Colette Winter adalah sebuah cangkang kosong. Sejak peristiwa kelam di masa kecilnya, ia mengunci jiwanya rapat-rapat di balik tembok trauma yang tak tertembus. Ia menjalani hidup layaknya robot—bekerja, makan, dan bernapas tanpa benar-benar "hidup". Baginya, laki-laki adalah ancaman, dan dunia adalah tempat yang terlalu bising untuk hati yang hancur. Ia tidak melawan saat ditindas, tidak menangis saat dimarahi; ia hanya diam, tenggelam dalam kesuraman yang abadi.
Khawatir melihat putri sulungnya yang kian kehilangan kemanusiaannya, sang Ibu—atas dorongan adik laki-laki Colette yang prihatin—memutuskan untuk mengambil langkah terakhir yang tak masuk akal. Mereka membawa Colette ke sebuah sudut tersembunyi di kota, menemui sosok yang namanya hanya beredar di antara bisikan orang-orang tertentu yang putus asa.
Di sanalah ia bertemu dengan Caspian Hawthorne Sinclair.
seorang dukun yang diminta untuk membantu nya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon treezz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30: Identitas yang Terhapus
Senin pagi di gedung Sinclair Group biasanya diisi dengan hiruk-pikuk karyawan yang terburu-buru mengejar absen. Namun, hari ini, suasana di lobi utama mendadak hening saat pintu kaca otomatis terbuka.
Seorang wanita melangkah masuk dengan aura yang sangat berbeda. Ia tidak lagi memakai jaket kebesaran yang kusam atau berjalan menunduk hingga rambutnya menyapu lantai. Ia mengenakan kemeja kerja yang pas di tubuh, memperlihatkan siluet tubuhnya yang selama ini tersembunyi.
Namun, yang membuat semua orang terpaku adalah wajahnya.
Potongan rambut wolf cut itu membingkai kulit putihnya dengan sempurna. Poni tipis yang kini disisir rapi memperlihatkan sepasang mata hazel yang jernih dan tajam, dipertegas dengan bulu mata lentik yang hitam pekat. Bibirnya yang penuh dipoles warna merah marun, memberikan kesan berkelas sekaligus misterius.
"Permisi... itu siapa? Karyawan baru dari pusat?" bisik seorang staf di meja resepsionis.
"Entahlah, tapi auranya... seperti model. Lihat cara dia berjalan," sahut yang lain dengan nada takjub.
Colette terus melangkah menuju lift, jantungnya berdegup kencang namun ia berusaha mempertahankan ekspresi datarnya. Ia bisa merasakan ratusan pasang mata tertuju padanya. Ada bisikan kagum dari para pria, dan tatapan iri dari beberapa wanita yang biasanya bahkan tidak sudi melirik ke arah sudut meja kerjanya yang gelap.
Tak ada satu pun yang mengenalnya sebagai "Gadis Gagak" yang muram. Perubahan itu begitu drastis hingga identitas lamanya seolah telah terkubur bersama potongan rambutnya di lantai salon kemarin.
Saat pintu lift terbuka di lantai divisinya, Colette berjalan menuju mejanya yang berada di pojok. Ruangan yang biasanya bising dengan suara ketikan mendadak senyap saat ia lewat.
Aris—rekan kerja pria yang terkadang merasa kasihan padanya—sampai menjatuhkan pulpennya saat Colette berhenti tepat di depan mejanya sendiri.
"Maaf, Mbak... ada yang bisa saya bantu? Sedang mencari siapa?" tanya syela dengan wajah memerah, benar-benar terpesona oleh kecantikan wanita di depannya. Ia sama sekali tidak menyadari bahwa wanita ini adalah rekan satu divisinya yang selama ini ia anggap "aneh".
Colette menoleh sedikit, menatap syela dengan mata hazelnya yang indah. Sebuah senyum tipis yang sangat menawan muncul di bibir merah marunnya.
"aku Colette," ucapnya dengan suara yang mantap namun sedikit ragu.
Suasana ruangan itu meledak dalam bisik-bisik tak percaya. Beberapa orang bahkan berdiri dari kursi mereka untuk memastikan apakah telinga mereka tidak salah dengar.
"Colette?! Mana mungkin?!" seru seorang karyawan senior dari meja seberang. "Gadis yang selalu menutup muka itu... ternyata secantik ini?"
Suasana di lantai divisi itu benar-benar kacau dalam keheningan. Bunyi pretek dari pulpen yang patah, suara batuk orang yang tersedak kopi, hingga suara kursi yang berderit karena pemiliknya refleks berdiri, menjadi latar belakang kemunculan Colette.
Mata hazel yang indah itu menatap sekeliling dengan tenang, namun ada kilatan kegugupan yang masih bersembunyi di balik bulu mata lentiknya. Meski penampilannya kini layaknya seorang dewi yang turun ke kantor, Colette tidak lantas berubah menjadi wanita yang haus perhatian.
Ia melangkah menuju meja pojoknya yang suram—satu-satunya tempat di mana ia merasa aman. Tanpa sepatah kata pun, ia meletakkan tasnya, menyalakan komputer, dan mulai membuka dokumen laporan label kemasan yang belum selesai.
Beberapa rekan kerja mencoba mendekat, didorong oleh rasa penasaran yang membuncah.
"Colette? Ini... ini benar-benar kau? Kau cantik sekali! Kenapa selama ini disembunyikan?" tanya seorang rekan wanita dengan nada yang kini terdengar sangat ramah, jauh berbeda dari biasanya.
Colette hanya memberikan anggukan kecil tanpa menoleh dari layar monitor. "Terima kasih," jawabnya singkat, nyaris berupa bisikan.
Trauma bertahun-tahun tidak hilang hanya dengan sekali potong rambut. Meskipun rambut wolf cut-nya kini memperlihatkan wajahnya yang sempurna, secara mental Colette masih merasa ingin memakai jaket kebesarannya dan menghilang. Ia tetap pendiam, tetap menghindari kontak mata yang terlalu lama, dan tetap bekerja dalam kesunyian yang kaku.
Baginya, perubahan fisik ini adalah senjata untuk melawan, bukan undangan untuk berteman. Ia masih merasa "telanjang" dan waspada terhadap setiap pergerakan di sekitarnya.