NovelToon NovelToon
Rahasia Terpendam Kristal

Rahasia Terpendam Kristal

Status: tamat
Genre:Misteri / Penyelamat / Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:273
Nilai: 5
Nama Author: IZI.01

Seorang motivator populer tiba-tiba meninggal dunia. Kepergiannya tidak hanya meninggalkan kesedihan yang mendalam tetapi juga memicu banyak asumsi di kalangan publik. Namun, tuduhan tersebut hanya ditujukan kepada seorang ibu muda yang berprofesi sebagai penulis novel bernama Kristal.
Rey, sebagai suaminya, tidak dapat menerima tuduhan tanpa dasar tersebut. Dia menyelidiki kebenaran. Karena baginya tidak hanya dirinya yang akan berdampak, Darrius putera semata wayang pasti juga terkena imbas.
Hasil penyelidikannya akhirnya mengubah seluruh keyakinannya pada istri tercintanya. Tetapi pertanyaannya, apakah Kristal benar-benar bersalah? Lalu apakah perasaan Rey tetap masih mencintai Kristal? Mampukah Kristal bertahan dengan rumah tangganya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IZI.01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13

Tak terlalu sulit menemukan keberadaan Pak Gatot di sebuah restoran cepat saji, bernuansa Jepang. Dalam sekejap aku sudah bisa melihat dia tengah duduk bersama seorang perempuan berumur sekitar empat puluhan, memakai baju satin berwarna ungu, dengan rambut yang disanggul rapih. Bermata bulat penuh, hitam kecoklatan. Wajahnya yang tanpa riasan itu kelihatan polos dan tulus. Pak Gatot melambaikan tangan, mengajak agar lekas mendekat. Saat kami sudah saling berhadapan, aku melihat perempuan itu sedang hamil muda. aku menerka usia kandungannya sekitar tiga atau empat bulan.

"Duduk Kristal! Kenalkan ini isteriku, Silviana. Panggil saja ibu Silvi," aku angsurkan tangan untuk bersalaman dengannya, namun ia justru mengajak saling mengecup pipi kiri-kanan, "Bun.. ini loh Kristal, seperti yang pernah aku ceritakan." perempuan itu menarik kursi, lantas menempatkannya dihadapanku. Aku meraih, mendudukinya seraya tersenyum padanya. Dia balas tersenyum bersama lesung pipi yang manis.

"Pak.. ini sebagian sudah saya kerjakan. Sekaligus bukunya saya kembalikan," kataku menyerahkan buku dan lembar hasil kerja semalam suntuk.

"Nanti saya akan baca dan kalau ada yang perlu diperbaiki, saya segera hubungi kamu. Nah, mumpung sekarang saya disini, apa lagi yang ingin kamu tanyakan?" akhir perkataannya, aku keluarkan notes dan menghidupkan aplikasi rekam suara pada handpone.

"Ayah tidak memesan untuk Kristal?"

"Haduh! Untung saja kamu ingati aku. Mba! Kemari!" dalam waktu singkat, seorang waitress datang memenuhi panggilan.

"Bisa di bantu, Pak?" katanya dengan ramah.

"Kristal, kamu mau pesan air mineral lagi atau barangkali mau pesan yang lain?" aku menjawab nyaris tanpa suara, hanya bibirku yang bergerak. Pak Gatot kembali angkat bicara, "Pesan satu air mineral dingin dan satu teh hangat tawar." waitress itu mencatat dan pergi membawa kertas pesanan. Dalam sekejap, datang kembali membawa semua yang diminta.

"Ini semua yang di pesan, Pak! Apa ada lagi yang lain?"

"Sudah, sementara ini dulu. Terimakasih yah." waitress beranjak dari tempatnya. Aku membuka notes, lalu mulai mengajukan pertanyaan.

"Saat ini, saya akan mulai bertanya seputar kehidupan asmara. Boleh saya tahu sudah berapa lama bapak dan ibu menikah?" Pak Gatot dan Silvi saling melemparkan senyum kala mendengarnya.

"Kami sudah menikah selama 25 tahun, Kristal. Satu putera dan dua orang puteri. Kalau buah hati kami lahir, berarti ini adalah anak kami yang ke-empat."

"Apakah selama itu pernah berselisih paham? Oh, maksud saya.. Bagaimana cara bapak menjaga keharmonisan rumah tangga?" dari sorot mata, Pak Gatot terlihat seperti mencurigai, "Pertanyaan macam apa itu, Kristal! Please don't be stupid. Focus!" gumamku dalam batin. Dia meneguk gelas teh tawar, menyentuh bahu Sang isteri, meminta agar menjawabnya.

"Saya bersyukur memiliki seorang kepala rumah tangga yang sayang dengan keluarga dan selalu tetap selalu sabar. Sangat tidak mudah melewati pernikahan selama dua puluh lima tahun. Kamu sendiri apa sudah berkeluarga?"

"Sudah, anak saya satu. Dia lelaki tampan yang kusayangi."

"Berapa umurnya sekarang? Masih sekolah atau mungkin sudah berkeluarga?" Pak Gatot yang seakan terabaikan, mengalihkan percakapan yang sedang terjalin.

