Davika Ovwua Mwohan adalah siswi kelas 3 SMA yang tidak hanya berpenampilan memikat layaknya boneka hidup dengan tubuh *gitar spanyol* yang seksi, tetapi juga memiliki kepribadian paling random dan kocak di antara teman-temannya. Di balik tingkah ajaibnya, Davika adalah koki andalan rumah yang jago menyulap segala jenis masakan mulai dari jajanan pasar hingga kuliner barat menjadi hidangan favorit keluarga, teman, hingga tetangga.
Keseharian Davika dipenuhi dinamika hubungan persaudaraan yang seru dan penuh warna. Ia terlibat hubungan ala "Tom and Jerry" dengan kakak pertamanya, Mas Gara, pria cuek dan berotot yang selalu bersedia menjadi ATM berjalan demi menuruti hobi makan dan tingkah acak Davika. Sementara itu, Mbak Nara, kakak keduanya yang cantik dan manis, turut melengkapi kehangatan dan keseruan lika-liku kehidupan masa muda Davika di dalam keluarganya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Oviamarashiin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Misteri di Balik Layar Kaca
Davika berdiri mematung di tepian trotoar yang mulai bising oleh deru sepeda motor para pekerja pabrik. Jemari mungilnya mencengkeram pinggiran ponsel pintar berwajah retak miliknya, sementara matanya yang seindah boneka terus menatap baris demi baris karakter aksara Korea yang tampak asing sekaligus mengintimidasi di layar kaca.
“궤적은 sudah dimulai. Jangan lengah.”
"Ini orang iseng atau salah kirim, sih?" gumam Davika pelan, bibir ombrenya sedikit mengerucut gusar. Ia mencoba menekan tombol panggil pada nomor misterius tersebut, namun sistem seluler hanya memberikan nada sibuk yang monoton sebelum sambungan terputus secara otomatis. Sifat random-nya sempat membisikkan bahwa ini mungkin kelakuan Mas Gara yang sedang bosan di kokpit pesawat, atau mungkin salah satu mahasiswa Mbak Nara yang iseng. Namun, instingnya mengatakan ada sesuatu yang jauh lebih gelap yang sedang mengintai di balik kabut pagi ini.
"Davik! Malah melamun di pinggir jalan! Mau ketabrak motor?"
Suara cempreng khas klakson motor bebek mengejutkan Davika. Ia mendongak dan mendapati Cici, teman sebangkunya di kelas 2 SMA, sudah bertengger di atas motor matik dengan helm yang miring ke kanan.
"Eh, Cici! Pas banget, bareng dong! Jok belakangmu kosong melompong, kan? Hemat ongkos bus nih!" Tanpa menunggu persetujuan, Davika langsung melompat naik ke atas motor, membuat motor bebek itu sedikit amblas karena proporsi tubuh Davika yang padat dan berisi. Gantungan capybara di tasnya bergoyang-goyang heboh seiring motor yang melaju membelah kemacetan kota.
Sementara itu, di koridor lantai tiga Universitas Islam Negeri, langkah kaki Mbak Nara terdengar konstan dan tegas. Di balik gamis khimar abu-abu gelapnya, ia menyembunyikan gemuruh hati yang luar biasa pekat. Beberapa mahasiswa semester empat yang berpapasan dengannya menunduk takzim, memberikan salam dengan nada segan. Nara adalah dosen muda yang dikenal pintar dan tidak segan memberikan nilai rendah bagi mahasiswa yang malas, namun ia selalu dihormati karena integritasnya.
Begitu memasuki ruang dosen yang ber-AC dingin, Nara meletakkan tas kerjanya di atas meja kayu jati yang penuh tumpukan jurnal. Ia mengembuskan napas panjang, mencoba membuang bayangan map hijau tua milik Pesantren Al-Anwar dari benaknya. Ia harus profesional; sepuluh menit lagi ujian lisan bahasa Arab akan dimulai.
Namun, saat ia membuka laptopnya untuk menginput kehadiran mahasiswa, sebuah notifikasi surat elektronik masuk ke akun pribadinya. Pengirimnya adalah sebuah nama yang langsung membuat jantung Nara berdesir hebat: Zayyad Al-Ghifari.
Nara menahan napas, jemarinya yang lentik bergerak cepat membuka pesan tersebut. Isinya sangat singkat, khas gaya komunikasi Gus Zayyad yang dingin, lugas, dan efisien sebagai seorang CEO :
...Assalamu'alaikum, Nara. Saya minta maaf atas kedatangan Pak Utomo yang terlalu dini ke rumahmu. Draf tersebut adalah keputusan mutlak dewan pengasuh dan Abah Kiai, bukan kehendak pribadi saya. Namun, sebagai calon pemimpin Al-Anwar, saya harap kamu bisa memahaminya demi kemaslahatan bersama. Kita bicarakan ini nanti malam pukul tujuh di restoran hotel tempat saya menginap. Saya tunggu....
