NovelToon NovelToon
THE ARCHIVIST

THE ARCHIVIST

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Spiritual / Time Travel
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: NP (Naika Permata)

Dimas dan Sarah kini dikenal sebagai pasangan akademisi selebriti. Sarah dengan buku best seller-nya, dan Dimas sebagai profesor muda yang brilian. Namun, itu hanya kedok. Di balik layar, mereka bekerja sebagai Konsultan Khusus untuk Badan Perlindungan Cagar Budaya & Aset Negara (BPCBAN). Tugas mereka: Melacak, mengamankan, dan menyegel artefak-artefak supranatural berbahaya yang diperjualbelikan di pasar gelap Internasional (Black Market). Musuh mereka bukan lagi dukun santet, melainkan Sindikat Kolektor Internasional yang didanai oleh miliarder asing yang ingin menguasai kekuatan mistis Nusantara.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NP (Naika Permata), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jurang Tanpa Dasar & Aksara Lemuria (Tambahan)

Lokasi: Bibir Lubang (Sinkhole), Teras Kedua Gunung Padang.

Waktu: 16.30 WIB (Hujan Deras).

Adegan ini disisipkan setelah lubang sinkhole terbuka dan batu-batu terjatuh, namun sebelum Dimas dan Sarah memutuskan untuk melompat turun.

Uap panas berbau belerang campur ozon (seperti bau udara setelah petir menyambar) terus mengepul dari lubang selebar satu meter yang baru saja terbuka di antara balok-balok andesit.

Dr. Hendra berlari terseok-seok menembus hujan sambil memegangi helm proyeknya, disusul oleh Komandan Peleton berpakaian loreng hijau, Kapten Bayu.

“Tahan posisi kalian!” Teriak Kapten Bayu pada pasukannya. Ia menatap Dimas dan Sarah dengan curiga. “Profesor, apa yang baru saja anda lakukan? Senjata apa yang Anda lempar ke anomali itu?”

“Gambar dapur campur doa, Kapten,” jawab Dimas datar, tanpa mengalihkan pandangannya dari lubang gelap di depannya. “Dan untung saya lempar. Kalau tidak, medan-antigravitasi itu bakal terus membesar dan mengangkat seluruh bukit ini ke udara.”

Sarah berlutut di bibir lubang, tidak memperdulikan celana kargonya yang kini berlumpur cokelat pekat. Ia mengeluarkan sebuah Glow Stick (Tongkat pendar) militer berintensitas tinggi, mematahkannya hingga bersinar neon hijau, lalu menjatuhkannya ke dalam lubang.

Satu detik. Dia detik. Tiga detik. Lima detik.

Cahaya hijau itu terus mengecil hingga akhirnya hilang ditelan kegelapan mutlak. Tidak ada suara pantulan atau benturan di dasar.

“Kedalamannya lebih dari 100 meter lurus ke bawah,” lapor Sarah, matanya menatap layar tablet yang terhubung dengan sensor kecil di glow stick tadi. “Dan tebak, Dok? Dinding lubang ini… bukan tanah liat atau batuan vulkanik alami.”

Di. Hendra berjongkok di sebelah Sarah, mengintip ke dalam. “Maksud Dokter?”

Sarah menyorotkan senter taktisnya ke dinding bagian dalam lubang yang baru terbuka itu.

Lampu senter memperlihatkan permukaan dinding terowongan yang melingkar lurus ke bawah. Permukaannya sangat halus, seolah-olah dipotong menggunakan laser industri presisi tinggi. Warnanya hitam mengkilap seperti kaca obsidian.

Dan yang paling mengejutkan: di sepanjang dinding kaca hitam itu, terdapat alur pahatan yang memancarkan pendar cahaya kebiruan yang sangat redup.

“Pakaian,” bisik Dr. Hendra, napasnya tertahan. “Ada ukiran di dindingnya.”

Dimas mencondongkan tubuhnya, menyipitkan mata untuk membaca deretan simbol yang menyala biru itu.

“Huruf Pallawa? Sansekerta? Sunda Kuno?” Tebak Sarah beruntun.

Dimas menggeleng pelan. Wajahnya tegang. Sebagai sejarawan dan ahli bahasa kuno, menemukan aksara yang tidak ia kenali adalah hal yang mustahil—sekaligus menakutkan.

“Bukan ketiganya, Sar,” gumam Dimas. “Bentuknya mirip paku kuno (Cuneiform) dari Mesopotamia, tapi melengkung seperti gelombang air. Aku pernah melihat referensi simbol ini di sebuah lontar rahasia di perpustakaan Majapahit dulu.”

Dimas menoleh pada Sarah, hujan membasahi kacamatanya.

“Ini Aksara Lemuria. Bahasa dari peradaban sebelum Zaman Es. Sebelum benua Sunda Land tenggelam.”

