AUDREY DIRA ADIWANGSA, terlahir dari keluarga cemara yang memiliki sifat berani dan spontan.
Gadis itu dijodohkan oleh Papanya, Adiwangsa, dengan putra dari seorang Konglomerat yang bernama Wira Aldrian Bimasena. Namun ternyata keluarga calon suami nya itu Toxic, jauh berbeda sekali dengan kehidupan yang dijalani Audrey bersama keluarganya.
Akankah Audrey mampu menghadapi mereka ataukah Audrey akan kalah dan menyerah lalu kembali pada kehidupan nyamannya bersama keluarga besar Adiwangsa ??
Happy Reading...
Enjoy guys 💜
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ratu_halu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps 15
"Kak Wira ngapain kesini dan dari mana Kakak tau tempat KKN aku ?" tanya Audrey tanpa memperdulikan pandangan Dean yang mendelik merah dan kedua tangan yang terkepal kuat di samping badan karena rasa cemburu.
"Itu tidak penting! Sudah, ayo kita pulang." Wira hendak menarik pergelangan tangan Audrey, tapi Audrey dengan cepat mundur selangkah.
Audrey berdecak lidah lalu mundur selangkah lagi. "Aku nggak mau pulang!" Jawab Audrey sambil menatap Wira yang mengeraskan rahang.
Sejujurnya ditatap setajam itu membuat jantung Audrey bertalu hebat. Tapi dia berusaha tenang untuk menutupi kegugupannya.
"Mulai hari ini aku akan tinggal disini sampai KKN berakhir. Jangan ganggu aku, lebih baik kamu pulang saja!"
Lula dan James hanya bisa menyaksikan perdebatan itu tanpa mau ikut terlibat. Mereka tau Wira lebih berhak karena sudah menjadi suami Audrey.
"Tidak bisa! Aku tidak mengizinkan mu menginap disini sebelum proker kamu dimulai!" Suara Wira terdengar rendah, namun tajam seperti sembilu.
Audrey terdiam cukup lama. Terdengar deru nafasnya yang berat, mencerminkan pergulatan batin yang hebat.
"Lul, James, Dean...Kalian pulang saja sekarang. Nanti keburu malam." Audrey mengalihkan pembicaraan. Rasanya malu berdebat dihadapan sahabat-sahabatnya seperti ini.
"Eh...e...ya-yaudah, Drey. Kita balik duluan ya. Nanti kita datang Rabu pagi." Ucap James
Audrey mengangguk dengan senyum tipis.
"Dean, ayo!" James terpaksa menarik Dean karena dia sepertinya tidak mau pergi.
Audrey memandangi mobil James dan motor Dean yang mulai hilang dari pandangan.
"Eh, neng Audrey... Kok nggak ikut pulang sama temen-temennya ?" Salah satu warga yang kebetulan lewat pulang dari ladang langsung menyapa Audrey yang masih berdiri di teras rumah.
"I-iya, P-pak...Saya mau menginap disini." Jawab Audrey dengan senyum yang di paksakan.
"Nginep ? Sama siapa, neng ?" Tanya si Bapak itu lagi sambil melirik ke arah Wira.
"Sendiri, Pak."
"Terus itu siapa, Neng ? Kayanya bapak baru lihat." Si bapak yang belakangan Audrey ingat bernama Madi itu malah berjalan masuk ke halaman rumah, seperti mau memastikan sesuatu.
"Neng punten ya, punten pisan neng. Jangan neng kotori kampung kami ini dengan kelakuan buruk yang di bawa dari kota. Kampung ini bersih, suci. Jangan dinodai dengan hal-hal yang tidak baik."
"Ma-maksud Pak Madi apa ya, saya nggak ngerti."
"Ada apa ini ribut-ribut ? Tadi saya lihat dari rumah mobil dan motor rombongan mahasiswa sudah pada pulang, kenapa neng Audrey masih disini ?"
Audrey menoleh ke sumber suara, ternyata Pak RT datang dengan memakai baju koko dan sarung tak lupa di tangannya membawa sebuah senter. Mungkin mau ke surau yang letaknya dekat kebun warga.
"Ini 'Te', neng Audrey ceunah teh arek ngendong di dieu."
(Ini Te, Audrey katanya mau menginap disini.)
"Bener itu, neng ?"
Audrey mengangguk.
Pak RT mengalihkan pandangan pada sosok Wira yang berdiri tidak jauh dari Audrey.
Wira maju, menghampiri Pak RT dan Pak Mahdi.
"Perkenalkan, saya Wira. Saya suami dari Audrey."
Sebelum kesalahpahaman semakin panjang, Wira langsung menjelaskan siapa dirinya dan apa tujuan nya datang ke desa mereka.
Pak RT dan Pak Madi terdiam seketika. Namun kemudian Pak RT sebagai orang yang paling di nilai bijak disana bertanya pada Wira. "Maaf, Den. Bukan Bapak nggak percaya, tapi boleh Bapak lihat buktinya kalau Aden sama Neng Audrey sudah menikah ?"
Wira mengeluarkan ponselnya, menscroll layar ponsel nya dengan presisi.
Tanpa mengatakan apapun Wira langsung menyerahkan ponselnya pada Pak RT. Tangan Pak RT sedikit gemetar memegang ponsel mahal milik Wira.
Pak Madi ikut nimbrung, karena penasaran.
Pak RT menatap layar ponsel Wira cukup lama, kemudian meneliti wajah-wajah di foto itu.
