Setelah membunuh Liu Sheng,pembunuh orang tuanya, Xu Hao justru menemukan teka-teki yang lebih besar: segel mematikan pada jiwa Liu Sheng. Segel serupa juga ia temukan pada musuh-musuh tingkat tingginya. Segala petunjuk mengarah ke Dataran Tengah, tempat asal Klan Xu yang perkasa. Dengan bakat aslinya yang dicuri, orang tuanya yang difitnah sebagai pengkhianat, dan pengusiran kejam dari klan, Xu Hao kini menyamar memasuki dunia yang jauh lebih berbahaya. Di sana, sebagai murid baru di Sekte Gunung Jati dengan identitas palsu, ia harus menyelidiki konspirasi gelap di balik pembunuhan keluarganya, menghindari deteksi kerabatnya sendiri yang mungkin adalah dalangnya, dan membangun kekuatan dari nol di tanah di mana Dao Awakening-nya saja hampir tak berarti. Siapa sebenarnya "Tuan dari Atas" yang memasang segel itu? Dan bisakah Xu Hao membalas dendam tanpa mengungkapkan identitas aslinya yang akan membuatnya jadi buruan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YUKARO, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertemuan di Perbatasan Berdarah
Di dalam kamar nomor 303 Sarang Kelelawar Bening, Xu Hao duduk bersila di atas lantai batu yang dingin. Cahaya remang-remang dari kristal penerang di langit-langit menerangi wajahnya yang disamarkan, menampilkan kerutan-kerutan palsu dan tatapan lelah seorang pengembara yang babak belur. Namun di balik ketenangan luarnya, di dalam tubuhnya, sebuah pertempuran sengit untuk bertahan hidup sedang berlangsung.
Dia dengan hati-hati mengalirkan sisa-sisa energi merah tua Heaven Ascension-nya melalui meridian-meridian yang masih seperti jalan setapak setelah tanah longsor. Setiap siklus peredaran Qi terasa seperti menggerakkan pasir melalui pipa yang pecah, menyakitkan dan melelahkan. Tapi dia bertahan. Hukum Asal-nya bekerja tanpa henti, seperti seorang tukang ahli yang dengan sabar menyambung kembali setiap serat energi yang rusak, memperbaiki setiap retakan di inti Dao-nya.
Regenerasi alaminya, meski lambat, adalah hadiah yang tak ternilai. Dia bisa merasakan jaringan daging baru tumbuh, tulang-tulang yang menyambung dengan sedikit lebih kuat dari sebelumnya, dan luka-luka spiritual yang berangsur pulih.
"Tempat ini cukup aman," gumamnya dalam hati, matanya tetap tertutup. "Formasi penginapan ini bagus, tapi bukan tanpa cela."
Dengan sisa kekuatan dan pemahamannya tentang hukum dasar, dia secara diam-diam memperkuat formasi isolasi kamar itu. Dia menenun benang-benang halus Hukum Asal ke dalam struktur formasi yang sudah ada, menstabilkannya dan menambahkan lapisan penyamaran yang lebih dalam terhadap deteksi berbasis darah atau jiwa. Itu bukan pekerjaan yang sempurna, tapi cukup untuk membelokkan perhatian kecuali ada seseorang yang secara khusus memindai ruangan ini dengan sangat teliti.
Setelah yakin dengan pengamanan tambahannya, dia benar-benar tenggelam dalam meditasi. Dunia luar, suara kota pelabuhan yang ramai, teriakan para pedagang, deru ombak, semuanya mereda menjadi desisan putih yang jauh. Fokusnya hanya pada satu hal: pulih.
Di luar, di jalan-jalan Kota Pelabuhan Timur yang ramai, dua pria dengan pakaian sederhana namun aura yang sulit disembunyikan berjalan dengan tenang. Xu Feng, dengan postur tegap dan mata yang selalu mengamati, dan Xu Ding, yang lebih pendiam, dengan tatapan seperti elang yang memindai mangsanya.
Mereka telah berada di kota ini selama tiga hari. Tiga hari memeriksa penginapan demi penginapan, menyapu area dengan Cermin Pelacak Darah versi mini yang mereka bawa, sebuah piringan perunggu kecil yang akan bereaksi terhadap kemurnian darah Klan Xu dalam jarak tertentu.
