Satu pria menghancurkannya hingga tak bersisa. Pria lain datang untuk memungut kepingannya.
Hati Alina Oktavia remuk redam ketika kekasihnya memilih perjodohan demi harta. Ia merasa dunianya kiamat di usia 25 tahun. Namun, semesta bekerja dengan cara yang misterius. Di puncak keputusasaannya, takdir mempertemukannya dengan Wisnu Abraham duda dingin pengusaha tekstil yang telah lama menutup hatinya.
Akankah pertemuan dua jiwa yang sama-sama terluka ini menjadi awal penyembuhan, atau justru bencana baru?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon muliyana setia reza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kembali Ke Mode Tempur
Senin pagi di Surabaya menyambut Alina dengan kemacetan khas Jalan Ahmad Yani yang padat merayap. Langit abu-abu polusi menggantikan langit biru cerah Desa Plaosan. Suara klakson yang bising menggantikan suara kokok ayam dan gemericik sungai.
Namun, Alina tidak mengeluh.
Di balik kemudi Honda CR-V-nya, wanita itu menyetir dengan tatapan tajam dan fokus. Liburan satu minggunya telah usai. Baterainya sudah terisi penuh 100%. Kini saatnya kembali ke realita, kembali ke Abraham Tower, kembali menjadi tangan kanan Wisnu Abraham yang paling mematikan.
Begitu lift berdenting di lantai 30, Alina langsung disambut oleh kekacauan yang tertunda.
"Selamat pagi, Bu Alina! Syukurlah Ibu sudah pulang!" seru Dini, staf admin, yang tampak kewalahan dengan tumpukan map di pelukannya. "Jadwal Pak Wisnu berantakan dua hari ini. Vendor kain dari Solo minta pertemuan ulang, terus ada masalah di gudang kapas yang belum approve tanda tangan Ibu."
Alina meletakkan tas kerjanya di meja, melepas kacamata hitamnya, dan langsung mengambil alih komando.
"Tenang, Dini. Taruh semua berkas urgensi tinggi di meja saya. Jadwal ulang vendor Solo jam dua siang ini via Zoom. Telepon kepala gudang kapas, suruh kirim foto sample via WhatsApp sekarang, kalau oke saya tanda tangan digital," perintah Alina cepat, tegas, dan taktis.
"Baik, Bu! Siap!" Dini langsung berlari melaksanakan perintah, lega karena "otak" operasional kantor sudah kembali.
Alina duduk di kursi kerjanya yang ergonomis. Ia menarik napas panjang, menghirup aroma pengharum ruangan berbau kopi dan kertas baru.
Ia membuka laptopnya. Ratusan email masuk yang belum terbaca berkedip merah di layar.
Tanpa membuang waktu sedetik pun, jari-jemari Alina mulai menari di atas keyboard. Bunyi ketikan yang cepat dan berirama memenuhi ruangan itu.
Alina bekerja seperti mesin. Ia memilah email, membalas pertanyaan klien, menyetujui anggaran, dan menolak proposal yang tidak masuk akal. Tidak ada jeda untuk melamun. Tidak ada waktu untuk memikirkan kenangan di kampung. Ia mengunci semua kenangan manis itu di sudut hatinya sebagai bahan bakar.
Ia ingat wajah bahagia Bapak saat menerima sertifikat tanah. Ia ingat senyum Ibu. Ia ingat jeritan senang Anita saat mendapat laptop.
Aku harus kerja keras, batin Alina sambil menatap layar. Supaya senyum mereka tidak hilang. Supaya Bapak tetap jadi juragan tanah. Supaya Anita bisa kuliah tinggi.
Motivasinya bukan lagi sekadar menghancurkan Rendy. Motivasinya kini lebih mulia: Mempertahankan kemakmuran orang-orang yang ia cintai. Dan untuk itu, ia harus menjadi yang terbaik di perusahaan ini.
Pintu ruangan CEO terbuka. Wisnu Abraham melangkah masuk dengan setelan jas abu-abu gelap yang rapi.