"Bun.. Apa kamu tidak ingin belanja buat kebutuhan anak kita ini?" kata Pak Gatot sambil mengelus perut isterinya. Silvi tersenyum menanggapi, seraya menggosok-gosokkan telapak tangan, menggigil kedinginan.

"Tidak ayah! Kemarin kan kita baru beli semuanya. Masa sekarang kita harus beli lagi! Ini, AC-nya yang terlalu dingin, atau badanku yang memang kurang sehat!"

"Itu bawaan anak kita sayang! Sebentar.. biar aku minta supaya AC-nya dikecilkan atau kalau perlu dimatikan sekalian."

"Tidak perlu! Mungkin memang badanku yang sedang kurang sehat. Sebaiknya aku pakai jaket kamu saja. Kemarikan jaketnya!" raut wajah Pak Gatot merah padam, gelisah, "Kenapa harus kamu duduki jaket itu?" tanpa panjang lebar, ditariknya jaket itu keluar.

"Kristal.. kamu malah diam? Kamu mau wawancara saya, atau cuma mau melihat saya?" katanya terdengar seakan murka. Aku terkesiap melihat perubahan emosi Pak Gatot, karena itu aku segera kembali ke tujuan semula.

"Boleh diceritakan, bagaimana terjadinya pertemuan sampai akhirnya memutuskan untuk menikah?"

"Itu dilewati saja, tak perlu kamu tanyakan. Selanjutnya apalagi pertanyaannya?" ucapnya datar bersama sikapnya yang dingin.

Ketika hendak mengajukan pertanyaan berikutnya, tatapanku tak bisa berpaling melihat isteri Pak Gatot selesai menyusupkan jaket ke dalam tubuhnya, "Jaket di apartemen!!" kataku spontan, ketika isteri Pak Gatot berhasil mengenakan overcoat hitam. Jaket yang sesuai dengan yang dipakai lelaki yang berpapasan denganku kemarin.

"Kristal apa maksud kamu jaket di apartemen?" timpal isteri Pak Gatot terkejut, saat mendengar perkataanku.

"Bunda! Sebaiknya kita pulang sekarang! Ada pekerjaan dadakan yang harus aku serahkan besok! Kristal!! Kalau kamu selalu hilang konsentrasi begitu, aku akan minta Pak Ben supaya mencari pengganti kamu!" katanya bernada kesal.

"Ayah? Jangan bicara sekasar itu! Memangnya ada apa dengan Kristal? Walaupun aku belum pernah melihat tulisannya, tapi aku rasa dia adalah penulis yang baik. Kamu tidak boleh sembarang mengganti penulis lain! Kristal kami minta maaf yah!"

"Kalau memang dia tidak bisa mengerjakan apa yang kita minta untuk apa aku pertahankan?! Apalagi kalau terlalu banyak ikut campur urusan orang lain!" tukas Pak Gatot dengan Berang.

"Maksud Ayah apa? Ada yang disembunyikan sampai aku tidak tahu?!"

"Sembunyikan? Buat apa aku sembunyikan sesuatu dari kamu. Jangan berpikir yang tidak-tidak, Bun."

"Aduh!! Sakit perut aku!!" meringis kesakitan, menahan rasa mulas efek dari kehamilannya.

Pak Gatot sontak panik luar biasa, "Dimana yang sakit? Disini?"

"Pokoknya ayah tidak boleh bicara sekasar itu lagi! Aduh!!!"

Aku menyelak pembicaran keduanya, "Tidak apa-apa. Saya yang seharusnya minta maaf!" Pak Gatot makin murka, dia menarik lengan isterinya, membereskan semua barang bawaan.

"Sudahlah!! Kalau memang masih kamu penulisnya, tidak ada lagi tatap muka dengan saya. Kita wawancara hanya melalui telepon!" ucap Pak Gatot diikuti sikapnya yang arogan. Di sisi lain, ibu Silvi mengusap lenganku. Meminta kejadian itu tak lekas dimasukkan ke dalam hati. Keduanya menghilang dari pandanganku. Aku menatap kosong ke arah kepergian mereka sampai aku tersadar kembali oleh pesan masuk dari handpone.

"Kristal! Besok draft kasar harus sudah selesai kamu kerjakan. Sore kamu serahkan ke saya. Kalau tidak selesai, mohon maaf, saya akan ganti dengan penulis lain. Terimakasih. Pak Ben."

"Secepat itukah Pak Gatot mengabari Pak Ben? Sial!!" kataku dalam kegusaran, tak karuan. Aku segera tanggapi pesan itu, "Saya akan usahakan semuanya sudah selesai besok."

Berita itu membuatkan bergegas untuk mengejar batas waktu yang diminta Pak Ben. Aku secepat kilat kembali ke apartemen.

1
Mamah Deni
Novel yang rekomen. Alur cerita singkat. Padat. pemilihan kata juga tepat dan mudah. cocok buat bahan bacaan. seharusnya bisa di taruh di rak toko buku yah. wajib baca sampai tuntas.
Mamah Deni
sederhana tapi alurnya menarik buat di baca tuntas. mantap😍
Mamah Deni
Ini pertama kali saya membaca novel di plarform digital. gak disangka bisa nemu tema yang unik. tutur bahasanya juga mengalir. langsung kebawa emosinya.😍
IzI
teruskan menulis, terus membaca
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!