Hidup seorang wanita hancur dalam satu malam setelah memergoki tunangannya berselingkuh dengan orang terdekatnya. Dalam kondisi patah hati dan mabuk berat, dia tidak sengaja menghabiskan malam yang penuh gairah dengan seorang pria asing di dalam kamar hotel mewah. Pria itu ternyata adalah seorang CEO muda terkaya yang terkenal sangat dingin, kejam, dan berkuasa di dunia bisnis.
Keesokan paginya, wanita itu kabur karena panik dan memilih menghilang tanpa jejak. Enam tahun kemudian, dia terpaksa kembali ke ibu kota demi menghidupi anak kembar hasil dari malam itu. Tanpa diduga, anak kembarnya malah tidak sengaja bertemu dengan sang CEO karena wajah mereka yang sangat mirip.
Sang CEO yang selama ini terobsesi mencari wanita misterius dari masa lalunya langsung bergerak cepat. Begitu tahu kebenarannya, dia langsung menjerat wanita itu masuk ke dalam hidupnya kembali melalui pernikahan paksa demi hak asuh anak. Dari sinilah hubungan mereka yang penuh gengsi, rahasia, dan ketegangan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Abil_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pintu Kamar yang Terbuka
Gemuruh suara lampu kilat kamera dan riuh pertanyaan para jurnalis perlahan memudar begitu pintu kedap suara ruang VIP tertutup rapat di belakang mereka. Eli seketika melepaskan genggaman tangannya pada lengan kekar Xavier. Tubuhnya merosot sedikit, bersandar pada dinding marmer yang dingin dengan napas yang terengah-engah. Telapak tangannya basah oleh keringat dingin. Ketegangan selama tiga puluh menit di depan publik tadi terasa jauh lebih melelahkan daripada berlari maraton belasan kilometer.
Xavier membalikkan badannya, menatap wanita yang kini resmi diumumkan sebagai istrinya ke seluruh penjuru negeri. Sudut bibir pria itu terangkat sedikit, membentuk guratan senyum tipis yang sarat akan kepuasan mutlak.
"Kamu melakukannya dengan sangat baik, Eli Arisatya," ujar Xavier, suara baritonnya yang rendah terdengar bergema di dalam ruangan yang sunyi. Pria itu melangkah maju, mempersempit jarak di antara mereka hingga aroma maskulin yang mewah kembali mengurung pergerakan Eli.
Eli mendongak, menatap sepasang mata elang Xavier dengan sisa kekesalan yang masih bersarang di dadanya. "Aku hanya melakukan apa yang tertulis di skenariomu, Xavier. Jangan berharap lebih. Sekarang, konferensi pers sudah selesai. Seluruh dunia sudah tahu tentang kebohongan ini. Jadi, bisakah kita pulang? Aku ingin melihat Kenji dan Kiana."
Tepat setelah Eli menyelesaikan kalimatnya, pintu ruang VIP diketuk dari luar. Daniel melangkah masuk dengan ekspresi wajah profesional seperti biasa, diikuti oleh Bibi Ami yang menggandeng tangan Kenji dan Kiana. Begitu melihat sang ibu, Kiana langsung melepaskan gandengannya dan berlari kencang memeluk kaki Eli.
"Ibu! Tadi Kiana lihat Ibu di TV besar! Ibu cantik sekali seperti putri raja!" seru Kiana dengan mata bulatnya yang berbinar-binar bahagia. Rasa takutnya pada tempat asing ini tampaknya mulai terkikis oleh kemewahan mainan yang diberikan Daniel selama menunggu.
Eli langsung berlutut, mendekap erat tubuh mungil putrinya dengan senyuman yang kali ini benar-benar tulus. "Terima kasih, Sayang. Kiana juga sangat cantik hari ini."
Sementara itu, Kenji berjalan lambat di belakang adiknya. Bocah lima tahun itu tidak menghampiri Eli, melainkan berhenti tepat di hadapan Xavier. Kenji mendongak, menatap pria jangkung berjas mewah itu dengan tatapan mata yang sama persis—dingin, tajam, dan penuh selidik.
"Paman... maksudku, kata orang di TV tadi, Anda adalah Papa kami yang sebenarnya. Apakah itu benar?" tanya Kenji, suaranya terdengar datar namun menuntut jawaban yang jujur. Bocah cerdas itu tampaknya menyerap setiap kata dari siaran langsung tadi dengan sangat baik.
Xavier tertegun sejenak. Keberanian alami Kenji selalu berhasil memancing rasa kagum di dalam hatinya. Xavier berjongkok, menyamakan tingginya dengan sang putra sulung. Untuk pertama kalinya, Xavier meletakkan tangan besarnya di atas bahu kecil Kenji.
"Benar. Aku tidak pernah berbohong tentang hal itu, Kenji," jawab Xavier dengan nada tegas namun tidak mengintimidasi. "Mulai hari ini, tidak akan ada lagi orang yang berani mengusik hidup kalian atau menganggap kalian tidak punya ayah. Di kota ini, siapa pun yang mendengar nama Arisatya di belakang namamu, mereka harus tunduk."
