Apa jadinya jika yang menjadi sekretaris di perusahaan adalah istri sendiri? jangankan bisa menggoda karyawan wanitanya bahkan untuk sekedar lirik sana-sini pun tidak akan bisa dilakukan.
Sementara itu, dibalik sikap ceria sang istri ternyata dia harus bertahan menghadapi keluarga suami yang sering menyindirnya karena belum dikaruniai anak. Akankah rumah tangga mereka bisa kuat ataukah harus hancur hanya gara-gara sang istri belum juga dikaruniai keturunan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon poppy susan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 33 Tinggal Penyesalan
Pasha melepaskan pelukannya, dia menghapus air mata Ashika dengan lembut. Pasha menyentuh kedua pundak Ashika dan menatap Ashika dengan sangat dalam. "Kalau aku hanya ingin mempermainkanmu, buat apa selama ini alu mendekati kamu. Aku sudah tahu dari awal jika kamu tidak mempunyai keturunan, tapi tujuan aku ingin menikahimu bukan karena aku ingin mempunyai keturunan tapi karena aku benar-benar mencintaimu dan ingin membuatmu bahagia," seru Pasha.
"Aku takut Mas, dulu Mas Rio juga bicara seperti itu bahkan dia menjadikan aku layaknya seorang Ratu, tapi pada akhirnya dia menyakiti aku juga," sahut Ashika dengan air mata yang terus mengalir.
"Aku tidak seperti Rio, aku sudah tahu kekurangan kamu apa tapi aku akan tetap mencintaimu bahkan jika kita ingin mempunyai anak, kita bisa mengadopsi anak," seru Pasha.
Ashika terdiam, dia benar-benar bingung harus bagaimana. Pasha tiba-tiba bertekuk lutut di hadapan Ashika dan mengeluarkan kotak cincin berlian kepada Ashika. "Maukah kamu menikah denganku? aku akan menerima kamu apa adanya, aku janji akan membahagiakan kamu dan menjaga kamu sampai maut memisahkan. Jika aku tidak bisa menepati janji aku dan menyakiti kamu, maka aku siap mati konyol dengan cara apa pun," ucap Pasha mantap.
Air mata Ashika semakin deras mengalir, dia bisa melihat kesungguhan di mata Pasha tapi tidak dipungkiri jika dia juga masih ragu-ragu menerima cinta baru dalam hidupnya. "Bisakah Mas beri aku waktu untuk memutuskannya?" seru Ashika.
"Baiklah, aku akan beri kamu waktu tapi tolong jangan lama-lama karena aku tidak mau menunggu lama," sahut Pasha.
Ashika mengangguk. Pasha kembali menutup kotak cincin itu dan berdiri. "Mau lanjut makan atau pulang?" tanya Pasha.
"Bagaimana kalau kita duduk di taman kota lalu beli cemilan di mini market," sahut Ashika sembari menghapus air matanya.
"Setuju."
Akhirnya keduanya pun pergi dari restoran dan memilih duduk-duduk di taman kota. Kebetulan belum terlalu malam jadi masih banyak orang yang nongkrong di sana. Keduanya ngobrol ringan bahkan sesekali keduanya tertawa bersama.
Ashika mengusap lengannya yang terasa dingin, Pasha peka akan reaksi Ashika dia pun melepaskan jasnya dan memakaikannya kepada Ashika. "Kamu sih maunya makan di pinggir jalan kaya gini, 'kan dingin," seru Pasha.
Ashika hanya menyunggingkan senyumannya. "Kita pulang, sudah malam," ajak Ashika.
"Ya, sudah."
Pasha bukan pria pemaksa, dia tidak ingin memaksa Ashika biarlah Pasha memberi waktu untuk Ashika memikirkan jawabannya.
***
Keesokan harinya....
"Selamat pagi semuanya!" sapa Ikbal dengan wajah berseri-seri.
"Yaelah, calon pengantin ceria sekali pagi ini," ledek Ashika.
"Apaan sih," sahut Ikbal malu-malu.
"Bal, sarapan dulu sini," ajak Papa Rudi.
"Tentu dong Om, kebetulan Ikbal belum sarapan di rumah bahan makanan sedang habis," sahut Ikbal cengengesan.
"Mana ada bahan makanan sedang habis, kamu setiap hari sarapan di sini loh. Bilang aja kalau kamu sarapan gratis," ledek Ashika.
"Basa-basi dikitlah As, gak ngerti banget jadi orang," kilah Ikbal.
Ikbal setiap hari datang ke rumah Ashika untuk menjemput Ashika. Saat ini Ikbal sudah memiliki rumah sendiri meskipun kecil dan harus nyicil yang jelas Ikbal bahagia. "As, kamu gak mau jenguk Kak Rio?" celetuk Ikbal.
"Belum ada waktu, Bal. Lain kali saja," sahut Ashika dingin.
"Kasihan loh, kondisinya sudah semakin memburuk sekarang. Kemarin Mama Nirmala memintaku untuk membawa Kak Rio ke rumah sakit jiwa karena Kak Rio ngamuk terus," ucap Ikbal sedih.
