"Sebutkan namaku saat waktunya tiba, Riezky..."
Dua puluh tahun lalu, Kerajaan Ixevon runtuh dalam satu malam. Raja Thomas gugur setelah menyegel iblis Malakor, dan Ratu Rebecca tewas demi menyelamatkan putra tunggal mereka.
Kini, Riezky Ixevon tumbuh di desa nelayan terpencil. Ia tak tahu siapa dirinya, hanya pemuda yang berjuang menjinakkan kutukan Petir Biru dan Api Merah di tubuhnya. Satu-satunya dunianya adalah Lyra, seorang janda nelayan yang merawatnya dengan kasih sayang sejak bayi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Riahe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
OMBAK DAN TEKAD YANG MENGUAT
Keputusan telah bulat. Riezky tidak bisa membiarkan kesempatan dua puluh ribu koin itu hilang begitu saja, bukan hanya demi uang, tapi juga demi pembuktian diri. Ia pun meminta Sabrina—gadis yang hampir membunuhnya namun kini menjadi rekan satu atapnya—untuk menjadi pelatih pribadinya.
Lyra hanya bisa menghela napas panjang, pasrah dan tak henti-hentinya merapalkan doa di dalam hati demi keselamatan putra semata wayangnya itu.
Latihan dimulai di pesisir pantai Aethelgard yang berangin. Sabrina memilih area di mana air laut mencapai setengah betis mereka.
"Harus banget di sini ya?" tanya Riezky sambil meringis, merasakan hambatan air yang dingin menyelimuti kakinya. Ia melihat Sabrina sedang sibuk menancapkan beberapa boneka kayu simpel yang kepalanya terbuat dari cangkang kelapa di atas pasir.
"Yah, begitulah. Air bisa bikin kakimu berat. Kalau kau sudah terbiasa bergerak cepat di dalam air, nanti saat di arena yang kering, kau akan merasa seringan angin," jawab Sabrina tanpa menoleh. Namun, sedetik kemudian, tanpa aba-aba, ia langsung melesatkan sebuah anak panah tumpul ke arah Riezky.
Syuuut!
Riezky tersentak dan refleks menjatuhkan dirinya ke samping, membasahi seluruh jubahnya dengan air asin. "Wah, buset! Tiba-tiba banget!" protesnya sambil berusaha berdiri tegak.
"Ingat ya, kita ini latihan fisik, bukan piknik!" seru Sabrina sebelum kembali menarik busurnya.
Riezky berusaha menghindar sambil berjalan di dalam air. Rasanya luar biasa sulit; terkadang kakinya terpeleset bebatuan licin, terkadang pasir pantai seolah menelan telapak kakinya, membuat setiap gerakannya terasa lamban dan kaku.
Dari bibir pantai, Lyra berdiri menatap mereka dengan perasaan campur aduk. Rasa khawatir jelas tergambar di wajahnya. Tiba-tiba, sesosok pria bertubuh besar menghampirinya. Itu adalah Kael, mantan bandit The Razor Jaws yang dulu sering membuat onar. Namun kali ini, gelagatnya tampak malu-malu, sangat bertolak belakang dengan fisiknya yang sangar.
"Anu... sepertinya dia sedang berlatih buat pertarungan itu ya," ucap Kael pelan, berdiri di samping Lyra.
Lyra menoleh dan tersenyum tulus. Ia tahu Kael bukan lagi ancaman sejak Riezky kembali dengan kekuatan yang membuat para bandit itu jera. "Iya, walau aku sedikit khawatir, Kael," jawab Lyra pelan, pandangannya kembali tertuju pada Riezky yang baru saja jatuh terjerembap lagi.
"Aku juga ikutan sebenarnya... untuk pengobatan adikku," ucap Kael pelan sambil menatap kosong ke arah cakrawala laut.
Lyra menyentuh lengan Kael dengan penuh empati. "Berlatihlah dengan keras ya, Kael. Aku yakin di luar sana orangnya kuat-kuat, tapi aku tahu kau juga punya kekuatan yang besar."
Mendengar percakapan itu dari kejauhan, Riezky berteriak sambil menyeka air laut dari wajahnya, "Hey Kael! Sini masuk! Kamu harus latihan kayak begini biar ngerampokmu manjur!"
Kael terkekeh kecil, lalu dengan mantap ia ikut memasuki area air setengah betis itu, bergabung dalam latihan gila yang dirancang Sabrina.
