Di puncak Gunung Qingyun yang berkabut, gerbang Sekte Aliran Abadi telah miring dimakan rayap. Tidak ada teknik dewa, tidak ada tumpukan batu roh, tidak ada ribuan murid yang bersujud. Hanya ada Su Lang, pemuda biasa dengan tulang kultivasi rata-rata, dan sebuah plakat kayu tua warisan mendiang gurunya.
Su Lang memiliki sebuah "Sistem Pondasi Sekte". Benda itu tidak memberinya kekuatan instan. Sistem itu hanya sebuah panduan kaku yang menuntut keringat darah. Ingin beras? Cangkul tanah di belakang gunung. Ingin teknik pernapasan dasar? Perbaiki atap aula utama dengan tangan sendiri. Ingin menjadi kuat? Latih satu gerakan pedang sepuluh ribu kali di bawah air terjun musim dingin.
Ini bukan kisah tentang penaklukan dunia atau pembantaian musuh yang arogan. Ini adalah catatan harian seorang pemuda yang menolak membiarkan api sektenya padam membangun kembali kejayaan dari serpihan genting pecah satu napas , satu langkah satu hari pada satu waktu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝐍𝐞𝐳𝐮𝐤𝐨 i, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 22 tarian bayangan di kota yang terbakar
Kota Awan Putih yang biasanya damai dan tertib kini berubah menjadi lautan kepanikan. Ledakan di Gudang Logistik Balai Tujuh Bintang bukan hanya menghancurkan bangunan, tetapi juga memicu kebakaran berantai yang merambat ke distrik perdagangan.
Api biru—sisa dari serangan Angin Kiamat Biru Su Lang—bukanlah api biasa. Itu adalah manifestasi dari Api Roh. Air biasa tidak bisa memadamkannya. Para penjaga kota dan murid Balai Tujuh Bintang berlarian panik, mencoba memblokir api dengan teknik Qi air, namun usaha mereka sia-sia.
Di tengah alun-alun kota, Tetua Agung Api, Lie Fen, berdiri mematung. Wajahnya yang keriput berkedut menahan amarah yang meluap. Dia melihat asap membumbung dari gudang hartanya, namun kakinya tertahan di panggung eksekusi.
Dia tahu ini adalah taktik pengalihan.
"Tikus licik..." desis Lie Fen. Qi merah membara menyelimuti tubuhnya, membuat udara di sekitarnya bergetar karena panas. "Kau pikir dengan membakar gudangku, aku akan meninggalkan umpan ini? Kau meremehkan kesabaran orang tua ini."
Lie Fen tidak bergerak. Dia justru memperluas jangkauan Indera Spiritual-nya hingga radius 500 meter, mengunci setiap pergerakan angin, setiap napas manusia yang lewat.
Di dalam kotak kaca di belakangnya, Fragmen Kuali Penempa Surga ketiga melayang tenang, dikelilingi oleh jimat peledak yang siap meledakkan siapa pun yang menyentuhnya tanpa menonaktifkan segelnya.
"Keluarlah," gumam Lie Fen. "Aku tahu kau ada di sini."
Tiga ratus meter dari alun-alun, di atas menara lonceng yang tersembunyi dalam bayangan asap hitam, Su Lang berjongkok seperti gargoyle.
Matanya yang berpendar biru menatap lurus ke arah Lie Fen.
[Analisis Musuh: Lie Fen]
[Kultivasi: Qi Condensation Tingkat 7 (Puncak).]
[Kelebihan: Pengendalian Api Ekstrem, Area Serangan Luas.]
[Kelemahan Saat Ini: Mobilitas terbatas karena harus menjaga Fragmen.]
"Tingkat 7 Puncak..." Su Lang tersenyum miring. Perbedaan dua tingkat kultivasi adalah jurang yang sangat dalam. Satu hantaman langsung dari Lie Fen bisa meremukkan tulang rusuk Su Lang menjadi bubuk.
Tapi Su Lang tidak berniat bertarung adu jotos. Dia adalah pencuri malam ini.
"Sistem, berapa jarak maksimal untuk fitur Pengambilan Otomatis?"
[Menjawab: 2 Meter.]
Su Lang mendecakkan lidah. Dua meter. Itu artinya dia harus menembus pertahanan Lie Fen, masuk ke dalam jangkauan bunuh diri, dan bertahan hidup cukup lama untuk memasukkan fragmen itu ke inventaris.
"Dua meter... Baiklah. Mari kita buat jarak itu menjadi nol."
Su Lang berdiri. Dia mengeluarkan dua botol Pil Asap Beracun (hasil jarahan Tetua Mo) dan menggenggam Pedang Naga Hitam-nya.
