NovelToon NovelToon
Mau Bahagia Denganku? Sayang?

Mau Bahagia Denganku? Sayang?

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Nikah Kontrak / Pernikahan Kilat / Menjual Anak Perempuan untuk Melunasi Hutang / Kontras Takdir / Slice of Life
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: apelcantik

Dijual oleh ayah kandung sendiri adalah luka terdalam Aluna. Namun, saat ia terjebak dalam pernikahan kontrak dengan pria asing, takdir memainkan leluconnya. Aluna mengalami regresi ingatan!
​Ingatan Aluna kembali ke usia 17 tahun—masa di mana dia belum dihancurkan oleh dunia. Baginya, suaminya hanyalah "Paman Mesum". Sanggupkah pria itu menghadapi Aluna versi remaja yang liar, atau justru ini kesempatan kedua bagi mereka untuk memulai segalanya dengan cinta, bukan lagi kontrak?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon apelcantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33. Dendam masa lalu? Belum ikhlas.

"Seragam itu..."

"Aku tahu... Itu juga seragam SMA-ku tapi aku hanya bertahan dua tahun, lalu aku pindah. Ah, kenapa aku menceritakan ini padamu, bukannya kau sudah tahu?"

Aluna tak paham dengan omongan Reno. Dia tak ingat kalau lelaki yang berdiri di hadapannya adalah temannya semasa kuliah. Aluna meyakini dirinya sendiri masih sebagai anak remaja. "Apa maksud kamu? Mas si—"

Sebelum Aluna sempat bertanya, Reno sudah menyela duluan sambil memegang tangannya. "Kita terakhir bertemu saat pernikahanmu, kan? Aku berharap kau masih belum memiliki anak sama sekali dengan bajingan itu... Aku benar-benar ingin membahagiakanmu Luna, aku mohon ikutlah denganku ke suatu tempat—jauh dari pengawasan suamimu yang kejam itu..."

Aluna langsung menyentak tangannya yang dipegang. Suami? Omong kosong, dia sama sekali belum menikah. Siapa yang akan berani menyakitinya?

Dion masuk ke dalam kafe, matanya langsung memicing melihat keberadaan si pengganggu hubungan tuannya itu. Dia segera maju, menghalangi Aluna agar tidak terjadi hal tidak mengenakkan. "Tolong jaga tanganmu. Jangan sentuh adikku seenaknya..."

"Adikmu?" tanya Reno tak yakin. Setahunya Aluna hanya tinggal dengan ayahnya saja dan merupakan anak tunggal dalam keluarganya. Mata Reno berkilat tak percaya penuh was-was, "Tidak mungkin! Aku tahu bagaimana kehidupan Aluna, dia selalu curhat denganku... Ya kan Lun? Kau selalu mengatakan kalau kau ingin memiliki Mas yang bisa menjagamu... Katakan kalau pria yang datang kepadamu dan mengaku abangmu itu tidak nyata." ucap Reno pelan. Mata Aluna nampak kosong melompong—segera dia geleng kepala cepat. Aluna membalas dinding punggung yang Dion ciptakan untuknya, dengan memegang belakang kemejanya nampak dahi Aluna terus berkedut. "Mas, dia siapa? Aku takut..." lirih Aluna yang jelas didengar Reno. Lelaki itu masih belum menyerah, dia mencoba maju ingin menjelaskan identitasnya yang memiliki hubungan dekat dengannya.

"Ini aku Luna—"

"Tidak, dia tidak kenal kamu dan tidak berhak dirimu memaksa adikku."

Reno mendesah kesal, giginya gemericik sampai terdengar ke mana-mana. Pria itu menatap tajam tatapan Dion, masih ngeyel. "Jangan main-main, apa yang kau lakukan padanya sampai jadi seperti itu? Oh, aku baru ingat kau itu kan asisten Tuan Arkan, bukan? Tak masuk akal kau menyebut nyonyamu sendiri sebagai adikmu. Apa yang dilakukan tuanmu sampai Luna jadi seperti itu? Aku yakin 100 persen kalau Aluna tak sedekat itu denganmu maupun suaminya..."

