Cover by me.
Saat SMP Reani Sarasvati Ayuna pernah diam-diam jatuh pada Kadewa Pandugara Wisesa, sahabat kakaknya—Pramodya yang di ketahui playboy. Tapi bagi Kadewa, Rea cuma adik dari temannya, bocah kecil yang imut dan menggemaskan.
Patah hati saat Kadewa masuk AAL sambil menjalin cinta pada gadis lain dan kali ini cukup serius. Rea melarikan diri ke Jakarta, untuk melanjutkan kuliah dan setelahnya menetap dan berkarir disana sebagai encounter KAI, berharap bisa menjauhkan dirinya dari laut dan dari...
Kadewa..
Tujuh tahun berlalu, takdir menyeretnya kembali. Kadewa datang sebagai Kapten TNI AL yang lebih dewasa, lebih mempesona, dan lebih berbahaya bagi hatinya.
Rea ingin membuktikan bahwa ia sudah dewasa dan telah melupakan segalanya. Namun Kadewa si Paus yang tak pernah terdeteksi dengan mudah menemukan kembali perasaan yang telah ia tenggelamkan.
Mampukah cinta yang terkubur tujuh tahun itu muncul kembali ke permukaan, atau tetap menjadi rahasia di dasar samudra?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chika cha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertahanan yang Mulai Retak
Jumat pagi di Stasiun Gambir selalu memiliki ritme yang lebih cepat. Arus penumpang yang ingin menghabiskan akhir pekan di luar kota mulai memadati peron. Di dalam ruang announcer, Rea yang baru datang langsung duduk dan bersiap di depan mikrofonnya sambil membuka lembar skip jadwal hari ini. Namun, konsentrasinya terganggu oleh kehadiran sebuah kotak kayu bento dengan ukiran halus yang tampak sangat premium teronggok manis di atas meja kerjanya.
Aroma jahe, kecap asin, dan wijen menyeruak lembut, memenuhi ruangan yang biasanya hanya berbau sisa pembersih lantai dan kopi.
Rea mengerjap pelan, menatap kotak itu seolah benda tersebut bisa meledak kapan saja.
Belum sempat ia bertanya atau memutuskan untuk mengabaikannya, suara itu terdengar.
“Pagi, Re.” sapa Kadewa yang baru masuk dan langsung duduk santai di kursi tambahannya.
Pagi ini ia tidak memakai PDH lautnya, melainkan seragam loreng hijau seperti prajurit pada umumnya tentu dengan brevet-brevet mentereng di dada dan baret merah Kopaska yang membuatnya tampak berbeda dari yang lain, dan tentu dengan senyum yang amat sangat menyebalkan di mata Rea.
Rea melirik kotak bento itu, lalu menatap Kadewa dengan alis berkerut. "Ini apa, Pak Letnan?"
Kadewa menyandarkan punggungnya ke kursi. Tatapannya jatuh ke kotak bento itu, lalu kembali ke wajah Rea yang jelas-jelas sedang menahan jarak.
“Sarapan,” jawabnya ringan. “Atau lebih tepatnya… penyuap mood.”
Rea mendengus kecil. “Aku nggak lagi butuh disuap.”
Kadewa acuh. "Salmon Teriyaki matang, Tamagoyaki, dan Gyoza ayam," jelas Kadewa enteng, tak menanggapi ucapan Rea barusan. "Aku ingat dulu waktu kita merayakan aku dapat mobil baru dari mas Panji karena peringkat satu di kelas, kamu sampai nambah dua porsi di restoran Jepang."
Ya, Kadewa ingat setelah menghabiskan semangkuk mie ramen, Rea yang tampak malu-malu tapi lapar waktu itu berbisik pada Pram untuk memesan tiga menu ini lagi yang membuat ia dan Joshua sampai geleng-geleng kepala tak habis pikir dengan nafsu makan Rea waktu itu. Dan Kadewa sempat berpikir mungkin Rea seperti itu karena mood menstruasinya.
Sementara Rea, gadis itu nampak terdiam, jantung berdesir. Ia ingat. Sangat ingat. Hari itu Kadewa mentraktir mereka bertiga, ia, Pram dan Joshua, makan di restoran Jepang dan di hari yang sama itu pula terjadi hal yang memalukan yang seharusnya sudah di lupakan.
