Perayaan empat tahun pernikahan Laura, seorang pemimpin perusahaan muda dirayakan begitu meriah bersama suaminya yang juga yang juga temannya saat SMA. Hubungan mereka begitu harmonis, layaknya pasangan suami istri sempurna di mata publik yang melihatnya.
Namun, kebahagiaan itu seketika di rusak oleh sebuah pesan dari seseorang misterius yang seolah tak suka dengan pernikahannya.
Dia pun mencari tahu sendiri kebenarannya, dan menguak kenyataan yang lebih mencengangkan...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitri Widia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rasa Terpendam
"Dasar jalang, apa yang kau masukan dalam makananku?"
Dave mengamuk setelah pengaruh minuman yang Mona berikan menghilang. Dia yang masih sibuk merapikan pakaiannya, segera menjauhi Dave yang tersulut amarah.
"Dave, kenapa kau seperti ini? Aku hanya mau membuatmu puas dengan kegiatan ini. Hari-hari sebelumnya kau terlihat lesu."
"Aku bukan lesu, tapi aku menahan mual pada dirimu. Katakan, siapa ayah kandung Larissa? Pria mana saja yang sudah memasukkan benihnya ke dalam rahimmu itu, Mona?"
Teriakan Dave membuat gaduh rutan, para napi dan polisi yang berjaga pun kini tahu yang sedang terjadi pada pasangan suami istri itu.
"Aku, aku tak tahu Dave. Aku tak tahu! Yang jelas aku hanya mengingat semua kemesraan denganmu saja. Kau tahu aku sangat mencintaimu," ucap Mona bersikukuh untuk menarik hati Dave.
"Pergi, atau ku pukul wajah mesum mu itu jalang!"
Mona sontak terkejut mendengar kata kasar yang Dave lontarkan. Namun, dia yang sudah kalang kabut memilih untuk berlutut dan bertahan dengan pria di hadapannya.
"Pukul saja aku Dave, asalkan kau tak meninggalkan aku. Aku rela jika kau menjadikanku mainan mu saja," Mona yang pasrah sambil berlutut memegang kedua betis Dave. Air matanya membuat luntur eyeliner dan maskara yang dia pakai.
Penampilan Mona yang acak-acakan membuat Dave jijik. Namun perkataannya yang terakhir membuat pria itu berpikir untuk menjadikan Mona mainan pelampiasan amarahnya saja.
"Pergilah, besok kau datang dan berdandan secantik mungkin," titah Dave sambil mencengkeram dagu Mona.
Mona tertawa dan meninggalkan rutan dalam keadaan acak-acakan. Namun saat di mobil, tawanya berubah menjadi tangisan sekencang-kencangnya.
Laura kini membawa mobilnya menuju rumah sakit, diikuti oleh Randi yang ingin melihat keadaan Bram.
Sampailah mereka berdua di kamar VIP tempat Bram di rawat. Randi yang memiliki niat lebih dari sekedar menjenguk, kini berdiri di dekat Bram yang sedang membaca sebuah buku.
"Kak Bram, bagaimana sekarang keadaanmu?" Tanya Randi yang hanya di balas senyuman tipis oleh Bram.
"Aku sudah sedikit membaik. Tapi yang namanya kanker, bisa saja menyerangku kembali tanpa ampun."
"Jangan berkata seperti itu, Laura pasti sedih mendengarnya. Dia sudah melewati beberapa kesedihan dan penderitaan sebelumnya. Jangan menambah-nambah lagi," ucap Randi yang kini duduk di sofa dekat dengan Laura yang sedang memainkan laptopnya.
"Kau ternyata masih peduli padaku. Aku pikir setelah Laura dan Dave bercerai, kau akan memutus hubungan seperti kakakmu," ungkap Bram yang tak melihat gelagat aneh dari Randi. Namun Laura diam-diam menahan rasa kesal, karena tujuan Randi menemui Bram memiliki maksud lain.
"Sebenarnya, ada yang ingin ku bicarakan juga denganmu. Bram, kau semakin tua dan Laura pasti akan kesepian jika nantinya kau benar-benar pergi karena penyakit mu. Bagaimana jika aku menikahi putrimu? Aku akan membahagiakan dan setia pada Laura. Dan kau tahu, usahaku bahkan lebih sukses di banding semua kakakku."
Bram terhenyak mendengar perkataan Randi yang seolah menganggap putrinya piala bergilir bagi keluarga Kusuma. Tangannya mengepal kuat, ingin sekali memberikan pelajaran pada mulut enteng pria itu.
