NovelToon NovelToon
Dead School List: Menjaga Kewarasan Di Antara Zombi Dan Delusi

Dead School List: Menjaga Kewarasan Di Antara Zombi Dan Delusi

Status: sedang berlangsung
Genre:Zombie / Romansa Fantasi / Hari Kiamat
Popularitas:344
Nilai: 5
Nama Author: Nayla Zidan

Dua minggu terjebak sendirian di Mall yang penuh mayat hidup, aku pikir kewarasan adalah satu-satunya senjataku. Sampai akhirnya, sekelompok gadis SMA datang membawa keceriaan yang tidak masuk akal di tengah kiamat. Di antara zombi yang kelaparan dan gadis-gadis yang hidup dalam delusi, apakah aku bisa bertahan sebagai satu-satunya orang yang masih melihat kenyataan? Selamat datang di Klub Kehidupan Sekolah yang sesungguhnya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nayla Zidan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 26: [Volume 2] — Di Dalam Sangkar Emas

Lampu neon di langit-langit ruangan ini berkedip dengan ritme yang menyebalkan. Cahayanya terlalu putih, terlalu steril, sangat kontras dengan kegelapan laut yang baru saja kutinggalkan. Aku duduk di sebuah kursi besi yang terpaku ke lantai. Tanganku tidak diborgol, tapi aku tahu ada sensor gerak dan laser penembak otomatis yang tersembunyi di sudut ruangan ini.

​HK416-ku sudah disita. Pisau tempurku lenyap. Bahkan jaket taktisku diganti dengan kain katun abu-abu yang tipis. Aku merasa telanjang tanpa senjataku, tapi logikaku berkata bahwa senjata terkuatku—otakku—masih ada di sini.

​"Subjek Z-01. Detak jantung stabil di 65 BPM. Tidak ada tanda-tanda kecemasan. Menarik," sebuah suara mekanis terdengar dari pengeras suara.

​"Di mana Kurumi?" suaraku terdengar serak, namun tetap tajam. Aku tidak peduli dengan observasi mereka. Aku butuh kepastian variabel terpenting ku.

​"Asistenmu berada di fasilitas karantina Sektor C. Dia sedang menjalani pemeriksaan menyeluruh untuk memastikan mutasi dari Puncak Frost benar-benar sudah berhenti. Kamu harus berterima kasih pada Subjek E, Zidan. Tanpa intervensinya, temanmu itu sudah menjadi tumpukan daging di kapal tanker."

​Pintu geser di depanku terbuka. Seorang pria tua dengan jas lab putih bersih masuk. Dia tidak membawa senjata, hanya sebuah tablet transparan. Wajahnya tenang, tipe wajah ilmuwan yang sudah kehilangan nurani demi data.

​"Aku Dokter Aris. Kepala proyek 'Rebirth'. Dan kamu, Zidan... kamu adalah pencapaian terbesar kami yang sempat hilang," dia duduk di depanku, menatapku seolah aku adalah artefak langka.

​"Pencapaian?" aku mendengus. "Aku adalah manusia yang bertahan hidup dengan logikaku sendiri. Bukan hasil lab kalian."

​Aris tersenyum tipis, lalu menggeser layar tabletnya ke arahku. Di sana, ada data medis yang sangat detail. Foto seorang anak laki-laki berusia sepuluh tahun di dalam tabung cairan biru. Anak itu memiliki bekas luka yang sama persis di bahu kiriku—luka yang kukira kudapat dari kecelakaan saat kecil.

​"Logikamu yang dingin, kemampuanmu memproses strategi di bawah tekanan, bahkan ketahanan fisikmu terhadap infeksi... itu bukan hasil latihan, Zidan. Itu adalah pemrograman genetik," Aris menjelaskan dengan nada bangga. "Kamu dirancang untuk menjadi 'Predator Puncak' di dunia yang sudah hancur. Kamu adalah alasan kenapa virus ini dilepaskan: untuk menyaring siapa yang layak memimpin evolusi."

