Demi melindungi cintanya, dia harus membuat sebuah keputusan yang sulit untuk di mengerti orang lain. Menyembunyikan pernikahannya dan tinggal terpisah dari istrinya sampai batas waktu yang tidak bisa ditentukan.
Tidak ada yang mengetahui tentang pernikahan itu selain dirinya, si gadis dan asisten pribadinya. Sangat tidak masuk akal memang, namun semua itu Kevin lakukan semata-mata hanya demi melindungi gadis tercintanya tersebut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lusica Jung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 33
Hingar bingar lampu disco menyambut kedatangan Kevin di Black White Night Club. Leon menghubunginya dan memintanya untuk datang. Karna kebetulan mereka berempat sudah lama tidak berkumpul, Kevin pun menerima undangan sahabat jangkungnya tersebut.
Dari kejauhan Kevin melihat kedua sahabatnya dan seorang gadis asing tapi terlihat familiar tengah berbincang. Kevin tidak tau apa yang sedang mereka obrolkan tapi terlihat jelas jika gadis asing itu sangat tidak menyukai ketika Leon menggodanya. Kemudian Kevin menghampiri mereka lalu mendaratkan pantatnya di samping Leon.
"Sorry aku terlambat." Tangannya terulur untuk mengambil sebatang rokok dari kotaknya lalu menyulutnya. "Di mana Justin? Tumben dia tidak datang?" heran Kevin dan sepertinya dia masih belum menyadari sesuatu.
"Kau buta, ya? Jelas-jelas aku di sini, Kevin Zhang," sahut seseorang dari arah kanan Kevin.
Sontak Kevin menoleh, matanya membelalak saat sadar jika sosok wanita dalam wujud jadi-jadian di samping kanannya adalah Justin. Seketika tawa Kevin pun pecah. Tawa Kevin yang keras membuat bulu kuduk Leon dan Daniel berdiri seketika, mereka berdua merasa horror melihat Kevin tertawa selepas itu.
Kevin tertawa sambil memegangi perutnya. Air matanya sampai menetes saking lamanya tertawa. Tak ingin melewatkan moment langkah seperti ini, Kevin segera mengambil foto bersama Justin yang berubah wujud menjadi wanita jadi-jadian.
"Terus aja tertawa, kau fikir ini lucu?" Justin mencerutkan bibirnya. Dia benar-benar kesal pada Kevin. Justin fikir Kevin berbeda dengan Leon dan Daniel, tapi ternyata dia sama saja dan tidak ada bedanya. "Di sini bersama kalian terlalu lama malah membuat kepalaku hampir meledak, lebih baik aku pergi saja." Justin menyambar kunci mobilnya dan pergi begitu saja.
"Pfftt ... BWAHAHAHHAHA," tawa Leon pecah detik itu juga. Sudah sejak tadi dia menahan tawanya, tapi pada akhirnya tawanya pecah juga.
Dan sementara itu. Justin yang baru saja tiba di luar tidak sengaja bertabrakan dengan seseorang hingga membuatnya terjatuh, dia merasakan sakit yang luar biasa pada pinggang dan pantatnya karna berbenturan dengan aspal.
"Yakkk! Di mana kakimu saat berjalan? Apa kakimu tidak bisa melihat aku berjalan didepanmu, eo?" amuk Justin pada sosok pemuda yang berdiri menjulang didepannya.
Pemuda itu segera meminta maaf sambil mengulurkan tangannya pada Justin, dia merasa tidak enak hati. "Eo, maaf Nunna aku tidak sengaja, sungguh. Mari aku bantu kau berdiri," ucap pemuda itu masih menggulurkan tangannya.
Plakk! Alih-alih menerima uluran tangan itu, Justin malah menepisnya dengan kasar. "Tidak usah, aku tidak butuh bantuanmu. Minggir," Justin mencoba untuk berdiri tapi sial, sebelah kakinya malah terjegal kaki kanannya, hampir saja tubuhnya menghantam aspal dengan keras jika saja tidak ada sepasang tangan yang menangkapnya dari belakang.
"Nona, kau tidak apa-apa?" tanya orang itu memastikan. Kedua matanya langsung berbinar setelah melihat wajah Justin. "Huaaa ... Nona, kau sangat cantik, bagaimana kalau kita berkenalan? Perkenalkan namaku-,"
"Aku tidak berminat untuk berlenalan dengan mesum sepertimu." Timpal Justin dan pergi begitu saja.
"Nona, aku berharap semoga kita bisa bertemu lagi ya. Aku jatuh cinta pada pandangan pertama, Nona, aku mencintaimu..."
"Tapi aku tidak,"
Justin tidak tau mimpi buruk apa yang telah dia alami sampai-sampai mengalami hari yang begitu buruk dalam hidupnya. Dan rasanya Justin ingin mengutuk Leon karna sudah mengajak dan menjebaknya dalam sebuah taruhan bodoh yang menyesatkan hidupnya.
"Leon Park, awas saja dan tunggu pembalasanku."