Meskipun dulu Ikbal sering sakit hati oleh Rio dan kedua orang tuanya, tapi sekarang dia merasa kasihan dengan kondisi keluarga angkat dia itu. Perusahaan Rio bangkrut, Rio menjadi depresi ditambah Nathalie pergi setelah melahirkan anak mereka. Nathalie tidak mau mempunyai suami gila, makanya dua kabur dan pergi meninggalkan Rio dan juga anaknya.
Ashika terdiam sejenak. "Nak, bagaimana pun Rio pernah menjadi bagian dari hidup kamu. Apa salahnya jika kamu menjenguk dia," ucap Mama Kenanga.
Ashika tidak menjawab sama sekali, dia fokus menghabiskan sarapannya. Setelah selesai sarapan, Ashika dan Ikbal pun pamit pergi menuju kantor. Selama perjalanan, Ashika tampak terdiam dan Ikbal pun tidak mau mengajak Ashika ngobrol.
Tidak membutuhkan waktu lama, akhirnya mereka pun sampai di kantor. "Ashika, hari ini tidak ada jadwal bertemu dengan siapa pun," seru Ikbal.
"Ok, terima kasih Bal," sahut Ashika.
Ashika langsung masuk ke dalam ruangannya. Ashika duduk termenung memikirkan ucapan Ikbal mengenai Rio. "Apa aku harus menemui dia?" batin Ashika.
***
Waktu pun berjalan dengan sangat cepat, sore itu Ashika menghubungi Ikbal supaya datang ke ruangannya. "Ada apa, Ashika?" tanya Ikbal yang langsung masuk ke dalam ruangan Ashika.
"Aku sudah memikirkannya, kayanya sore ini aku mau bertemu dengan Mas Rio," ucap Ashika.
"Syukurlah kalau begitu. Ya, sudah kita berangkat sekarang keburu malam," seru Ikbal.
Ashika dan Ikbal pun segera pergi menuju sebuah rumah sakit jiwa tempat di mana Rio dirawat. Rio mengalami gangguan jiwa yang lumayan parah, dia sering ngamuk dan melukai diri sendiri. Apalagi jika melihat anaknya dengan Nathalie, Rio tidak bisa terkendali dan sudah beberapa kali ingin membunuh anak yang tidak berdosa itu.
Beberapa saat kemudian, keduanya sampai di rumah sakit jiwa. Hati Ashika terasa ngilu melihat rumah sakit itu, dia tidak menyangka jika mantan suaminya dirawat di sana. "Ayo, Ashika!" ajak Ikbal.
Ashika dan Ikbal diantar oleh seorang perawat. Ashika tampak sedih melihat orang-orang yang sedang dirawat di sana, dan dia tidak bisa membayangkan Rio ada di sana juga. Perawat itu membawa ke sebuah ruangan dan ruangan itu hanya ada satu kasur saja tidak ada apa pun di dalamnya.
"Ini ruangan pasien yang bernama Rio, kalian tidak boleh masuk karena pasien suka ngamuk tak terkendali. Kalian hanya bisa melihat dari sini saja," seru Perawat.
Ashika dan Ikbal melihat dari celah-celah jeruji besi. Pintu ruangan Rio memang beda dari pada yang lain, karena Rio pasien baru yang sangat membahayakan. Baik untuk dirinya sendiri maupun untuk orang lain.
"Kak Rio!" panggil Ikbal.
Rio yang awalnya duduk meringkuk di sudut ruangan dengan memeluk kedua lututnya, tiba-tiba menoleh saat mendengar suara panggilan dari Ikbal. Rio kaget saat melihat seseorang yang selama ini sangat dia cintai, datang menjenguk dirinya. "Ashika," gumam Rio.
Rio bangkit, lalu berjalan menghampiri. Perawat sudah bersiap-siap, takut Rio melakukan hal yang macam-macam. "Ashika," lirih Rio dengan mata berkaca-kaca.
"Kenapa Mas jadi seperti ini? kenapa Mas tidak bisa hidup dengan baik?" tanya Ashika dengan suara bergetar menahan tangisan.
"Ashika aku sangat mencintaimu, kembalilah kepadaku," seru Rio.
"Aku sudah tidak bisa kembali lagi sama kamu Mas, lebih baik sekarang kamu cepat sembuh dan urus anak kamu karena dia membutuhkan kamu," sahut Ashika.
Mendengar Ashika menyebut nama anaknya, Rio langsung ngamuk. "Jangan sebut anak itu, anak itu bukan anakku. Aku mau bunuh anak sialan itu, bawa anak itu ke sini!" teriak Rio histeris.
Rio memukul-mukul tembok, bahkan dia juga menendang pintu membuat Ashika kaget dan menjauh. "Mbak sama Mas lebih baik pergi dulu, besok kalian bisa datang lagi ke sini," seru Perawat.
"Baiklah, tolong jaga kakak saya ya, jangan sampai dia melakukan hal yang macam-macam," seru Ikbal.
"Baik, Mas."
"Ayo, Ashika kita pulang!" ajak Ikbal sembari merangkul pundak Ashika.
Jujur, Ashika sakit melihat kondisi Rio yang sangat memprihatinkan itu. Bagaimana pun, Rio adalah pria yang sempat dia cintai sepenuh hati Ashika. Tapi, sekarang hanya tinggal penyesalan yang ada dan mungkin itu sebuah karma untuk Rio.
.lili kyk nya kecintaan sm boy deh..
.ayo lili sadar lah . tunjukan km kuat.. jg nangisan