Pria itu berhenti sejenak di ambang pintu, melihat asistennya yang sudah tenggelam dalam tumpukan dokumen meski jam baru menunjukkan pukul delapan pagi.
Wisnu mengamati Alina. Ia melihat kulit Alina yang sedikit lebih cokelat karena matahari desa, tapi terlihat lebih segar dan bercahaya. Ia melihat aura yang berbeda. Bukan lagi aura gelap penuh dendam yang meledak-ledak, melainkan aura tenang namun menghanyutkan.
"Pagi, Pak," sapa Alina tanpa menghentikan ketikannya, menyadari kehadiran bosnya. "Kopi Bapak sudah siap di meja. Suhu 80 derajat, gula aren sedikit."
Wisnu tersenyum tipis. "Pagi, Alina. Selamat datang kembali."
Wisnu berjalan menuju mejanya, mengambil cangkir kopi itu, dan menyesapnya. Pas. Selalu pas.
"Bagaimana liburanmu?" tanya Wisnu basa-basi, sambil duduk dan membuka tabletnya.
"Sangat menyenangkan, Pak. Cukup untuk me-reboot sistem," jawab Alina singkat, matanya tetap terpaku pada layar laptop. "Oh ya, laporan evaluasi 'Dapur Rumah' minggu lalu sudah saya kirim ke email Bapak. Omzet stabil naik 15%. Dan laporan kerugian 'Royal Spoon' juga sudah saya lampirkan sebagai data pembanding pasar."
Wisnu mengangkat alis. Ia kira Alina akan bercerita panjang lebar tentang kampung halamannya, tentang sawah, atau tentang keluarganya. Tapi wanita itu langsung membombardirnya dengan data bisnis dan strategi perang.
Wisnu menatap Alina lekat-lekat. Ia melihat fokus yang tak tergoyahkan di mata wanita itu. Ia sadar, Alina tidak ingin mencampuradukkan urusan pribadi dengan profesional saat ini. Alina sedang dalam mode mengejar ketertinggalan pekerjaan.
Sebagai atasan yang bijak, Wisnu memilih untuk tidak banyak bertanya. Ia menghargai privasi dan dedikasi Alina.
"Bagus," respon Wisnu singkat. "Saya akan pelajari laporannya nanti."
Hening sejenak. Hanya suara ketikan keyboard dan denting notifikasi email yang terdengar.
"Alina," panggil Wisnu lagi.
"Ya, Pak?" Alina akhirnya berhenti mengetik, menoleh menatap bosnya.
"Kamu terlihat... lebih kuat," ucap Wisnu tulus. "Apapun yang kamu temukan di kampung halamanmu, itu berdampak baik buatmu."
Alina tersenyum. Senyum yang misterius namun percaya diri.
"Saya menemukan alasan baru untuk tidak pernah kalah, Pak," jawab Alina.
Wisnu mengangguk, mengerti tanpa perlu penjelasan lebih lanjut.
"Kalau begitu, mari kita bekerja. Proyek akuisisi pabrik di Gresik menunggu sentuhan tangan dinginmu."
"Siap, Pak."
Alina kembali menatap layarnya. Di pojok meja kerjanya, kini terpajang sebuah bingkai foto kecil yang baru ia bawa dari kampung. Foto dirinya, Anita, Bapak, dan Ibu yang berpose di depan rumah yang baru direnovasi.
Melihat foto itu, energi Alina seolah tak ada habisnya.
Rendy dan Sisca mungkin masih bergelut dengan kebangkrutan mereka di luar sana. Tapi bagi Alina, mereka hanyalah kerikil kecil. Fokus utamanya sekarang adalah mendaki gunung kesuksesan setinggi mungkin, membawa serta keluarganya ke puncak, dan memastikan tidak ada yang bisa menyeret mereka turun lagi.
Surabaya kembali menjadi arenanya. Dan sang gladiator wanita telah kembali dengan senjata yang lebih tajam.
g sabar nih/Heart/