sepasang sahabat yang telah berbagi segalanya selama belasan tahun harus menghadapi ujian terberat dalam hubungan mereka, kehadiran orang baru dan ketakuran akan kehilangan satu sama lain jika mereka melangkah lebih jauh
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nayemon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
RESIDU MASA LALU DI BALIK KEHANGATAN RUMAH BARU
Pagi itu, aroma kayu manis dan biji kopi yang baru digiling mengisi ruang makan minimalis di rumah baru Arlan dan Kira. Sinar matahari menembus jendela besar yang dirancang Arlan khusus agar mereka bisa menikmati sarapan dengan pencahayaan alami terbaik. Namun, di balik ketenangan itu, ada getaran ponsel yang terus-menerus mengusik di atas meja marmer.
Arlan melirik layar ponselnya. Satu pesan masuk, lalu dua, lalu tiga. Semuanya dari nomor kantor pusat Anastasia Group.
"Lan, kopinya keburu dingin," tegur Kira lembut sambil meletakkan piring berisi roti panggang alpukat di depan suaminya. "Dan ponsel kamu sepertinya lebih lapar daripada kamu pagi ini."
Arlan menghela napas, membalikkan ponselnya agar layarnya menghadap ke meja. "Maaf, Ra. Tim lapangan di Bali sepertinya sedang panik. Ada perubahan spesifikasi mendadak dari pihak Maura."
Kira duduk di hadapan Arlan, menatap suaminya dengan tatapan menyelidik. "Perubahan spesifikasi atau perubahan suasana hati kliennya? Kita baru satu minggu pindah ke sini, Lan. Aku nggak mau proyek itu mulai mencuri waktu kita lagi."
"Aku juga nggak mau, Ra. Tapi ini menyangkut struktur tebing yang kemarin kita survei. Maura ingin menambah area infinity pool yang menjorok keluar tebing. Secara teknis, itu sangat berisiko," jelas Arlan sambil menyesap kopinya yang kini terasa agak pahit.
Kira terdiam sejenak. Ia tahu jika Arlan sudah bicara soal "risiko teknis", itu artinya suaminya sedang dalam mode profesional yang sangat serius. "Dan dia minta kamu ke sana lagi?"
"Dia tidak minta secara langsung. Dia mengirimkan dokumen revisi lewat pengacaranya. Sangat formal, sangat kaku. Sepertinya dia belajar dari addendum yang aku buat kemarin," Arlan tersenyum miring. "Dia main aman sekarang, tapi permintaannya tetap saja gila."
"Boleh aku lihat?" Kira mengulurkan tangannya.
Arlan ragu sejenak, namun akhirnya memberikan tabletnya kepada Kira. Sebagai desainer interior, Kira punya kemampuan membaca rencana tapak dengan baik. Matanya menyipit saat melihat garis-garis merah yang menandakan area tambahan.
"Ini gila, Lan," ucap Kira pelan. "Titik bebannya ada di area yang tanahnya labil. Kalau ini dipaksakan, dalam lima tahun resort itu bisa longsor."
"Tepat. Dan itulah kenapa aku harus membalasnya dengan perhitungan struktur yang akurat. Aku nggak akan ke Bali dulu. Aku akan selesaikan ini dari studio di rumah."
Kira menghela napas lega. "Bagus. Aku nggak mau kamu terjebak badai lagi di saung itu."
Arlan tertawa, meraih tangan Kira di atas meja dan mengecupnya. "Cemburumu itu bumbunya lebih pedas dari sambal goreng Ibu Lastri ya, Ra?"
"Bukan cemburu, Lan. Ini namanya manajemen risiko aset negara," balas Kira dengan kerlingan mata jenaka.
Siang harinya, suasana rumah yang tadinya damai berubah menjadi sedikit tegang. Arlan mengunci diri di studionya, berkutat dengan perangkat lunak pemodelan struktur. Sementara itu, Kira sedang asyik menata tanaman di taman belakang ketika bel pintu berbunyi.
Kira mengernyit. "Siapa ya? Ibu kan janji datangnya nanti malam."
Saat ia membuka pintu, seorang kurir berdiri di sana membawa sebuah kotak kayu besar yang terlihat sangat berat. "Paket untuk Bapak Arlan Dirgantara, Bu. Harus ditandatangani oleh penerima atau anggota keluarga."
"Dari siapa ya, Mas?" tanya Kira sambil menerima pulpen untuk tanda tangan.
"Dari Anastasia Group, Bu. Katanya dokumen contoh material."
Kira membawa kotak itu ke ruang tengah. Namun, saat ia melihat label pengirimnya, jantungnya berdegup kencang. Di sana tertulis: Maura Anastasia - Personal.
"Personal?" gumam Kira.