Langkah Menuju Astranova
Hari demi hari berganti, minggu demi minggu berlalu. Otot-otot Riezky semakin padat, gerakannya di dalam air kini sudah selincah saat ia berlari di daratan. Kecepatan kilatnya kini lebih terkontrol, dan instingnya setajam mata panah Sabrina.
Waktu yang dinanti pun tiba. Pagi itu, suasana Aethelgard terasa berbeda. Riezky sudah siap dengan perlengkapannya. Tidak seperti petarung lain yang berangkat dengan gagah menunggangi kuda, Riezky tetap dengan kesederhanaannya; ia mengenakan sepatu boots andalannya yang sudah diperkuat.
Di depan pintu rumah, ia menggenggam tangan Lyra. "Ibu, aku berangkat dulu. Tolong doakan supaya kemenangan berpihak padaku," ucap Riezky dengan nada serius namun hangat.
Lyra mencium kening putranya. "Doa Ibu selalu bersamamu, Nak."
Riezky kemudian menoleh ke arah Sabrina yang berdiri di ambang pintu. Ada rasa percaya yang kini tumbuh di antara mereka. "Sabrina, kutitipkan Ibu padamu. Aku percaya kau bisa menjaganya selama aku pergi."
Sabrina hanya mengangguk mantap, sebuah janji tanpa kata terucap dari matanya. Dengan tekad yang membara dan langkah yang mantap, Riezky pun mulai berjalan meninggalkan pesisir pantai, menuju Aula Redhenvous Magnificum di pusat kerajaan Astranova. Dunia akan segera mengenal nama seorang nelayan dari Aethelgard.
Perjalanan tiga hari tiga malam itu ditempuh Riezky dengan ketahanan fisik yang jauh lebih baik dari sebelumnya. Kali ini dia tidak tersesat; aliran petir kecil di kakinya sesekali membantunya melangkah lebih cepat saat jalanan sepi. Di sepanjang jalan, ia berpapasan dengan rombongan petarung, ksatria berbaju zirah berkilau, hingga tentara bayaran dengan wajah penuh bekas luka. Semuanya punya tujuan yang sama: Aula Redhenvous.
Saat fajar menyingsing di hari keempat, bangunan megah itu akhirnya muncul di cakrawala. Aula Redhenvous berdiri kokoh dengan arsitektur yang mengintimidasi. Bendera-bendera dari berbagai wilayah bawahan Kerajaan Astranova berkibar gagah di pilar-pilar luar. Di gerbang utama, para prajurit dengan kuda putih bersih berjaga dengan posisi sempurna.
"Tuan, undangannya," ucap dua prajurit serentak sembari menyilangkan tombak mereka, menghalangi jalan masuk Riezky.
Riezky merogoh saku jubahnya, mengeluarkan kertas undangan yang sudah agak lecek namun segel kerajaannya masih utuh. Prajurit itu memeriksa sejenak lalu menarik kembali tombak mereka.
"Masuklah. Pertarungan akan digelar sore hari," ucap salah satu prajurit tanpa ekspresi.
Riezky melangkah masuk ke dalam lorong aula yang dingin dan luas. Belum sempat ia mengagumi interior bangunan itu, tiba-tiba sebuah lengan merangkul lehernya dengan sangat akrab dari belakang.
"Megah banget gasih?! Kamu ikutan juga ya?! Keren, banyak banget orang-orang di sini, aku jadi nggak sabar!" cerocos orang asing itu dengan semangat berapi-api.
Tampangnya seumuran dengan Riezky. Wajahnya ceria, seolah dia datang ke sini untuk piknik alih-alih bertarung hidup dan mati.
"Ahh, haha iya. Aku pangling, jujur," ucap Riezky sambil berusaha melepaskan diri dari rangkulan maut itu.
"Aku Stewart, aku dari Desa Silverwood," ucap pemuda itu sembari mengulurkan tangan. Rambutnya berwarna abu-abu unik, penampilannya sederhana tapi bersih, dan yang paling menarik perhatian Riezky adalah sepasang pedang pendek seukuran lengan yang tergantung rapi di pinggul kanan dan kirinya.
"Aku Riezky, dari Aethelgard," jawab Riezky sambil menyambut salaman Stewart.
"Ehh? Aethelgard ya? Kudengar di sana roti muffinnya enak banget!" ujar Stewart dengan mata berbinar.
"Yah, begitulah," balas Riezky santai. Ia merasa Stewart adalah orang yang baik, tipe orang yang sulit untuk dibenci.
