Lima ratus tahun yang lalu, Lin Chen adalah Kaisar Pedang Ilahi yang berdiri di puncak Alam Dewa. Namun, saat ia mencoba menembus batas tertinggi kultivasi, ia dikhianati oleh tunangannya, Dewi Teratai Salju, dan saudara seperjuangannya, Kaisar Naga Hitam. Tubuhnya hancur, dan jiwanya tercerai-berai.
Kini, lima ratus tahun kemudian, jiwa Lin Chen terbangun di Benua Langit Biru, di dalam tubuh seorang pemuda dengan nama yang sama. Pemuda ini dikenal sebagai "Sampah Terbesar" di Kota Daun Musim Gugur karena meridiannya cacat sejak lahir. Namun, mereka tidak tahu bahwa di dalam lautan jiwanya, Lin Chen membawa Sutra Pedang Kehampaan, sebuah teknik kultivasi purba yang memungkinkannya menyerap energi alam semesta.
Dimulailah perjalanan Lin Chen untuk merangkai kembali takdirnya, menginjak jenius arogan, menaklukkan naga suci, dan kembali ke Alam Dewa untuk menuntut darah para pengkhianatnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12: Badai dari Sang Penguasa Pedang
Serpihan Batu Bintang Hitam masih berjatuhan ke lantai arena, menghasilkan suara gemerincing kecil yang memantul di tengah keheningan mutlak alun-alun Kota Daun Musim Gugur.
Puluhan ribu pasang mata menatap kaku ke arah pemuda berjubah hitam yang memanggul pedang raksasa di bahunya. Angin berhembus pelan, menerbangkan ujung rambut Lin Chen, sementara ekspresinya tetap sedatar permukaan danau es.
"Batunya hancur sebelum menampilkan angka," ulang Lin Chen, kali ini nadanya sedikit tidak sabar. "Tuan Kota, apakah aku harus mengulang ujiannya dengan batu yang baru?"
Pertanyaan santai itu bagaikan tamparan keras yang menyadarkan semua orang dari trans mereka.
Tuan Kota Liu Yuan tersentak. Otot-otot di wajahnya berkedut hebat. Mengulang ujiannya? Batu Bintang Hitam itu adalah artefak pengukur yang ia beli dari ibu kota dengan harga ribuan koin emas! Benda itu terbuat dari material yang dirancang untuk menahan pukulan kultivator Ranah Kondensasi Qi Tingkat 8!
"T-tidak perlu..." Liu Yuan menelan ludah, suaranya sedikit bergetar karena campuran rasa terkejut dan sakit hati memikirkan kerugian materinya. Ia memaksakan diri untuk berdiri tegak. "Menghancurkan Batu Ujian berarti kekuatanmu telah melampaui batas ukur... Lin Chen, kau lolos dengan nilai mutlak!"
BOOOM!
Seketika, alun-alun meledak dalam sorakan dan teriakan histeris. Para penonton yang tadinya mencibir Lin Chen kini berteriak kegirangan seolah menyaksikan kelahiran legenda baru. Di dunia kultivasi, kekuatan yang menentang logika selalu memicu pemujaan.
Di tribun Keluarga Lin, Patriark Lin Zhentian tertawa terbahak-bahak hingga jenggotnya bergetar. Wajahnya merah padam karena bangga. "Hahaha! Bagus! Bagus sekali! Itulah darah Keluarga Lin!"
Sementara itu, di tribun Keluarga Wang dan Keluarga Zhao, suasananya suram seperti kuburan.
Patriark Wang Teng meremas sandaran kursinya hingga hancur menjadi bubuk kayu. Matanya memancarkan niat membunuh yang pekat. "Anak ini... selama tiga tahun menyembunyikan kekuatannya sedalam ini? Pantas saja dia berani menulis Surat Pemutusan. Fisiknya jelas telah ditempa menggunakan metode kuno!"
Wang Xue'er menggigit bibir bawahnya hingga nyaris berdarah. Harga dirinya sebagai jenius nomor satu terluka parah. Pukulannya yang sekuat 6.200 Jin kini terlihat seperti lelucon dibandingkan dengan Lin Chen yang menghancurkan alat ukur itu sendiri.
“Tidak... itu hanya kekuatan kasar!” batin Wang Xue'er menenangkan dirinya. "Dalam pertarungan nyata, kelincahan, teknik, dan kemurnian Qi adalah segalanya. Senjata seberat itu hanya akan membuatnya menjadi sasaran empuk teknik elemen esku!"
Di sisi lain, wajah Tuan Muda Zhao Feng pucat pasi. Ia mengingat kembali insiden di Paviliun Harta Surgawi. Jika saat itu Manajer Sun tidak menghentikan pertarungan, apakah nasibnya akan sama dengan Batu Bintang Hitam itu?
Babak kualifikasi segera berakhir. Dari ratusan peserta, hanya 32 orang yang berhasil lolos ke babak utama. Tuan Kota mengundi nama-nama peserta untuk menentukan bagan pertarungan.
"Babak Utama, Pertandingan Ketiga!" teriak wasit dari atas arena yang baru saja dibersihkan dari puing-puing batu ujian. "Lin Chen dari Keluarga Lin, melawan Zhao Kuo dari Keluarga Zhao!"
Mendengar nama itu diumumkan, tribun Keluarga Zhao kembali bersorak.
Zhao Kuo adalah sepupu tertua Zhao Feng. Di usianya yang ke-19 tahun, ia telah mencapai puncak Ranah Kondensasi Qi Tingkat 5, dan terkenal dengan julukan "Beruang Gila" karena gaya bertarungnya yang sangat brutal dan tak kenal ampun.
