Di tengah kota mewah Seoul berdiri sebuah komplek elite bernama Royal Family Residence tempat tinggal empat keluarga sultan paling berpengaruh di Asia. Rumah mereka berdampingan, bisnis mereka mendunia, dan anak-anak mereka terkenal di sekolah elit Aexdrem High School serta Universitas Aexdrem.
Walaupun terlihat sempurna dari luar, isi rumah mereka justru penuh keributan, lawakan receh, drama keluarga, dan perang mulut tiap hari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Viana18, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
Bel istirahat berbunyi nyaring di seluruh penjuru sekolah, membebaskan semua siswa dari pelajaran yang panjang. Seperti kebiasaan yang sudah ada sejak lama, kantin sekolah seketika dipenuhi hiruk-pikuk siswa yang berbondong-bondong mencari makanan dan minuman segar. Di antara keramaian itu, ada satu pemandangan yang selalu jadi pusat perhatian dan incaran mata semua orang: geng anak-anak paling populer, paling kaya, dan paling berkuasa di sekolah itu.
Namun hari ini, pemandangannya jauh lebih berbeda dan jauh lebih manis dari biasanya.
Dulu, Nana sering sekali dipaksa-paksa oleh Jeno buat makan, buat minum, atau sekadar menemani cowok itu beli jajan. Dulu rasanya kayak dipaksa, kayak digangguin, dan sering bikin Nana kesal setengah mati. Tapi sekarang? Semuanya berubah seratus delapan puluh derajat. Sejak kemarin hubungan mereka resmi, sikap Jeno makin berubah drastis menjadi sosok yang paling romantis, paling perhatian, dan paling lembut sedunia khusus buat Nana saja.
Jeno berjalan beriringan dengan Nana, tangannya tak pernah lepas menggenggam tangan mungil Nana erat di dalam genggamannya. Dia tuntun Nana berjalan hati-hati, menghindari kerumunan siswa lain, wajahnya terus menatap ke arah cewek di sampingnya itu dengan senyum yang tak pernah luntur. Begitu sampai di meja duduk mereka yang biasa, Jeno langsung menarikkan kursi untuk Nana dengan sangat sopan dan lembut, persis seperti pangeran yang melayani putri raja.
"Duduk dulu ya sayang, hati-hati jangan sampai ketabrak orang," ucap Jeno lembut, suaranya rendah dan manis banget, bikin bulu kuduk siapa aja yang dengar pasti merinding. "Kamu mau makan apa? Mau minum apa? Bilang aja, apa aja aku ambilin. Jangan gerak sedikit pun, duduk aja di sini yang manis, biar aku yang lari sana-sini buat kamu. Tugas kamu cuma satu: duduk cantik dan senyum buat aku aja."
Nana tersenyum malu tapi bahagia banget, wajahnya memerah merona dengar panggilan manis itu. "Kamu ini ya... berlebihan banget sih. Kan aku bisa ambil sendiri, aku bukan orang sakit tau."
Jeno langsung menggeleng kencang, lalu berjongkok sedikit di samping kursi Nana, menatap cewek itu dalam-dalam dengan tatapan penuh cinta yang meluap-luap.
"Gak boleh! Sekarang kamu udah resmi jadi pacar aku, udah jadi tanggung jawab aku seutuhnya. Gak ada lagi yang namanya kamu capek, kamu jalan jauh, atau kamu bawa-bawa barang berat. Semuanya aku yang kerjain. Dulu aku emang sering maksa kamu makan, sering gangguin kamu kan? Nah sekarang beda. Sekarang aku mau ngelakuin semuanya dengan sukarela, dengan cinta, dan dengan sepenuh hati. Aku mau manja-manja halus gini sama kamu, aku mau perhatian kamu penuh buat aku aja. Biar semua orang tau, Nana itu milik aku, dan aku bakal sayang sama dia lebih dari apa aja."