"Aku sudah punya calon suami, dan papa sudah menyetujui hubungan kami. Jadi Om Randi terlambat jika membicarakan hal itu sekarang," sanggah Laura yang membuat Randi kecewa.
"Siapa pria itu?"
"Andreas," jawab Laura dengan wajah meyakinkan.
***
Suara langkah kaki terdengar terburu-buru di bandara. Dengan wajah berseri, Andreas segera kembali ke Indonesia setelah menyelesaikan urusan pribadi lebih cepat dari perkiraan.
"Aku sangat merindukannya, tapi ponselku malah di copet dan aku lupa tak menyimpan kontaknya di email," gerutunya dalam pesawat yang bersiap take off. Ada rasa lega terpancar di wajahnya, namun tertanam rindu yang tak bisa dia ungkap dalam hatinya.
Sementara, wanita yang di rindukannya pun terlihat cemas. Satu minggu penuh, Andreas tak memberi kabar padanya bahkan tak membalas pesannya. Banyak yang harus dia bicarakan dengan Andreas mengenai pengakuan palsunya tentang pernikahan dengan Andreas.
"Kau sangat jahat jika hanya memintanya berpura-pura Laura. Kenapa kalian tidak benar-benar menikah saja. Dan kau mencoba membuka hati padanya," saran Bram yang terdengar masuk akal.
"Tapi pa, aku tak ingin membiarkan diriku jatuh lagi ke dalam lubang yang sama. Bisa saja Andreas adalah buaya yang lebih liar dari pada Dave."
"Tidak Laura, itu sama saja kau menuduhnya tanpa bukti. Wanita berpendidikan sepertimu, tak seharusnya berpikir seperti itu."
Laura menghela nafas panjang, mulai mengingat bagaimana sikap Andreas padanya selama bertahun-tahun. Tak ada yang berubah dari perhatiannya dan juga cara menyenangkan dirinya. Bahkan Andreas lebih tahu semua kesukaannya di banding Dave.
"Aku akan mempertimbangkannya. Jika aku benar-benar menikah dengannya, aku tetap tak bisa memberikan hatiku sepenuhnya."
"Laura, terkadang perasaan takut menutup kebaikan orang lain. Tapi bukan berarti kau tak memberikan kesempatan pada orang yang bertahun-tahun memberikan perhatian padamu. Sebagai pria, papa tahu jika Andreas sangat mencintaimu," ucap Bram yang memberikan saran pada putri semata wayangnya. Selama beberapa waktu dirinya mengawasi pergerakan Andreas, ternyata membuatnya tahu jika pria itu selalu ada untuk Laura.
Randi yang kecewa setelah pengakuan Laura yang akan menikah, menghabiskan malam dengan mengkonsumsi minuman keras. Dia yang sudah lama memendam rasa pada wanita yang lebih muda tujuh tahun darinya, merasakan patah hati yang kedua kali oleh orang yang sama.
"Kapan, kapan aku bisa memilikimu Laura? Dulu aku mengalah pada Dave, dan sekarang kau akan menikah dengan pria lain," racaunya yang terus memanggil nama Laura.
Terlintas bayangan wanita itu saat masih mengenakan seragam putih abu-abu. Dave, Laura dan Mona yang selalu datang ke rumah Elma untuk mengerjakan tugas sekolah bersama.
Randi yang baru pulang dari kantor, menatap Laura yang sedang mengerjakan tugasnya.
"Sepertinya tugas kalian belum selesai," sapanya yang tak ingin terlihat jutek di hadapan Laura.
"Kami kesulitan mengerjakan ini," jawab Dave sambil menunjukan tugas matematikanya.
"Hmm, ini sih mudah."
Randi menunjukan kepintarannya, membantu beberapa tugas yang di anggap sulit oleh mereka. Namun, diam-diam perhatiannya tertuju pada Laura yang sedang memperhatikan dirinya mengajarkan beberapa rumus yang Randi tahu.
"Kau sepertinya siswi teladan yang selalu memperhatikan setiap guru mengajar," puji Randi yang membuat Laura tersenyum.
"Sayang sekali jika sekolah mahal tapi aku tak memanfaatkannya dengan baik," jawab gadis itu yang membuat Randi kagum dan menjadi sering memperhatikannya. Tanpa sadar, rasa kagum itu berubah menjadi perasaan ingin memiliki.
"Kenapa? Kenapa aku tak bisa menghilangkan perasaanku padamu Laura?"
Suara ponsel berdering, dia pun melihat nama di layar itu dengan ekspresi jijik.
"Ada apa? Aku belum membutuhkanmu sekarang!"
"Jangan bilang kalau kau yang memberi tahu Dave jika Larissa bukanlah putri kandungnya!"
🤣🤣