NovelToon NovelToon
Pendekar Tanpa Nama

Pendekar Tanpa Nama

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Epik Petualangan / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:5.9k
Nilai: 5
Nama Author: Asep agustian

menceritakan seorang pemuda bernama Erlang mencari keadilan dan menuntut balas dendam, dan menemukan cinta sejatinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asep agustian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16: Keributan di Kedai Kediri.

Matahari sore memancarkan warna jingga keemasan saat Erlang menapakkan kakinya di wilayah pinggiran tlatah Kediri. Setelah menempuh perjalanan berhari-hari menembus perbatasan kadipaten, perutnya kembali menuntut haknya. Beruntung, di tepi jalan raya yang cukup ramai, berdiri sebuah kedai makan kayu yang cukup besar dengan papan nama anyaman bambu bertuliskan "Kedai Nyai pinah". Suasana di dalam kedai tampak cukup ramai oleh para pedagang, musafir, dan beberapa orang berpakaian ringkas khas orang-orang persilatan.

Erlang melangkah masuk dengan santai, memilih meja kayu yang agak tersudut di dekat jendela bambu yang terbuka. Ia menurunkan pikulan bambunya, menaruhnya dengan hati-hati di lantai.

"Nyai, pesan nasi pecel lauk tahu bacem sama wedang sereh hangat satu ya," panggil Erlang ramah kepada seorang wanita paruh baya bertubuh subur yang sedang sibuk di balik meja dapur.

"Nggih, Le! Tunggu sebentar ya, sedang disiapkan," sahut Nyai Pinah ramah.

Sembari menunggu pesanannya datang, pandangan mata Erlang secara tidak sengaja tertuju pada sebuah meja di bagian tengah kedai. Di sana, duduk seorang pemuda yang penampilannya sangat mencolok dan berbeda jauh dari pengunjung kedai lainnya yang rata-rata kusam dan berbau keringat.

Pemuda itu memiliki raut wajah yang luar biasa tampan, bahkan cenderung terlalu cantik untuk ukuran seorang laki-laki. Kulitnya putih bersih seperti pualam, alisnya hitam legat melengkung rapi, dan sepasang matanya jernih memancarkan aura kecerdasan yang tinggi. Ia mengenakan jubah sutra biru muda yang sangat bersih tanpa noda sedikit pun. Cara duduknya tegak, dan gerak-gerik tangannya saat menuangkan teh dari poci tanah liat terlihat sangat anggun, gemulai, namun sarat akan wibawa terselubung. Sekilas, ia sama sekali tidak cocok berada di kedai pinggiran jalan seperti ini.

"Gusti... itu pemuda atau putri keraton yang sedang menyamar ya? Ayu sekali wajahnya, tapi dandanannya laki-laki," gumam Erlang dalam hati, merasa heran dengan pemandangan asing tersebut.

Ketenangan di dalam kedai mendadak terusik saat pintu depan digebrak dengan cukup keras. Tiga orang pria bertubuh tegap dengan pakaian ringkas berwarna merah tua melangkah masuk. Di punggung mereka masing-masing tersampir sebilah pedang dengan sarung kulit satwa. Dari lambang kepala harimau yang tersemat di sabuk kulit mereka, orang-orang di dalam kedai langsung tahu bahwa mereka adalah bagian dari kelompok Sempalan Macan Wetan, faksi preman persilatan yang terkenal suka memeras dan berbuat onar di wilayah perbatasan Kediri.

"Heh, Nyai Pinah! Mana setoran minggu ini?! Cepat serahkan sebelum kami mengacak-acak tempat busukmu ini!" teriak pria yang berdiri di paling depan, seorang lelaki bermata juling dengan bekas luka cambuk di pipi kirinya.

Nyai Pinah langsung gemetar ketakutan, keluar dari dapur dengan tangan menyatu di depan dada. "A-ampun, Paman... Dagangan minggu ini sepi sekali karena hujan terus-menerus. Boleh saya minta waktu tiga hari lagi?"

"Tidak ada penundaan! Kalau tidak ada uang, barang-barang di sini kami sita!" bentak si mata juling kasar.

Saat matanya mengedar mencari barang berharga di dalam kedai, pandangan si mata juling mendadak terkunci pada pemuda tampan berjubah sutra biru murni yang sedang duduk tenang di meja tengah. Pemuda itu tampak sama sekali tidak terganggu dengan keributan yang ada, ia bahkan terus meminum tehnya dengan gerakan tangan yang sangat anggun dan perlahan.

Si mata juling memberikan isyarat kepada dua temannya. Ketiga preman persilatan itu melangkah mendekati meja si pemuda tampan, mengelilinginya dengan senyuman mesum dan merendahkan.

"Wah, wah... lihat apa yang kita temukan di sini, Teman-teman," kekeh si mata juling sambil menepuk meja pemuda itu dengan kasar. Brak! "Ada anak ayam kota yang tersesat di pinggiran Kediri. Jubahmu bagus sekali, Cah Ayu... Eh, Cah Bagus. Kulitmu juga halus sekali, pasti harganya mahal kalau dijual ke rumah pelesiran di kota."

Pemuda tampan itu menurunkan cangkir tehnya perlahan. Ia tidak menatap wajah si mata juling, melainkan mengeluarkan sehelai saputangan sutra putih dari balik lengan jubahnya untuk menyeka sudut bibirnya dengan gerakan yang luar biasa anggun.