Stewart kemudian mengajak Riezky menuju area persiapan, sebuah tempat luas yang mirip ruang latihan terbuka di dalam kompleks aula. Di sana, suasana terasa jauh lebih menekan. Riezky melihat berbagai jenis petarung: ada yang bertubuh raksasa dengan kapak besar, atlet-atlet yang terlihat sangat terlatih, hingga petarung kecil yang gerakannya sangat lincah saat melakukan pemanasan.
Namun, di tengah keramaian itu, pandangan Riezky mendadak terkunci pada satu sosok di sudut area.
Orang itu berdiri dengan tenang, namun aura di sekitarnya sangat berbeda. Enam serpihan berlian berkilauan melayang di udara, berputar pelan mengelilingi tubuhnya seolah memiliki nyawa sendiri. Sosok misterius itu sedang meladeni serangan bertubi-tubi dari seorang pengguna pedang Musketeer. Si pemegang pedang tipis itu bergerak sangat lincah, menusukkan senjatanya ke berbagai sudut buta dengan kecepatan yang nyaris tak tertangkap mata. Namun, sosok yang dikelilingi berlian itu bahkan tidak menggerakkan tangannya.
Setiap kali ujung pedang musketeer itu nyaris menyentuh pakaiannya, salah satu dari enam serpihan berlian itu melesat dengan bunyi ting! yang nyaring, menangkis serangan dengan akurasi sempurna. Serpihan kristal itu seolah menjadi perisai hidup yang menari-nari melindunginya.
"Stewart, kau lihat orang itu?" bisik Riezky tanpa melepaskan pandangannya.
"Oh, dia?" Stewart ikut menoleh, ekspresi cerianya sedikit menyusut dan tangannya refleks menyentuh gagang pedang ganda di pinggulnya. "Hati-hati, Riez. Itu Seith, salah satu favorit juara. Mereka bilang dia petarung dari klan bangsawan lama. Enam serpihan itu bukan cuma buat pertahanan; kalau dia mau, berlian itu bisa menembus besi zirah dalam sekejap."
Seith tiba-tiba menghentikan latihannya. Ia menjentikkan jari, dan keenam serpihan berlian itu kembali berputar tenang di sekeliling bahunya. Matanya yang dingin sempat melirik ke arah kerumunan petarung, dan selama sepersekian detik, pandangannya bertemu dengan mata Riezky.
Riezky merasakan desiran aneh di dadanya. Ada tekanan yang berat, tapi juga rasa penasaran yang membuncah.
"Riez, ayo!" Stewart menepuk pundak Riezky, membuyarkan lamunannya. "Pengumuman grup sudah ditempel di papan utama. Kita lihat siapa yang bakal jadi korban pertama kita di arena!"
Mereka berdua berjalan menuju papan pengumuman yang dikerumuni banyak orang. Riezky mencari namanya di antara deretan teks emas di atas perkamen besar itu.
"Tariq?" gumam Riezky. Ia belum pernah mendengar nama itu, namun di tempat seperti ini, nama yang asing bisa jadi adalah ancaman yang paling berbahaya.
"Waduh, aku kebagian lawan si Warden," Stewart meringis sambil menepuk pedang gandanya. "Kudengar dia petarung veteran yang badannya seperti tembok batu. Tapi sudahlah, mari kita tunjukkan apa yang kita bisa!"
Mereka berdua pun bergegas menuju barisan kursi khusus para pejuang. Area ini tertata sangat rapi dan formal. Setiap baris kursi dibekali oleh satu prajurit kerajaan yang berdiri tegak dengan zirah lengkap. Tugas mereka jelas: memastikan para petarung tetap di tempat dan memanggil mereka satu per satu saat giliran duel tiba.
Riezky duduk dengan tenang, mencoba mengatur napasnya. Di sampingnya, Stewart tidak bisa berhenti menggerakkan kakinya karena gugup sekaligus antusias. Sementara itu, di barisan depan, Seith duduk dengan punggung tegak, dikelilingi oleh pendaran berliannya yang sesekali memantulkan cahaya obor aula ke arah wajah Riezky.
"Riz," panggil Stewart pelan. "Kalau kita menang babak ini, kita makin dekat ke final. Ingat dua puluh ribu koin itu."
Riezky mengangguk mantap. Ia menyentuh sepatu boots-nya, teringat latihan berat di air setengah betis bersama Sabrina dan Kael. Ia datang ke sini bukan untuk kalah.
Di barisan kursi pejuang, suasana semakin mencekam. Stewart baru saja kembali dengan napas tersengal setelah memenangkan duelnya yang sengit. Ia menepuk pundak Riezky yang sejak tadi terdiam kaku.
"Riez, giliranmu," bisik Stewart.