"Tidak ada reaksi," kata Xu Feng, suaranya datar. "Dia bagus dalam menyembunyikan diri. Atau mungkin dia sudah meninggalkan kota ini."
Xu Ding menggeleng, matanya tertuju pada sebuah penginapan batu abu-abu di ujung jalan. "Sisa aura pertempuran terasa paling kuat di sekitar sini. Seperti ada energi tingkat langit yang teredam. Dia pasti dekat. Tapi ada gangguan. Sebuah formasi isolasi tingkat tinggi, atau... sesuatu yang lain."
Mereka mendekati Sarang Kelelawar Bening. Xu Feng mengeluarkan cermin kecil itu. Permukaannya beriak lembut, tapi tidak menunjukkan titik terang yang jelas. "Ada sesuatu... tapi sangat samar. Seperti tertutup kabut."
"Kita periksa penginapan ini," usul Xu Ding.
Mereka masuk. Wanita tua di konter menatap mereka tanpa ekspresi. "Kamar?"
"Kami mencari seseorang," kata Xu Feng, meletakkan sebutir kristal hukum tingkat tinggi di atas konter. "Seorang pria, terluka parah, datang sekitar tiga hari lalu. Mungkin menyamar."
Wanita tua itu melihat kristal itu, lalu menatap mereka. "Banyak orang terluka datang ke sini. Pelaut, pemburu monster, kultivator yang bertengkar. Aku tidak ingat wajah semua orang."
Xu Ding menempatkan tangannya di atas konter. Aura Heaven Ascension-nya yang ditekan bocor sedikit, cukup untuk membuat udara di ruangan kecil itu menjadi berat.
"Coba ingat-ingat lagi."
Wanita tua itu tidak terlihat takut. Dia hanya mengangkat alis. "Ancaman tidak akan membantumu di sini. Penginapan ini dilindungi oleh perjanjian dengan beberapa sekte. Tapi..." dia melihat kristal itu lagi, "...ada seorang pria paruh baya, Soul Transformation awal, terluka cukup parah. Dia memesan kamar terbaik selama sebulan. Kamar 303."
Xu Feng dan Xu Ding bertukar pandang. "303. Terima kasih." Xu Feng mengambil kristal itu dan memberikannya kepada wanita tua itu.
"Jangan membuat keributan. Formasi akan mencatat segalanya."
Mereka naik ke lantai tiga. Di depan pintu 303, mereka berhenti. Xu Feng mengangkat cermin pelacak. Kali ini, riak di permukaannya sedikit lebih jelas, tapi masih buram.
"Ada formasi isolasi yang kuat di sini," bisik Xu Ding. "Dan... ada rasa aneh. Seperti hukum dasar yang sangat murni."
"Haruskah kita menerobos?"
Xu Ding mempertimbangkan. "Jika dia benar-benar target kita, dan dia Heaven Ascension yang bisa melawan tribulasi langit, bahkan dalam keadaan terluka, dia berbahaya. Lebih baik kita tunggu. Pantau. Dia butuh waktu untuk pulih. Saat dia keluar, atau saat formasi ini melemah, kita tangkap."
Mereka memutuskan untuk menunggu. Mereka menyewa kamar di seberang koridor, kamar 304, dan mulai berjaga secara diam-diam.
Di dalam kamar 303, Xu Hao sama sekali tidak menyadari bahwa pemburunya hanya berjarak beberapa meter dan sebuah dinding. Meditasinya terlalu dalam, dan formasi yang dia perkuat dengan Hukum Asal berhasil menutupi keberadaannya dengan cukup baik dari pemindaian langsung. Tapi dia tidak lengah. Sebagian kecil kesadarannya selalu terjaga, memantau sekeliling.
Hari-hari berlalu dengan lambat. Xu Hao seperti kuncup bunga yang tertutup rapat, mengumpulkan kekuatan. Dia tidak makan, tidak minum, hanya mengandalkan energi dari kristal-kristal hukum yang dia serap secara perlahan dan dari regenerasi alaminya.
Di kamar 304, Xu Feng dan Xu Ding semakin tidak sabar.
"Sudah dua minggu," gerutu Xu Feng. "Tidak ada gerakan. Tidak ada kebocoran aura. Seolah-olah kamar itu kosong."
