NovelToon NovelToon
Hanya Cinta Yang Bisa

Hanya Cinta Yang Bisa

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Nikah Kontrak / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:610
Nilai: 5
Nama Author: Serena Muna

Helen Kusuma adalah seorang putri konglomerat yang jatuh miskin setelah ibu tirinya, Beatrix Van Amgard mengusirnya paksa pasca mendiang papa Helen, Aditya Kusuma tewas dalam sebuah kecelakaan tragis! Helen harus menghadapi penderitaan dan kehinaan oleh kejamnya Beatrix walau ia sudah tak punya apa pun lagi namun takdir mempertemukannya dengan seorang pria bernama Aryo Diangga membuat hidupnya jauh lebih baik. Bagaimana akhir kisahnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Muna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Venezuela

Di Jakarta, fajar telah tiba dengan warna merah saga yang mengancam. Beatrix van Amgard berdiri di balkon kantornya, memegang telepon genggamnya dengan cengkeraman yang begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih.

"Gagal?" suara Beatrix rendah, namun mengandung ancaman kematian yang nyata. "Kau bilang mereka meloloskan diri ke Venezuela dengan perahu nelayan?"

Di seberang sana, Andre terdengar putus asa. "Kami akan mengejar mereka ke daratan, Nyonya. Saya akan menghubungi kartel di sana—"

"Tutup mulutmu!" bentak Beatrix. Ia mematikan telepon dan membantingnya ke lantai hingga hancur berkeping-keping.

Ia berbalik, menatap ruangan kantor yang kini sudah sepenuhnya bergaya Belanda minimalis. Tidak ada lagi jejak Aditya. Namun, keberhasilan Helen dan Ario melarikan diri ke Venezuela adalah sebuah noda besar dalam rencananya. Jika mereka mencapai konsulat atau mendapatkan perlindungan dari jaringan internasional Ario, semua yang ia bangun di Jakarta bisa goyah.

"Bambang!" panggil Beatrix.

Bambang masuk dengan wajah tegang. "Ya, Nyonya?"

"Hubungi kontak kita di Caracas. Berikan hadiah satu juta dolar bagi siapa saja yang bisa membawa kepala Ario Diangga ke hadapanku, dan bawa Helen dalam keadaan hidup. Aku ingin mereka tahu bahwa tidak ada tempat di bumi ini yang bisa menyembunyikan mereka dari Van Amgard."

Beatrix tersenyum sinis, menatap matahari yang mulai meninggi. Ia merasa permainannya baru saja menjadi menarik.

****

Perahu kecil itu terus melaju menantang gelombang menuju daratan Amerika Selatan. Helen menatap hamparan air hitam di sekeliling mereka. Ia tahu, perjalanan menuju Venezuela bukanlah akhir dari penderitaan mereka. Itu hanyalah awal dari babak baru yang mungkin lebih berdarah.

Namun, saat ia merasakan genggaman tangan Ario yang lemah namun tetap berusaha memberinya kekuatan, Helen tidak lagi merasa takut. Ia bukan lagi gadis manja yang hanya bisa menangis di pojok ruangan. Ia adalah istri dari seorang pejuang, dan putri dari seorang raja yang dikhianati.

"Kita akan kembali ke Jakarta, Ario," bisik Helen, lebih pada dirinya sendiri. "Kita akan merebut kembali semuanya. Dan Beatrix akan membayar untuk setiap tetes darah yang keluar dari bahumu malam ini."

Ario hanya tersenyum tipis sebelum akhirnya memejamkan mata karena kelelahan. Di tengah samudera yang luas, di bawah langit malam yang tak berujung, Helen Kusuma mulai menyusun rencana balas dendamnya sendiri.

****

Pesisir Caracas menyambut mereka bukan dengan kemegahan kota pelabuhan, melainkan dengan bau amis garam yang membusuk dan kesunyian yang mencekam. Perahu motor tua itu terombang-ambing, mesinnya terbatuk satu kali sebelum akhirnya mati total tepat saat haluannya mencium pasir hitam Pantai La Guaira yang sunyi.

Fajar di Venezuela berwarna ungu pucat, seolah-olah langit pun enggan menunjukkan wajah cerahnya pada negeri yang sedang sekarat. Helen Kusuma melompat ke air setinggi lutut, tangannya gemetar saat ia membantu menarik tubuh Ario Diangga keluar dari perahu.

Ario tak lagi perkasa. Pria yang biasanya berdiri tegak seperti pilar baja itu kini terkulai, berat badannya bertumpu sepenuhnya pada bahu Helen yang kecil. Kemeja putihnya sudah berubah menjadi merah pekat di bagian bahu kiri, dan napasnya terdengar pendek-pendek, seperti gesekan amplas di atas kayu.

"Ario, bertahanlah... sedikit lagi," isak Helen, suaranya parau karena garam dan ketakutan.

Mereka merangkak di atas pasir, menjauh dari garis pantai agar tak terlihat dari laut. Di depan mereka, deretan bangunan beton yang retak dan dinding-dinding penuh grafiti politik berdiri membisu. Tidak ada lampu jalan. Tidak ada tanda-tanda kehidupan, kecuali seekor anjing kurus yang menggonggong di kejauhan.

