Langit tidak pernah lagi memerah sejak Harmoni tumbang. Yang tersisa hanya kelabu pucat, puing kuil, dan seorang pemuda bernama Ling Xu—berambut putih bercorak warna-warna aneh, berdiri di tebing tertinggi, menyaksikan lembah yang dulu suci kini dipenuhi tiang-tiang pancang ritual mengerikan.
Mereka menyebut diri mereka Ilahi Kedua. Tapi siapa sebenarnya mereka? Dan apa yang benar-benar terjadi pada sore ketika Harmoni runtuh? Ling Xu hanya memiliki mimpi buruk yang sama, luka yang tak pernah sembuh, dan ingatan tentang ibunya yang ia goreskan kembali setiap malam. Sementara ayahnya—yang pernah berkata "jangan benci"—kini tak lagi punya kepala untuk mengucapkannya.
Di tengah sunyi yang lebih mengerikan dari jeritan, Ling Xu merangkai ritual sendirian di atas altar ayahnya yang bersisa. Ia bersumpah. Bukan untuk berduka, tapi untuk bersiap. Tapi pertanyaannya tetap menggantung di angin yang bau anyir: apakah ia benar-benar sendirian?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Girenda Dafa Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ketika Dewa Dipotong Seperti Manusia
...Chapter 1...
Langit semesta itu tak pernah lagi memerah seperti sore ketika Harmoni runtuh.
Kini langitnya kelabu pucat, seperti abu yang tak jadi terbang, menggantung lesu di atas hamparan puing kuil-kuil yang ditinggalkan.
Ling Xu berdiri di ambang tebing tertinggi, rambut putihnya yang bercorak urat-urat warna—biru samudra, emas senja, merah darah—bergerak pelan ditiup angin yang bau anyir.
Di bawahnya, lembah yang dulu suci kini hanya menyisakan tiang-tiang pancang dengan sisa-sisa ritual mengerikan; ia bisa melihat bayangan ibunya di setiap goresan batu.
“Mereka menyebut diri mereka Ilahi Kedua,” bisiknya, suaranya setipis pecahan kaca, “padahal mereka hanya kera yang belajar memegang pedang.”
Ling Xu mengepalkan tangan, kuku-kukunya hampir menembus telapak, dan di matanya yang redup, kebencian bukan lagi api—melainkan dingin yang tak pernah mati.
Di gubuk reot bekas kandang dewa itulah ia tidur, beralaskan lumut dan mimpi-mimpi buruk yang selalu sama.
Suara tawa para kultivator, suara ibunya yang terputus-putus, lalu sunyi yang lebih mengerikan dari jeritan.
Kadang ia bangun di tengah malam dan menemukan dirinya tanpa sadar telah menggores nama-nama di dinding batu—nama para dewa yang gugur, satu per satu, seperti puisi nisan.
“Ayah berkata, ‘Jangan benci, karena benci adalah belenggu,’” ujar Ling Xu pada angin, “tapi ayah sudah tak punya kepala untuk mengucapkannya lagi.”
Ia tersenyum pahit, lalu membalut pergelangan tangannya yang masih berdarah—luka lama yang tak kunjung sembuh, karena ia sengaja menggaruknya setiap kali ingatan tentang ibunya yang “digilir secara rame-rame” itu datang.
Di luar, suara auman binatang lintas semesta terdengar sayup, seperti ratapan yang tak berani dekat.
Suatu senja, saat kabut tipis merayap di antara pilar-pilar runtuh, Ling Xu menemukan sisa altar ayahnya—hanya sebuah cakram batu dengan alur darah yang telah mengering hitam. Ia berlutut, lalu mengusap permukaannya dengan ujung jari.
Di kepalanya, ia merangkai ritual sendirian.
Doa yang tak lagi didengar siapa pun, sumpah yang ditulis dengan air mata asin.
“Jika suatu saat nanti aku punya kekuatan,” katanya pelan, suaranya bergetar tapi mantap, “aku akan balik ke semesta mereka. Aku akan tunjukkan pada umat manusia apa artinya digilir dan dicincang.”
Ia lalu menancapkan sebilah belati kayu ke celah altar—tanda bahwa ia bukan hanya berduka, tapi juga bersiap.
Dan dari kejauhan, di langit yang sama sekali tak bersimpati, seekor burung bangkai raksasa melintas, seperti pertanda bahwa dunia ini memang sudah dirancang untuk para pemangsa, bukan untuk yang tersakiti.
“Ling Xu,” panggil angin.
Tapi ia tak menjawab.
Di keheningan setelah sumpah, Ling Xu sadar akan satu hal.
Ia sendirian, dibenci oleh yang membunuh keluarganya, dan dilupakan oleh para dewa yang selamat—karena mereka terlalu sibuk menyembunyikan diri di semesta lain.
Tak ada yang akan datang menyelamatkannya.
Tak ada yang akan membalaskan dendamnya kecuali dirinya sendiri.
Maka ia berdiri, merapikan rambut putih bercorak warna itu ke belakang, dan untuk pertama kalinya dalam tiga tahun, ia menatap cermin air dan tidak melihat seorang korban—melainkan seorang algojo masa depan yang sedang belajar sabar.