"Atau dia sedang dalam meditasi penyembuhan yang sangat dalam," kata Xu Ding. "Kesabaran. Dia akan muncul. Dan saat dia membuka formasi itu untuk keluar, kita serang."
Mereka terus menunggu, seperti kucing yang mengintai tikus di dalam lubang.
Tiga minggu telah berlalu sejak Xu Hao memasuki kamar itu. Kondisinya sudah jauh membaik. Meridian-meridiannya hampir pulih sepenuhnya, tulang-tulangnya menyatu dengan kekuatan baru, dan inti Dao-nya yang retak kini hanya meninggalkan bekas luka halus yang justru membuatnya lebih tangguh. Tingkat Heaven Ascension-nya, yang sebelumnya goyah, kini kokoh. Bahkan, melalui proses penyembuhan yang menyakitkan ini, pemahamannya terhadap Hukum Asal dan Dao Ruang semakin mendalam.
Dia membuka mata. Cahaya merah tua yang tenang berkilau di kedalaman pupilnya. Dia menggerakkan jari-jarinya, merasakan kekuatan yang mengalir lancar.
"Hampir," bisiknya. "Satu minggu lagi, fondasiku akan sepenuhnya stabil."
Tapi kemudian, nalurinya yang terasah oleh bertahun-tahun hidup dalam pelarian berteriak. Ada sesuatu yang tidak beres. Ada "rasa" asing di koridor. Aura yang ditekan, tapi berbahaya. Dan aura itu sudah berada di sana untuk waktu yang lama, menunggu.
"Pemburu," gumamnya, ekspresinya dingin. "Mereka menemukanku. Atau setidaknya mencurigai."
Dia tidak panik. Dia mengevaluasi situasi. Kondisinya sudah pulih sekitar delapan puluh persen. Cukup untuk melawan atau melarikan diri. Tapi dua Heaven Ascension tahap menengah dari Klan Xu pasti bukan lawan biasa. Bertarung di sini akan menarik perhatian dan mungkin mengundang lebih banyak musuh.
"Lebih baik menghindar," putusnya. "Tujuanku adalah selatan, ke wilayah Iblis. Bukan bertarung sia-sia di sini."
Dia merencanakan. Dia akan menggunakan pemahaman Dao Ruang-nya untuk keluar tanpa membuka pintu, langsung berpindah dari dalam kamar ke suatu tempat di luar kota. Tapi dia harus melakukannya dengan sangat halus agar tidak memicu formasi penginapan atau menarik perhatian para pemburu.
Dia membutuhkan waktu. Dan dia punya waktu satu minggu sebelum sewa kamarnya habis secara alami.
Minggu terakhir itu adalah ujian kesabaran baik bagi Xu Hao maupun bagi dua pemburunya. Xu Feng dan Xu Ding mulai ragu.
"Mungkin dia sudah pergi dengan cara lain," kata Xu Feng. "Atau mungkin dia mati di dalam."
"Formasi itu masih aktif," balas Xu Ding. "Dan aura yang samar itu masih ada. Dia masih di dalam."
Akhirnya, pada hari ketiga puluh, pagi-pagi sekali, Xu Hao merasa fondasinya benar-benar stabil. Waktunya telah tiba.
Dia berdiri, merasakan kekuatan Heaven Ascension-nya yang penuh untuk pertama kalinya sejak pertempuran melawan langit. Energi merah tuanya berputar mulus di dalam tubuhnya. Dia siap.
Dia tidak berkemas. Semua barang berharganya ada di dalam cincin penyimpanan. Dia hanya mengambil satu langkah ke tengah kamar, lalu memusatkan pikirannya pada pemahaman Dao Ruang-nya.
Di kamar 304, Xu Ding tiba-tiba membuka mata. "Ada gerakan! Energi ruang terkumpul di kamar itu!"
Mereka berdua melompat, langsung menuju pintu 303. Xu Feng mengangkat tangannya, bermaksud menghancurkan pintu dan formasi.
Tapi sebelum serangan mereka meluncur, di dalam kamar 303, Xu Hao telah menghilang.
Wush.
Hanya suara angin kecil. Dia telah berpindah, meninggalkan hanya udara kosong dan sisa-sisa energi ruang yang cepat memudar.