"Mulai."
Su Lang melompat dari menara lonceng.
Dia tidak melompat ke arah panggung, melainkan ke arah kerumunan warga sipil yang sedang panik di sisi barat alun-alun.
BOOM!
Su Lang mendarat dengan keras, menghancurkan sebuah patung batu. Dia sengaja melepaskan aura pembunuhnya secara penuh.
"Dengar, rakyat Kota Awan Putih!" teriak Su Lang, suaranya diperkuat Qi hingga terdengar seperti guntur. "Balai Tujuh Bintang telah menipu kalian! Mereka menggunakan kota ini sebagai medan perang! Lari jika kalian ingin hidup!"
Kepanikan massa meledak. Ribuan orang berlarian tanpa arah, menciptakan gelombang manusia yang kacau. Mereka menerobos barikade penjaga, membanjiri alun-alun.
"Bajingan!" Lie Fen mengumpat. Kerumunan manusia ini mengacaukan indera spiritualnya. Dia tidak bisa membedakan aura Su Lang di antara ribuan detak jantung yang panik.
Tiba-tiba, dari tengah kerumunan, sebuah bayangan melesat.
Bukan satu bayangan. Tiga bayangan.
Su Lang menggunakan Langkah Bayangan Awan hingga batas maksimal, menciptakan afterimage yang begitu nyata. Tiga sosok Su Lang menyerang panggung dari tiga arah berbeda: Kiri, Kanan, dan Atas.
"Trik murahan!" Lie Fen meraung.
Dia menghentakkan kakinya.
Teknik Area: Cincin Api Neraka!
Gelombang api merah meledak dari tubuh Lie Fen, menyapu ke segala arah dalam radius dua puluh meter.
Wuuush!
Dua bayangan Su Lang di kiri dan kanan lenyap seketika saat tersentuh api. Itu palsu.
"Yang asli ada di atas!" Lie Fen mendongak, tangannya sudah siap melepaskan bola api raksasa.
Namun, di atas sana kosong.
"Apa?!" Lie Fen terkejut.
Tiba-tiba, lantai panggung di bawah kaki Lie Fen meledak.
Su Lang tidak menyerang dari atas. Dia menggunakan kerumunan sebagai penutup untuk menyelinap ke bawah panggung kayu, lalu menembus lantai tepat di belakang kotak kaca.
"Halo, Kakek," bisik Su Lang.
Sebelum Lie Fen sempat berbalik, Su Lang sudah mengayunkan Pedang Naga Hitam yang diselimuti Api Roh Langit Biru.
Targetnya bukan Lie Fen, tapi kotak kaca itu.
PRAANG!
Kaca yang dilindungi jimat itu hancur berantakan. Api Biru Su Lang membakar habis jimat-jimat peledak sebelum mereka sempat aktif. Ini adalah keunggulan absolut dari kualitas api tingkat tinggi.
Tangan kiri Su Lang menyambar ke depan.
Jarak: 0.5 meter.
[Ding! Mendeteksi Fragmen Kuali Penempa Surga (3/9).]
[Mengambil...]
Fragmen logam itu lenyap dari udara, masuk ke dalam inventaris sistem Su Lang.
"TIDAK!!"
Lie Fen berbalik dengan kecepatan mengerikan. Wajahnya merah padam karena murka. Dia melihat kotak kosong itu. Dia melihat Su Lang yang menyeringai.
"Mati kau, Pencuri Kecil!"
Lie Fen menghantamkan telapak tangannya ke dada Su Lang. Jarak mereka terlalu dekat. Su Lang tidak bisa menghindar.
BAM!
Suara benturan daging dan tulang terdengar mengerikan.
Su Lang terpental mundur seperti layang-layang putus tali. Dia menabrak tiang bendera hingga patah, lalu jatuh berguling di tanah alun-alun.
Darah segar menyembur dari mulutnya.
"Uhuk..." Su Lang memegangi dadanya.
Jubah Awan Perak miliknya hancur di bagian dada, memperlihatkan kulit yang hangus tercetak telapak tangan. Tulang rusuknya patah tiga. Jika bukan karena fisik Nadi Naga yang dimilikinya, jantungnya pasti sudah meledak.
"Kau masih hidup?" Lie Fen melangkah turun dari panggung, setiap langkahnya membakar tanah. "Bagus. Aku bisa menyiksamu lebih lama."
Su Lang menyeka darah di dagunya. Dia berdiri dengan goyah, tapi matanya tetap tenang.
"Terima kasih atas pujiannya," kata Su Lang serak. "Tapi aku tidak berencana tinggal lama."
