorot mata yang lelah.
"Jadi, jangan terus mendesakku bicara soal menikah."
"Aku bahkan belum tahu bagaimana caranya membayar cicilan bulan depan."
Ruangan kembali hening. Kali ini Kayla tidak mampu membalas.
Semua bayangan tentang hidup bahagia bersama Mahesa perlahan runtuh. Ia baru menyadari bahwa laki-laki yang selama ini ia perjuangkan bukan datang dengan kehidupan yang siap dinikmati.
Melainkan dengan setumpuk tanggung jawab, utang, dan masalah yang kini harus dihadapi seorang diri. Dan kenyataan itu jauh lebih berat daripada yang pernah ia bayangkan.