NovelToon NovelToon
Enam Tahun Berlalu,Kau Masih Di Sana

Enam Tahun Berlalu,Kau Masih Di Sana

Status: sedang berlangsung
Genre:Anime / Ketos / Teen Angst
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: byyyycaaaa

Sinopsis:

Enam tahun lalu, Azzalia sengaja mendorong Danendra pergi karena merasa dirinya terlalu dingin untuk cinta setulus itu. Ia menghilang tanpa jejak, berharap luka laki-laki itu sembuh.

Namun di kota ini, semesta mempertemukan mereka kembali. Saat Azzalia masih membeku dalam rasa bersalah, Danendra justru masih berdiri di titik yang sama.

"Azzalia, kalau kamu sudah capek berkelana, tolong menoleh ke belakang. Aku masih di sini, menunggu kamu."

Masihkah ada ruang untuk cinta yang pernah dibuang, atau pertemuan ini hanya untuk membuka luka lama yang belum benar-benar kering?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byyyycaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15: Kontrak empat belas hari

Aku menatapnya dengan pandangan yang mulai kabur oleh air mata. Kata-katanya bukan sekadar kalimat, tapi sebuah vonis yang berat. Ia menganggap kepergianku sebagai sebuah kematian—sesuatu yang begitu sakral sekaligus mengerikan.

"Membunuhmu?" suaraku tercekat, tawa getir lolos begitu saja dari bibirku. "Kamu terlalu melebih-lebihkan, Nen. Enam tahun kamu hidup tanpa aku, dan kamu baik-baik saja. Kamu sukses. Kamu hebat. Dunia nggak berhenti berputar cuma karena satu gadis dingin ini menghilang."

"Itu karena aku punya harapan untuk menemukanmu lagi!" potongnya cepat, suaranya naik satu oktav karena frustrasi yang tak tertahankan. "Enam tahun itu aku bukan hidup, Zal. Aku cuma bertahan. Aku kerja seperti robot, makan seperti robot, semua cuma supaya aku punya kekuatan untuk mencarimu. Kalau sekarang kamu pergi lagi dengan sadar di depan mataku... harapan itu mati. Dan saat harapan itu mati, nggak ada lagi alasan buat aku berdiri di sini."

Ia melangkah maju lagi, kali ini sangat perlahan, seolah takut gerakannya akan membuatku benar-benar lari menembus pintu di belakangku. Ia berhenti tepat di depan serpihan surat pengunduran diriku yang tergeletak di lantai, lalu berlutut di depanku.

Lututnya menyentuh lantai yang dingin. Seorang Danendra Aditama, yang ditakuti dan disegani di kantor pusat, kini bersimpuh di kaki seorang anak magang.

"Zal, aku nggak minta kita balikan seperti dulu. Aku nggak minta kamu balas perasaanku sekarang," bisiknya, kepalanya tertunduk lesu. "Aku cuma minta satu hal: jangan hilang. Tetaplah ada di jangkauan pandanganku. Biar aku tahu kamu makan dengan benar, biar aku tahu kamu pulang ke kost dengan aman. Sakiti aku setiap hari dengan sikap dinginmu, nggak apa-apa. Itu jauh lebih baik daripada aku harus mencari bayanganmu di setiap sudut kota yang nggak ada kamu-nya."

Aku memejamkan mata erat, membiarkan satu tetes air mata jatuh mengenai punggung tanganku yang gemetar. Dadaku sesak, rasanya seperti oksigen di ruangan Pak Bram ini telah habis diserap oleh drama yang kami ciptakan sendiri.

Bagaimana bisa seseorang mencintai dengan begitu menghancurkan? Bagaimana bisa ia menawarkan dirinya untuk disakiti berkali-kali asal aku tetap tinggal?

"Nen, bangun. Jangan kayak gini," ucapku lirih, tanganku bergerak ragu ingin menyentuh bahunya tapi aku segera menariknya kembali. Zirahku sudah hancur, menyisakan reruntuhan yang menyedihkan di depannya.

"Jawab aku dulu, Zal. Tetap di sini. Jangan pergi," tuntutnya tanpa mengangkat kepala.

Aku menatap pintu di belakangku, lalu menatap pria yang bersimpuh di depanku. Pelarian selalu menjadi jalan pintas yang kupilih, tapi melihat Danendra seperti ini, aku sadar bahwa pelarian kali ini bukan hanya akan menghancurkannya, tapi juga akan membunuh sisa-sisa kemanusiaan yang masih kupunya.

"Dua minggu," suaraku keluar dengan susah payah. "Aku akan tetap di sini sebagai asisten teknis sampai tugasmu di Kota J selesai. Setelah itu, kita bicara lagi soal ini."

Danendra perlahan mendongak. Matanya yang merah karena kurang tidur kini berkilat dengan harapan tipis yang baru saja kuberikan.

"Janji?" tanyanya, suaranya masih bergetar.

"Janji. Tapi bangunlah, Nen. Kamu nggak pantas ada di bawah sana."

Ia berdiri dengan perlahan, mengusap wajahnya yang tampak kuyu. Meskipun kesepakatan ini hanya bersifat sementara, aku bisa melihat beban berat di pundaknya sedikit terangkat.

