Enam tahun lalu, Alisha Husnah melangkah keluar dari kediaman mewah keluarga Raffasyah dengan hati hancur. Sebuah skandal menjijikkan yang dirancang rapi memaksanya percaya bahwa suaminya, Fardan, telah berkhianat. Alisha pergi, membawa rahasia besar tentang janin yang dikandungnya.
Kini, takdir membawa mereka bertemu dalam sebuah proyek besar. Fardan, sang CEO dingin yang menyimpan dendam atas kepergian istrinya, memberikan ultimatum kejam: kembali padanya atau kehilangan hak asuh atas putra mereka, Ghifari.
Namun, baik Fardan maupun keluarga besar Raffasyah tidak menyadari satu hal. Ghifari bukan sekadar bocah biasa. Dibalik wajah imutnya, tersimpan kecerdasan genius yang ia warisi dari ayahnya. Sementara orang tuanya terjebak dalam perang dingin dan sisa-sisa cinta yang luka, Ghifari mulai bergerak dibalik layar.
Dia bukan hanya ingin menyatukan Ayah dan Ibunya saja. Tapi misinya ingin membongkar topeng busuk para penghuni "istana" yang memisahkan keluarganya. Si kecil siap.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ramanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PELINDUNG DALAM GELAP
Langkah kaki Fardan bergema keras di koridor lantai dua belas, memecah kesunyian hotel mewah yang tenang. Amarah yang membara di dadanya membuat suhu di sekitarnya seolah mendidih. Begitu sampai di depan pintu kamar 1201, ia tidak menunggu sedetik pun. Dengan satu tendangan kuat, pintu kayu solid itu terbuka paksa.
Di dalam, Sebastian yang baru saja hendak mendekatkan wajahnya ke arah Alisha tersentak hebat. Belum sempat ia menyadari apa yang terjadi, sebuah tendangan telak mendarat di dadanya, membuatnya terpental jatuh dari ranjang ke lantai marmer yang dingin. Fardan tidak memberikan kesempatan bagi pria itu untuk bernapas. Ia melompat dan menghujami wajah blasteran Sebastian dengan tinju berkali-kali.
"Beraninya kau menyentuh milikku!" geram Fardan dengan suara yang terdengar seperti raungan singa.
Tinju demi tinju mendarat telak hingga Sebastian tidak lagi mampu bersuara, apalagi melawan. Setelah memastikan bajingan itu tidak sadarkan diri dengan wajah babak belur, Fardan segera berpindah ke ranjang. Ia menggendong tubuh Alisha yang terkulai lemas dengan sangat hati-hati, seolah istrinya adalah porselen yang bisa pecah kapan saja.
"Dewa! Cari Intan di kamar sebelah sekarang!" perintah Fardan pada asistennya yang baru saja masuk.
Tak butuh waktu lama bagi para anak buah Fardan untuk mengamankan lokasi. Sebastian diseret keluar dalam keadaan tak berdaya untuk dibawa ke ruang bawah tanah kantor Raffansyah Group. Sementara itu, Dewa muncul dari kamar sebelah sembari menggendong Intan yang juga tak sadarkan diri. Guntur dan asistennya sudah diringkus tanpa perlawanan berarti.
Perjalanan menuju rumah sakit menjadi momen yang paling menguji ketenangan Fardan. Di kursi belakang, obat bius yang dicampur zat perangsang dosis tinggi mulai bekerja pada tubuh Alisha. Kesadarannya masih samar, namun tangannya mulai meracau dan menggerayangi tubuh Fardan dengan gerakan yang tak terkendali.
"Alisha, bertahanlah. Sabar, Sayang, kita hampir sampai di rumah sakit," bisik Fardan dengan keringat dingin di dahi.
"Fardan... panas... tolong aku," rintih Alisha sembari terus menarik kerah baju suaminya.
Di depan, Dewa juga mengalami kesulitan yang sama. Intan yang berada di kursi samping kemudi mulai bereaksi serupa. Dewa terpaksa mengemudi dengan satu tangan sementara tangan lainnya menahan pergerakan Intan agar tidak mengganggu kemudinya.
"Cepat, Dewa! Jangan sampai kita terlambat!" teriak Fardan yang mulai kewalahan menahan istrinya.
Sesampainya di rumah sakit, tim medis langsung menangani keduanya. Dokter menjelaskan bahwa dosis yang diberikan pada Alisha sangat keras. Meski tubuhnya lemas karena bius, hasrat yang dipicu oleh obat tersebut menyiksa syarafnya secara luar biasa. Dokter memberikan pilihan sulit: Alisha harus segera "disalurkan" atau ia akan terus tersiksa hingga efek obatnya habis secara alami.
Fardan menatap wajah istrinya yang berkeringat dengan hati yang perih. Secara hukum agama dan negara, ia punya hak sepenuhnya untuk membantu Alisha dengan cara bersetubuh. Namun, harga dirinya sebagai suami melarang itu. Ia tidak ingin mengambil kesempatan dalam kondisi istrinya yang tidak sadar.