"Oalah, ternyata Neng Audrey teh pengantin baru ?" Pak RT memberikan kembali benda pipih itu pada pemiliknya sambil menoleh ke Audrey yang masih berdiri di teras.
Audrey tersenyum kaku, namun dalam hati dia berdecak kesal. Padahal dia mau merahasiakan soal dirinya yang sudah menikah dari semua orang yang ada didesa itu, karena bagi Audrey kehidupan pribadinya bukan untuk konsumsi publik.
Pak RT menatap ke Pak Madi, isyarat agar Pak Madi segera minta maaf karena sudah berprasangka buruk pada Audrey.
"Neng...maafin bapak ya, bapak nggak tau kalau eneng udah nikah dan ini suami eneng." Ucap Pak Madi tak enak hati.
Audrey tersenyum tipis, "Iya, Pak. Gapapa." Jawab Audrey memaklumi.
"Oh iya, Pak RT. Saya izin menemani istri saya disini sampai teman-teman nya datang."
Lidah Audrey seketika kelu. Tapi dia harus berusaha tersenyum di depan orang lain.
"Oh boleh-boleh. Silahkan, Den. Namanya pengantin baru ya, masih wangi. Jangan ditinggal sendirian istri nya, Den. Disini habis magrib juga udah sepi."
Wira manggut-manggut meski tidak mengerti arti kata "masih wangi" yang diucapkan Pak RT.
"Kalau begitu kami permisi dulu ya." Pak RT pun pamit bersama Pak Madi.
Wira berbalik, langsung masuk ke dalam rumah sambil melewati Audrey begitu saja.
Mulut Audrey terbuka, tapi tidak ada suara yang keluar.
Audrey melayangkan tinjunya ke udara berkali-kali untuk melampiaskan kekesalannya pada Wira.
Huhft!
Audrey menarik nafas panjang lalu membuang nya perlahan. Setelah itu dia ikut masuk menyusul Wira ke dalam.
"Kamar mu dimana ?" Tanya Wira sambil membuka pintu kamar utama.
Audrey menutup kembali pintu tersebut dengan kasar. "Jangan asal buka pintu, ini kamar teman-teman ku!"
Wira mengangkat alisnya acuh lalu berjalan lagi ke ruang tengah.
"Di antara dua kamar ini, yang mana kamar kamu ?" tanya Wira karena tidak mau salah masuk lagi.
"Itu." Tunjuk Audrey pada salah satu pintu.
Wira membuka pintu kamar lalu melihat sekeliling kamar Audrey.
"Lumayan." Katanya sambil menutup pintu kembali. Wira tidak berniat masuk ke kamar itu, dia hanya ingin memastikan apakah kamar yang akan di tempati sang istri nyaman atau tidak.
Audrey menarik satu sudut bibirnya, tatapan nya sinis sekali.
"Sebentar.." Wira keluar lagi entah mau apa.
"Kemarilah!" Wira memanggil Audrey dari ruang tamu.
Dengan langkah malas Audrey menghampiri Wira. Kening Audrey berkerut saat melihat di meja ada beberapa bungkus makanan cepat saji dengan slogan khasnya 'I'm lovin it' itu.
"Kenapa banyak sekali ? Ini sih buat makan se-RT," Kata Audrey sambil duduk di sofa tunggal.
"Aku kira saat kesini masih ada teman-teman mu. Ternyata mereka sudah pulang. Ya, mau bagaimana lagi."
"Em, daripada mubazir apa boleh aku bagi-bagi ke tetangga sekitar sini ?"
"Ya. Lakukanlah," Jawab Wira sambil membuka satu bungkus bucket ayam,
"Tapi sebelum itu, makan dulu." Wira meletakkan bucket ayam itu di hadapan Audrey.
Sejujurnya kalau Wira bersikap seperti ini dia terlihat sangat manis. Tapi sayang ekspresinya terlalu datar untuk bisa di bilang 'manis dan menggemaskan'.
Audrey mencuci tangan terlebih dahulu, kemudian dia dan Wira makan malam bersama dalam kesunyian.
Setelah selesai makan, Audrey yang dibantu Wira mulai berkeliling ke tetangga sekitar rumah itu. Suasana malam di desa itu sungguh sangat tenang, damai dan sunyi. Keheningannya sangat menenangkan, jauh dari hiruk pikuk kota.
Udara malamnya pun terasa sejuk dan bersih, diiringi suara jangkrik serta pemandangan langit yang indah.
"Temani aku jalan-jalan sebentar." Kata Audrey. Wira tidak menjawab, tapi menuruti apa yang Audrey mau.
Wira melepaskan jaketnya lalu menyampirkan jaket itu di bahu Audrey.
Audrey memalingkan wajah, menyembunyikan senyumnya.
Karena mereka berada di area pegunungan, malam hari biasanya berkabut tebal. Tapi beruntung malam ini cuaca begitu cerah.
Audrey menghentikan langkahnya di pinggir jalan, ada batas antara jalan dan persawahan di bawah sana. Meski begitu pemandangan sawah yang gelap justru memberikan suasana tenang dan syahdu.
"Kamu suka disini ?" tanya Wira pertama kalinya membuka suara karena sepanjang jalan dia hanya diam saja seperti patung yang tak sengaja diberi nyawa.
"Hum.. emm, suasana nya tenang. Tapi sayang akses jalannya rusak. Aku sampai mual sepanjang perjalanan kesini." Jawan Audrey membuat Wira terdiam. Benar. Dia sendiri pun merasa sangat tidak nyaman jika melewati jalanan rusak terlalu lama.