𝐑𝐢𝐳𝐮𝐤𝐢 𝐦𝐞𝐧𝐣𝐚𝐥𝐚𝐧𝐢 𝐡𝐚𝐫𝐢 𝐧𝐲𝐚 𝐝𝐞𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐢𝐝𝐞𝐧𝐭𝐢𝐭𝐚𝐬 𝐠𝐚𝐧𝐝𝐚. 𝐡𝐚𝐫𝐢-𝐡𝐚𝐫𝐢 𝐧𝐲𝐚 𝐛𝐞𝐫𝐣𝐚𝐥𝐚𝐧 𝐭𝐞𝐫𝐚𝐬𝐚 𝐛𝐢𝐚𝐬𝐚. 𝐡𝐢𝐧𝐠𝐠𝐚 𝐝𝐢𝐚 𝐛𝐞𝐫𝐭𝐞𝐦𝐮 𝐝𝐞𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐬𝐞𝐨𝐫𝐚𝐧𝐠 𝐰𝐚𝐧𝐢𝐭𝐚 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐦𝐞𝐧𝐠𝐮𝐛𝐚𝐡 𝐣𝐚𝐥𝐚𝐧 𝐧𝐲𝐚. 𝐝𝐚𝐧 𝐭𝐚𝐤𝐝𝐢𝐫 𝐚𝐤𝐚𝐧 𝐦𝐞𝐧𝐠𝐮𝐧𝐠𝐤𝐚𝐩𝐤𝐚𝐧 𝐬𝐢𝐬𝐢 𝐥𝐚𝐢𝐧𝐧𝐲𝐚.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kazuki Taki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 33 - mengubah banyak hal
Enam bulan berlalu tanpa suara ledakan besar, tanpa pengumuman berlebihan, tanpa wajah seorang pemimpin yang dipasang di baliho-baliho kota. Namun di Kota Ravelin, perubahan itu nyata.
Pagi itu, matahari terbit di balik perbukitan Ravelin dengan cahaya yang hangat. Jalan-jalan yang dulu sepi kini mulai ramai oleh langkah kaki para pekerja. Seragam sederhana namun rapi dikenakan oleh pria dan wanita yang berjalan dengan wajah penuh harapan.
Pabrik manufaktur pertama berdiri tegak di sisi timur kota. Asap tipis mengepul dari cerobong—bukan polusi berlebihan, melainkan tanda kehidupan baru. Di sisi lain, bangunan sekolah yang dulunya hanya pondasi kini berdiri lengkap dengan ruang kelas terang dan halaman luas. Rumah sakit kecil di pusat kota mulai menerima pasien dengan fasilitas yang sebelumnya hanya bisa dibayangkan warga Ravelin. Dan hari itu, progres resmi mencapai 100%.
Ravelin yang Baru
Di depan pabrik, seorang pria paruh baya berdiri sambil menatap papan nama perusahaan anak usaha Bluesky Corporation. Matanya berkaca-kaca. “Itu namaku di sana,” katanya pelan pada istrinya. “Untuk pertama kalinya… aku bekerja di kota sendiri.” Pria itu adalah ayah Ayu.
Tak jauh dari sana, ayah Lala sedang mengenakan helm proyek, berbincang dengan rekan kerjanya sambil tertawa ringan. Tidak ada lagi raut lelah karena harus merantau jauh. Tidak ada lagi kekhawatiran meninggalkan keluarga demi pekerjaan. “Kita pulang setiap sore sekarang,” katanya bangga. “Anak-anak kita bisa lihat kita kerja.”
Di sudut kota, warga berkumpul di lapangan kecil dekat sekolah baru. Anak-anak berlarian dengan seragam putih biru yang masih tampak baru. Para ibu berbincang sambil mengawasi mereka, sesekali tersenyum tidak percaya.
“Dulu,” kata seorang ibu-ibu tua, “kita cuma bisa berharap. Sekarang… mimpi itu benar-benar datang.” Tidak ada satu pun dari mereka yang tahu nama Rizuki. Mereka hanya tahu satu hal: Bluesky Corporation menepati janji.
Gedung Cakrawala: Laporan yang Tenang
Di pusat kota, di lantai 99 Gedung Cakrawala, suasana hening namun penuh makna. Rizuki duduk di kursi kerjanya. Wajahnya tetap tenang seperti biasa, namun matanya menyimpan kepuasan yang tidak ia ucapkan.
Layar di depannya menampilkan laporan akhir. yang di percepat pengerjaan nya.
-Kota Ravelin
-Progres Infrastruktur: 100%
-Penyerapan Tenaga Kerja Lokal: 92%
Tingkat Pengangguran: Turun signifikan Kepuasan Warga Tinggi, dan pemerintah baik pusat maupun daerah sama-sama mengapresiasi. Karena pendapatan pajak mereka juga bertambah.