Jeno mengusap pelan punggung tangan Nana yang ada di atas meja, lalu melanjutkan lagi dengan tatapan penuh harap. "Dulu kamu sering kesal kan kalau aku maksa-maksa? Sekarang maafin aku ya kelakuan aku yang dulu. Mulai sekarang, semua perlakuan manis, semua kasih sayang, semua kelembutan aku... khusus cuma buat kamu seorang aja. Gak ada yang lain. Kamu mau apa pun, bakal aku turutin. Kamu mau ke mana aja, bakal aku antar jemput. Kamu mau ngapain aja, bakal aku temenin. Aku mau bikin kamu ngerasa jadi cewek paling bahagia, paling spesial, dan paling beruntung sedunia. Cuma kamu, Nana. Cuma kamu selamanya."
Kata-kata manis itu terucap begitu saja dari mulut Jeno, tulus dan penuh rasa. Nana cuma bisa diam menunduk malu, senyum bahagia mengembang indah di bibirnya. Dia memegang tangan Jeno balik, menggenggamnya lembut.
"Iya... aku tau kok. Aku rasain banget perubahan kamu. Makasih ya, Jeno. Aku bahagia banget," jawab Nana pelan.
Pemandangan itu bikin satu kantin seketika heboh dan iri hati. Para siswi yang melihatnya sampai berdecak kagum sambil meremas dada mereka sendiri.
"Ya ampun... romantis banget sumpah! Padahal dulu Jeno itu rusuh banget, gak ada sopan santunnya sama Nana. Giliran udah resmi pacaran, berubah jadi cowok paling manis sedunia! Iri banget deh liatnya!"
"Beruntung banget sih Nana ya... dapet cowok ganteng, kaya, populer, tapi yang paling penting sayang banget sama dia. Pengen banget digituin juga sama pacar aku..."
Dan tidak hanya Jeno dan Nana. Di sebelah mereka, pemandangan manis juga terlihat jelas antara Renjun dan Gualin. Kalau Jeno ekspresif dan heboh dalam menunjukan rasa sayangnya, Gualin melakukannya dengan cara yang tenang, elegan, dan penuh wibawa tapi sama romantisnya.
Gualin duduk di sebelah Renjun, dia sudah memesan semua makanan dan minuman kesukaan Renjun tanpa perlu cewek itu bicara satu kata pun. Dia menata piring dan gelas itu rapi di depan Renjun, memastikan semuanya pas dan nyaman buat kekasihnya itu. Dia mengupas kulit telur rebus sampai bersih, lalu menyuapkannya perlahan ke mulut Renjun dengan senyum lembut.
"Makan ya, Jun. Ini kesukaan kamu kan? Aku inget banget kamu gak suka bagian pinggir rotinya, jadi aku udah potong dulu. Minumnya pelan-pelan, jangan buru-buru nanti tersedak. Ada aku di sini, tenang aja," ucap Gualin pelan dan rendah, nadanya begitu meneduhkan hati.
Renjun yang dikenal tenang dan kalem itu pun sampai pipinya memerah padam, senyumnya tak lepas melihat perhatian kecil Gualin yang luar biasa itu. "Kamu kok bisa sih inget semuanya? Aku aja lho kadang lupa sama kebiasaan aku sendiri..."
Gualin tersenyum makin lembut, dia mengelus rambut Renjun pelan di depan banyak orang tanpa malu-malu. "Karena semuanya tentang kamu itu penting buat aku. Semua hal kecil, semua kebiasaan, semua hal yang kamu suka atau gak suka... semuanya aku simpen baik-baik di kepala aku. Kemarin aku udah berjuang keras dapetin izin Ayah kamu, dapetin kamu. Sekarang giliran aku buktiin kalau keputusan kamu milih aku itu keputusan paling bener. Aku gak seheboh Jeno, aku gak banyak omong. Tapi percaya deh Jun... perhatian aku, kesetiaan aku, dan rasa sayang aku bakal tetep sama selamanya, gak bakal berubah sedikit pun. Kamu aman sama aku, kamu bahagia sama aku, itu satu-satunya tujuan hidup aku sekarang."
Pemandangan manis dan romantis dari dua pasang sejoli itu bikin suasana kantin makin terasa indah, tapi di sisi lain... ada hati yang sedang hancur berkeping-keping, ada hati yang sedang tertusuk ribuan kali melihat semua itu.