“Baiklah,” bisiknya, nyaris tak terdengar, “maka biarlah aku yang memulai kisah ini. Dan kelak, biarlah semesta yang gemetar membacanya.”
Selama tiga tahun lebih, Ling Xu menjelma menjadi bayangan yang tak dicurigai.
Seorang tabib keliling dengan rambut putih tertutup tudung lusuh, jari-jari yang lincah meracik herbal, dan kantong kulit yang berisi ratusan jenis ramuan—dari penawar racun hingga perekat daging.
Ia berpindah dari satu desa dewa ke desa lainnya, mengumpulkan poin tembaga demi poin tembaga, cukup untuk membeli akar-akar langka dan sepotong roti basi di malam hari.
“Dengan tangan ini aku menyembuhkan,” bisiknya suatu ketika sambil menumbuk daun gaharu di lesung batu, “padahal hatiku ingin meracuni mereka semua.”
Namun ia terus membalut luka para prajurit dewa yang menjadi tameng paling depan—karena rumor mengatakan umat manusia akan segera menyerbu habis-habisan, meski entah mengapa rencana itu tiba-tiba diurungkan karena suatu kejadian tak terduga yang tak diketahui siapa pun.
Ling Xu tak peduli.
Baginya, setiap prajurit yang terselamatkan adalah satu pisau yang kelak bisa ia arahkan ke leher musuh.
Naas, takdir berkata lain.
Di tengah kesibukannya merawat seorang prajurit yang sekarat—lututnya hancur, dadanya berlubang—terdengar derap kaki yang bukan dari semesta ini.
Para individu dari umat manusia menerobos masuk seperti air bah, dengan pedang yang menyala-nyala biru dan mata yang tak lagi punya sisa belas kasih.
“Tangkap tabib itu!” teriak seseorang.
“Dia dewi! Lihat rambutnya!”
Ling Xu spontan melepas perban dari tangannya, darah menciprat ke mana-mana, lalu ia berlari—bukan karena berani, tapi karena takut yang membekukan akal sehat.
Ia melompati jendela, merobek jubahnya di pagar berduri, dan terus berlari hingga kakinya terasa seperti dua batang api.
“Jangan ikuti aku!” pekiknya tanpa menoleh, suaranya parau.
Namun panah-panah roh tetap melesat, mengenai kedua siku dan pergelangan kakinya.
Darah membasahi tanah, tapi anehnya ia masih bisa merangkak—memasuki mulut gua yang gelap dan lembap seperti rahim bumi yang enggan melahirkannya kembali.
Di dalam gua itu, di antara tetesan air kapur yang jatuh seperti air mata gua sendiri, Ling Xu terduduk dengan punggung menyandar dinding dingin, napasnya tersengal-sengal, dan kedua lukanya berdenyut seiring detak jantung yang kian melemah.
Ia hampir menutup mata ketika sebuah bayangan muncul di hadapannya.
Seorang pria renta dengan jubah compang-camping, janggut putih menjuntai hingga perut, dan mata yang—anehnya—tak mengandung permusuhan.
“Kau terluka parah, anak muda,” ujar pria itu, suaranya seperti kerikil digesekkan.
Ling Xu mengerutkan kening, lalu mendesis, “Jangan panggil aku anak muda, manusia. Ibuku digilir dan dicincang oleh manusia sepertimu. Ayahku dipenggal. Jangan berpura-pura peduli.”
Pria tua itu tersenyum tipis, tidak tersinggung.
“Aku tahu. Aku tahu semua yang terjadi di Pertentangan Harmoni. Tapi aku bukanlah manusia yang kau benci—aku sudah dibuang sejak lama.”
Ling Xu membelalak, tapi kebenciannya tak surut.
“Lalu apa maumu? Menghabisiku?”
Pria itu menggeleng, lalu mengulurkan telapak tangannya.
Di sana, bercahaya redup, mengambang sebuah batu kecil berbentuk lintang—Lintang Kemanusiaan.
“Ambil ini,” kata pria tua itu, tubuhnya mulai tembus pandang, ujung jari-jarinya berubah menjadi butiran debu bercahaya.
“Dengan Lintang Kemanusiaan ini, kau bisa menjadi kultivator. Kau bisa mengakses wilayah-wilayah dewa yang selama ini tertutup. Kau bisa menjadi lebih kuat daripada sekadar tabib keliling yang meracik herbal.”
Ling Xu terdiam.
Di dalam dadanya, dua suara bertempur.
Satu menyuruhnya memuntahkan ludah ke wajah pria itu, yang lain membisikkan bahwa ini adalah satu-satunya jalan menuju balas dendam.
“Apa yang harus aku bayar?” tanyanya akhirnya, suaranya serak.
Pria tua itu tersenyum, dan sebelum lenyap sepenuhnya—menjadi debu yang dihisap angin gua—ia berbisik,
“Tidak ada. Aku hanya ingin seseorang mengingat bahwa umat manusia tak selalu bejat. Tapi... terserah kau mau percaya atau tidak.”
Lalu tiada.
Hanya Lintang Kemanusiaan yang masih melayang di udara, berdenyut pelan seperti jantung kecil yang menunggu untuk diambil.
Bersambung….