​Duniaku serasa bergeser sesaat. Logikaku mencoba membantah, mencari celah dalam argumennya. Tapi ingatanku tentang masa lalu memang selalu kabur. Aku tidak punya orang tua, tidak punya rumah masa kecil yang nyata. Hanya fragmen-fragmen memori yang terasa seperti potongan film yang dipaksakan masuk ke kepalaku.

​"Jika aku hasil rancangan kalian, kenapa aku melarikan diri?" tanyaku.

​"Karena variabel 'Ego' yang kami tanamkan terlalu kuat. Kamu menolak kontrol. Kamu memilih untuk bertahan hidup dengan caramu sendiri, dan jujur saja, data yang kami kumpulkan dari perjalananmu—dari apartemen itu hingga ke Puncak Frost—sangat luar biasa. Kamu melampaui semua ekspektasi kami."

​"Lalu kenapa sekarang?" aku mencondongkan tubuh ke depan. "Kenapa menjemput ku sekarang?"

​"Karena Subjek E butuh 'Jangkar'. Dia adalah kekuatan mentah, tapi dia tidak punya arah. Kamu adalah arahnya. Dan pulau ini, Nirvana, butuh kalian berdua untuk mengaktifkan protokol terakhir."

​Aku terdiam. Logikaku mulai memetakan situasi baru. Aku bukan lagi sekadar penyintas; aku adalah kunci dari konspirasi yang jauh lebih besar. Dan Kurumi? Dia kemungkinan besar digunakan sebagai sandera agar aku tetap patuh.

​"Aku ingin melihat Kurumi. Sekarang," tuntut ku.

​"Setelah kamu menjalani tes sinkronisasi pertama. Jika kamu kooperatif, Kurumi akan mendapatkan perawatan kelas satu. Jika tidak... yah, dia tetaplah manusia biasa yang sangat rapuh terhadap lingkungan pulau ini."

​Dokter Aris berdiri, memberi isyarat pada dua penjaga berseragam hazmat untuk masuk. "Selamat datang kembali ke realita, Zidan. Kamu bukan lagi orang asing di dunia ini. Kamu adalah pemiliknya."

​Aku dibawa keluar dari ruang interogasi menuju sebuah koridor panjang yang dindingnya terbuat dari kaca tebal. Di balik kaca itu, aku melihat pemandangan yang membuat darahku membeku. Bukan hutan atau laut, melainkan sebuah kota bawah tanah yang sangat luas, dipenuhi oleh orang-orang berpakaian putih yang berjalan dengan gerakan kaku, seolah-olah mereka semua berada di bawah kendali frekuensi yang sama.

​Aku mengepalkan tinjuku. Aris mungkin benar soal genetika ku, tapi dia salah soal satu hal. Aku adalah Zidan, dan logikaku hanya tunduk pada satu perintah: Kebebasan.

​Jika Nirvana adalah sangkar emasku, maka aku akan memastikan sangkar ini hancur dari dalam. Dan aku akan membawa Kurumi keluar, entah sebagai manusia hasil lab atau apa pun itu.

​Volume 2 baru saja dimulai, dan permainannya kini bukan lagi soal membunuh zombi, tapi soal membunuh pencipta monster itu sendiri.

Catatan Penulis:

Selamat datang di Volume 2! Tabir misteri mulai terbuka. Zidan ternyata adalah Subjek Z-01, hasil rekayasa genetika yang dirancang untuk menjadi Predator Puncak. Dengan Kurumi yang disandera dan kenyataan tentang jati dirinya yang terguncang, mampukah Zidan tetap berpegang pada logikanya? Ataukah dia akan menyerah pada takdir yang sudah dirancang untuknya?

1
Nadja 🎀
waah kyk anime saja! kereen!
Zidanmahiru: terimakasih telah mampir
total 1 replies
Garuda Bayang
mayan lah yaaaa kurang pake gambar ajaaa
Zidanmahiru
apanya kak yg dipisah?
Zidanmahiru: judul nya kah?kalau iya ga sengaja ke pisah
total 2 replies
Kaelits
kok ini dipisah kak?
Zidanmahiru: oh iya ,itu emang sengaja aja
total 1 replies
Kaelits
keren! semangat, kak! btw ada nama karakter yang sama di novelku
Zidanmahiru: terimakasih telah mampir
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!