Xu Feng menghancurkan pintu. Kamar itu kosong. Tidak ada jejak, tidak ada petunjuk. Hanya udara yang sedikit bergetar.
"Dia lolos!" geram Xu Feng.
Xu Ding berjalan masuk, matanya menyapu ruangan. "Dia menggunakan perpindahan ruang tingkat tinggi. Sangat halus. Tidak merusak formasi. Arahnya..." dia merasakan sisa-sisa getaran, "...ke selatan. Jauh."
"Ke selatan? Wilayah Iblis?"
"Sepertinya iya." Xu Ding memandang ke arah jendela, ke arah selatan. "Lapor pada Yang Mulia. Target telah pulih, dan sedang menuju wilayah Iblis. Motivasi tidak diketahui. Tingkat bahaya... tinggi."
Mereka berdua segera meninggalkan penginapan, melesat ke langit untuk melapor, meninggalkan kota pelabuhan yang ramai di belakang.
Seratus li di selatan Kota Pelabuhan Timur, di atas sebuah bukit terpencil, ruang berkerut dan Xu Hao muncul. Dia berdiri di sana, memandang ke arah selatan, di mana daratan Dataran Tengah membentang luas, dan jauh di sana, ada wilayah konflik abadi dengan Klan Iblis.
Dia mengeluarkan pedang hitam sederhana dari cincin penyimpanannya. Pedang Tianxu. Dia menatapnya, lalu menatap ke arah utara, ke arah markas Klan Xu yang tak terlihat.
"Langit ingin memusnahkanku. Klan keluargaku sendiri ingin menangkap atau membunuhku," gumamnya, suaranya tenang namun penuh tekad baja. "Maka aku akan pergi ke tempat di mana aturan mereka tidak berlaku. Aku akan mengasah pedang ini dengan darah musuh-musuh ku. Dan suatu hari nanti, aku akan kembali. Bukan sebagai korban. Bukan sebagai buronan. Tapi sebagai badai yang akan menyapu bersih semua ketidakadilan dan pengkhianatan."
Xu Hao menyimpan kembali pedang itu, lalu melangkah. Langkah pertamanya membawanya sepuluh li ke selatan. Langkah keduanya, lima puluh li. Langkah ketiga, dia sudah menjadi titik kecil di cakrawala, menghilang menuju wilayah gelap dan berbahaya di selatan Dataran Tengah, tempat di mana Klan Iblis berkuasa, dan di mana darah akan menjadi mata uang bagi kekuatannya yang baru.
Sepuluh hari perjalanan dengan kecepatan sedang membawa Xu Hao melintasi lanskap Dataran Tengah yang berubah drastis. Wilayah subur dan padat penduduk berangsur berganti menjadi tanah tandus, lalu pegunungan batu yang ganas, dan akhirnya, daerah yang mulai dipenuhi oleh aura asing dan keras. Udara di sini terasa lebih berat, penuh dengan energi yang berbeda, campuran antara kegelapan, kekerasan, dan semacam keberanian liar.
Inilah perbatasan wilayah klan-klan selatan, tempat yang disebut-sebut sebagai wilayah "iblis" oleh mereka dari pusat Dataran Tengah.
Xu Hao melambat, mengamati sekeliling dengan mata waspada. Dia melewati beberapa desa kecil. Penduduknya terlihat seperti manusia biasa, tetapi ada sesuatu yang berbeda. Tatapan mata mereka lebih keras, lebih waspada. Beberapa memiliki bekas luka ritual di wajah atau lengan, beberapa memakai aksesori dari tulang atau gigi binatang. Mereka adalah kultivator jalur berbeda, yang oleh klan-klan pusat dicap sebagai "iblis". Tidak ada tanduk atau ciri monster. Mereka hanya orang-orang dengan jalan kultivasi yang berbeda, hidup di tanah yang keras.
Xu Hao, yang masih menyamar sebagai pria kurus berwajah biasa dengan aura Soul Transformation awal, tidak menarik perhatian khusus. Dia terus berjalan, mencari sebuah kota atau pos perbatasan di mana dia bisa mendapatkan informasi lebih lanjut tentang struktur kekuatan di wilayah ini.