Ia ragu untuk membukanya, tapi rasa ingin tahunya lebih besar. Lagi pula, ia adalah istri Arlan. Ia mengambil pisau kecil dan membuka segel kotak itu. Di dalamnya bukan hanya dokumen material, melainkan sebuah maket kecil terbuat dari kristal yang sangat indah. Maket itu menggambarkan sebuah rumah di atas bukit—desain yang pernah Arlan buat saat mereka kuliah di London dulu.
Di bawah maket itu, ada sebuah surat kecil dengan tulisan tangan yang sangat rapi.
Arlan,
Aku menemukan ini di gudang lama Ayah. Kamu ingat janji kita di perpustakaan kampus dulu? Tentang rumah yang tidak butuh dinding karena kita hanya butuh langit?
Aku tahu kamu sudah menikah. Tapi kenangan tidak bisa dihapus dengan sebuah akad, kan?
Proyek Bali ini bukan soal bisnis bagiku. Ini soal menyelesaikan apa yang dulu terputus.
Datanglah ke kantor pusat besok jam 10. Kita bahas 'struktur' yang sebenarnya.
Tangan Kira gemetar. Amarah yang sudah ia pendam meledak seketika. Maura benar-benar tidak punya urat malu. Ini bukan lagi soal proyek, ini adalah serangan langsung ke jantung rumah tangganya.
"Ra? Itu paket apa?" suara Arlan terdengar dari arah tangga. Pria itu tampak lelah dengan rambut yang sedikit berantakan.
Kira berdiri, menunjuk ke arah kotak itu tanpa berkata-kata. Arlan mendekat, melihat isi kotak itu, dan seketika wajahnya memucat.
"Ra... aku nggak tahu dia bakal kirim ini ke rumah," ucap Arlan cepat, suaranya penuh kecemasan.
"Dia kirim ini ke rumah kita, Lan! Rumah baru kita yang baru seminggu kita tempati! Dia mau bilang kalau dia punya sejarah yang lebih lama sama kamu daripada aku!" seru Kira, air mata mulai menggenang di sudut matanya.
Arlan meraih maket kristal itu dan tanpa ragu langsung melemparkannya kembali ke dalam kotak dengan kasar. "Ini sampah, Ra. Ini cuma benda mati dari masa lalu yang nggak ada artinya."
"Nggak ada artinya? Dia ajak kamu ketemu besok jam 10 di kantor pusatnya! Dia bilang soal 'menyelesaikan yang terputus'! Apa itu artinya, Lan?"
Arlan memegang kedua bahu Kira, memaksa istrinya untuk menatap matanya. "Dengerin aku, Kiranara. Aku nggak akan datang. Aku akan kirim asistenku atau aku akan balas lewat email pengacara. Aku nggak akan biarkan dia menginjakkan kaki secara metaforis di rumah ini lagi."
"Tapi dia terus-terusan begini, Lan! Sampai kapan? Sampai kita punya anak? Sampai kita tua? Dia nggak akan berhenti selama dia merasa masih punya celah!" isak Kira.
Arlan menarik Kira ke dalam pelukannya, mendekapnya sangat erat. "Celah itu cuma ada kalau aku yang buka, Ra. Dan aku sudah kunci rapat-rapat. Sebelas tahun aku nunggu kamu, masa aku bakal kalah sama maket kristal nggak guna ini?"
Sore itu, suasana rumah menjadi sunyi. Arlan duduk di sofa sambil memandangi kotak kayu itu. Ia merasa sangat marah, namun ia tahu amarah tidak akan menyelesaikan masalah. Ia butuh sebuah tindakan yang elegan dan final.
Ia mengambil ponselnya dan menekan sebuah nomor. Bukan nomor Maura, melainkan nomor Pak Gunawan, ayah Maura.
"Halo, Pak Gunawan? Selamat sore. Maaf mengganggu waktunya."
Di seberang telepon, suara Pak Gunawan terdengar berat namun ramah. "Ya, Arlan. Ada apa? Bagaimana progres di Bali?"
"Progres teknis berjalan lancar, Pak. Tapi saya menelepon untuk urusan profesionalitas kerja. Hari ini putri Bapak mengirimkan paket 'personal' ke rumah baru saya. Berisi maket lama dan surat yang sangat tidak pantas untuk dikirimkan kepada seorang pria yang baru saja menikah."
Suasana di seberang telepon mendadak hening.
"Pak Gunawan," lanjut Arlan dengan suara dingin dan mantap. "Saya sangat menghormati Bapak sebagai mentor dan klien. Tapi jika Maura terus mencampurkan urusan delusi masa lalunya dengan proyek ini, saya akan mengembalikan seluruh uang muka proyek Bali malam ini juga. Saya tidak butuh proyek besar jika itu harus mengorbankan ketenangan istri saya."
