NovelToon NovelToon
Kapan Kebahagiaan Itu Datang ?

Kapan Kebahagiaan Itu Datang ?

Status: sedang berlangsung
Genre:Poligami / Cerai / Penyesalan Suami
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Almira

Sejak dilahirkan, hidup tak pernah memberinya ruang untuk merasa bahagia. Luka, kehilangan, dan kesendirian menjadi teman tumbuhnya. Saat orang lain menemukan kebahagiaan dengan mudah, ia hanya bisa bertanya dalam diam: kapan kebahagiaan itu datang?
Sebuah kisah tentang hati yang lelah menunggu, namun belum sanggup berhenti berharap.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Almira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 32

Setelah aku—Senja—menghubungi seseorang bernama Rini… kakak kandungku sendiri, hatiku justru semakin tidak tenang. Ada perasaan gelisah yang sulit dijelaskan. Aku mengenalnya terlalu baik. Rini adalah tipe manusia yang pandai memutarbalikkan fakta. Apa pun bisa ia ubah menjadi seolah-olah dirinya yang paling benar.

Sejak selesai meneleponnya, pikiranku dipenuhi bAyangan buruk. Aku sudah bersiap-siap jika nanti akan dimarahi Bang Ari.

Karena aku yakin… Rini pasti akan melaporkan semuanya pada Bang Ari. Dan tentu saja, versinya bukanlah versi yang sebenarnya terjadi.

Benar saja.

Sekitar pukul tiga sore, saat aku sedang mencoba menenangkan diri, ponselku tiba-tiba bergetar. Tanganku langsung terasa dingin. Jantungku berdegup lebih cepat.

Di layar ponsel tertera satu nama yang sudah kuduga sejak tadi…

Bang Ari.

Aku menatapnya beberapa detik. Panggilan itu terus berdering, seolah memberi tanda bahwa badai akan segera datang.

Dengan napas yang terasa berat, akhirnya kuusap layar itu dan mengangkat panggilan tersebut.

“Assalamu’alaikum…” suaraku pelan, nyaris bergetar.

Dan dari seberang sana, terdengar suara Bang Ari yang tak seperti biasanya—dingin, tegas, dan penuh emosi yang ditahan.

“Senja… apa yang sebenarnya kamu lakukan pada Kak Rini?”

Dadaku terasa sesak. Aku tahu… ini baru permulaan.

Suasana di seberang telepon mendadak berubah panas.

“Jawab, Senja!” suara Bang Ari meninggi. “Kamu ini sebenarnya mau apa sih? Nggak capek bikin masalah terus?”

Aku terdiam. Tanganku gemetar memegang ponsel.

“Aku cuma—”

“Kamu cuma apa?!” potongnya kasar. “Kak Rini itu kakakmu! Bukannya kamu hormati, malah kamu tuduh macam-macam! Kamu pikir kamu paling benar?”

Setiap katanya seperti tamparan.

“Bang, aku nggak seperti yang dia bilang…”

“Sudah! Jangan pura-pura jadi korban!” bentaknya lagi. “Dari dulu kamu memang keras kepala! Nggak pernah mau ngalah! Selalu merasa paling tersakiti!”

Air mataku mulai jatuh tanpa bisa kutahan.

“Apa susahnya sih kamu diam? Apa susahnya kamu jaga sikap? Ibu sudah pusing, kamu malah nambah beban!”

Kalimat itu membuat dadaku terasa diremas.

“Bang… aku cuma membela Ibu…”

“Membela?” Ia tertawa sinis. “Caramu membela itu bikin keluarga hancur! Kamu itu egois, Senja! Cuma mikirin perasaan kamu sendiri!”

Egois.

Kata itu terus terngiang di kepalaku.

“Aku malu punya adik yang nggak bisa jaga mulutnya sendiri!” lanjutnya tanpa memberi ruang untukku menjelaskan. “Kalau kamu nggak suka sama Kak Rini, ya simpan sendiri! Jangan bikin keributan!”

Napasnya terdengar berat. Amarahnya jelas belum reda.

“Kalau sampai Ibu sakit karena ini, kamu yang tanggung jawab!”

Telepon itu kemudian terdiam beberapa detik. Sunyi. Tapi sunyi yang menyesakkan.

Tanpa pamit, tanpa salam, panggilan itu terputus.

Aku masih memegang ponsel di telingaku, seolah belum siap menerima kenyataan bahwa Bang Ari—abang yang dulu selalu melindungiku—baru saja melontarkan kata-kata yang terasa lebih menyakitkan daripada apa pun.

Aku terduduk lemas.

Ternyata benar.

Rini berhasil memutarbalikkan semuanya.

Dan sekali lagi… aku menjadi pihak yang disalahkan.

Setelah panggilan itu terputus, Senja masih terpaku di tempatnya.

Ponsel di tangannya perlahan terlepas dan jatuh ke atas kasur. Suara notifikasi yang masih menyala terasa begitu jauh. Seakan dunia tetap berjalan… sementara hatinya berhenti di satu titik.

Air mata yang tadi ditahannya kini benar-benar tumpah.

Ia menutup wajahnya dengan kedua tangan. Tangisnya pecah. Bukan tangis keras, melainkan tangis yang tercekik—seperti orang yang terlalu sering menahan luka sampai lupa bagaimana cara mengeluh.

Dadanya terasa sesak.

“Kenapa…?” lirihnya pada dirinya sendiri.

Sejak kecil, perasaan itu sudah akrab.

Perasaan seperti bukan bagian dari keluarga sendiri.

Seperti adik tiri.

Padahal ia lahir dari rahim yang sama. Tumbuh di rumah yang sama. Menghirup udara yang sama.

Namun entah kenapa… setiap kali terjadi masalah, Senja selalu menjadi pihak yang paling mudah disalahkan.

Bang Ari selalu membela Kak Rini. Tanpa bertanya lebih dulu. Tanpa mencoba mendengar dari sisi lain.

Seolah kata-kata Rini adalah kebenaran mutlak.

Sementara suara Senja… hanya angin lalu.

Ia terduduk di lantai, memeluk lututnya sendiri. Tangisnya makin menjadi. Bahunya bergetar.

“Kenapa aku selalu yang salah…?” gumamnya pelan.

Hatinya terasa kecil. Sangat kecil.

Ia teringat masa-masa dulu. Saat Kak Rini melakukan kesalahan, tapi Senja yang diminta mengalah. Saat Kak Rini berkata kasar, tapi Senja yang diminta meminta maaf demi menjaga “kedamaian”.

Selalu begitu.

Selalu Senja yang harus kuat.

Selalu Senja yang harus mengerti.

Tak pernah ada yang benar-benar bertanya, “Kamu baik-baik saja, Senja?”

Tangisnya perlahan melemah, berubah menjadi isakan kecil.

Ia merasa seperti tamu di rumah sendiri.

Tak sepenuhnya diterima. Tak sepenuhnya dipercaya.

Hanya ada ketika dibutuhkan… tapi mudah dilupakan saat tak lagi dianggap penting.

Sore itu, di kamar yang terasa semakin sunyi, Senja menangis sendirian.

Tanpa pelukan.

Tanpa pembelaan.

Tanpa siapa pun yang berdiri di sisinya.

Dan untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama… ia merasa lelah menjadi anak yang selalu harus mengalah.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!