BUGH!

Karena terlalu kesal mendengar celotehan tanpa jeda, terpaksa Dion memberikan bogeman mantapnya yang dulu pernah dia layangkan ke perut Pharita. Rasa ngilunya sama persis, tak ada bedanya sama sekali. Dari kejauhan, Pharita yang melihat hal tersebut langsung merasa sakit sendiri di perutnya. 'Aku yakin setelah ini beraknya lancar...'

Reno memegangi perutnya yang kesakitan. Aluna terkejut, dia menghampiri Reno yang bertekuk lutut menahan nyeri di perut kirinya. Dion mengira kalau wanita itu akan pergi menolong, ah rupanya tidak. Entah kenapa dalam pikiran Aluna, dia hanya merasakan sakit yang tak bisa disembuhkan karena Reno sendiri.

"Aku tak bisa menjelaskan bagaimana kamu dalam pikiranku seperti burung gagak pembawa sial. Aku merasa kalau saat itu hancur karenamu juga, aku drop gara-gara wanita itu... Aku tidak tahu siapa, tapi di saat terpurukku kamu di mana?"

Dion terkejut, matanya melotot seketika. Pria itu mendekat, melihat lebih dekat apakah nyonyanya itu ingatannya sudah kembali pulih?

"Nyonya, Anda—"

Reno mendongak, tangannya terangkat ke atas. Nampak kedua matanya berkaca-kaca, penuh harap masa lalu dimaafkan. "Tapi Luna, kamu bilang saat wisuda kamu ikhlas dengan semua itu... Aku juga sudah putus kok sama pacarku yang caper itu, dia memang salah Aluna... Jadi sudah ya? Turuti saja aku, aku berjanji akan membahagiakanmu... Cerailah dengan suami impotenmu itu dan menikah denganku, kamu akan menjadi wanita paling bahagia..."

Dion melotot, ucapan Reno jelas dia tolak. Siapapun tak boleh berkeputusan seenaknya ataupun sampai ikut campur, itu sudah melanggar hak dan kewajiban marga Seo Atmadja. "Sepertinya sekali bogeman masih belum cukup ya? Mau hadiah yang jauh lebih menarik lagi?"

Pharita yang merasa keadaannya semakin gawat segera berlari memeluk pinggang kecil Dion dari belakang. "Sudah-sudah! Berhenti! Kau bikin banyak orang khawatir tahu gak? Stop ribut di sini! Ribut sana di depan!"

Dion tersentak saat wajahnya berhadapan dengan Pharita yang menunduk. Pria itu segera melepas cengkraman Pharita dari pinggangnya. "Kau gila?! Jangan peluk-peluk! Dih, najis!"

Pharita seketika tertohok, dia mengelus dada nampak kaget-sekagetnya. "Gila kau hah?! Siapa yang menggoda dirimu? Wlee, pede banget! Itu karena kau lebih pendek dan aku mau buat kau hentikan biar gak bertengkar di kafe!? Itu doang anjir?! Awas ya kau kalau babak belur, lihat aja nanti?! Gak bakal aku pegangi lagi?!?"

"Oh lebih bagus itu. Sorry, tapi wanita Maldives lebih anggun daripada cewek jamet sepertimu."

Aluna menatap mereka pelan, dia mendesah berat yang seketika desahan keluhnya terdengar di gendang telinga mereka berdua yang malah asyik berdebat.

Reno masih teguh dengan keyakinannya, merasa bisa membawa Aluna ke mana pun yang dia mau. "Lun, maaf ya... Aku kira kamu sudah tabah dengan semua itu, aku gak bermaksud khianati kamu... Maaf kalau saat kamu dijadikan sasaran sama anggota klubku gara-gara itu, aku mohon kita damai aja ya? Lagian kamu gak pernah bahas ini juga kok, sekarang masalah diungkit lagi?! Kamu gak sengaja, kan?! Tapi aku gak marah kok..."

Dion melotot, dia maju selangkah menarik kerah jaket Reno dalam sekali dekap, "Apa yang pernah kau lakukan dulu? Dengan seenaknya kau bicara semua itu dengan gampang, kau kira dia itu boneka atau apa? Bisa kau manfaatkan seenaknya?!!"