Di sudut kantin yang agak sepi, Haechan duduk sendirian di sebuah meja agak jauh, menatap semua pemandangan itu dengan pandangan yang sulit diartikan. Di sebelahnya ada Mark. Cowok itu duduk tegak, wajahnya datar, dingin, dan kaku persis seperti biasa. Sejak tadi di dalam mobil sampai sekarang, Mark sama sekali tidak berbicara sepatah kata pun pada Haechan, dia cuek berat, matanya bahkan tak sekalipun melirik ke arah Haechan yang ada di sebelahnya itu.
Haechan merasa sakit hati, sedih, dan kecewa luar biasa. Dia berusaha keras buat ngajak ngobrol, berusaha buat bercanda, berusaha buat jadi perhatian, tapi Mark tetap saja seperti dinding batu. Dingin, keras, dan tak bergeming sedikit pun.
Tapi rasa sakit Haechan itu belum seberapa dibandingkan apa yang dia lihat dari tatapan mata Mark saat ini.
Diam-diam, Mark terus-menerus menatap ke arah Nana. Matanya yang dingin itu berubah. Ada kilatan rasa iri yang tajam, ada rasa cemburu yang mendalam, dan ada rasa ingin memiliki yang besar banget terpancar jelas dari sana. Mark melihat gimana Jeno memperlakukan Nana dengan begitu manis, begitu lembut, begitu penuh cinta. Mark melihat gimana Nana tersenyum bahagia, melihat gimana Nana menggenggam tangan adiknya itu dengan penuh kasih sayang.
Di dalam hati Mark, badai besar sedang mengamuk hebat.
"lihat Jeno... dia dapet segalanya. Dia dapet restu, dia dapet kebahagiaan, dia dapet Nana. Dia gampang banget dapet semuanya cuma karena dia terang-terangan berjuang. Dia beruntung banget ya cuma karena dia adik aku... dia beruntung banget karena Nana jatuh cinta sama kelakuan rusuh dia. Padahal aku... aku jauh lebih ngerti Nana, aku jauh lebih perhatian diam-diam, aku jauh lebih tulus menyimpan rasa ini bertahun-tahun."
Rasa iri itu makin membakar dada Mark. Dia menatap Jeno yang tertawa lebar sambil menatap Nana, menatap adiknya yang terlihat paling bahagia sedunia. Rasa ingin mengalah yang dulu dia punya sudah hilang lenyap tak bersisa. Diganti tekad yang makin kuat dan makin tajam.
"Dia kira dia udah menang ya? Dia kira karena udah resmi pacaran, dia bakal punya Nana selamanya? Dia salah besar. Dia gak tau apa-apa. Dia gak tau kalau hati aku ini sebenernya yang paling berhak punya Nana. Dia gak tau kalau aku udah nunggu lebih lama dari dia, aku udah sayang lebih lama dari dia. Dia cuma berjuang terang-terangan, berisik, dan pamer kemana-mana. Tapi aku... aku bakal berjuang lebih giat lagi, lebih keras lagi. Gak ada yang tau, gak ada yang curiga, gak ada yang nyangka. Aku bakal berjuang diam-diam, dengan cara halus, pelan-pelan masuk ke hati Nana, meruntuhkan apa yang udah dibangun Jeno. Sampai saat itu tiba... sampai Nana sadar, kalau cowok yang paling pantas buat dia bukan Jeno, tapi AKU."
Mark mengeratkan genggaman tangannya di atas meja, rahangnya mengeras. Iri, cemburu, sakit hati... semuanya jadi bahan bakar buat tekadnya yang makin besar. Dia harus berjuang lebih keras, lebih cerdik, dan lebih sabar dari adiknya.
Dan semua perubahan ekspresi wajah Mark itu, semua kilatan mata itu, semua rasa iri itu... terlihat jelas dan terbaca semua oleh Haechan yang duduk tepat di sebelahnya.
Haechan menahan sakitnya hati yang luar biasa. Dia tau persis apa yang dirasakan Mark. Dia tau Mark iri sama Jeno. Dia tau Mark sedih liat Nana milik orang lain. Dia tau Mark masih mencintai Nana mati-matian, walau Nana udah jadi milik adiknya sendiri.