Sesosok pemuda bertubuh raksasa, nyaris setinggi dua meter dan dipenuhi otot yang menonjol, melompat ke atas arena hingga lantainya bergetar. Zhao Kuo membawa sepasang kapak perang berukuran besar yang berkilat memantulkan cahaya matahari.
"Hahaha! Lin Chen!" raung Zhao Kuo sambil memukulkan kedua kapaknya. "Kekuatan fisikmu memang lumayan untuk menghancurkan batu mati! Tapi sayangnya bagimu, batu tidak bisa membalas serangan, sedangkan kapak-kapakku ini sangat haus akan darah!"
Dari sisi lain arena, Lin Chen berjalan menaiki tangga dengan santai. Pedang Berat Penelan Bintang masih tersarung di punggungnya. Ia berdiri sekitar sepuluh langkah dari lawannya, sama sekali tidak mengambil kuda-kuda bertarung.
"Mulai!" teriak wasit sambil mundur ke pinggir arena.
Zhao Feng berteriak dari pinggir arena, "Kakak Kuo! Jangan beri dia kesempatan mengangkat pedang beratnya! Potong kedua kakinya!"
"Sesuai keinginanmu!" Zhao Kuo mengaum. Qi elemen tanah meledak dari tubuh besarnya, melapisi otot-ototnya dengan lapisan cahaya kecokelatan yang membuatnya terlihat seperti golem batu.
"Kapak Pembelah Gunung!"
Tubuh raksasa Zhao Kuo melesat dengan kecepatan yang tidak sesuai dengan posturnya. Ia melompat ke udara, mengangkat kedua kapaknya tinggi-tinggi, dan menebaskannya ke arah kepala Lin Chen dengan kekuatan yang membelah angin. Tekanan dari serangan ini membuat para murid berlevel rendah di kursi penonton merasa kesulitan bernapas.
Namun, di bawah bayang-bayang kapak maut itu, Lin Chen hanya menghela napas tipis.
"Kau terlalu lambat. Bahkan siput yang sekarat bergerak lebih cepat darimu."
Tepat ketika bilah kapak itu berjarak satu jengkal dari kepalanya, Lin Chen akhirnya bergerak. Ia tidak repot-repot menarik pedang beratnya dari punggung. Sebaliknya, ia hanya menggeser tubuhnya ke samping dengan gerakan yang sangat rileks, namun gesit layaknya kilat.
Wush!
Kedua kapak Zhao Kuo menghantam angin kosong dan menabrak lantai arena, menghasilkan ledakan kerikil dan debu.
Sebelum Zhao Kuo sempat menyadari bahwa serangannya meleset, ia melihat sebuah tinju pucat membesar di depan matanya.
Lin Chen sama sekali tidak menggunakan teknik seni bela diri. Ia murni menggunakan kekuatan fisiknya yang telah ditempa oleh Mata Air Roh Es dan Cairan Penempa Tubuh, lalu meninju langsung ke arah dada Zhao Kuo yang dilapisi pelindung elemen tanah.
DUAAAAAR!
Suara benturannya tidak seperti kepalan tangan yang menghantam daging, melainkan seperti palu godam raksasa yang menabrak lonceng tembaga.
Pelindung Qi berelemen tanah milik Zhao Kuo hancur berkeping-keping seketika layaknya kaca tipis. Kekuatan pukulan yang tak masuk akal itu merangsek masuk ke dalam tubuh raksasa tersebut.
"Ughh... Pfft!"
Zhao Kuo memuntahkan panah darah yang bercampur dengan serpihan organ dalamnya. Tubuh seberat dua ratus kilogram itu terangkat dari tanah dan terpelanting melintasi arena sejauh tiga puluh meter. Ia terbang melewati batas ring, menabrak tembok pembatas penonton, dan tertanam ke dalam dinding batu hingga membentuk kawah berbentuk manusia.
Sepasang kapak perangnya tertinggal di lantai arena, sementara pemiliknya pingsan total dengan tulang rusuk yang nyaris remuk seluruhnya.
Satu pukulan. Tanpa pedang. Tanpa Qi yang terlihat.
Sorak-sorai penonton seketika mati. Mulut mereka terbuka lebar, namun tak ada suara yang keluar.
Zhao Feng, yang baru saja meneriakkan semangat, membeku dengan rahang nyaris jatuh ke tanah. "B-bagaimana mungkin... Kakak Kuo dikalahkan hanya dengan satu pukulan ringan?!"
Wasit yang bertugas juga terpaku di tempatnya selama beberapa detik sebelum akhirnya tergagap. "P-pemenang... Lin Chen dari Keluarga Lin!"
Lin Chen menarik kembali tinjunya, merapikan lengan jubahnya yang sedikit berkerut, lalu berjalan menuruni arena seolah ia baru saja menyingkirkan lalat yang mengganggu. Saat ia berjalan melewati area istirahat Keluarga Wang, ia melirik sekilas ke arah Wang Xue'er.
Tatapan itu sangat dingin, merendahkan, dan penuh provokasi.
Wang Xue'er mengepalkan tangannya hingga kuku-kukunya memutih. Udara di sekitarnya mendadak turun drastis, menciptakan embun beku di kursi tempatnya duduk. "Lin Chen... kau benar-benar memancing kemarahanku!"
Di atas tribun tertinggi, Tuan Kota Liu Yuan mencondongkan tubuhnya ke depan, matanya berkilat penuh ketertarikan. "Metode penempaan tubuh purba? Mungkinkah anak ini menemukan warisan dari era kuno di Hutan Bayangan? Menarik... Turnamen tahun ini jauh lebih seru dari yang kuduga."