Tapi walaupun begitu wajah Rea tampak tetap datar, berusaha menyembunyikan semuanya.
"Itu dulu. Sekarang seleraku udah berubah," dusta Rea sambil menggeser kotak itu menjauh. "Saya udah sarapan roti tadi."
"Oh ya?" Kadewa memajukan duduknya, menumpu dagu dengan satu tangan sambil menatap Rea lekat-lekat. "Tapi dari bunyi perutmu yang samar tadi, kayaknya rotinya cuma lewat aja."
Wajah Rea memanas. Sial, pria ini telinganya tajam sekali.
Baru saja Rea hendak membalas, pintu ruangan terbuka. Arga masuk dengan wajah ceria membawa sebuah kantong plastik dari outlet sushi ternama.
"Pagi, Re! Nih, aku beliin sushi buat sarapan. Aku tahu kamu suka banget makanan Jepang, kan?" ujar Arga ceria. Namun, gerakannya terhenti saat melihat bento mewah di meja Rea dan sosok Kadewa yang sedang menatapnya dengan tatapan predator yang tenang.
"Eh, udah ada makanan ya?" Arga tampak canggung.
Rea melihat ini sebagai peluang. Ia langsung tersenyum manis, senyum yang sejak kemarin tidak pernah ia berikan pada Kadewa dan meraih kantong plastik dari tangan Arga. "Wah, makasih banyak ya, Mas Arga! Tahu aja aku lagi pengen sushi. Makanan Jepang itu emang nggak pernah salah."ujar Rea sengaja dengan nada yang sedikit dikeraskan.
Namun, saat Rea membuka kotak tersebut, senyumnya sedikit membeku. Di dalamnya terdapat deretan Nigiri Sushi dengan potongan ikan tuna dan salmon yang masih merah, mentah sepenuhnya.
Arga yang tidak tahu menahu soal alergi Rea terus bercerita. "Sama-sama, Re. Itu best seller nya, Re. Ikannya segar banget. Eh, Pak Letnan mau? Saya beli dua, ada di dalam plastik," tawar Arga sopan, meski nyalinya sedikit ciut melihat brevet-brevet di seragam Kadewa.
Kadewa yang sejak tadi mengamati dalam diam, tiba-tiba mengeluarkan tawa singkat yang terdengar seperti ejekan. "Tidak, terima kasih," jawab Kadewa singkat, matanya masih sesekali melirik Rea dengan wajah yang masih berusaha menahan tawa.
Sungguh menjengkelkan.
Ia menyandarkan punggungnya ke kursi, melipat tangan di dada sambil menatap Arga dengan penuh arti.
“Ga, ayo,” tiba-tiba salah satu masinis lain menghampiri Arga. “Kita mau cek kesehatan lagi. Udah dipanggil.”
“Oh, iya,” Arga mengangguk cepat. “Re, nanti dimakan ya.”
Rea mengangguk sambil tersenyum kecil.
“Siap.”
"Saya pergi dulu, Pak," pamitnya pada Kadewa yang di balas anggukan santai oleh pria itu.
Begitu Arga pergi, ruangan kembali sunyi.
Dan hanya tersisa aroma makanan Jepang, dua makanan, dua makna, dan satu kebenaran yang perlahan mulai sulit disangkal.
Kadewa berdiri, melangkah mendekat hingga berdiri tepat di samping kursi Rea. Ia mencondongkan tubuhnya ke arah telinga Rea, aroma parfumnya yang segar menyerbu indra penciuman gadis itu.
"Pinter banget aktingnya," bisik Kadewa rendah. "Sejak kapan kamu bisa makan daging mentah kayak gitu? Kamu kan punya alergi sama ikan mentah kalau kamu makan, kamu bisa gatal-gatal dan sesak napas. Mau kamu tiba-tiba masuk rumah sakit? Jangan cari penyakit, Rea."
Rea menggigit bibir bawahnya. Sial. Kenapa Kadewa masih ingat makanan apa yang bisa atau tidak Rea makan? Kenapa?
"Bukan urusan Anda," desis Rea, meski tangannya gemetar.
"Jadi urusanku, karena aku dititipi Pram untuk menjagamu tetap hidup," Kadewa membukakan sumpit bambu dan memberikannya pada Rea. "Makan, Re. Atau... Perluaku suapin supaya kamu mau makan?"
