Lana (17 tahun) hanyalah siswi SMA yang memikirkan ujian dan masa depan. Namun, dunianya runtuh saat ia dijadikan "jaminan" atas hutang nyawa ayahnya kepada keluarga konglomerat Al-Fahri. Ia dipaksa menikah dengan putra mahkota keluarga itu: Kolonel Adrian Al-Fahri.
Adrian adalah pria berusia 29 tahun yang dingin, disiplin militer, dan memiliki kekayaan yang tak habis tujuh turunan. Baginya, pernikahan ini hanyalah tugas negara untuk melindungi aset. Bagi Lana, ini adalah penjara berlapis emas.
Di sekolah, ia adalah siswi biasa yang sering dirundung. Di rumah, ia adalah nyonya besar di mansion mewah yang dikawal pasukan elit. Namun, apa jadinya saat sang Kolonel mulai terobsesi pada "istri kecilnya"? Dan apa jadinya jika musuh-musuh Adrian mulai mengincar Lana sebagai titik lemah sang mesin perang?
"Tugas saya adalah menjaga kedaulatan negara, tapi tugas utama saya adalah memastikan tidak ada satu pun peluru yang menyentuh kulitmu, Lana."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mr. Awph, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33: Pertemuan Tak Sengaja di Koridor
Pertemuan tak sengaja di koridor tersebut akan membuka tabir mengenai sisi lain dari Adrian yang selama ini sangat dirahasiakan dari pengetahuan Lana. Langkah kaki sang kolonel terhenti sepenuhnya saat seorang wanita dengan pakaian sangat elegan berdiri mematung hanya beberapa meter di depan mereka. Wanita itu memiliki rambut panjang yang tertata rapi serta tatapan mata yang menyimpan ribuan luka lama yang sangat dalam.
Udara di sekitar koridor sekolah yang tadi riuh dengan suara siswa seketika berubah menjadi sangat dingin dan menyesakkan dada. Lana merasakan genggaman tangan Adrian pada pinggangnya mengeras secara tiba-tiba seolah pria itu sedang menahan gejolak emosi yang sangat besar. Ia melirik wajah suaminya dan menemukan rahang yang mengatup rapat dengan tatapan yang lurus ke depan tanpa berkedip sedikit pun.
"Lama tidak berjumpa, Adrian, atau haruskah aku memanggilmu Tuan Kolonel yang terhormat sekarang?" tanya wanita itu dengan suara yang bergetar.
Adrian tidak segera menjawab melainkan ia menarik napas panjang yang terdengar sangat berat dan penuh dengan beban masa lalu. Ia melepaskan kacamata hitamnya perlahan dan memperlihatkan kilatan mata yang penuh dengan kebencian sekaligus kerinduan yang sangat rumit. Lana merasa dirinya menjadi sosok yang sangat tidak terlihat di antara dua orang yang seolah sedang beradu kekuatan batin tersebut.
"Apa yang kamu lakukan di tempat ini, Clarissa, bukankah seharusnya kamu berada di luar negeri?" jawab Adrian dengan nada suara yang sangat dingin.
Clarissa tertawa kecil namun tawa itu terdengar sangat pahit di telinga Lana hingga membuat hatinya ikut merasa tidak nyaman. Wanita itu melangkah mendekat dengan anggun sementara aroma parfum mawar yang sangat kuat mulai memenuhi ruang di antara mereka bertiga. Ia mengalihkan pandangannya ke arah Lana dan menatap gadis berseragam sekolah itu dengan senyum yang sangat penuh dengan arti tersembunyi.
"Ternyata seleramu telah berubah drastis sejak peristiwa berdarah di perbatasan beberapa tahun yang lalu," ucap Clarissa sambil menunjuk Lana dengan dagunya.
Lana tersentak mendengar kata peristiwa berdarah yang diucapkan oleh wanita asing tersebut dengan cara yang sangat santai namun sangat menusuk. Ia merasakan ada sebuah rahasia besar yang selama ini disembunyikan oleh Adrian di balik seragam militer dan pangkat tingginya yang sangat megah. Rasa penasaran mulai merayapi pikiran Lana sementara ia melihat Adrian sedang berjuang keras untuk tetap menjaga ketenangannya di depan publik.
"Jangan pernah membawa masa lalu ke dalam urusan saya yang sekarang atau kamu akan menyesal," ancam Adrian dengan suara yang sangat rendah.
Adrian segera menarik tangan Lana untuk pergi menjauhi Clarissa tanpa memberikan kesempatan bagi wanita itu untuk mengucapkan satu patah-kata pun lagi. Mereka berjalan dengan tergesa-gesa menuju ruang kepala sekolah meninggalkan Clarissa yang masih berdiri mematung dengan tatapan yang sangat memilukan. Lana merasakan jantungnya berdetak sangat kencang karena ia menyadari bahwa kehidupan suaminya jauh lebih gelap daripada yang ia bayangkan.
Sesampainya di depan pintu kayu jati yang besar, Adrian berhenti sejenak untuk mengatur napasnya yang mulai tidak beraturan karena amarah yang memuncak. Ia menatap Lana dengan pandangan yang sangat memohon seolah ingin meminta istrinya tersebut untuk tidak mempertanyakan apa-apa yang baru saja terjadi. Namun Lana tahu bahwa ia tidak akan bisa tenang sebelum mengetahui siapa sebenarnya sosok Clarissa di dalam kehidupan sang kolonel.
Guru yang mencari masalah akan menjadi rintangan selanjutnya saat mereka memasuki ruangan tersebut karena sang guru sudah menyiapkan berkas pelanggaran disiplin Lana.