"Sudah plis deh ya Dion, baru aja dibilangin..." desah Pharita ikut emosi sendiri. Aluna memegang pergelangan tangan Dion yang menarik kerah jaket Reno, dia menggeleng kecil di hadapan Dion sambil berkata, "Sudahlah Mas Dion, ayo kita pergi saja..."

Pharita kaget, "Loh gak minum-minum atau makan dulu nih?"

Aluna menggelengkan kepala sebagai jawaban dari pertanyaan yang diberikan Pharita padanya. Ia tak mau mengingat hal yang dia rasa tak ada kejelasan sama sekali. "Yaudah bye—" lambai Pharita pada mereka berdua, karena ia sendiri akan lanjut bekerja. Tapi sayangnya sepertinya Dion tak mengizinkan hal tersebut, dia memegang lembut tangan Pharita cepat. "Kau tetap ikut."

Aluna sudah keluar dahulu. Reno akan mengikuti tapi seketika Dion langsung memasang kaki kurusnya ke depan, sontak saja Reno yang lewat langsung jengkang ke depan dengan pose tak layak dipandang orang umum.

BRUAGH!!!!

Pharita menutup bibirnya yang terus terbuka tanpa izin. Dia melihat belakang kepala Dion yang terus menggeretnya—tanpa Dion sadari diam-diam Pharita tersenyum padanya, entah atas keberaniannya, atau tekad kuatnya yang mengelora demi melindungi istri tuannya.

Rosa memandangi tas-tas mahalnya. Bila ada yang merasa tidak cocok dengan gayanya langsung dia buang ke tempat sampah—padahal kalau dilihat-lihat masih cocok untuk dipakai, namun tantenya Arkan itu malah membuang hal yang bisa dibilang sangat berharga untuk rakyat miskin. Setelah cukup memandangi salah satu tas elegan yang akan dipakai, barulah Rosa keluar dari kamar dengan gaun yang sangat mencolok bagi orang lain.

"Sayangku... oh my God! Kok datang sendiri? Kamu gak ditemani gitu sayang?" tanya Rosa. Dia menghampiri hotel yang dia pesan untuk dua orang, dia pesan khusus dengan uangnya sendiri. Pria gadungan, selingkuhan Rosa tersebut memeluk wanita norak tersebut dari belakang pundak sambil menggodanya dengan mengecup lehernya. "Ayo cepat sayang, setelah ini aku ada urusan soalnya..."

Rosa tidak curiga apa yang akan dilakukan pacar gelapnya, yang penting malam ini mereka sama-sama puas dan tidak saling merugikan. Saat keduanya masuk ke dalam salah satu kamar hotel, tanpa Rosa sadari di belakangnya ada Clarissa yang sudah siap dengan rekaman di tangannya. Clarissa tertawa heboh sendiri, puas dengan hasil kerja kerasnya yang sudah dia anggap sangat membuahkan hasil. "Lihat tantemu Arkan, sangat liar, nakal, dan tidak tahu diri. Padahal tantemu sudah menikah, tapi lihatlah apa yang dilakukan oleh keluargamu itu? Sangat tidak cocok dengan visi misi yang selalu kau agung-agungkan di depan publik."

"Walaupun kemarin diriku gagal mengelabuhimu, tapi sekarang kau sudah jatuh tak berdaya Arkan. Saham yang kau perjuangkan telah longsor, lalu apa lagi? Wah banyak sekali. Kalau kamu mau kembali lagi denganku seperti dulu sebagai anjingku lagi, pasti akan aku pertimbangkan lagi Arkan... Kau memang hanya boleh bergantung padaku. Hahaha!"

Entah mengapa malam ini cuacanya sangat dingin. Bahkan Arkan yang sudah melapisi tubuhnya dengan satu sweter wol hangat tebal masih merasa kedinginan. Arkan sedikit menguap, setelah satu lagi pekerjaan yang dia selesaikan, akhirnya ia bisa merebahkan kepalanya. Dalam angan-angan Arkan berharap sekali kalau ada pihak yang masih berpihak padanya. "Besok... semoga besok membuahkan hasil."