Tepat saat itu, prajurit yang berjaga di baris kursi Riezky melangkah maju. Ia menghentakkan tombaknya ke lantai marmer dengan bunyi DUNG! yang menggema, lalu membuka sebuah gulungan perkamen kecil.
"Pertandingan keempat, Grup C!" suara prajurit itu berat dan lantang. "Tariq dari Padang Shaba melawan... Riezky dari Aethelgard!"
Nama Riezky menggema di sepanjang lorong aula. Ada desas-desus kecil dari petarung lain di sekitar mereka. "Aethelgard? Desa nelayan itu?" atau.
Riezky berdiri. Ia membetulkan ikatan sepatu boots-nya satu kali lagi, memastikan cengkeramannya kuat. Saat ia melangkah melewati deretan kursi, ia sempat melirik ke arah Seith. Si pengendali kristal itu tidak bergerak, namun salah satu serpihan berliannya berputar sedikit lebih cepat saat Riezky lewat, seolah bereaksi terhadap energi yang mulai memanas di dalam tubuh pemuda itu.
Riezky berjalan menyusuri lorong gelap menuju cahaya terang di ujung sana. Setiap langkahnya terasa berat namun pasti. Begitu ia keluar dari lorong, cahaya matahari sore yang menembus atap terbuka Aula Redhenvous langsung menyambar wajahnya.
ROAARRRR!
Ribuan penonton bersorak. Gemuruh itu begitu kuat hingga Riezky merasa dadanya bergetar. Ia berjalan ke tengah arena, berdiri di atas hamparan pasir halus yang masih menyisakan bekas-bekas pertarungan sebelumnya. Riezky berputar pelan, melihat lautan manusia yang berteriak haus akan hiburan.
Lalu, pandangannya terkunci ke gerbang seberang.
Dari kegelapan gerbang itu, muncul sosok Tariq. Ia berjalan dengan intimidasi yang luar biasa, setelan ala Timur-nya berkibar tertiup angin arena. Tanpa banyak bicara, ia menarik Scimitar Emas-nya. Bunyi sring logam yang keluar dari sarungnya terdengar sangat jernih di tengah hiruk-pikuk penonton. Tariq mengarahkan ujung pedang berukir itu ke samping bawah, matanya yang dingin mengunci targetnya.
Riezky menarik napas dalam. Rasa gugup yang tadi menghimpitnya perlahan mencair, berganti dengan fokus yang tajam. Ia merendahkan tubuhnya, memasang kuda-kuda tangan kosong yang kokoh di atas pasir.
Gema terompet kerajaan seolah membelah udara Aula Redhenvous, menandakan bahwa nyawa kini dipertaruhkan. Jantung Riezky berdegup kencang, dentumannya terasa hingga ke ujung jari. Namun, Tariq tidak bergerak menyerang. Pria itu justru menancapkan ujung scimitar emasnya ke pasir di depannya, menggenggam gagangnya dengan dua tangan sambil merunduk rendah.
"Hah? Aku harus nyerang duluan nih?" batin Riezky heran.
Begitu kaki Riezky mengambil langkah pertama, permukaan pasir di bawahnya bergejolak. Dari balik butiran debu itu, bangkitlah makhluk-makhluk mengerikan yang tercipta dari pasir kering. Mereka keluar layaknya mayat yang bangkit dari kubur, tanpa suara, hanya debu yang berguguran dari tubuh mereka.
Tariq mengangkat wajahnya. Matanya yang tajam kini bersinar dengan warna cokelat tembaga yang berkilau karena pantulan matahari sore. Itulah saat monster-monster pasir itu menerjang.
Srett! Srett!
Mereka bergerak secepat hiu di dalam air, muncul dan tenggelam di dalam hamparan pasir arena. Riezky memukul hancur satu kepala monster, menendang yang lain hingga hancur menjadi debu, namun mereka terus bermunculan seolah tak terbatas. Di balik barisan monster itu, Tariq berjalan perlahan. Aura membunuhnya terasa pekat, menyeret pedang emasnya yang mengeluarkan suara parau saat bergesekan dengan pasir.
"Sial, udah deket dia!" umpat Riezky.
Melihat dirinya mulai terkepung, Riezky melakukan lompatan tinggi, menggunakan dorongan kecil dari elemennya untuk mendarat di atas medan batu dekorasi yang sedikit lebih tinggi. Monster pasir itu mencoba menggapai, namun mereka tertahan oleh struktur batu yang solid.
Riezky mengatur napas, jarinya nyaris menyentuh dagu untuk memikirkan strategi, namun instingnya berteriak kencang.
WUSH!