Nara bersandar pada sandaran kursinya, matanya menatap langit-langit ruang dosen dengan pandangan kosong. "Demi kemaslahatan bersama... atau demi Muruah yang mengorbankan mimpiku, Gus?" bisiknya lirih pada keheningan ruangan. Nada tegas dalam surel itu membuktikan bahwa Gus Zayyad, terlepas dari ketampanannya yang luar biasa dan tubuh kekarnya yang berwibawa, tetaplah seorang pria yang terbiasa mendikte situasi tanpa ruang negosiasi yang seimbang.
Di belahan kota yang lain, matahari mulai bersinar terik, membakar aspal jalanan yang dilalui oleh mobil MPV putih milik Bapak Handoko. Keringat mulai membasahi pelipis sang kepala keluarga saat ia membelah kemacetan menuju Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Di kursi belakang, penumpang langganannya, seorang pengusaha paruh baya sedang sibuk berbicara di telepon dengan nada tinggi.
Bapak Handoko tetap fokus mengemudi, sesekali matanya melirik ke arah gantungan kunci berbentuk ikan cupang hias yang tergantung di spion tengah mobilnya. Pikirannya tidak sinkron dengan laju mobil; ia terus memikirkan harga diri keluarganya yang seolah diinjak-injak oleh draf pranikah subuh tadi. Bagi Bapak, meskipun ia hanya seorang sopir taksi daring, pendidikan Nara dan masa depan anak-anaknya adalah kehormatan tertinggi yang ia miliki. Ia bertekad, apa pun yang terjadi nanti malam, ia tidak akan membiarkan Nara menjadi pajangan tak bersuara di dalam kompleks pesantren yang megah itu.
Kembali ke lingkungan SMA, bel istirahat pertama baru saja berbunyi dengan nyaring. Davika langsung membuka kotak bekal plastiknya di atas meja kelas, mengabaikan Cici yang menatapnya dengan pandangan lapar. Aroma nasi goreng kampung buatan Ibu Rahayu langsung menyeruak, memicu air liur siap saja yang menciumnya.
"Wah, Davik! Masakan ibumu emang enggak pernah gagal ya! Bagi dong sedikit," rajuk Cici sembari menyodorkan sendok plastiknya.
"Eits, tidak bisa! Ini adalah asupan energi untuk koki genius yang mau belanja besar nanti sore," canda Davika sembari menyendok nasi goreng dengan lahap. Sifatnya yang jenaka dan selalu menjadi magnet komedi di kelas membuat suasana di sekitarnya selalu hidup.
Namun, kegembiraan Davika mendadak surut saat ia melirik ke arah luar jendela kelas. Di seberang gerbang sekolah, di bawah pohon beringin yang rindang, sebuah mobil sedan hitam mewah dengan pelat nomor khusus yang sangat familier tampak terparkir diam. Kaca mobilnya yang gelap gulita membuat Davika tidak bisa melihat siapa yang ada di dalamnya.
Jantung Davika berdegup kencang. Itu adalah mobil yang sama dengan mobil yang dikendarai oleh Pak Utomo subuh tadi. Mengapa mobil utusan Pesantren Al-Anwar berada di depan sekolahnya? Apakah mereka sedang mengawasinya? Atau... ada jejak tersembunyi lain yang belum terungkap dari misteri pernikahan Mbak Nara.
🫧🫧🫧
Nasi goreng kampung yang semula terasa begitu gurih di lidah Davika mendadak terasa seret di tenggorokan. Ia meletakkan sendok plastiknya dengan pelan, mengabaikan Cici yang kini dengan sukacita menyambar sisa kotak bekalnya. Mata green-gray milik Davika menyipit, menembus kaca jendela kelas yang agak berdebu, mengunci pandangannya pada sedan hitam mewah di seberang jalan.
Mobil itu diam tak bergerak, bagaikan predator yang sedang menyamar di balik rimbunnya pohon beringin. Kehadirannya begitu asing di antara deretan motor bebek para siswa dan gerobak pedagang kaki lima yang mangkal di depan sekolah.
"Ci, kamu lihat mobil sedan hitam di bawah pohon beringin itu tidak?" tanya Davika, nada suaranya berubah datar, kehilangan seluruh unsur komedi yang biasanya mendominasi.
Cici mendongak, mulutnya masih penuh dengan nasi goreng. "Uh? Yang pelat nomornya rapi banget itu? Iya, lihat. Kenapa? Punya gebetan baru kamu ya? Gila, Davik, diam-diam seleramu om-om kaya raya!"
"Sembarangan! Itu mobil yang datang ke rumahku subuh-subuh tadi," bisik Davika gundah.
Sifat random Davika biasanya akan membuat ia mengabaikan hal seperti ini dan memilih untuk menjahili guru, tetapi fakta bahwa mobil itu mengikuti hingga ke area sekolahnya memicu alarm kewaspadaan di kepalanya. Ia teringat kembali pada pesan singkat berbahasa Korea yang diterimanya tadi pagi: “궤적은 sudah dimulai. Jangan lengah.”
Tanpa berpikir panjang, Davika berdiri dari kursinya. Postur tubuhnya yang mungil namun semok itu bergerak gesit menerobos barisan meja kelas.