Tiba-tiba, sebuah bayangan muncul dari balik gubuk kayu yang nyaris roboh. Seorang pria tua dengan kulit sewarna tembaga yang keriput dan topi jerami lusuh berdiri mematung. Di tangannya, ia memegang sebuah parang—alat pertahanan diri yang lazim di tempat di mana hukum telah lama menghilang.

"¿Quién está ahí?" (Siapa di sana?) suara pria itu serak, penuh kecurigaan yang tajam.

Helen membeku. Ia tidak mengerti bahasa Spanyol, namun ia tahu nada itu. Nada ketakutan. Ia mengangkat tangannya yang bersimbah darah, menunjukkan bahwa mereka tidak membawa senjata.

"Please... help... husband... injured..." (Tolong... suami... terluka...) rintih Helen dengan sisa tenaganya.

Pria tua itu, Miguel, menurunkan parangnya perlahan saat melihat darah yang merembes dari bahu Ario dan wajah Helen yang hancur oleh air mata. Ia melihat kapal nelayan Aruba di kejauhan dan mengerti. Di Venezuela, pengungsi adalah pemandangan biasa, namun jarang ada yang datang dengan luka tembak dan pakaian mahal yang sudah compang-camping.

"Vengan. Rápido," (Ikutlah. Cepat,) Miguel memberi isyarat dengan tangannya.

****

Miguel membantu Helen memapah Ario menuju sebuah rumah kecil yang bertengger di lereng bukit. Rumah itu hanya terdiri dari satu ruangan dengan lantai semen yang pecah-pecah dan atap seng yang berlubang. Aroma jagung rebus dan debu menyengat indra penciuman.

Mereka membaringkan Ario di atas tempat tidur kayu yang hanya dialasi kain tipis. Ario mengerang keras saat punggungnya menyentuh permukaan keras itu. Kesadarannya mulai timbul-tenggelam.

"Panas..." gumam Ario, bibirnya pecah-pecah dan putih. "Helen... lari..."

"Aku tidak akan pergi, Ario! Aku di sini!" Helen menggenggam tangan Ario, merasakannya begitu dingin meski suhu udara Caracas mulai menghangat.

Miguel keluar ruangan dan kembali dengan seember air kusam dan sepotong kain bersih. Ia menatap luka Ario dan menggelengkan kepalanya dengan raut wajah muram. Ia berbicara dalam bahasa Spanyol yang cepat, tangannya bergerak-gerak menjelaskan sesuatu.

Melalui bahasa isyarat, Miguel menjelaskan bahwa di sini, di lingkungan barrio ini, obat-obatan adalah kemewahan yang hanya dimiliki dewa. Krisis ekonomi telah menghisap habis apotek hingga kering. Tidak ada perban, tidak ada antibiotik, bahkan tidak ada alkohol untuk membersihkan luka.

Helen merasa putus asa. Ia teringat kehidupan mewahnya di Jakarta—bagaimana ia bisa memanggil dokter pribadi hanya untuk sakit kepala ringan. Sekarang, suaminya sekarat di atas ranjang yang berbau apek di negara yang sedang hancur, dan ia tak bisa berbuat apa-apa.

****

Miguel tiba-tiba teringat sesuatu. Ia berlari keluar rumah sambil berteriak memanggil nama seseorang. Sekitar lima belas menit kemudian, ia kembali bersama seorang wanita paruh baya berambut perak yang mengenakan jas putih yang sudah menguning dan membawa tas kulit tua yang usang.

Dia adalah Dokter Elena. Seorang ahli bedah trauma yang kini harus bekerja di klinik bawah tanah karena rumah sakit pemerintah telah berubah menjadi gudang kosong.

Elena langsung memeriksa nadi Ario. Ia menekan pinggiran luka tembak itu, membuat darah segar kembali merembes keluar. Ario tersentak, matanya terbuka lebar namun kosong.

"Darahnya terlalu banyak yang keluar," ucap Elena dalam bahasa Inggris yang kaku namun jelas. Ia menatap Helen dengan mata yang lelah. "Pelurunya masih di dalam. Dekat dengan tulang belikat. Jika tidak dikeluarkan sekarang, infeksi akan membunuhnya dalam beberapa jam."

"Lakukan, Dok! Tolong!" tangis Helen pecah.

Elena membuka tasnya. Tidak ada mesin anestesi. Tidak ada peralatan canggih. Hanya ada beberapa pasang sarung tangan lateks, pisau bedah yang disterilkan dengan api, dan sebotol kecil cairan yang tampak seperti rum lokal.

"Saya tidak punya obat bius," Elena berkata dengan nada datar yang menyakitkan. "Hanya ini yang saya punya untuk menekan rasa sakitnya. Anda harus memeganginya. Dia akan meronta, dan jika dia bergerak saat saya memotong, sarafnya bisa putus."

Helen menatap Ario. Pria yang selama ini menjadi tamengnya kini harus menghadapi siksaan tanpa ampun, dan ia harus menjadi orang yang menahannya.

"Aku akan melakukannya," ucap Helen tegas, menyeka air matanya dengan lengan baju yang kotor.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!