Akhirnya, Fardan memilih cara lain. Ia memeluk Alisha dengan sangat erat, membiarkan istrinya mencurahkan rasa panas itu melalui ciuman-ciuman panjang yang menenangkan. Selama berjam-jam ia bertahan, memberikan rasa nyaman hingga akhirnya Alisha perlahan tenang dan terlelap karena kelelahan.
Pagi harinya, sinar matahari masuk melalui celah gorden ruang perawatan. Alisha tersentak, kelopak matanya perlahan terbuka. Hal pertama yang ia lihat adalah wajah tampan Fardan yang sedang tertidur di sampingnya, memeluknya dengan pose yang sangat protektif. Ia menyadari dirinya berada di rumah sakit dan mencoba mengingat apa yang terjadi semalam, namun ingatannya hanya sampai pada momen ia meminum jus jeruk itu.
"Sudah bangun, hm?" suara serak Fardan terdengar. Ia rupanya terbangun karena pergerakan Alisha.
Alisha menatap suaminya dengan bingung. "Fardan... apa yang terjadi? Kenapa aku di sini?"
"Kau benar-benar tidak ingat kejadian semalam?" tanya Fardan sembari mengelus pipi istrinya. Alisha menggelengkan kepalanya dengan polos.
Fardan tersenyum tipis, sorot matanya yang penuh cinta kini sedikit dihiasi rasa jahil. "Aku hanya akan menceritakannya jika kau memanggilku 'Ayang'. Bukankah dulu kau sering memanggilku begitu?"
Wajah Alisha seketika merona merah. "Fardan, ini rumah sakit!"
"Tidak ada panggilan Ayang, tidak ada cerita," goda Fardan.
Alisha menghela napas pasrah, menatap mata suaminya yang terlihat sangat lelah namun bahagia. "Baiklah... Ayang, tolong ceritakan apa yang terjadi."
Fardan pun menceritakan semuanya, mulai dari peringatan Ghifari hingga bagaimana ia menghajar Sebastian. Alisha menutup mulutnya dengan tangan, merasa ngeri membayangkan apa yang mungkin terjadi jika Fardan terlambat sedetik saja.
"Terima kasih Ayang, terimakasih sudah menyelamatkan aku," bisik Alisha sembari memeluk suaminya erat. "Aku berjanji, mulai sekarang aku tidak akan pergi ke pertemuan seperti itu sendirian lagi."
Alisha kemudian menatap suaminya penuh selidik. "Lalu... obat itu... dokter bilang aku disiksa obat. Apakah kita... melakukannya semalam?"
Fardan tertawa kecil, ia mengecup hidung Alisha. "Tidak, Sayang. Aku tidak suka melakukannya jika kau dalam keadaan dipengaruhi obat dan tidak sadar. Aku hanya membantumu dengan ciuman dan pelukan sampai kau tenang."
Fardan kemudian berbisik tepat di telinga Alisha, membuat bulu kuduk istrinya meremang. "Tapi gara-gara itu, aku jadi sangat terangsang semalam. Jadi, saat tubuhmu sudah pulih nanti, kau harus melayaniku lebih dari sekali. Itu servis balasan karena aku sudah bersikap sangat budiman."
"Fardan!" Alisha mencubit lengan suaminya dengan gemas, membuat Fardan tergelak.
Tiba-tiba, pintu kamar diketuk. Tak lama kemudian, Ghifari masuk bersama Fajar. Begitu melihat putranya, Alisha langsung merentangkan tangan. Ghifari mendekat dan memeluk ibunya dengan wajah yang tetap tenang, meski ada gurat kelegaan di matanya.
"Bunda tidak apa-apa?" tanya Ghifari singkat.
"Bunda baik-baik saja, Nak. Terima kasih ya, karena kejeniusanmu, Ayah bisa menemukan Bunda tepat waktu," ucap Alisha sembari mencium kening putranya.
Ghifari menoleh ke arah ayahnya. "Ayah, lain kali tolong pasang alat pelacak permanen di tas Bunda agar aku tidak perlu membobol protokol keamanan hotel bintang lima hanya untuk mencari koordinat kalian. Itu sangat membuang waktu bermain pasirku."
Fardan dan Fajar tertawa mendengar celoteh bocah itu. Di tengah suasana haru dan romantis itu, Fardan merasa sangat bersyukur. Ia telah mendapatkan kembali cintanya, dan ia memiliki seorang putra yang meski terlihat dingin, ternyata adalah malaikat pelindung bagi keluarganya.
"Ayang, aku lapar," ucap Fardan tiba-tiba sembari menatap Alisha dengan tatapan manja.
Fajar yang berdiri di depan pintu hanya bisa menggelengkan kepala. "Tolong ya, ada keponakanku di sini. Jangan panggil Ayang-Ayang dulu, perutku mual mendengarnya."
Gelak tawa pun memenuhi ruangan itu, menghapus sisa-sisa ketegangan dari malam yang mencekam. Kini, Fardan tahu satu hal pasti: siapa pun yang mencoba mengusik kebahagiaan Alisha dan Ghifari, mereka tidak hanya akan berhadapan dengan kekuatannya, tapi juga dengan kecerdasan mematikan dari sang pangeran pasir, Ghifari.