Namun, jalannya tiba-tiba terhalang oleh perubahan lingkungan yang aneh. Dari tanah tandus yang panas, dia memasuki sebuah wilayah yang tiba-tiba dingin dan diselimuti kabut putih. Bukan salju, tapi semacam embun beku yang menyelimuti pepohonan dan tanah. Ini bukan fenomena alam biasa. Ini adalah manifestasi dari kekuatan seseorang, atau dari sebuah formasi pelindung wilayah.
Xu Hao berhenti, merasakan tekanan halus namun tak terbantahkan yang memenuhi udara. Ini adalah wilayah kekuasaan.
Dia memutuskan untuk berhati-hati dan berbalik, mencoba menghindari wilayah ini. Tapi sudah terlambat.
Whoosh.
Udara dingin tiba-tiba berubah menjadi hawa yang membekukan tulang. Di depan Xu Hao, sekitar lima puluh langkah jauhnya, kabut berputar dan berkumpul membentuk dua sosok.
Sosok pertama adalah seorang wanita. Dia mengenakan gaun hijau tua yang sederhana namun terlihat mahal, potongannya pas di tubuhnya yang ramping. Rambutnya hitam panjang, diikat longgar di punggung. Wajahnya cantik dengan fitur yang tajam, matanya berwarna coklat tua tapi memancarkan kilatan cahaya merah lemah. Yang paling menarik perhatian adalah aura di sekelilingnya. Itu samar, dalam, seperti jurang tak berdasar. Xu Hao tidak bisa menentukan tingkat kultivasinya. Itu jauh di atasnya. Jauh sekali di atas.
Di samping wanita itu, berdiri seorang pria dengan tubuh kekar seperti batu. Tingginya hampir dua meter, dengan otot-otot yang jelas di bawah baju kulit tebal. Wajahnya dipenuhi parut, dan dari dahinya tumbuh dua tonjolan kecil keras seperti tanduk banteng muda. Aura-nya jelas, Heaven Ascension tahap menengah, kasar dan penuh kekuatan fisik.
Pria kekar itulah yang berbicara pertama, suaranya berat dan berisi ancaman.
"Berhenti di situ."
Xu Hao berhenti. Dia tidak menunjukkan ketakutan, hanya kewaspadaan. Dia perlahan mendekat, menundukkan kepala sedikit sebagai tanda tidak berniat menantang.
Saat jarak mereka sekitar dua puluh langkah, wanita itu berbicara. Suaranya jernih, dingin, dan berwibawa.
"Kultivator asing. Jalurmu berbeda. Darahmu... terasa aneh. Apa yang kau cari di perbatasan wilayahku?"
Xu Hao menjawab dengan suara datar. "Yang Mulia, aku hanya seorang pengembara. Mencari tempat baru. Mendengar wilayah selatan lebih terbuka bagi mereka yang punya masa lalu rumit."
Wanita itu mengamatinya, matanya seperti menimbang. "Pengembara. Soul Transformation. Tapi ada bekas pertempuran besar di tubuhmu. Baru saja. Dan lukamu bukan luka biasa."
Xu Hao menjaga ekspresinya tetap netral. "Aku pernah terlibat masalah dengan beberapa orang dari klan besar di utara."
"Klan besar?" Wanita itu sedikit menyipitkan mata. "Klan mana?"
"Klan Xu," jawab Xu Hao langsung. Itu kebenaran yang bisa menjadi penguji.
Pria kekar di sampingnya mendengus keras, suaranya seperti banteng marah. "Klan Xu? Si tuan tanah sombong itu? Kau punya masalah dengan mereka?"
"Masalah besar," kata Xu Hao, menatap pria itu. "Mereka membunuh orang yang kuhormati. Aku ingin balas dendam."
Wanita itu terdiam sejenak, lalu bertanya lagi. "Dan kenapa datang ke sini? Kenapa tidak cari sekutu di antara klan-klan lain yang juga benci Klan Xu?"
"Karena di sini, katanya, perang adalah hal sehari-hari. Di sini aku bisa menjadi kuat dengan cepat. Dan di sini," Xu Hao menatap langsung ke mata wanita itu, "musuh Klan Xu adalah sekutuku."
Pria kekar itu tertawa pendek, kasar. "Dia bicara benar, Ratu. Tapi kita tidak butuh pengemis dendam dari luar. Banyak yang bilang begitu, tapi ternyata mata-mata."