Su Lang melemparkan dua botol yang sedari tadi dia pegang.
Prak!
Botol itu pecah di kaki Lie Fen. Asap ungu tebal—campuran racun pelumpuh saraf dan bubuk cabai spiritual—meledak, membungkus Lie Fen.
"Uhuk! Racun?!" Lie Fen mengibaskan tangannya, menciptakan angin untuk mengusir asap. Namun, sedetik keraguan itu sudah cukup.
Su Lang berbalik dan lari.
"Kejar dia! Tutup gerbang kota! Jangan biarkan dia lolos!" teriak Lie Fen yang matanya kini berair karena bubuk cabai.
Pengejaran di jalanan Kota Awan Putih dimulai.
Su Lang berlari di atas atap rumah, melompati gang-gang sempit. Di belakangnya, Lie Fen terbang rendah, meninggalkan jejak api di langit malam.
"Kau tidak bisa lari dari Tingkat 7!" raung Lie Fen. Dia menembakkan bola-bola api seperti meriam.
Bum! Bum! Bum!
Rumah-rumah hancur terkena serangan nyasar. Su Lang terus melompat zig-zag, menghindari ledakan demi ledakan.
"Sial, orang tua ini punya Qi tak terbatas atau apa?" batin Su Lang. Lukanya di dada mulai terasa menyiksa. Napasnya semakin berat.
Di depan, Gerbang Utara kota terlihat. Tapi ada masalah.
Gerbang itu sudah tertutup rapat. Puluhan penjaga kota dan murid Balai Tujuh Bintang memblokade jalan dengan tombak dan perisai. Di atas tembok, pemanah sudah siap membidik.
"Dia terjebak!" teriak kapten penjaga. "Panah!"
Ratusan anak panah melesat ke arah Su Lang.
Di belakang, Lie Fen semakin dekat. Di depan, hujan panah.
Su Lang tidak berhenti.
"Sistem! Keluarkan ketiga Fragmen Kuali!"
Tiga keping logam hitam muncul melayang di sekeliling tubuh Su Lang. Mereka berputar pelan, lalu beresonansi satu sama lain.
"Resonansi Tri-Logam: Perisai Absolut!"
Sebuah kubah energi hitam transparan terbentuk di sekitar Su Lang.
Ting! Ting! Ting! Ting!
Anak-anak panah itu memantul sia-sia saat mengenai kubah hitam tersebut.
Su Lang mendarat di depan barisan penjaga. Dia tidak melambat. Dia memegang Pedang Naga Hitam dengan kedua tangan.
"Minggir atau mati!"
Su Lang mengalirkan sisa Qi-nya ke dalam pedang dan ketiga fragmen kuali. Fragmen itu memperkuat senjata Su Lang, memberikan properti "Penghancur Struktur".
Seni Naga: Pembelah Gerbang!
Su Lang menebas horizontal.
Bilah energi hitam raksasa melesat.
Para penjaga berteriak ngeri saat melihat perisai besi mereka terbelah seperti kertas. Barisan pertahanan itu hancur berantakan.
Tebasan Su Lang terus melaju, menghantam pintu gerbang kayu ulin setebal satu meter yang dilapisi besi.
KRAAAK!
Pintu gerbang raksasa itu terbelah dua, lalu meledak terbuka.
"Jalan terbuka!"
Su Lang melesat keluar dari kota, menuju kegelapan hutan belantara.
"JANGAN HARAP!"
Lie Fen akhirnya menyusul. Dia melihat Su Lang hampir lolos. Kemarahannya memuncak. Dia membakar esensi darahnya sendiri untuk meningkatkan kecepatan sesaat.
Lie Fen muncul tepat di atas Su Lang yang baru saja keluar gerbang.
"Teknik Terlarang: Telapak Matahari Jatuh!"
Sebuah bola api raksasa berdiameter sepuluh meter terbentuk di atas kepala Lie Fen, lalu dijatuhkan ke arah Su Lang.
Ini bukan serangan yang bisa ditahan. Ini serangan pemusnah area.
Su Lang merasakan panas yang membakar punggungnya. Dia tahu dia tidak bisa lari dari radius ledakan ini.
"Sialan..."
Su Lang berbalik. Dia menarik ketiga fragmen kuali ke dadanya. Dia memeluk fragmen-fragmen itu erat-erat, meringkuk menjadi bola, dan mengaktifkan semua energi pertahanan yang dia miliki, termasuk Domain Api Biru.
KABOOOOM!
Ledakan itu menerangi langit malam seperti matahari kedua. Tanah bergetar hingga radius lima kilometer. Hutan di luar gerbang utara Kota Awan Putih rata dengan tanah, berubah menjadi kawah lahar yang membara.
