Di dunia di mana energi gaib dan iblis berkeliaran, Nam Ling adalah pemburu iblis yang telah hidup lebih dari seratus tahun berkat kekuatan pedang abadi yang menyatu dengan dirinya. Dulu seorang prajurit kerajaan yang terhormat, dia kehilangan segalanya ketika iblis membanjiri daratan dan membunuh orang tersayangnya.
Setelah menghabiskan abad untuk memburu makhluk kegelapan, Nam Ling tiba di Desa Hua—tempat yang dikabarkan menjadi sarang energi jahat baru yang lebih kuat dari iblis biasa. Di sana, dia bertemu dengan Yue Xin, seorang gadis muda yang memiliki kemampuan melihat jalur energi gaib dan menyimpan rahasia besar tentang asal-usul kekuatan pedang Nam Ling.
Saat makhluk kegelapan yang lebih kuat mulai muncul dan mengancam keselamatan seluruh daratan, Nam Ling harus memilih antara melanjutkan dendam pribadi atau bekerja sama dengan Yue Xin dan penduduk desa untuk menghentikan bahaya yang akan menghancurkan dunia. Di balik pertempuran yang tak berkesudahan, tersembunyi rahasia
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Keiro_ganteng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 34 – DINGIN YANG MEMATIKAN DI PUNCAK DUNIA
Sementara hutan purba kembali tenang, bahaya kini beralih ke tempat paling ekstrem di dunia ini—Puncak Gunung Es Abadi. Suhu di sini begitu rendah hingga napas saja bisa berubah menjadi es. Angin bertiup kencang seperti pisau yang siap mengiris kulit.
Di sini, Liya memimpin Tim Utara. Lokasi ini adalah tempat peristirahatan terakhir Iblis Angin – Zephyrion, makhluk yang konon bisa mengendalikan badai dan menyembunyikan segala sesuatu di dalam kabut abadi.
Liya berdiri di atas benteng es yang ia ciptakan sendiri. Ia mengenakan baju zirah putih kebiruan yang berkilauan di bawah sinar matahari. Di tangannya, tongkat sihir esnya siap digunakan. Matanya yang tajam memindai sekeliling. Langit di atas tidak biru, melainkan berwarna kelabu pekat bercampur ungu gelap—tanda bahwa energi jahat sudah sangat dekat.
“Waspada!” seru Liya dengan suara dingin yang menusuk. “Musuh tidak akan terlihat jelas di sini. Mereka bersembunyi di balik angin dan kabut. Jangan percaya pada apa yang kalian lihat!”
Pasukan di bawahnya mengangguk tegas, meski tubuh mereka gemetar bukan karena takut, tapi karena hawa dingin yang luar biasa.
SERANGAN DARI UDARA
Tiba-tiba, angin berhenti. Keheningan yang mencekam menyelimuti seluruh puncak gunung. Detik berikutnya…
WUUUUUUSH!!!
Badai angin topan meledak dari segala arah! Ribuan potongan es tajam beterbangan seperti peluru. Dari dalam awan hitam, ratusan makhluk iblis berwujud burung dengan tulang belulang terbang turun, menyerang dengan paruh dan cakar yang keras seperti baja.
Di tengah badai, para penyihir kultus muncul melayang di udara. Mereka tidak memegang tongkat, tapi mulut mereka terus melantunkan mantra yang membuat angin semakin ganas.
“BANGKITLAH, ZEPHYRION!” teriak mereka serempak. “SAPU BERSIH DUNIA INI DENGAN KABUT KEMATIAN!”
Langit menjadi gelap gulita. Badai es menghalangi pandangan hingga hanya bisa melihat beberapa meter di depan mata.
“BENTENG ES!” perintah Liya.
KRACCK!
Dinding es setebal beberapa meter muncul melindungi pasukannya. Namun serangan musuh terlalu kuat. Angin mereka mampu membelah batu karang, dan dinding es itu retak hanya dalam hitungan detik.
“Mereka terlalu kuat!” teriak salah satu prajurit. “Angin mereka memotong energi kita!”
Liya menyadari masalah ini. Iblis Angin memiliki kemampuan khusus untuk memutus aliran energi siapa pun yang mendekatinya. Semakin Liya mengeluarkan kekuatan, semakin cepat angin itu menyedotnya pergi.
Pemimpin Kultus Angin, seorang wanita dengan wajah pucat dan rambut yang bergerak sendiri seperti ditiup angin, tertawa mengejek.