Wanita yang disebut "Ratu" itu mengangkat tangan, dan pria kekar itu diam. "Kau bilang darahmu terasa aneh. Bukan darah biasa. Ada nuansa kuno. Darimana?"
Xu Hao berpikir cepat. Dia tidak bisa mengaku sebagai keturunan Klan Xu. Tapi dia juga tidak tahu kenapa wanita ini bisa merasakan keanehan darahnya. Mungkin karena kultivasi jalurnya yang berbeda, atau mungkin dia punya kemampuan khusus. "Aku tidak tahu. Mungkin karena teknik kultivasiku yang tidak biasa."
"Teknik apa?"
"Teknik yang kubuat sendiri," jawab Xu Hao, yang sebagian benar. Jalan kultivasinya memang unik, gabungan dari banyak warisan dan penderitaannya sendiri.
Ratu itu tampak tidak sepenuhnya percaya, tapi tidak mengejar. "Apa yang bisa kau tawarkan jika kami memberimu tempat di sini? Selain tenaga bertarung, yang banyak kami punya."
Xu Hao mempertimbangkan. "Pengalamanku bertarung melawan teknik-teknik klan besar," katanya. "Pengetahuan tentang cara berpikir mereka. Dan... aku punya kemampuan khusus dalam memahami ruang dan jarak."
Itu merujuk pada Dao Ruang-nya, yang di wariskan Wang Jue, namun ia tingkatkan sendiri melalui pengalaman di Domain iblis.
"Memahami ruang," ulang Ratu itu, sedikit tertarik. "Itu bisa berguna. Tapi kata-katamu masih harus dibuktikan."
Pria kekar itu menyela. "Ratu, biarkan aku uji dia. Kalau bisa bertahan tiga serangan dariku tanpa mati, mungkin dia layak kita pertimbangkan."
Ratu itu menggeleng. "Tidak perlu, Gorgo. Ada cara lain." Dia menatap Xu Hao. "Besok, di Benteng Batu Hitam di depan, akan ada serangan dari Sekte Pemurnian. Mereka sering mengganggu jalur kita. Ikutlah dalam pertahanan. Tunjukkan nilai nyata dari kata-katamu. Bunuh lima anggota inti mereka yang setara Soul Transformation atau lebih tinggi. Bawa bukti telinga atau cincin penyimpanan mereka. Lakukan itu, dan kita akan bicara lagi."
Itu ujian langsung, kejam, dan praktis.
Xu Hao mengangguk tanpa ragu. "Baik. Aku akan melakukannya."
Ratu itu sedikit terkejut dengan ketegasannya. "Kau tidak takut mati? Sekte Pemurnian punya teknik pemurnian yang bisa melukai jiwa."
"Lebih takut hidup tanpa tujuan," jawab Xu Hao.
Ratu itu akhirnya tersenyum tipis, senyuman yang tidak sampai ke matanya. "Bagus. Aku adalah salah satu dari empat pemimpin wilayah selatan. Namaku Du Yan. Wilayah kabut beku ini adalah wilayahku. Gorgo akan membawamu ke Benteng Batu Hitam dan memberi tahu detailnya. Ingat, kami tidak suka pengkhianat. Jika kau lari atau berkhianat, kabut di seluruh wilayah ini akan memburumu, dan akan kumasukkan ke dalam paru-parumu sampai kau mati beku dari dalam."
"Dimengerti," kata Xu Hao.
Du Yan mengangguk, lalu tubuhnya mulai memudar menjadi kabut, menghilang sepenuhnya beberapa saat kemudian.
Gorgo mendekati Xu Hao, menatapnya dari atas ke bawah. "Kau berani, aku suka itu. Tapi berani saja tidak cukup. Ikut aku. Jangan coba lari. Aku bisa mengejarmu dalam sepuluh napas."
Xu Hao hanya mengangguk, lalu mengikuti pria kekar itu keluar dari wilayah kabut beku, menuju ke sebuah benteng batu besar yang terlihat di kejauhan, di mana bau besi, keringat, dan darah sudah tercium bahkan dari jarak ini. Itu akan menjadi langkah pertamanya di dunia baru yang kejam ini, tempat di mana pedang Tianxu akan mulai merasakan darah pertama dari banyak darah yang akan ditumpahkannya.
up up up