“Ayam kecil, berhenti berlari dan kembalikan buah persikku!”
Ladang herbal memenuhi lereng gunung sementara asap putih mengepul dari dapur-dapur besar di berbagai area. Aroma daging panggang memenuhi udara dan di kejauhan ratusan hewan spiritual terlihat berkeliaran bebas di padang rumput pegunungan.
“Mulai hari ini kandang ayam spiritual bagian timur menjadi tanggung jawabmu.”
Di sisi lain, Suara pisau, dentuman panci, dan teriakan para murid dapur bercampur menjadi satu seperti pasar pagi yang kacau. Aroma makanan memenuhi seluruh udara pegunungan.
“Adik kecil! Cepat potong sayuran itu!”
“Siapa yang membakar daging bagian utara?!”
“Tambahkan garam spiritual ke sup nomor tiga!”
Ini adalah kehidupan yang tenang dan penuh kejadian dramatis tak terlupakan dari Sekte Forgotten Blade. Kehidupan beternak ayam Bai Fengxuan sebelum ia tahu kebenaran pahit dari dunia kultivasi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LEVIATHAN_M.S, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ch. 32 - Pergi Berburu
Kabut pagi masih menggantung tebal di lereng Puncak Awan Pengembara ketika Bai Fengxuan kembali menjalani rutinitasnya seperti biasa. Suara ayam spiritual memenuhi kandang timur sejak matahari bahkan belum benar-benar muncul dari balik lautan awan, sementara para murid luar sibuk membawa ember pakan, membersihkan jerami, dan menggiring beberapa hewan spiritual kecil yang berlarian liar di sekitar pagar bambu.
Pagi itu ada sesuatu yang berbeda pada diri Bai Fengxuan. Tubuhnya terasa jauh lebih ringan dan langkahnya lebih stabil.
Bahkan qi spiritual di sekitar kandang kini terasa jauh lebih jelas dibanding sebelumnya. Ia dapat merasakan aliran qi samar dari rerumputan basah, embun pagi di daun bambu, hingga hawa spiritual tipis yang keluar dari ayam-ayam spiritual di kandang.
Qi Gathering level 3 benar-benar membawa perubahan besar. Untungnya sebagian besar murid luar tidak cukup peka untuk menyadari perubahan tersebut. Hanya Han Gu yang sesekali meliriknya dengan tatapan aneh dari atas pagar kandang.
Ketika waktu istirahat siang tiba dan para murid mulai duduk di bawah pohon pinus sambil makan roti kukus atau sup hangat dari dapur umum, Han Gu akhirnya menghampiri Bai Fengxuan sambil membawa mangkuk besar berisi mie.
“Adik Bai,” katanya santai sambil duduk di sampingnya, “kau mau ikut berburu?”
Bai Fengxuan sedikit mengangkat kepala. “Berburu?”
Han Gu mengangguk sambil menyeruput mie panasnya. “Murid dari Puncak Pedang Surgawi sedang membentuk kelompok kecil untuk pergi ke Hutan Kabut Abadi.”
Nama itu terdengar asing di telinga Bai Fengxuan.
Han Gu melanjutkan sebelum ia sempat bertanya, “Hutan itu berada di wilayah utara gunung. Kabut di sana tidak pernah hilang sepanjang tahun dan banyak hewan spiritual tinggal di dalamnya.”
Tatapannya sedikit berubah serius. “Target mereka adalah rusa spiritual bertanduk tiga.”
Mata Bai Fengxuan langsung sedikit membesar. Ia pernah mendengar tentang hewan spiritual itu sebelumnya dari percakapan beberapa murid luar. Rusa spiritual bertanduk tiga termasuk hewan spiritual tingkat tinggi untuk murid luar ‘biasa’. Tubuhnya besar, cepat, dan memiliki qi spiritual yang kuat.
“Katanya kekuatannya setara kultivator Qi Gathering level 5,” lanjut Han Gu. “Bahkan beberapa yang tua mungkin lebih kuat.”
Bai Fengxuan langsung mulai tertarik.
Han Gu tertawa kecil melihat reaksinya lalu melanjutkan, “Tanduk rusa itu biasanya dipakai sebagai bahan membuat senjata spiritual. Tulangnya juga bisa dijual mahal ke para alkemis atau pandai besi.”
“Tapi yang paling penting…” Han Gu menurunkan suaranya sedikit sambil menyeringai, “…dagingnya sangat lezat ketika dipanggang.”
Kalimat terakhir itu langsung membuat Bai Fengxuan ikut tertarik sepenuhnya. Rusa spiritual tingkat seperti itu…
Bagaimana rasanya kalau dimasak menggunakan wajan hitamnya? Memikirkannya saja sudah membuat perutnya mulai lapar.