Mata Rea melotot.
Ia menatap sumpit yang disodorkan Kadewa seolah benda itu adalah sebuah jebakan. Kalimat perlu aku suapin barusan terdengar begitu intim, sekaligus begitu menjengkelkan bagi Rea yang sedang berusaha keras membangun tembok pembatas.
"Nggak perlu," desis Rea ketus. Ia menyambar sumpit itu dari tangan Kadewa dengan kasar.
Dengan gerakan yang penuh gengsi, Rea akhirnya menggeser kotak sushi mentah pemberian Arga ke sudut meja terjauh, sebuah pengakuan diam-diam bahwa Kadewa benar dan menarik kotak bento matang milik Kadewa ke hadapannya.
Begitu potongan Salmon Teriyaki itu masuk ke mulutnya, Rea harus berjuang mati-matian agar ekspresi wajahnya tidak berubah. Rasanya sempurna. Gurih, manis, dan hangat, persis seperti rasa yang memang menjadi seleranya.
"Enak?" tanya Kadewa, kembali duduk di kursinya dengan gaya santai, namun matanya tidak lepas memandangi Rea yang sedang mengunyah.
"Biasa aja. Cuma karena sayang kalau dibuang," jawab Rea dingin, meski ia tidak bisa berhenti menyuap nasi wijennya.
Kadewa hanya tersenyum tipis, sebuah senyum kemenangan. Ia membuka tablet di tangannya, mulai memeriksa jadwal pergerakan personel untuk siang nanti, namun pikirannya masih pada gadis di sampingnya. "Ternyata benar kata Pram, kamu tetap kayak anak kecil yang keras kepala kalau lagi lapar."
Rea tidak menyahut. Ia lebih memilih fokus menelan makanannya daripada harus meladeni nostalgia Kadewa yang hanya akan membuatnya semakin merasa kalah.
Begitu bento itu bersih tak tersisa, Rea merapikan kotaknya dan menaruhnya kembali di depan Kadewa. "Udah selesai. Sekarang, tolong fokus ke pekerjaan Anda, Pak Letnan. Sebentar lagi kereta keberangkatan pukul sembilan masuk, saya harus mulai mengumumkan."
Kadewa berdiri, mengambil kotak bento kosong itu. "Oke. Tugas sarapan selesai. Sekarang tugas koordinasi lapangan."
Sebelum melangkah keluar ruangan, Kadewa berhenti di depan pintu. Ia menoleh sedikit, menatap Rea dengan binar yang lebih serius. "Re, soal sushi mentah tadi... lain kali kalau mau bikin aku kesel atau... cemburu, pakai cara yang nggak membahayakan nyawamu sendiri. Aku nggak mau harus kirim laporan ke Pram kalau adiknya pingsan cuma gara-gara gengsi."
Heh!
"Siapa juga yang mau bikin Anda cemburu?!" pekik Rea tertahan, wajahnya kini merah padam sepenuhnya.
Kadewa hanya terkekeh, suara tawa yang renyah dan menyebalkan itu menggema sejenak sebelum pintu tertutup rapat.
Rea terduduk lemas di kursinya, menyentuh dadanya yang berdegup kencang. Ia menarik napas panjang, mencoba menetralkan aroma vanilla dan jahe yang masih tertinggal di udara.
"Sialan," umpatnya pelan.
Baru dua hari Kadewa berada di stasiun ini, dan pertahanan yang Rea bangun selama tujuh tahun sudah mulai retak di sana-sini hanya karena urusan perut.
Gak elit, Rea. Gak elit!
Dan Rea menyadari satu hal yang menakutkan, Kadewa tidak hanya datang untuk bertugas, pria itu datang untuk menjemput kembali semua memori yang sudah susah payah Rea buang.
Dan yang paling menakutkan adalah... jauh di dalam hatinya, Rea tahu ia tidak pernah benar-benar membuang memori itu. Ia hanya menyimpannya di tempat yang salah.
ah pokoknya author is the best lah👍👍👍👍🥰🥰🥰🥰🥰
another story keep in save folder🤭
semangat thor gas pol
buat tmn mnyambut ramadhan
jgn coba" mlarikan diri xa 🤣