Sebuah gelombang tebasan berwarna emas melesat ke arahnya. Riezky secara refleks menjatuhkan tubuhnya ke belakang dalam posisi kayang. Tebasan energi itu lewat hanya beberapa inci di atas dadanya dan menghantam dinding batu di belakangnya dengan ledakan dahsyat hingga hancur berkeping-keping.
"Tebasannya... sampai sini?!" ujar Riezky dengan tangan sedikit gemetar. Jangkauan Tariq jauh lebih mengerikan dari dugaannya.
Tidak ingin memberi celah lagi, Riezky bangkit dan merentangkan kedua tangannya. Dari telapak kanannya melesat bola petir biru, sementara dari kirinya menyambar bola api merah. Keduanya menghantam Tariq tepat di tengah perjalanannya.
BOOM!
Ledakan besar tercipta, mengirimkan gelombang kejut yang membuat pasir di area itu berpencar ke mana-mana, menciptakan kabut debu yang pekat. Penonton sempat terdiam melihat ledakan itu. Di tengah pandangan yang terganggu oleh debu, Riezky memanfaatkan kecepatannya yang sudah terlatih di air.
SYUT!
Sebelum Tariq sempat menyeimbangkan diri dari ledakan, Riezky sudah muncul dari balik kabut. Dengan seluruh tenaga yang ia himpun, sebuah kepalan tangan yang terbungkus hawa panas menghantam telak wajah Tariq.
DUAK!
Tubuh Tariq terpental ke belakang, terseret di atas pasir hingga beberapa meter sebelum akhirnya berhenti. Sorakan penonton meledak melihat sang "Elang Padang Pasir" jatuh tersungkur oleh pemuda dari Aethelgard.
Melihat scimitar emas itu tergeletak di pasir setelah Tariq terpental, Riezky tidak menyia-nyiakan peluang. Dengan gerakan cepat, ia menyambar gagang pedang mewah itu. Terasa berat dan dingin, namun sangat mantap di genggaman. Riezky memasang kuda-kuda menyilang, mengarahkan bilah emas itu ke depan.
"Hhh, kalau begini kan gampang," ucapnya dengan percaya diri yang kembali meluap. Ia merasa di atas angin sekarang.
Namun, Tariq perlahan bangkit. Ia tidak tampak panik meski wajahnya baru saja dihantam telak. Dengan gerakan tenang, ia membenarkan pakaian timurnya yang berdebu. Tiba-tiba, pasir di bawah kakinya bergerak naik seperti ular, melilit lengan kanan Tariq dengan cepat. Dalam hitungan detik, pasir itu memadat, mengeras, dan secara ajaib bertransformasi menjadi pedang scimitar yang identik dengan yang dipegang Riezky.
Riezky melongo. Belum sempat ia mencerna keajaiban itu, pedang emas yang ada di tangannya mendadak terasa rontok. Dari ujung bilah hingga ke gagangnya, logam mulia itu hancur menjadi butiran pasir yang mengalir lewat sela-sela jarinya.
"Dukun..." gumam Riezky tak percaya, menatap telapak tangannya yang kini hanya berisi debu.
Tariq tidak memberi waktu untuk Riezky bengong. Ia mengayunkan pedang pasirnya dengan gerakan menyapu yang lebar. Syuut! Syuut! Syuut! Gelombang tebasan emas melesat bertubi-tubi dari ayunan pedang itu, lebih banyak dan lebih cepat dari sebelumnya.
Riezky berakrobat, melompat dan berguling di atas pasir arena untuk menghindari hujan tebasan tersebut. Namun, volumenya terlalu banyak. Tebasan terakhir melesat dengan sudut yang mustahil dihindari.
SLAAASH!
Serangan itu menghantam telak tubuh Riezky, menyambar dari bahu kiri hingga pinggul kanannya. Riezky terlempar ke belakang, punggungnya menghantam pasir dengan keras. Rasanya sakit bukan main, panas dan perih seperti disayat logam membara. Beruntung, latihan fisiknya bersama Sabrina membuat tubuhnya jauh lebih tangguh dari kelihatannya; bajunya terkoyak lebar memperlihatkan bekas luka merah yang memar, namun kulitnya tidak terbelah.
"Yaudah deh iya, nggak gampang. Hadeh..." ucap Riezky sambil meringis kesakitan. Ia berusaha bangkit kembali, bertumpu pada kedua tangannya yang gemetar karena syok.
Darahnya mulai mendidih. Ia menyadari bahwa melawan pengendali pasir di arena yang penuh pasir adalah ide yang buruk jika ia hanya mengandalkan fisik.