🌹🌹🌹
Kevin menghentikan mobilnya di halaman luas sebuah bangunan mewah yang memiliki tiga lantai. Seorang pria menghampirinya dan memgambil alih kunci mobil di tangan Kevin. Kevin berjalan masuk dan mendapati pintu kaca yang menghubungkan antara taman dan luar keluarga terbuka dan lampu di sana terlihat terang.
Dari jarak lima meter, Kevin melihat keberadaan seorang wanita tengah duduk pada bangku panjang yang berhadapan dengan sebuah air mancur yang di hiasi lampu warna-warni. Kevin melepas jasnya lalu menyampirkan pada bahu wanita itu yang pastinya adalah Jessica.
Jessica terlonjak kaget merasakan sesuatu yang hangat jatuh di atas bahunya. Lantas dia menoleh dan mendapati Kevin berdiri dibelakangnya. "Kau membuatku terkejut," wanita itu mengusap dadanya, jantungnya hampir saja loncat dari tempatnya.
"Kenapa tidak tidur dan malah duduk di sini?" tanya Kevin memastikan.
"Aku tidak bisa tidur, aku takut tidur sendirian. Lagi pula siapa suruh kau pergi malam-malam, sudah tau aku dalam keadaan hamil muda masih saja di tinggal kemana-mana." Jessica mencerutkan bibirnya.
"Hm, maaf, aku janji hal seperti ini tidak akan terulang lagi." Ucap Kevin penuh sesal. "Sebaiknya sekarang kita masuk, kau harus segera tidur dan aku tidak mau dengar kata tidak," lanjut Kevin menegaskan.
"Gendong," renggek Jessica sambil mengulurkan tangannya. Pria itu mendengus, dengan segera Kevin mengangkat tubuh Jessica dan membawanya masuk ke dalam. Kedua tangan Jessica mengalung pada leher Kevin dan menatap matanya lekat-letak. "Oya, apakah bekas luka pada sisi wajahmu tidak bisa dihilangkan dengan operasi plastik misalnya?"
"Kenapa? Apa kau sekarang merasa malu memiliki suami yang wajahnya cacat sebelah dan tidak seperti dulu lagi?"
"Apa yang kau bicarakan? Aku kan hanya bertanya kenapa kau menanggapinya dengan serius," Jessica mencerutkan bibirnya. Kevin mendengus geli. Dengan gemas dia menyergap bibir Jessica dan menciumnya singkat.
"Kau yang terlalu serius, Sayang."
Mereka tiba di kamar. Kemudian Kevin menurunkan Jessica dan membaringkannya pada tempat tidur. Kevin menarik selimut yang ada di bawah kaki Jessica lalu menyelimuti tubuh wanita itu sampai sebatas dada lalu memintanya untuk segera tidur. "Tribal," renggek Jessica sambil menunjuk lengan Kevin yang tertutup lengan kemejanya.
Kevin memicingkan matanya. Jessica mendengus berat. "Tribal," renggeknya sekali lagi. Wanita itu kembali mendengus karna Kevin tidak paham juga. "Ck, kenapa kau tidak paham juga, Kevin Zhang. Aku ingin melihat Tribal-mu jadi lepaskan kemeja berlenganmu itu,"
Kini giliran Kevin yang mendengus berat. Kemudian Kevin membuka kemeja hitamnya menyisahkan singlet hitam yang membungkus tubuh kekarnya. Mata Jessica berbinar seketika. "KKKYYYAAAA, TRIBAL," histeris Jessica lalu memeluk lengan Kevin yang terhiasi Tatto. "Dan bisakah mulai sekarang jangan sembunyikan tribal ini dariku, jika perlu aku akan memotong semua lengan kemejamu biar aku bisa melihat Tribalmu ini setiap waktu." Jessica mengangkat wajahnya dan menatap Kevin dengan mata berbinar-binar.
Lagi-lagi Kevin mendengus berat. "Terserah asal itu membuatmu senang, sebaiknya sekarang kau tidur ini sudah larut malam."
"Siap, Kapten." Wanita itu terkekeh. Jessica berbaring di samping Kevin, dan dalam hitungan detik saja wanita itu sudah pergi ke alam mimpi. Sudut bibir Kevin tertarik ke atas. Dengan sayang pria itu mencium kening Jessica lalu memeluknya.
🌹
"TAO,"
Teriakkan Jessica menggema dan memenuhi di seluruh penjuru ruangan. Membuat sepasang mata yang semula tertutup dan terbuka seketika. Pemilik mata coklat itu mendengus berat. Dia tidak tau apa lagi kejahilan yang Tao lakukan kali ini sampai-sampai Jessica harus mengeluarkan suara lumba-lumbanya.
Penasaran apa yang terjadi. Pria itu 'Kevin' menyibak selimut dari tubuhnya kemudian berjalan keluar meninggalkan kamarnya. Dari lantai dua dia melihat Jessica yang tengah memarahi dan mengomeli Tao habis-habisan karna pria itu menghabiskan susu Ibu hamilnya.
Kevin mendengus berat. Menggelengkan kepalanya lalu berbalik dan kembali kekamarnya. Dia tidak lagi merasa heran apalagi terkejut dengah perdebatan mereka berdua. Karna hal semacam itu sudah kerap terjadi dan nyaris setiap pagi.
.
.
.
BERSAMBUNG,