Kenji terdiam, mencerna kata-kata Xavier dengan kerutan dalam di dahinya, sebelum akhirnya memalingkan wajah dan berjalan mendekati Eli. Sikap cuek dan angkuh dari putra kandungnya itu justru membuat Xavier mendengus geli. Gen Arisatya di dalam tubuh Kenji benar-benar terlalu kuat.
"Daniel, siapkan mobil. Kita kembali ke mansion sekarang," perintah Xavier sambil kembali berdiri tegak, merapikan kancing jasnya.
"Baik, Tuan Xavier," jawab Daniel patuh.
Perjalanan pulang menuju mansion dilewati dalam keheningan yang cukup panjang. Di kursi belakang Rolls-Royce yang mewah, Kenji dan Kiana tertidur pulas karena kelelahan setelah seharian menjadi pusat perhatian tak kasatmata. Eli menatap keluar jendela mobil, menyaksikan gedung-gedung pencakar langit ibu kota yang bergerak menjauh. Di dalam benaknya, dia tahu bahwa setelah hari ini, hidupnya tidak akan pernah sama lagi. Adrian dan Valencia pasti sudah melihat siaran itu. Mereka pasti sedang ketakutan setengah mati, atau mungkin... sedang merencanakan sesuatu yang lebih nekat.
Begitu mereka tiba di mansion, para pelayan langsung menyambut dengan tundukan kepala yang jauh lebih dalam dan hormat daripada sebelumnya. Berita konferensi pers telah menyebar ke seluruh penjuru rumah, menegaskan posisi Eli sebagai ratu baru di kediaman mewah ini.
Setelah membimbing anak-anak kembali ke kamar mereka dan memastikan kedua sibuah hati terlelap dengan nyaman di bawah pengawasan Bibi Ami, Eli melangkah menuju kamarnya sendiri. Tubuhnya terasa sangat lengket dan pegal. Dia segera masuk ke dalam kamar mandi mewah yang berdinding marmer putih, berendam di dalam bathtub yang dipenuhi air hangat dan busa aroma terapi selama hampir satu jam untuk melepas seluruh penat dan ketakutan yang menumpuk sejak pagi.
Saat Eli keluar dari kamar mandi dengan mengenakan jubah tidur sutra panjang berwarna putih gading, rambutnya yang basah terurai di bahunya, dia seketika menghentikan langkah kakinya di ambang pintu. Jantungnya serasa mencopot dari tempatnya.
Pintu penghubung yang membatasi kamarnya dengan kamar kerja pribadi Xavier... malam ini terbuka lebar.
Dan di sana, di dekat area ruang duduk kamar Eli yang luas, Xavier sedang duduk santai di atas sofa kulit hitam. Pria itu sudah berganti pakaian dengan jubah tidur sutra berwarna hitam pekat yang senada dengan milik Eli. Dua kancing teratasnya terbuka, menampilkan bagian dada bidangnya yang atletis dan kulit tan-nya yang eksotis di bawah temaramnya lampu tidur. Di tangannya, terdapat sebuah gelas kristal berisi cairan amber yang dia sesap perlahan.
"Kenapa kamu ada di sini, Xavier?" tanya Eli dengan suara yang mendadak bergetar. Dia refleks mengeratkan ikatan tali jubah tidurnya, menatap waspada pada sang suami. "Bukankah kita sudah sepakat bahwa kamar ini adalah areaku dan anak-anak?"
Xavier meletakkan gelas kristalnya ke atas meja kaca dengan bunyi dentingan halus. Dia berdiri, postur tubuhnya yang jangkung dan tegap seketika mendominasi ruangan yang remang-remang itu. Sepasang mata elangnya berkilat dipenuhi oleh gairah posesif yang pekat, menatap lekat-lekat pada sosok Eli yang tampak begitu menawan dengan rambut basah dan jubah tidur yang membungkus lekuk tubuh rampingnya.
"Kita memang sepakat untuk membiarkan anak-anak tidur dengan tenang, Eli," ujar Xavier, langkah kakinya yang lambat dan berwibawa mulai mengikis jarak di antara mereka. "Tapi jangan lupa pada aturan main yang aku katakan tiga hari lalu di ruang tengah. Kontrak pernikahan kita sudah ditandatangani, dan hari ini seluruh dunia sudah tahu kamu adalah istriku."
Xavier berhenti tepat di hadapan Eli. Aroma maskulin yang pekat, campuran kayu cendana dan alkohol mahal, seketika menyerbu indra penciuman Eli, membangkitkan kembali memori panas di Kamar 909 enam tahun lalu secara paksa. Pria itu mengulurkan tangan besarnya, menyelipkan jemarinya ke sela-sela rambut basah Eli, memaksa wanita itu untuk mendongak menatap langsung ke dalam matanya yang membara.
"Konferensi pers sudah selesai, kewajibanku sebagai pelindungmu sudah aku tunjukkan di depan media," bisik Xavier, suaranya yang berat terdengar begitu seksi sekaligus mengintimidasi di dekat bibir Eli. "Dan malam ini, sebagai suamimu yang sah secara hukum, aku datang untuk mengklaim hak mutlakku atas dirimu, Eli Arisatya. Dan kali ini... aku tidak akan membiarkanmu melarikan diri lagi dari ranjangku."