"Arlan, saya... saya minta maaf. Saya tidak tahu Maura bertindak sejauh itu," sahut Pak Gunawan, suaranya terdengar malu.
"Tolong pastikan Maura mengerti posisinya, Pak. Atau proyek ini berakhir di sini. Selamat sore."
Arlan menutup teleponnya. Ia merasa sedikit lega. Ia menoleh ke arah dapur, melihat Kira yang sedang mencuci piring dengan gerakan yang kasar—pertanda hatinya masih panas.
Arlan mendekat, mematikan keran air, dan membalikkan tubuh Kira. "Aku sudah telepon Pak Gunawan."
Kira menatap Arlan terkejut. "Kamu telepon Ayahnya?"
"Iya. Aku kasih ultimatum. Berhenti atau aku keluar. Dan aku minta Pak Gunawan yang urus anaknya sendiri."
Kira menghela napas panjang, ketegangan di bahunya sedikit mengendur. "Kamu beneran mau lepas proyek sebesar itu demi aku?"
"Bukan demi kamu saja, Ra. Demi kita. Proyek itu cuma semen dan batu. Kamu itu napas aku. Mana yang lebih penting?"
Kira tersenyum kecil, ia menyeka tangannya yang basah ke celemeknya lalu memeluk leher Arlan. "Maaf ya, aku jadi emosional lagi. Aku cuma nggak suka ada orang yang coba-coba merusak apa yang sudah kita bangun susah payah."
"Nggak apa-apa. Itu artinya kamu sayang banget sama aku," goda Arlan sambil mencium hidung Kira. "Sekarang, gimana kalau kita buang kotak itu ke tempat sampah di depan?"
"Jangan dibuang," ucap Kira tiba-tiba.
"Lho, kenapa?"
"Kristalnya bagus. Kita cairkan saja, terus kita jual. Uangnya buat beli bibit bunga mawar buat taman belakang. Kita ganti kenangan pahit dia jadi bunga yang wangi buat kita," jawab Kira dengan ide yang sedikit nakal.
Arlan tertawa lepas. "Ide jenius! Kamu memang desainer interior paling pragmatis yang pernah aku temui."
Malam harinya, Bu Rahmi datang membawa rendang seperti janjinya. Beliau melihat Arlan dan Kira sedang tertawa di taman belakang sambil menanam beberapa bibit baru. Kotak kayu dari Maura sudah tidak ada di ruang tengah.
"Kelihatannya kalian bahagia sekali. Ada kabar baik?" tanya Bu Rahmi sambil meletakkan rantang rendangnya.
"Ada, Bu," jawab Arlan sambil merangkul Kira. "Kami baru saja melakukan 'pembersihan lahan' dari hama masa lalu."
Bu Rahmi tersenyum, sepertinya beliau mengerti apa yang terjadi. "Bagus. Rumah baru harus diisi dengan energi positif. Oh ya, Ibu dengar Maura akan dikirim Ayahnya ke cabang London minggu depan untuk mengurus proyek di sana. Katanya ada urusan mendesak."
Arlan dan Kira saling pandang. Mereka tahu itu bukan urusan mendesak, tapi "pengasingan" dari Pak Gunawan setelah telepon Arlan sore tadi.
"Alhamdulillah," bisik Kira pelan.
"Nah, sekarang ayo makan. Rendangnya masih hangat," ajak Bu Rahmi.
Di meja makan malam itu, di bawah atap rumah yang mereka desain sendiri, Arlan dan Kira menikmati makan malam dengan tenang. Tidak ada lagi ponsel yang bergetar karena pesan Maura. Tidak ada lagi bayang-bayang masa lalu.
"Lan," panggil Kira saat Bu Rahmi sedang di dapur mengambil piring.
"Ya?"
"Besok jam 10 pagi, kamu mau ngapain?"
Arlan tersenyum, menyesap air putihnya. "Besok jam 10 pagi, aku mau nemenin istriku belanja furnitur buat studionya. Kenapa?"
"Cuma nanya. Berarti jadwal kita kosong ya?"
"Kosong buat dunia, tapi penuh buat kamu."
Kira mencubit lengan Arlan, namun kali ini dengan rasa bahagia yang membuncah. Sebelas tahun mereka bersahabat, mereka sudah tahu semua rahasia satu sama lain. Dan sekarang, dalam pernikahan, mereka belajar bahwa rahasia kebahagiaan adalah transparansi dan keberanian untuk membuang apa yang tidak perlu.
Bab 22 ditutup dengan aroma rendang yang nikmat dan tawa yang menggema di rumah baru. Musuh terbesar mereka mungkin sudah pergi ke seberang lautan, namun mereka tahu perjalanan sesungguhnya baru saja dimulai.