Rasa sakit di dada Haechan makin nyeri, makin dalam. Ternyata, walau Nana udah resmi jadi pacar orang lain, walau Nana udah dirawat dan disayang sama Jeno, hati Mark tetap sama. Hati Mark tetap milik Nana. Hati Mark tetap sakit karena Nana bukan milik dia.
Haechan menelan ludahnya susah payah, menahan air mata yang hampir jatuh. Dia sadar posisinya. Dia sadar dia cuma cewek yang selalu dicuekin, selalu diusir, selalu dianggap angin lalu sama Mark. Tapi cintanya terlalu besar buat dia mundur.
Dengan sekuat tenaga, Haechan berusaha menutupi rasa sakit hatinya. Dia berusaha mengalihkan perhatian Mark dari arah Nana. Dia berusaha jadi ceria, jadi manis, jadi perhatian, berharap sedikit saja Mark mau menoleh ke arahnya.
Haechan tersenyum lebar, senyum yang dia paksakan seindah mungkin, lalu menyenggol pelan lengan Mark dengan manja dan ceria.
"Kak Mark! Kok diem aja dari tadi? Ngeliatin apa sih di sana? Udah deh jangan diliatin terus, nanti matanya sakit lho. Eh iya Kak, liat deh aku bawa apa!" seru Haechan riang, dia mengeluarkan sebotol minuman dingin kesukaan Mark dari tasnya, lalu menyodorkan ke depan wajah cowok itu dengan senyum paling manis.
"Aku inget banget kan kamu suka minum ini, dingin-dingin lagi. Aku beliin khusus buat kamu lho, tadi pas lewat warung aku sengaja beli dua, satu buat aku satu buat kamu. Minum ya Kak, biar seger, biar gak manyun terus mukanya. Emang sih pemandangan Jeno sama Nana itu manis banget, romantis banget sampe bikin iri ya? Tapi kan kita juga ada di sini berdua, seru juga lho kan? Nanti kalau kamu mau, aku temenin jalan-jalan keliling sekolah ya, aku temenin ngobrol, aku temenin ngapain aja deh. Aku bakal selalu ada di sini kok, deket kamu, nemenin kamu, biar kamu gak sedih, biar kamu gak sendiri terus. Aku bakal berusaha jadi yang paling perhatian, jadi yang paling ngertiin kamu, jadi yang paling sayang sama kamu. Jadi... jangan natap mereka terus ya? Natap aku dong, walaupun dikit aja..."
Haechan bicara dengan nada ceria, penuh semangat, dan manja banget, berusaha keras mengalihkan perhatian Mark, berusaha menutupi rasa sakit di hatinya sendiri. Dia berharap dengan sikapnya yang ceria, perhatiannya yang tulus, Mark bakal sadar kalau ada dia yang selalu ada di sisi dia, yang selalu berjuang, yang selalu mencintai dia tanpa syarat.
Mark menoleh sebentar ke arah Haechan dengan tatapan yang masih dingin dan kosong, melirik botol minuman itu sekilas, lalu menjawab ketus tanpa ada rasa terharu sedikit pun.
"Gak usah. Aku gak butuh. Simpen aja sendiri . Aku gak haus. Berisik tau kamu, dari tadi ngoceh mulu kayak burung beo. Udah sana pergi aja kalau mau, jangan ganggu aku di sini."
Mark kembali memalingkan wajahnya, kembali menatap ke arah Nana dan Jeno, kembali tenggelam dalam rasa iri dan rencananya yang makin gelap.
Haechan tersenyum kaku, senyum yang menyembunyikan rasa sakit yang luar biasa. Tangannya perlahan menarik kembali botol minuman itu, menundukkan wajahnya sebentar buat menahan air mata yang mau jatuh. Dia gagal lagi. Dia dicuekin lagi. Dia sakit hati lagi.
Tapi di dalam hatinya, tekad Haechan tetap berdiri kokoh, sama seperti tekad Mark buat memperjuangkan Nana diam-diam.
Di kantin itu, di tengah kebahagiaan dua pasang kekasih yang saling mencintai, ada dua hati yang sedang berjuang mati-matian dengan cara masing-masing: Mark berjuang diam-diam buat merebut apa yang bukan miliknya, dan Haechan berjuang sendirian buat mendapatkan hati yang keras dan dingin itu.