Lie Fen melayang di udara, napasnya tersengal-sengal. Wajahnya pucat karena penggunaan teknik terlarang.
"Hah... hah... Selesai..." gumam Lie Fen. "Tidak ada yang bisa selamat dari itu. Sayang sekali fragmennya mungkin ikut hancur... tapi setidaknya kehormatan sekte terjaga."
Debu dan asap perlahan menipis.
Lie Fen menyipitkan mata, mencari sisa mayat.
Namun, matanya terbelalak.
Di dasar kawah yang membara, tidak ada mayat.
Ada sebuah lubang. Lubang yang sangat dalam dan rapi, mengarah ke bawah tanah.
"Apa?!"
Di dalam tanah, Su Lang sedang meluncur di lorong bawah tanah yang licin.
Sesaat sebelum ledakan mengenainya, dia menggunakan Pasak Naga Penahan Bumi (sisa dari pertahanan sekte) bukan untuk bertahan, tapi untuk mengebor tanah dengan kecepatan tinggi, dibantu oleh Cincin Ruang Leluhur yang menyedot tanah di depannya.
Dia terluka parah. Punggungnya terbakar mengerikan. Tapi dia hidup. Dan dia memegang ketiga fragmen kuali itu erat-erat.
"Selamat tinggal, Kota Awan Putih..." Su Lang menyeringai di dalam kegelapan, darah menetes dari hidungnya. "Lain kali aku kembali... aku akan meruntuhkan menara kalian."
Tiga Hari Kemudian.
Di perbatasan hutan Puncak Qingyun.
Li Yun dan Lin Yue mondar-mandir dengan cemas di pos penjagaan terluar. Sudah tiga hari sejak mereka kembali, namun Su Lang belum juga muncul. Berita tentang kehancuran sebagian Kota Awan Putih sudah sampai ke telinga mereka lewat pedagang keliling yang ketakutan.
"Guru..." Lin Yue menggigit kukunya, kebiasaan yang hanya muncul saat dia sangat panik. "Bagaimana jika..."
"Jangan bicara sembarangan!" bentak Li Yun, meski suaranya sendiri bergetar. "Guru itu abadi! Dia Iblis Api Biru! Tidak ada yang bisa membunuhnya!"
Tiba-tiba, semak-semak di depan mereka bergerak.
Li Yun langsung memasang kuda-kuda, cakarnya siap menyerang.
Seorang sosok berjalan keluar dari hutan. Jubahnya compang-camping, hampir telanjang dada. Tubuhnya penuh perban darurat yang terbuat dari lumut hutan. Wajahnya pucat pasi, dan dia berjalan pincang.
Tapi di wajahnya, ada senyum lebar yang sangat menyebalkan.
"Kalian... tidak menyambutku dengan teh hangat?"
"GURU!"
Li Yun dan Lin Yue berlari, melupakan semua etika murid-guru. Mereka menabrak Su Lang dengan pelukan.
"Aduh... hati-hati, tulang rusukku baru saja tersambung..." keluh Su Lang, tapi dia tidak menolak pelukan itu.
Lin Yue menangis tanpa suara di bahunya. "Anda bodoh... Anda benar-benar bodoh..."
"Aku tahu," kata Su Lang lembut. Dia mengangkat tangannya, memperlihatkan tiga keping logam hitam yang melayang di atas telapak tangannya.
"Tapi lihat apa yang aku bawa pulang."
Fragmen itu berputar, lalu tiba-tiba menyatu dengan suara KLIK yang memuaskan.
Cahaya emas memancar dari logam yang kini membentuk sepertiga bagian bawah dari sebuah kuali besar.
[Ding! Fragmen Kuali Penempa Surga (3/9) Disatukan.]
[Fitur Terbuka: Ruang Penempaan Waktu (Time Forging Chamber).]
[Efek: 1 Hari di dalam ruang \= 1 Jam di dunia nyata.]
Mata Su Lang berbinar. Ruang Waktu. Inilah kunci sesungguhnya untuk mengejar ketertinggalan sektenya dari sekte-sekte besar dunia.
Dia menatap murid-muridnya, menatap Puncak Qingyun yang tertutup kabut.
"Persiapkan diri kalian," kata Su Lang, matanya menyala dengan ambisi baru. "Mulai besok, kita akan menutup gerbang. Kita tidak akan keluar sampai sekte ini memiliki pasukan yang mampu menaklukkan Balai Tujuh Bintang dalam satu serangan."
Perang gerilya sudah berakhir. Era persiapan perang besar telah dimulai.