Han Gu kemudian menjelaskan bahwa murid dari Puncak Pedang Surgawi hanya menginginkan tanduk dan tulang rusa. Sedangkan kulit serta dagingnya akan diberikan pada murid Puncak Awan Pengembara sebagai bagian kerja sama.
“Lalu kenapa kau mengajakku?” tanya Bai Fengxuan.
Han Gu langsung mendecakkan lidah. “Mereka butuh seseorang untuk memasak selama perjalanan.”
Ia menunjuk tubuhnya sendiri sambil mendesah berat. “Murid dapur di puncak kita terlalu gemuk. Membawa mereka ke Hutan Kabut Abadi sama saja meminta mereka dimakan rusa.”
Bai Fengxuan hampir tertawa.
“Lalu Kakak Luo Ming?”
“Luo Ming bahkan belum mencapai Qi Gathering level 1.” Han Gu menggeleng. “Kalau terjadi sesuatu, dia tidak akan bisa lari.”
Tatapannya kemudian jatuh pada Bai Fengxuan. “Jadi aku memikirkanmu.” Han Gu menyeringai kecil. “Masakanmu enak. Dan kau cukup gesit.”
Bai Fengxuan pura-pura berpikir beberapa detik sebelum akhirnya mengangguk.
“Aku ikut.”
Han Gu langsung tertawa puas. “Aku tahu kau pasti setuju.”
Tentu saja Bai Fengxuan setuju. Selain kesempatan melihat dunia luar sekte lebih jauh, ia juga benar-benar penasaran seperti apa rasa daging rusa spiritual bertanduk tiga itu.
Hari itu akhirnya berlalu cukup cepat. Bai Fengxuan menyelesaikan pekerjaannya di kandang bersama Xu Liang seperti biasa. Xu Liang sendiri terlihat sangat iri ketika mendengar mereka akan pergi berburu.
“Aku juga ingin ikut…” gumamnya sambil menyapu kandang dengan wajah sedih.
Han Gu langsung mendengus. “Kalau kau ikut, rusa spiritual itu mungkin malah mati karena terlalu banyak mendengar ocehanmu.”
Xu Liang langsung terlihat tersinggung.
Menjelang sore, matahari mulai turun di balik pegunungan Forgotten Blade dan kabut dingin perlahan bergerak turun memenuhi lereng gunung. Bai Fengxuan akhirnya kembali ke gubuk kayunya untuk bersiap.
Ia segera mengeluarkan beberapa bumbu dapur sederhana yang selama ini ia kumpulkan sedikit demi sedikit dari dapur umum. Garam herbal, daun rempah kering, sedikit minyak spiritual, serta beberapa alat masak kecil dimasukkan ke dalam karung kain. Lalu ia mengambil beberapa batang Kayu Api Scarlet.
Dan terakhir—
wajan hitamnya.
Benda berat itu langsung ia ikat di punggungnya menggunakan tali kain tebal. Karena ukurannya terlalu besar untuk tubuh Bai Fengxuan yang masih kecil, wajan hitam itu hampir menutupi seluruh punggungnya. Dari belakang penampilannya benar-benar mirip kura-kura yang sedang berjalan membawa cangkang raksasa.
Namun sekarang Bai Fengxuan sudah berada di Qi Gathering level 3. Beban seperti itu terasa jauh lebih ringan dibanding sebelumnya. Ia bahkan masih bisa berjalan santai sambil membawa seluruh perlengkapan itu.
Ketika keluar dari gubuk, beberapa murid luar yang kebetulan lewat langsung menatapnya dengan ekspresi aneh.
“Adik Bai…” salah satu murid berkedip bingung. “Apa kau mau pindahan rumah?”
Bai Fengxuan hanya tertawa kecil lalu berjalan pergi sebelum mereka sempat bertanya lebih jauh.
Langit sore perlahan berubah lebih gelap ketika ia mulai menuruni lereng Puncak Awan Pengembara menuju tempat pertemuan yang sebelumnya diberitahu Han Gu.
Tempat itu berada di kaki gunung dekat jalan keluar utama sekte. Area tersebut jauh lebih sepi dibanding bagian dalam puncak karena biasanya hanya digunakan murid yang mendapat tugas keluar sekte.
Dan ketika Bai Fengxuan tiba ia langsung melihat sekelompok orang sudah menunggu di sana.
Sekitar tujuh orang. Empat murid dari Puncak Pedang Surgawi mengenakan jubah biru gelap dengan pedang tergantung di pinggang mereka. Satu orang murid dari Puncak Sungai Hijau membawa kotak kayu obat-obatan di punggungnya. Sedangkan dua murid dari Puncak Awan Pengembara adalah Han Gu dan dirinya sendiri.
Begitu Bai Fengxuan mendekat semua orang langsung sedikit terdiam. Tatapan mereka perlahan bergerak dari tubuh kecil Bai Fengxuan menuju tumpukan perlengkapan yang ia bawa. Lalu tatapan mereka menuju wajan hitam raksasa di punggungnya.