“Kau menguasai es, gadis kecil? Tapi es tidak bisa bergerak secepat angin! Kau akan membeku dan menjadi patung di sini selamanya!”
Wanita itu melambaikan tangannya. Ribuan jarum es hitam meluncur ke arah Liya dengan kecepatan kilat.
Liya mencoba memblokade, tapi energinya terasa berat dan lambat. TRANG! Jarum itu berhasil menembus perisainya dan mengenai bahu kanannya. Darah merah segar mengalir, namun dalam sekejap sudah membeku di kulit baju zirahnya.
“Liya!” teriak pasukannya panik.
Pertahanan mereka runtuh. Badai semakin besar, dan di pusat badai, sebuah mata raksasa berwarna biru gelap mulai terbentuk di awan—tanda bahwa Iblis Angin hampir sepenuhnya bangkit.
PANGGILAN YANG TERPUTUS
Di markas utama, Nam Ling baru saja selesai memantau laporan Serena. Tiba-tiba, ia merasakan sensasi dingin yang menusuk tulang, seolah darahnya sendiri hendak membeku. Gambar Liya yang terluka dan terdesak muncul jelas di benaknya.
“LIYA!” seru Nam Ling melompat berdiri. Wajahnya pucat pasi. “Wilayah Utara diserang! Situasinya kritis! Liya terluka!”
Yue Xin segera mencoba menghubungi, tapi gelombang energi badai sangat kacau. “Sinyalnya putus-putus, Nam Ling! Angin di sana terlalu kuat, sulit menembusnya!”
“Kita tidak punya waktu!” wajah Nam Ling berubah sangat serius. “Liya adalah benteng terkuat kita. Jika dia jatuh, tidak ada yang bisa menahan Iblis Angin itu. Kita harus mengirimkan energi SEKARANG!”
Mereka berdua duduk bersila, menggenggam tangan erat-erat. Kali ini Nam Ling mengerahkan kekuatan Pedang Abadi-nya hingga batas maksimal. Cahaya Merah dan Emas menyatu menjadi Ungu yang menyilaukan, menembus langit menuju Utara.
CAHAYA YANG MELEBURKAN KETAKUTAN
Kembali di puncak gunung, Liya sudah berlutut. Tubuhnya mulai ditutupi lapisan es. Pemimpin Kultus sudah siap memberikan serangan terakhir.
“Selamat tinggal, Penjaga Es…”
Tiba-tiba, sebuah cahaya Ungu menembus badai dan menghantam tepat di samping Liya. Ledakan cahaya itu menciptakan zona tenang di tengah badai yang ganas.
Energi hangat namun kuat mengalir deras masuk ke tubuh Liya. Luka di bahunya menutup seketika. Rasa dingin yang menguasai tubuhnya digantikan oleh kekuatan yang meledak-ledak.
“Ini… energi Nam Ling…” bisik Liya. Matanya yang semula redup kini kembali bersinar terang, bahkan lebih biru dan tajam dari sebelumnya. “Aku tidak boleh kalah. Aku harus melindungi apa yang berharga bagiku.”
TRANSFORMASI: RATU SALJU ABADI
Liya berdiri perlahan. Tubuhnya diselimuti oleh armor es kristal murni yang berkilauan. Di punggungnya sayap es terbentuk, namun bukan es biasa, melainkan es yang bercahaya dan tidak bisa dicairkan oleh api mana pun. Suasana di sekitarnya berubah drastis—angin ganas musuh seketika berhenti bergerak saat memasuki radius 10 meter dari dirinya.
“Angin mungkin bisa memindahkan gunung,” ucap Liya dengan suara dingin dan tenang. “Tapi es bisa membekukan lautan. Kalian mengotori angin ini dengan niat jahat… maka aku akan membekukan kalian selamanya!”
Ia mengangkat tangannya tinggi-tinggi ke langit. “TEKNIK RAHASIA: DUNIA KRISTAL YANG TENANG!”
BRRRRRRR!!!
Suara gemercik es terdengar mengerikan. Dari tubuh Liya, gelombang beku menyebar keluar dengan kecepatan luar biasa. Apa pun yang disentuh gelombang itu—angin, badai, jarum es hitam, bahkan makhluk iblis—semuanya berhenti bergerak dan berubah menjadi patung es yang indah namun mematikan.
