Zayna Almeera adalah badai yang dipaksa berhenti di sebuah desa tenang. Terbiasa dengan gemerlap kota, ia merasa dunianya runtuh saat harus menukar kehidupan mewahnya dengan ubin pesantren yang dingin. Ia datang membawa duri, siap menusuk siapa pun yang mencoba menjinakkan kebebasannya.
Di sana, ia bertemu Gus Haidar. Pemuda itu seperti telaga luas yang tak terusik; bicaranya tenang, tatapannya terjaga, dan dunianya hanya berisi pengabdian. Bagi Zayna, Haidar adalah teka-teki silang yang menyebalkan. Namun bagi Haidar, Zayna adalah kebisingan yang tiba-tiba membuat kesunyiannya terasa lebih lengkap.
Antara keras kepalanya Zayna dan sabarnya Haidar, ada sebuah cerita tentang bagaimana rasa pahit harus dibiarkan mengendap agar manisnya bisa dinikmati. Zayna ingin lari, tapi hatinya justru perlahan tertambat pada ketenangan yang tak pernah ia temukan di riuhnya kota.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istimariellaahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Puing-puing rahasia
Malam itu, langit di atas pesantren seperti tumpah oleh tinta kelabu. Tidak ada rona jingga yang biasanya menyapa, hanya sisa-saia gerimis yang masih betah menggelayut di pucuk daun mangga. Suara pujian setelah azan terdengar seperti rintihan alam yang ikut merasakan sesak di dada para penghuninya. Di sudut kamar yang sempit, Zayna meringkuk. Dinginnya lantai asrama merambat ke tulang, namun rasa bersalah di dadanya jauh lebih membekukan. Ia merasa seperti baru saja menghancurkan sesuatu yang sangat berharga, sesuatu yang dijaga dengan dzikir, sementara ia menghantamnya dengan ego kota yang meledak-ledak.
Pagi harinya, pesantren terasa seperti kuburan. Zayna jatuh sakit. Demam tinggi menyerang tubuhnya yang kecil, namun pikirannya jauh lebih panas dari suhu tubuhnya. Kata-kata Haidar terus berputar seperti kaset rusak: Perjodohan... Separuh agama.
"Zoy," panggil Zayna lemah dari balik selimut. "Gus Haidar... ada di mana?"
Zoya yang sedang mengompres dahi Zayna mendesah sedih. "Gus Haidar juga sakit, Mbak. Katanya semalam beliau sujud di masjid sampai subuh dalam keadaan baju basah kuyup. Sekarang beliau sedang diinfus di ndalem."
Zayna memejamkan mata. Rasa bersalah menghantamnya lebih keras dari ombak. Ia yang nekat, tapi pria itu yang menanggung hukumannya.
Sore hari, saat demamnya sedikit turun, Zayna memaksa berdiri. Dengan langkah gontai, ia menuju dapur asrama. Ia ingin membuat sesuatu. Sesuatu yang bukan untuk membuat masalah, tapi untuk menebus dosa.
"Mbak Zay mau masak apa? Biar Zoya bantu," tawar Zoya khawatir.
"Nggak usah, Zoy. Aku mau bikin bubur. Tapi bubur ini harus pakai 'resep kota', biar dia tahu kalau aku serius minta maaf," ucap Zayna dengan senyum tipis yang getir.
Zayna membawa mangkuk bubur itu menuju ndalem. Ia masuk dengan izin Ibu Nyai yang menatapnya dengan pandangan penuh kasih sayang—pandangan yang kini Zayna mengerti artinya. Ibu Nyai sudah menganggapnya menantu sejak dulu.
Zayna masuk ke kamar Haidar yang beraroma kayu jati dan minyak zaitun. Haidar terbaring lemah, matanya terpejam. Di samping tempat tidurnya, ada tumpukan kitab dan sebuah foto lama yang bingkainya sudah usang.