Salah satu murid Puncak Pedang Surgawi sampai berkedip beberapa kali. “…Kenapa dia membawa tungku perang?”
Bai Fengxuan langsung merasa sedikit malu. Han Gu justru tertawa keras sambil menepuk bahu Bai Fengxuan.
“Aku sudah bilang, dia koki terbaik di puncak kita.”
Namun jauh di dalam hati Han Gu sendiri sebenarnya cukup terkejut. Karena ia bisa merasakan sesuatu yang aneh dari Bai Fengxuan sekarang.
Qi di tubuh bocah itu terasa jauh lebih stabil dan kuat dibanding beberapa hari lalu. Bahkan langkahnya sekarang terasa ringan dan tenang seperti seseorang yang sudah jauh lebih terbiasa mengendalikan qi spiritual.
Han Gu menyipitkan mata sedikit.
‘Anak ini…’
Namun sebelum ia sempat berpikir lebih jauh, salah satu murid dari Puncak Pedang Surgawi maju ke depan.
Pemuda itu tampak berusia sekitar enam belas tahun dengan wajah cukup tampan dan tubuh tinggi tegap. Sebilah pedang panjang tergantung di pinggangnya sementara qi spiritual di tubuhnya terasa jauh lebih kuat dibanding murid luar biasa.
“Namaku Zhao Yuan,” katanya tenang sambil melirik semua orang. “Aku yang memimpin perjalanan kali ini.”
Bai Fengxuan segera memberi hormat kecil bersama yang lain.
Zhao Yuan melanjutkan dengan nada serius, “Tujuan kita sederhana. Memburu rusa spiritual bertanduk tiga di Hutan Kabut Abadi.” Tatapannya perlahan bergerak ke seluruh anggota kelompok.
“Rusa itu cepat dan cukup berbahaya. Jadi jangan bertindak sendiri di dalam hutan.”
Salah satu murid dari Puncak Sungai Hijau kemudian membuka kotak kayunya sambil berkata, “Aku membawa pil penyembuhan dan penawar racun sederhana. Tapi kalau luka terlalu berat, jangan harap aku bisa menyelamatkan kalian.”
Han Gu langsung tertawa kecil. “Jangan bicara sial sebelum berangkat.”
Suasana kelompok perlahan mulai sedikit santai. Mereka kemudian saling memperkenalkan diri satu per satu. Selain Zhao Yuan, murid lain dari Puncak Pedang Surgawi bernama Liang Shen, Gu Fei, dan seorang gadis muda bernama Qin Rou.
Bai Fengxuan sedikit terkejut ketika mengetahui gadis itu ternyata murid Puncak Pedang Surgawi. Gadis itu tampak dingin dan jarang bicara, namun qi spiritual di tubuhnya cukup kuat. Menurutnya, Qin Ruo lebih cocok tinggal di Puncak Sungai Hijau berdasarkan penampilannya.
Sementara murid dari Puncak Sungai Hijau bernama Wei Lun, seorang pemuda kurus dengan penampilan rapi yang terlihat lebih cocok menjadi sarjana terpelajar dibanding kultivator.
Ketika giliran Bai Fengxuan memperkenalkan diri, Liang Shen langsung melirik wajan hitam di punggungnya.
“Jadi kau benar-benar datang untuk memasak?”
Bai Fengxuan mengangguk polos. “Aku juga bisa membantu pekerjaan lain.”
Liang Shen tertawa kecil. “Tenang saja. Selama masakanmu enak, itu sudah cukup.”
Han Gu langsung menyeringai bangga seperti dirinya sendiri yang dipuji.
Langit perlahan berubah semakin gelap. Kabut senja mulai turun di kaki pegunungan Forgotten Blade sementara suara lonceng sekte terdengar samar dari kejauhan.
Zhao Yuan akhirnya mengangkat tangannya. “Kita berangkat sekarang.”
Tak ada yang membantah dan kelompok kecil itu segera mulai bergerak meninggalkan area sekte dan menuruni jalur pegunungan menuju utara.
Dan untuk pertama kalinya sejak memasuki Forgotten Blade, Bai Fengxuan benar-benar meninggalkan lingkungan aman sekte menuju dunia luar yang lebih luas.
Angin malam bergerak dingin di antara pepohonan pinus sementara bayangan pegunungan gelap perlahan membentang di kejauhan.
Di punggungnya, wajan hitam tua bergoyang pelan mengikuti langkah kecilnya.
Dan entah kenapa Bai Fengxuan mulai merasa perjalanan ini mungkin akan jauh lebih menarik dibanding yang ia bayangkan.
…
ok Lanjut bagi hasiL Panen....dan unduj afik Bai sukses dgn teknik pedang tak terlihat yg akan menjadi senjata andaLan untuk jarak yg sangat dekat dgn Lawan....