"Tolong singkirkan tangan kotormu dari mejaku, Tuan-tuan yang tidak berpendidikan," ucap pemuda tampan itu. Suaranya terdengar jernih, bernada agak tinggi namun sangat halus, terdengar seperti denting lonceng perak yang menyejukkan. "Kalian mengotori aroma teh sereh yang sedang kunikmati."

Mendengar ucapan yang sarat akan penghinaan halus tersebut, wajah si mata juling langsung berubah menjadi merah padam karena geram. "Kurang ajar! Mulutmu manis tapi berbisa ya! Ayo berdiri! Ikut kami sekarang juga untuk menebus utang Nyai Pinah, atau aku akan merobek jubah sutra birumu ini sampai telanjang!"

Salah satu teman si mata juling, seorang pria berkepala botak, maju dan mencoba mencengkeram pundak si pemuda tampan. Namun, sebelum tangan kasar si botak menyentuh jubah sutra biru itu, si pemuda tampan menggerakkan tangan kanannya dengan sangat santai. Ia mengambil sepasang sumpit bambu dari wadah di atas meja, lalu menusukkannya ke arah pergelangan tangan si botak.

Jleb!

"Aaaakh!"

Si botak menjerit histeris. Sepasang sumpit bambu itu entah bagaimana caranya telah menembus kulit dan otot pergelangan tangannya dengan sangat presisi, mengunci aliran darahnya hingga tangannya mendadak lemas dan berlumuran darah. Gerakan pemuda tampan itu terlihat sangat gemulai, namun daya tembusnya begitu mengerikan.

"Keparat! Dia bisa silat! Cepat cabut pedang kalian!" teriak si mata juling panik sekaligus marah melihat temannya terluka dalam satu gerakan lambat.

Sreeeng! Sreeeng!

Dua bilah pedang langsung dicabut dari sarungnya, memancarkan kilatan besi yang dingin di dalam kedai. Para pengunjung kedai lainnya langsung berhamburan lari keluar lewat pintu belakang dan jendela karena ketakutan, menyisakan Erlang yang masih duduk tenang di sudut meja sembari mengunyah tahu bacemnya yang baru saja diantarkan Nyai Pinah sebelum keributan memuncak.

"Waduh... padahal tahu bacem ini enak sekali, kenapa harus ada keributan lagi toh," gumam Erlang santai, memandangi jalannya pertarungan dari mejanya.

Pemuda tampan berjubah biru itu berdiri dari kursi kayunya dengan gerakan yang sangat tenang dan anggun, melipat kedua tangannya di belakang punggung. "Kalian orang-orang dari Macan Wetan beneran hanya tahu cara menggonggong menggunakan besi karat ini ya? Sungguh memuakkan melihat cara kalian memegang pedang yang sangat kasar."

"Banyak bicara kau, Anak Haram! Rasakan ini!" teriak si mata juling.

Ia melayangkan sebuah tebasan mendatar yang sangat cepat ke arah leher si pemuda tampan, disusul oleh temannya yang tersisa yang mencoba menusuk bagian perut menggunakan pedangnya.

Pemuda tampan itu tidak menunjukkan raut panik sedikit pun. Tubuhnya bergerak meliuk dengan sangat luwes, mirip seperti seorang penari keraton yang sedang melenggok menghindari rintik hujan. Jubah sutra birunya berkibar indah di udara, menciptakan bayangan yang membingungkan pandangan mata kedua preman tersebut. Setiap kali mata pedang lawan hampir merobek kain jubahnya, si pemuda tampan selalu berhasil menghindar hanya berjarak seujung rambut dengan ketenangan yang luar biasa.

Erlang yang menonton dari sudut kedai langsung membelalakkan matanya, menghentikan kunyahan tahu bacemnya. Energi tak terbatas dari kitab kuno di dalam dadanya kembali bergetar halus, membuat Erlang bisa melihat dengan sangat jelas struktur gerakan dari pemuda tampan tersebut.

“Luar biasa... Gerakan kakinya sangat halus, berpusat pada pergelangan kaki yang lentur. Aliran tenaganya bukan tipe menghancurkan seperti milikku, melainkan tipe menyerap dan membalikkan arah angin serangan lawan. Ini benar-benar jenis silat yang sangat anggun,” batin Erlang menganalisis dengan penuh kagum, memindai dan langsung memahami intisari dari gerakan bela diri asing yang baru pertama kali dilihatnya itu.

"Sialan! Kenapa susah sekali mengenainya?!" teriak si mata juling frustrasi karena seluruh tebasan pedangnya hanya mengenai angin kosong sejak tadi.

"Karena gerakan kalian terlalu penuh dengan hawa nafsu yang kotor," jawab si pemuda tampan lembut.

Ia menggeser kaki kanannya ke depan, lalu dengan gerakan tangan terbuka yang terlihat sangat gemulai mirip gerakan memetik bunga, ia menepuk pergelangan tangan si mata juling yang sedang memegang pedang. Plak! Sentuhan lembut itu membuat pergelangan tangan si mata juling mati rasa seketika, menyebabkan pedangnya terlepas dan jatuh berdentang di lantai papan kedai.

Pertarungan di tengah kedai Nyai Pinah itu masih terus berlangsung sengit, di mana dua preman dari kelompok Sempalan Macan Wetan kian terdesak dan kewalahan menghadapi keanggunan silat misterius milik sang pemuda tampan berjubah sutra biru yang bertingkah luar biasa anggun tersebut.

1
anggita
novel laga lokal yg cukup menghibur 👌
anggita
nama jurus yg sederhana namun tetap keren👌👍
Rokok Remik
sampai bab ini ceritanya bagus.
erlang terlalu polos, untung bukan ltipe musang birahi /Facepalm/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!