Keira berdiri di sisi kanan meja memberikan laporan nya pada rizuki. “Semua unit anak usaha sudah beroperasi,” lapornya. “Dan seperti yang Anda minta, mayoritas tenaga kerja adalah warga lokal.” Mira menambahkan, “Dampak sosialnya jauh melebihi proyeksi awal.”
Rizuki mengangguk pelan. “Bagaimana kota lain?” tanyanya singkat.
Keira menggeser layar, Beberapa titik baru menyala di peta. “Konstruksi awal di dua kota sudah berjalan,” jelasnya. “Rekrutmen lokal dimulai bulan ini.”
Rizuki bersandar ke kursinya. “Lanjutkan,” katanya. “Aku tidak ingin ada anak-anak yang tidak bisa bersekolah.” sambung ucapan rizuki.
“pemerintah memberikan penghargaan." Ucap Mira. Rizuki menghela napas kecil. “Itu urusan mereka.” Namun penghargaan itu tetap datang.
bagi bluesky Corporation membangun anak cabang bisa sangat mudah, cepat dan efisien, karena memiliki teknologi pengalaman pengetahuan serta para ahli yang dapat bekerja dengan cepat.
Penghargaan Tanpa Wajah
Berita nasional menayangkan acara resmi pemerintah.
“Bluesky Corporation kembali menerima penghargaan atas kontribusi nyata dalam pembangunan daerah tertinggal dan penyerapan tenaga kerja lokal.” Tidak ada sosok CEO yang tampil Hanya perwakilan direksi.
Media bertanya-tanya, seperti biasa. “Siapa sebenarnya pemimpin di balik Bluesky?” tanya salah satu wartawan“Mengapa ia selalu menghindar dari sorotan?” tanya wartawan yang lain nya kepada perwakilan direksi. Namun tidak ada jawaban.
Di ruang kerjanya, Rizuki mematikan layar berita. Ia tidak membutuhkan pengakuan itu.
Semangat di Tengah Rindu
Sementara itu, di sisi lain kota Vhiena berdiri di depan papan tulis kelasnya. Hari itu, ia baru saja menyelesaikan presentasi kelompok. Tepuk tangan kecil terdengar dari teman-teman sekelas. “Kamu makin jago,” bisik Ayu saat mereka duduk kembali. Vhiena tersenyum. “Terima kasih.”
Tidak ada yang tahu bahwa setiap malam, setelah semua selesai, ia masih membuka ponsel dan menunggu satu nama itu muncul.
Ia pulang sekolah sore itu dengan langkah ringan. Meski lelah, wajahnya tetap cerah. Di kamar, foto-foto itu masih di tempatnya. Foto besar di dinding satu Foto kecil di meja belajar, Satu Foto kecil lagi di samping ranjang. Vhiena duduk di kursinya, membuka buku pelajaran—lalu ponselnya bergetar.
Rizuki: Bagaimana harimu?
Vhiena tersenyum.- Vhiena: Capek… tapi menyenangkan. Aku belajar banyak hal.
Rizuki: Aku tahu kamu akan bertahan.
Vhiena: bagaimana kuliah kamu? Kamu sibuk di sana?
Rizuki membaca pesan itu sambil berdiri di depan jendela Gedung Cakrawala. Kota terbentang luas di bawahnya.
Rizuki: Selalu ada yang harus dikerjakan. Tapi aku baik-baik saja.
Vhiena: Aku kangen.
Pesan itu singkat, Namun dampaknya panjang. Rizuki menatap layar cukup lama sebelum membalas.
Rizuki: Aku juga, Tapi lihat kita sekarang—kita tidak berhenti.
Vhiena menarik napas pelan.
Vhiena: Aku akan terus semangat Sampai hari kamu kembali.
Rizuki mengetik perlahan.
Rizuki: Hari itu akan datang.
Dan untuk pertama kalinya sejak lama, ia benar-benar yakin.
Kota-Kota yang Mulai Berubah.
Malam itu, Rizuki kembali ke meja kerjanya. Peta kota-kota pinggiran menyala satu per satu. Ravelin bukan lagi pengecualian Ia adalah awal.
Rizuki menutup laporan. Di dalam dirinya, tidak ada rasa sombong. Hanya satu pemikiran sederhana: Jika satu kota bisa berubah, maka kota lain juga bisa. Dan di tempat lain, Vhiena mematikan lampu kamarnya. Ia berbaring, menatap gelap. Rindu itu masih ada. Namun kini, rindu itu bukan beban—melainkan bahan bakar.
Tinggal bilang nunggu si dia apa ssh nya si?/Slight/
SMA kls 3, trnyta CEO😌
cnth
"Tuan Rizuki, maaf mengganggu! Saya lihat lampu masih menyala." kata Mira./Smile/
tapi tergantung masing-masing cerita sih, hehehe
kak skip titiknya /Whimper/
Skip titiknya kak. /Bye-Bye/