Zayna mendekat, ia mengambil foto itu. Di sana, terlihat dua pria muda sedang tertawa sambil menggendong dua bayi. Bayi perempuan dengan bando bunga, dan bayi laki-laki dengan peci kecil.
"Itu kita, Gus?" bisik Zayna.
Mata Haidar terbuka perlahan. Ia melihat Zayna berdiri di sana. Haidar mencoba duduk, namun Zayna menahannya.
"Jangan bangun. Gus itu manusia, bukan superhero yang tahan air," ketus Zayna, namun tangannya dengan lembut merapikan selimut Haidar.
Haidar menatap mangkuk bubur di tangan Zayna. "Mbak masak?"
"Iya. Dan jangan tanya ini halal atau nggak, ini halal lahir batin. Makan, Gus. Biar Gus punya tenaga buat marahin saya lagi."
Haidar tersenyum tipis—senyum pertama yang benar-benar Zayna lihat dengan jelas. "Terima kasih, Zayna. Maaf soal semalam. Saya tidak seharusnya membentak."
"Gus nggak salah. Saya yang bego," Zayna duduk di kursi samping bed. "Jadi... janji lama itu... saya?"
Haidar terdiam, lalu ia mengangguk pelan. "Sejak kecil, nama kamu adalah satu-satunya nama yang Ayah sebut di telinga saya setelah asma Allah. Saya menjaga diri saya, agar suatu saat, saya cukup pantas untuk berdiri di samping wanita sehebat kamu."
Zayna menunduk, menyembunyikan pipinya yang memerah. "Saya nggak hebat, Gus. Saya cuma bisa bikin seblak sama bikin ulah."
"Justru itu," Haidar meraih mangkuk bubur itu. "Ulah kamu adalah warna di hidup saya yang terlalu abu-abu. Jangan pernah berubah, Zayna. Cukup dewasalah, tapi jangan hilangkan tawamu."
Zayna terdiam, merasakan dadanya seperti tanah kering yang baru saja diguyur hujan—sejuk dan penuh kehidupan baru. Ia memandangi Haidar yang mulai menyuap bubur buatannya dengan perlahan, seolah setiap suapan adalah cara pria itu menghargai keberadaannya. Kamar yang awalnya terasa kaku itu mendadak melunak oleh rasa yang selama ini tersembunyi di balik tabir takdir.
Di luar jendela, matahari sore mulai mengintip dari balik awan, menjatuhkan cahaya keemasan ke lantai kayu. Zayna menyadari bahwa selama ini ia berlari menghindari badai, tanpa tahu bahwa badai itulah yang akan membawanya pulang ke dermaga yang paling tenang. Rahasia yang dulu terasa seperti beban, kini mulai terasa seperti rumah.
"Gus," panggil Zayna lirih saat ia hendak beranjak.
Haidar menoleh, matanya masih sayu namun bercahaya.
"Jangan sakit lagi. Karena kalau Gus tumbang, separuh langit saya ikut runtuh."
Haidar tidak menjawab dengan kata-kata, hanya sebuah anggukan kecil dan senyum yang lebih hangat dari secangkir teh di musim penghujan. Di antara puing-puing rahasia itu, sebuah awal yang baru baru saja dimulai.
Happy reading sayang...
Baca juga cerita bebu yang lain...
Annyeong love...
dari sekian banyaknya novel yg aku baca Cuma In yg Membuat Aku pangling Dan kagum Banget dengan Stiap Untaian katanya, Aplgi sangat Puitis banget
yg Lainnya Nanti Dluu hehehehhe,
yang Lain Tentang Apa Thor Law tentang percintaan Aku mau baca 🤭🤭🤭?
udah banyak Up Hari in
Pdhal aku bruu sja mendapatkan kesenangan Mlah Di BKIN Tak Karuan lgii
sring2 yaa Thor up 3 bab Biar Aku tambah smngat Bacanya
bercanda Thor mksih Thor Udah BKIN Novel SE kece In, Smangat Thor up nya law bisa 3 bab pun gpp