"Terima kasih, Azzalia. Terima kasih."

Aku tidak sanggup membalas tatapannya lebih lama. Aku segera memutar gagang pintu dan keluar, meninggalkan dia di dalam ruangan Pak Bram bersama serpihan kertas yang menjadi saksi bisu betapa berantakannya kami berdua. Di luar, aku berpapasan dengan Pak Bram yang menatapku penuh tanda tanya, tapi aku hanya menunduk dan terus berjalan menuju meja kubikelku.

Dua minggu. Aku baru saja menandatangani kontrak dengan masa laluku sendiri

Siang itu, kantin kantor terasa sangat bising, namun bagiku suasananya jauh lebih baik daripada keheningan mencekam di ruangan Pak Bram tadi pagi. Aku sengaja menenggelamkan diri dalam tumpukan data lapangan sejak jam sembilan, berharap baris-baris angka itu bisa menghapus memori tentang Danendra yang berlutut di depanku.

Anehnya, suasana kantor tetap normal. Pak Bram tidak memanggilku lagi, dan Danendra sesuai janjinya tidak muncul di kubikelku. Seolah-olah drama perobekan surat pengunduran diri itu hanya ilusi yang terjadi di dimensi lain.

"Zal, lo bengong lagi. Itu baksonya keburu melar," tegur Danesha sambil menyenggol lenganku dengan sendok.

Aku tersentak, lalu mengaduk mangkuk bakso di depanku tanpa selera. "Eh, iya Nesh. Gue cuma kepikiran revisi dikit."

Danesha memicingkan mata, menatapku penuh selidik. Dia adalah orang pertama yang menyambutku saat aku menginjakkan kaki di Kota J empat tahun lalu. Dia tahu betul bahwa "Azzalia yang sedang berpikir" dan "Azzalia yang sedang hancur" punya raut wajah yang berbeda.

"Revisi atau Pak Danendra?" tanyanya blak-blakan. "Gue lihat tadi pagi Pak Bram keluar ruangan mukanya kayak orang habis lihat perang dunia ketiga. Terus nggak lama lo keluar muka lo merah banget. Ada apa sih sebenarnya?"

Aku menghela napas, meletakkan sendok. "Nggak ada apa-apa, Nesh. Pak Danendra cuma perfeksionis banget soal asisten teknis. Gue sempet ngerasa nggak sanggup, tapi ya... akhirnya gue mutusin buat bertahan dua minggu lagi."

"Dua minggu ya?" Nesha bergumam, suaranya sedikit melunak. "Zal, gue nggak tahu masa lalu lo kayak gimana. Tapi selama empat tahun gue kenal lo, lo selalu pasang tembok setinggi langit. Kalau Pak Danendra ini adalah orang yang bisa bikin tembok itu retak, mungkin sebenarnya itu hal baik."

"Bukan hal baik kalau retaknya karena dipaksa, Nesh," sahutku getir.

"Kadang yang dipaksa itu yang kita butuhin supaya nggak mati rasa terus," balas Nesha santai sebelum menyuap baksonya.

Aku terdiam. Kalimat Nesha ada benarnya, tapi dia tidak tahu betapa gelapnya dasar dari tembok yang kubangun.

Tiba-tiba, perhatian orang-orang di kantin teralihkan ke pintu masuk. Danendra masuk bersama Bagas dan beberapa staf divisi lain. Penampilannya sudah kembali sempurna—dingin, berwibawa, dan sangat berjarak. Ia tidak menuju meja eksekutif, melainkan berjalan melewati deretan meja staf biasa.

Langkah kakinya melambat saat melewati mejaku dan Nesha. Jantungku berpacu, namun aku tetap menunduk, pura-pura sangat sibuk dengan bakso dinginku.

"Jangan lupa makan proteinnya, Azzalia. Saya tidak ingin asisten saya pingsan di lapangan besok," ucapnya datar tanpa berhenti melangkah. Suaranya terdengar seperti perintah atasan yang biasa bagi orang lain, tapi bagiku, itu adalah caranya memastikan bahwa dia "masih melihatku".

Nesha menyenggol kakiku di bawah meja. "Tuh kan! Perhatiannya beda, Zal. Atasan mana yang ngurusin staf magangnya makan protein atau nggak?"

Aku tidak menjawab. Aku hanya menatap punggung Danendra yang menjauh. Dua minggu. Aku harus bertahan selama empat belas hari di bawah pengawasan mata yang selalu mencari celah untuk masuk.

1
kokita
ihhb kok jahat banget yang nyebarin🥺 nanti azzalia ngilang lagi thorr😭
kokita
semangat ngejar azzalia🤭
kokita
jangan kaku-kaku zal,
kokita
pepet terus nen🤣
kokita
makan siang bareng mantan🤭
kokita
keren torrr
kokita
kalau saling cinta kenapa pergi zal🤭
kokita
aku malah yang deg-degan thor😄
kokita
balikan zal
langit buku
si Danendra setia banget
Kembang Lombok
kenapa ak yg dek dekan yaaa🤭
falea sezi
zalia ini aneh di. tolak tp kepikiran ywda napa dlu g di. trima jalanin aneh bgt
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!