Kapten Bayu mendengus tidak sabar. “Saya tidak peduli ini bahasa alien atau bahasa purba. Protokol militer menyatakan area anomali harus diamankan. Tim Zeni Tempur akan menutup lubang ini dengan beton cor sekarang juga.”

“Jangan gila, Kapten!” Potong Dr. Hendra panik. “Ini penemuan arkeologi terbesar abad ini!”

“Dan ancaman keamanan nasional terbesar, Dok!” Balas Kapten Bayu tegas. “Kalian lihat sendiri batu-batu tadi melayang! Kalau benda di bawah sana meledak, patahan Lembang bisa ikut terpicu. Gempa tektonik bisa meratakan Jawa Barat!”

NENG… NONG…

Suara gamelan mekanis itu kembali terdengar dari dasar lubang, kali ini lebih keras, membuat air hujan di genangan lumpur bergetar liar.

Ponsel satelit Sarah berbunyi nyaring. Panggilan dari teknisi di tenda komando.

“Dokter Sarah! Sensor seismik melonjak gila-gilaan! Rongga di bawah sana… suhunya naik drastis. Mesinnya nyala lagi! Kalau tidak dihentikan, medan gravitasinya bakal balik 10 kali lebih besar dalam waktu 20 menit!”

Sarah memutus panggilan. Ia menatap Dimas, lalu menatap Kapten Bayu.

“Dua puluh menit sebelum bukit ini, berikut tenda, mobil, dan pasukan Anda, terbang ke awan lalu dibanting ke tanah, Kapten,” kata Sarah tajam. “Beton cor Anda nggak akan kering secepat itu.”

Kapten Bayu terdiam, wajahnya pucat melihat data di tablet Sarah. “Terus kita harus apa?”

Dimas berdiri, membetulkan letak sarung keris di pinggangnya, dan mengeluarkan seutas tali kernmantle (tali panjat tebing) dari tas ranselnya. Ia mengaitkan ujung tali itu ke sebuah balok andesit raksasa yang menancap kuat di tanah.

“Kami turun,” kata Dimas tenang. “Kami matikan mesinnya dari dalam.”

“Kalian berdua saja? Itu bunuh diri!” Protes Dr. Hendra.

“Lebih baik dua orang ahli yang bunuh diri daripada satu batalyon mati konyol, Dok,” sahut Sarah sambil memasang harness (sabuk pengaman) ke pinggangnya dan mengaitkannya ke tali Dimas.

Dimas menatap Kapten Bayu. “Beri kami waktu satu jam. Amankan perimeter. Jangan ada yang mendekat ke lubang ini. Kalau dalam satu jam kami nggak kembali, atau gravitasinya mulai gila lagi…”

Dimas menarik napas panjang.

“… bom saja bukit ini sampai rata.”

Kapten Bayu menelan ludah, lalu mengangguk hormat. “Semoga Tuhan bersama kalian, Profesor.”

Dimas dan Sarah berdiri di bibir jurang kaca obsidian itu. Suara mesin purba dibawah mereka memanggil-manggil.

Dimas mendongak menatap istrinya, tersenyum miring di bawah guyuran hujan.

“Siap kotor-kotoran lagi, Dokter Sarah?”

Sarah menghela napas pasrah, menekan tombol loading pada pistol SIG Sauer-nya.

“Malam ini aku batalin reservasi sushi kita. Ayo masuk ke lubang cacing ini.”

1
NP
Agak berat petualangan Dimas dan Sarah nih, kak. Maklum sama sama ilmuwan..
Felycia R. Fernandez
Petualangan baru dimulai...
NP
Iya betul yg dulu di rempah sang waktu,
Felycia R. Fernandez
Arya ini yang jadi raja dulu kan?
Felycia R. Fernandez
😅😅😅😅😅
Felycia R. Fernandez
lah,Sarah malah kenak
Felycia R. Fernandez
🤣
NP
Suami istri yang suka berpetualang menghadapi hal hal mistis
Felycia R. Fernandez
😆😆😆😆😆
Felycia R. Fernandez
ya ampun,luar biasa suami istri ini
Felycia R. Fernandez
kok ngeri ya 😳
Felycia R. Fernandez
wow 😳
Akbar Aulia
kurang.....kurang......kurang.....kurang banyak thor upnya
Felycia R. Fernandez
pernah denger,tapi blom tau gimana kota nya kk...😆😆😆
NP
Makasih ya Kak, Nusantara Üniverse menanti selanjutnya 🤣
Akbar Aulia
,iya kak ,ceritanya seru
Akbar Aulia
nanti kalo sampai kabari aku ya, semoga tidak ada halangan
Akbar Aulia
terimakasih thor sudah membuat cerita yg bagus sekali, semangat terus👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!