"Eh, Davik! Mau ke mana? Sebentar lagi bel masuk bunyi!" teriak Cici dari dalam kelas.
"Mau memastikan sesuatu, Ci! Kalau aku tidak kembali dalam sepuluh menit, laporkan ke guru piket kalau aku diculik mafia pesantren!" sahut Davika asal, meskipun di dalam hatinya ia tidak sepenuhnya bercanda.
Davika berjalan cepat menyusuri koridor sekolah, menuruni tangga beton, dan melangkah menuju gerbang utama. Udara siang hari makin menyengat, membuat keringat tipis mulai membasahi poni see-through miliknya. Sambil berjalan, tangannya meraba ponsel di saku rok abu-abunya, bersiap merekam atau memotret jika ada hal yang mencurigakan.
Namun, tepat beberapa meter sebelum ia mencapai pos satpam gerbang sekolah, sebuah tangan kekar dengan jam tangan pintar taktis menangkap pergelangan tangan mungilnya dari belakang.
"Aduh! Siapa sih—" Davika berbalik dengan gusar, bersiap melayangkan hantaman tas sekolahnya yang penuh dengan gantungan capybara. Namun, kalimatnya terputus saat melihat siapa yang berdiri di hadapannya.
Seorang pria muda dengan kemeja taktis sewarna gurun, bertubuh tegap, kekar, dan berwajah sangat tampan namun berjarak, menatapnya dengan pandangan dingin yang menghunus. Wajahnya tidak asing; Davika pernah melihat fotonya sekali di ponsel Mbak Nara saat awal proses taaruf.
Lelaki itu adalah Gus Muhammad Zayyad Al-Ghifari.
"Gus... Zayyad?" Davika mengerutkan dahi, keterkejutannya membuat matanya yang seindah boneka melebar sempurna. "Kok... ada di sini? Bukannya kata Pak Utomo, Gus lagi di Surabaya?"
Gus Zayyad tidak langsung menjawab. Ia melepaskan cengkeramannya pada pergelangan tangan Davika dengan gerakan yang sangat sopan namun tegas. Jubah atau baju koko yang biasa melekat padanya kini berganti dengan pakaian kasual semi-formal yang tetap tidak bisa menyembunyikan otot-otot lengannya yang terlatih. Aura sebagai seorang CEO muda yang dominan begitu pekat menguar darinya.
"Pak Utomo hanya tahu apa yang perlu dia ketahui, Davika," suara Zayyad terdengar berat, dalam, dan tanpa ekspresi, persis seperti deskripsi Mbak Nara tentang sosoknya yang jarang tersenyum. "Saya sengaja datang ke sini bukan untuk menemui mu, melainkan memastikan sesuatu."
"Memastikan apa? Mengamati sekolah Davik? Atau mau memastikan kalau keluarga kami sudah terintimidasi sama surat perjanjian pranikah sekuno zaman penjajahan itu?" cerocos Davika, keberaniannya mendadak naik ke permukaan. Ia tidak peduli jika lelaki di hadapannya ini adalah putra mahkota pesantren besar; baginya, ketenangan Mbak Nara adalah harga mati.
Mendengar sindiran tajam dari adik calon istrinya, sudut bibir Gus Zayyad bergerak tipis—bukan sebuah senyuman, melainkan sebuah seringai samar yang sulit diartikan. "Perjanjian itu bukan buatan saya. Dan jika saya jadi kamu, saya tidak akan mengkhawatirkan surat itu sekarang."
Zayyad melangkah satu tapak lebih dekat, membuat tubuh mungil Davika tenggelam dalam bayangan tubuh tegapnya. Ia merendahkan suara baritonnya, berbisik tepat di dekat telinga Davika hingga gadis itu bisa mencium aroma parfum kayu cendana yang mahal dan menenangkan dari tubuh sang CEO.
"Katakan pada kakakmu, Nara... jangan datang ke restoran hotel nanti malam sendirian. Bawa bapakmu, atau ajak Kapten Sagara jika dia sudah mendarat dari Shanghai. Ada mata-mata lain yang sedang mengincar langkah keluarga kalian, dan draf pernikahan itu... hanyalah sebuah pengalih perhatian."
Sebelum Davika sempat mencerna kalimat yang sangat menggantung dan menegangkan itu, Gus Zayyad sudah berbalik. Langkah kakinya yang lebar dan mantap membawanya menuju sedan hitam di seberang jalan. Pintu mobil terbuka, dan dalam hitungan detik, kendaraan mewah itu meluncur pergi, menghilang di balik kepulan debu jalanan siang yang terik.
Bel tanda masuk kelas berbunyi nyaring di belakang Davika, menggema di seluruh penjuru sekolah. Namun, Davika tetap berdiri terpaku di dekat pos satpam. Jantungnya berdegup dua kali lebih cepat. Di dalam benaknya, potongan-potongan teka-teki subuh tadi kini mulai berubah menjadi sebuah labirin misteri yang jauh lebih besar dan berbahaya dari sekadar urusan restu pernikahan.
selalu bilangnya kitab😄😄😄