NovelToon NovelToon
PANTASKAH AKU BAHAGIA

PANTASKAH AKU BAHAGIA

Status: sedang berlangsung
Genre:Enemy to Lovers
Popularitas:255
Nilai: 5
Nama Author: yunie Afifa ayu anggareni

Deskripsi Novel: Pantaskah Aku Bahagia

"Dunia melihatku sebagai badai, tanpa pernah mau tahu betapa hancurnya aku di dalam."
Lahir sebagai saudara kembar seharusnya menjadi anugerah, namun bagi Alsya Ayunda Anantara, itu adalah kutukan yang tak kasat mata. Di mata orang tuanya, dunia hanya berputar pada Eliza Amanda Anantara—si anak emas yang sempurna, cantik, dan selalu bisa dibanggakan. Sementara Alsya? Ia hanyalah bayang-bayang yang dipandang sebelah mata, dicap sebagai gadis pemberontak, jahat, dan tukang bully.
Di balik tawa cerianya yang dianggap palsu, Alsya menyimpan luka yang menganga. Ia hanya ingin dicintai. Ia hanya ingin diperhatikan. Itulah alasan mengapa ia begitu terobsesi mengejar Revaldi Putra Raharja. Baginya, memiliki Revaldi adalah cara untuk membuktikan bahwa ia jadi berharga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yunie Afifa ayu anggareni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 19: RETAKAN KEPERCAYAAN

Pagi itu di sekolah, suasana terasa sangat normal, namun bagi Alsya, ada yang aneh. Samudera mendadak tidak bisa dihubungi sejak jam pertama. Bangkunya kosong. Saat Alsya bertanya pada teman sekelasnya, tidak ada yang tahu ke mana cowok itu pergi.

"Nyari Samudera, Sya?" suara Eliza terdengar dari ambang pintu kelas. Dia berjalan mendekat dengan ekspresi wajah yang tampak... bersalah?

Alsya menyipitkan mata. "Loe tahu dia di mana?"

"Gue tadi lihat dia di ruang musik lama sama Revaldi. Kelihatannya mereka lagi bahas sesuatu yang serius banget. Tapi Sya... gue saranin loe nggak usah ke sana," ucap Eliza sambil memegang lengan Alsya, seolah ingin melindunginya.

"Emang kenapa?" Alsya menyentak tangan Eliza. Kecurigaannya meningkat.

"Gue tadi nggak sengaja denger percakapan mereka. Ini soal loe, Sya. Soal alasan kenapa Samudera deketin loe," Eliza menunduk, suaranya bergetar. "Gue nggak tega bilangnya, tapi ternyata Samudera itu... dia butuh koneksi Papa buat bersihin namanya dari kasus di sekolah lamanya."

Alsya tertawa sinis, meski jantungnya mulai berdegup kencang. "Loe mau bohongin gue lagi? Nggak bakal mempan, El."

"Kalau nggak percaya, loe denger aja sendiri. Mereka masih ada di sana," tantang Eliza dengan tenang.

Alsya, yang didorong oleh rasa penasaran dan kecemasan, akhirnya berlari menuju ruang musik lama di lantai tiga yang sudah jarang dipakai. Eliza mengikuti dari jauh dengan senyum tipis yang tersembunyi.

Begitu sampai di depan pintu ruang musik yang sedikit terbuka, Alsya mendengar suara Revaldi dan Samudera. Dia berhenti di balik pintu, napasnya tertahan.

"...jadi loe beneran cuma manfaatin Alsya buat dapet akses ke bokapnya?" suara Revaldi terdengar menuduh.

"Terus kalau iya kenapa?" suara itu... itu suara Samudera. Terdengar sangat dingin dan datar, persis seperti Samudera yang Alsya kenal di awal pertemuan mereka. "Loe tahu kan keluarga gue nggak mau nerima gue kalau nama gue belum bersih. Satu-satunya cara ya lewat relasi bisnis bokapnya Alsya. Dia gampang banget dibohongin, cukup kasih perhatian dikit, dia langsung nempel kayak prangko."

Deg.

Dunia Alsya seolah berhenti berputar. Air matanya seketika menggenang. Kata-kata "gampang dibohongin" itu terasa seperti pisau yang mengiris jantungnya berkali-kali.

"Loe nggak ngerasa kasihan sama dia? Dia tulus sama loe, Sam," pancing Revaldi lagi.

"Kasihan? Di dunia ini nggak ada yang gratis, Val. Dia dapet perlindungan dari gue, dan gue dapet apa yang gue butuhin dari keluarganya. Adil, kan?"

Alsya tidak sanggup lagi mendengar kelanjutannya. Dia mendobrak pintu itu dengan kasar. Wajahnya basah oleh air mata, matanya menatap Samudera dengan kekecewaan yang teramat dalam.

Samudera tampak terkejut, dia berdiri dengan kaku. "Sya? Loe ngapain di sini?"

"Jadi ini semua cuma transaksi buat loe?" suara Alsya serak. "Semua omongan loe soal kebebasan, soal gue berharga... itu semua cuma akting biar gue jatuh cinta sama loe?"

"Sya, dengerin dulu—" Samudera mencoba mendekat, tapi Alsya mundur selangkah.

"Jangan sentuh gue!" teriak Alsya. "Gue pikir loe beda, Sam. Gue pikir loe satu-satunya orang yang lihat gue sebagai manusia. Ternyata loe lebih busuk dari Revaldi! Loe manfaatin luka gue buat kepentingan loe sendiri!"

Alsya melempar ponsel pemberian Samudera ke lantai hingga pecah, lalu berlari keluar ruangan itu sambil terisak hebat.

Samudera hendak mengejar, tapi Revaldi menahan pundaknya sambil menyeringai.

"Jangan ganggu dia, Sam. Loe udah dapet apa yang loe mau, kan? Rekaman suara loe tadi udah cukup buat bikin dia benci sama loe selamanya."

Samudera menepis tangan Revaldi dengan kasar, matanya menyala penuh amarah. Dia sadar dia baru saja dijebak dalam percakapan yang sudah dipotong-potong dan diarahkan oleh Revaldi. Tapi nasi sudah menjadi bubur. Alsya sudah pergi dengan hati yang hancur.

Di lorong sekolah, Eliza merangkul Alsya yang sedang menangis sesenggukan. "Sabar ya, Sya. Gue udah bilang kan, cuma keluarga yang bakal selalu ada buat loe."

Alsya hanya bisa menangis dipelukan saudara kembarnya, tidak menyadari bahwa orang yang memeluknya adalah arsitek di balik kehancurannya hari ini.

Nyesek banget! Alsya bener-bener salah paham karena jebakan Revaldi.

***

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!