Langit yang gelap pun tertutup oleh lapisan es tipis yang memantulkan cahaya matahari, membuat area itu terang kembali.
“TIDAK MUNGKIN!” teriak Pemimpin Kultus dengan mata terbelalak. “ANGIN TIDAK BISA DIBEKUKAN!”
“Bisa,” jawab Liya singkat. Ia menjentikkan jarinya. CRASH! Seluruh patung es itu hancur berkeping-keping bersama para penyihir di dalamnya.
Iblis Angin yang hampir terbentuk pun membeku padat sebelum sempat bergerak, lalu hancur menjadi jutaan serpihan kristal. Badai mereda seketika. Ketenangan kembali menyelimuti puncak gunung.
PESAN TERAKHIR DAN KENYATAAN BARU
Pemimpin Kultus wanita itu nyaris hancur, tapi dengan sisa tenaga ia berhasil meloloskan diri dalam bentuk kabut hitam. Sebelum hilang, ia berteriak dengan penuh kebencian.
“Kalian pikir kalian menang?! Kalian hanya mempercepat waktu! Aroma energi kalian bertujuh sudah tercatat sempurna! TUHAN KITA SUDAH TAHU LOKASI KALIAN SEMUA! BERSIAPLAH… INI ADALAH PERMAINAN YANG SESUNGGUHNYA!”
Suara itu menghilang bersama angin.
Liya berdiri tegak, napasnya sedikit terengah namun tatapannya tak tergoyahkan. Ia meremas tangannya sendiri.
“Permainan yang sesungguhnya…” gumamnya. “Kami menunggu.”
KEGELAPAN YANG MENDEKAT
Beberapa jam kemudian, di markas utama. Liya sudah kembali dan melapor. Suasana di ruang strategi sangat mencekam. Empat wilayah sudah diserang: Selatan, Timur, Tengah, dan Utara. Semua berhasil digagalkan, tapi harga yang dibayar mahal, dan pesan dari musuh semakin jelas.
“Tinggal satu wilayah lagi,” ucap Elara, suaranya pelan namun tegas. Ia menunjuk titik terakhir di peta—Wilayah Barat, tempatnya bertugas. “Mereka menyisakan Wilayah Barat untuk terakhir. Itu bukan kebetulan.”
Nam Ling mengangguk. “Mereka menguji kita satu per satu. Melihat seberapa kuat kita, seberapa cepat kita merespons, dan seberapa besar energi yang bisa kita keluarkan. Mereka mengumpulkan data.”
“Dan sekarang mereka bilang mereka sudah tahu lokasi kita semua,” tambah Lira dengan wajah muram. “Mereka tidak akan lagi menyerang secara terpisah. Serangan selanjutnya… pasti adalah serangan gabungan.”
“Atau…” Serena menatap mereka dengan mata cemas. “Mereka akan langsung menyerang markas ini untuk menangkap kita sekaligus.”
Nam Ling berdiri dan menghunus Pedang Abadi sepenuhnya. Bilah pedang itu bersinar merah menyala, merespons kemarahan tuannya.
“Biarkan mereka datang,” ucap Nam Ling dengan suara rendah yang bergema di seluruh ruangan. “Empat dari kalian sudah membuktikan kekuatan kalian. Sekarang giliran Elara di Wilayah Barat. Tapi kali ini, aku tidak akan tinggal diam.”
Ia menatap Elara. “Elara, bersiaplah. Pertempuran di wilayahmu akan menjadi yang paling sulit karena mereka akan mengerahkan segala trik licik mereka padamu. Kau adalah otak dari aliansi ini, dan mereka ingin menghancurkan otak itu pertama kali.”
Elara tersenyum tipis, meski ada ketegangan di wajahnya. “Jangan khawatir, Nam Ling. Aku tidak hanya punya otak, tapi aku juga tahu cara bertarung. Mereka akan menyesal telah meremehkanku.”
“Bagus,” Nam Ling mengangguk. “Setelah Wilayah Barat aman… kita akan berbalik menyerang sarang mereka. Kita tidak akan lagi menjadi buruan. Mulai saat ini… KITALAH YANG AKAN MEMBURU MEREKA!”
Semua orang merasakan semangat yang membara. Badai terbesar memang belum datang, tapi mereka sudah siap. Mereka bukan lagi sekelompok pejuang yang terpisah-pisah. Mereka adalah satu kesatuan yang tak terkalahkan.