Arkan keluar dari kamar, dia menyuruh salah satu pelayan laki-laki untuk menyiapkan ruang sauna dengan bertabur bunga mawar dan melati. Pelayan laki-laki tersebut menunduk segera mengerjakan yang sudah ditugaskan padanya.

Memang minggu ini mengeluarkan keringat sekali bukan? Dion hari ini tidak melaporkan apapun padanya. Arkan akan menganggap kalau hari ini tak terjadi hal yang bisa membuatnya tegang seperti kemarin. "Awas saja kalau kau melakukan kesalahan seperti itu lagi Aluna, lihat saja nanti."

Arkan melucuti celana dan pakaian kemeja putih yang mencetak jelas punggungnya tersebut ke dalam rak khusus. Dia hanya menyelimuti bawah pinggangnya dengan handuk kecil, langkahnya pelan memasuki ruang sauna—mulai merasakan aura hangat dari pemanas yang berhasil menyegarkan semua otot-ototnya yang kejang saat bekerja.

Pria itu memandang ke plafon dengan tatapan bisu, sekali-kali dia mengusap wajah cepat malah teringat dengan malam kemarin saat Aluna berusaha membujuknya agar dia tak marah. Sentuhan di pipi itu entah mengapa malah membuat Arkan kepikiran, dia segera geleng kepala cepat. Telepon genggam di sebelah kursi sauna dia gunakan untuk memesan wine dengan es batu. "Bawa ke sini dua botol."

Di seberang telepon mengangguk memahami, "Baik Tuan, akan segera saya bawakan."

"Aluna... ah maksud saya Nyonya, Anda sudah ingat sekarang dengan apa yang terjadi? Tiba-tiba saja Anda berubah jadi anak remaja pada umumnya, bertingkah seperti anak kecil." ucap Dion pelan. Aluna yang masih setengah sadar hanya terduduk kaku di depan cermin, ia mengangkat tangannya ke atas seolah mencari sesuatu yang tak ia ketahui akan ia cari ke mana. Dari tadi pikirannya dipenuhi oleh suaranya sendiri, 'Apa benar ini aku?'

'Apa yang baru saja terjadi padaku?'

'Aku bingung...'

Aluna tak menjawab sama sekali. Dion tambah panik jadinya, dia segera mundur beberapa langkah membiarkan hal ini di rumah Pharita sejenak agar masalah ini cepat rampung. "Aku mana tahu ya Dion, jangan tanya-tanya dong?!"

"Terus kenapa Nyonya cuma diam aja gitu? Apa gara-gara Reno bajingan itu??!"

"Plis deh, kenapa kau mengumpatnya seolah dikasih ke aku?!"

Dion mencibir pelan, "Oh sorry, kayaknya emang pantas jadi pelampiasan."

Mendengarnya Pharita seketika langsung refleks menjotos kepala Dion tanpa ampun, tak peduli pria pendek itu meronta meminta berhenti. Tapi Pharita terus melanjutkan aksinya yang dinilai sangat memuaskan.

"Kenapa kalian malah bertengkar? Mas Dion, katakan padaku siapa aku sebenarnya dan kenapa ini bisa terjadi padaku? Aku tidak kenal siapa pria yang menyuruhku untuk pergi bersamanya tadi tapi aku yakin sekali kalau orang tadi tak baik untukku, akh—"

"Hei bodoh, jangan malah terus dipikirkan mulu Aluna?! Nanti kau malah tambah sakit tahu gak?!" seru Pharita. Dia sudah siap memberikan pelukan padanya kalau-kalau Aluna mengeluh tak berdaya ataupun sampai menangis mengeluarkan air mata.

Aluna memegangi kepalanya sendiri, dia merasakan memori yang berputar-putar kencang seperti lampu diskotik, "Sakit..."

"SAKIT!!!!"

"Aluna!! Dion cepat keluarin obat yang dikasih dokter kenalanmu itu!! Kalau sampai telat bakal gawat kan?!"

"Oh ya?! Anjir, bisanya aku lupa! Itu salahmu juga baru bilang sekarang." kata Dion tak mau disalahkan sendiri.

Pharita ikut nyolot, padahal di sini keadaannya lagi genting-gentingnya. Mana tak ada yang menghentikan perseteruan mereka berdua lagi. "Salahku?! Ngaca sana siapa yang paling gak becus ngerawat istri majikannya sendiri sampai ini bisa terjadi hah?!"

Aluna dengan pandangan lemah jatuh tak berdaya, dia merasakan rasa sakit yang menjalar di seluruh tubuhnya. Dua bagian yang Aluna pegangi saat jatuh adalah bagian dada dan perut sisi kiri, dia merasakan rasa sakit yang seperti dihantamkan godam palu seberat 10 kilo. 'Aluna... heh, heh!!!"

"Anjir... Dion! Cepat bawa ke rumah sakit, lapor ke tuanmu itu kalau istrinya jatuh pingsan! Dari tadi kau gak ngabari majikanmu itu kan soal kejadian Aluna bisa kedapatan di kafe dengan teman kuliahnya?!"

"Ck, iya!" Dion mengalungkan kedua tangannya tapi saat dia berdiri kakinya gemetar, entah antara tak kuat atau memang lemah. Pharita berdecak, dia mengambil alih bergantian menggendong Aluna menggunakan salah satu tangan untuk menerima tubuh Aluna padanya. Wanita tinggi dan kuat itu berhasil mengekung tubuh kecil Aluna dalam kedua genggaman gendongannya. Dion sempat iri melihatnya, walau sedetik barusan dia merasa terkesima segera dia membuang wajah cepat. 'Sialan... dia jauh lebih manly dariku.'

Pharita melihat Dion terus melamun, dia menyikut bokong pria itu dengan betis kakinya. "Diam aja terus di sana?! Cepat bukain mobilnya njing, kau mau diriku jadi patung pahat di sini?!"

"Yaa ya!!!"

Telepon genggam milik Arkan yang bercampur dengan baju, bunyi telepon teredam oleh banyaknya pakaian milik Arkan yang menumpuk. Tanpa tahu situasi atau keadaan istrinya malam ini yang belum pulang, pria itu menyibukkan dirinya dengan segelas wine sambil menatap bulan yang sangat indah untuknya. "Clarissa... aku kangen kamu. Malam ini tolong hadirlah di mimpiku bukan sebagai wanita egois dan suka bermain dengan pria lain. Aku tahu bagaimana dirimu itu Clarissa, senyummu manis, indah dan kau selalu membawa kebahagiaan... Aku rindu denganmu yang seperti itu. Kalau sekarang... Entah kenapa aku membayangkan kalau itu adalah Aluna. Senyumnya setelah dia berpikir seperti anak remaja mirip sepertimu."

PLAK!!!

Arkan menggeleng cepat, di hatinya hanya ada Clarissa seorang! Itu saja!

Bersambung...

1
Fanchom
ih kok ngeri gitu ver? 🤣🤣
Fanchom
asik ada gambarnya🤭🤭
Fanchom
lengkap banget ver, biodata karakternya? 🤭
Fanchom
aduh mengerikannya...
Fanchom
wih ada gambarnya😌, langka nih
Fanchom
kak aku sebenarnya suka sama karakter Aluna ini, cuma menurut ku dia ini kek kebanyakan pasrah gitu
Gumobibi Gumob
kok bisa lupa ente😶
Gumobibi Gumob
wah mahal nih mas arkan...
Gumobibi Gumob
yng sbr ya mb Vera 🤭 sllu
verachipuuu
siapa yang berdebar disini gara-gara Arkan 🤣🤣🤣
verachipuuu
oh ya 🤣🤣
Gumobibi Gumob
knp sllu gambrny g muncul? kn jadi penasaran aQ 🤣
Gumobibi Gumob
😄
verachipuuu
guys apakah ada gambar yang tidak muncul di device kalian 🧐
verachipuuu: ya makasih 🙏
total 2 replies
verachipuuu
hallo guys dukung Vera agar cemangat🤭🤭🤭😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!