🍂🍂🍂🍂🍂
Napas gadis itu hangat menyentuh lehernya. Bulu mata Yura tampak basah, alisnya berkerut seolah tengah menahan sesuatu bahkan dalam keadaan tidak sadar.
"Tolong…" suara Yura terdengar lirih, matanya tetap terpejam. "Siapa pun… tolong aku…"
Langkah Alexa terhenti.
"Aku sudah membuat masalah besar… aku malu… seharusnya aku tidak melakukan itu…" gumam Yura terputus-putus. "Sampai Pak Bos mengira dia menyukaiku… padahal itu akibat ajimat… aku salah meletakkannya."
Tubuh Alexa menegang.
🍃🍃🍃🍃🍃
Next.... 👉
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gledekzz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ketegangan yang tak bisa ditarik kembali.
...🍂🍂🍂🍂🍂🍂...
Hari ini benar-benar menguras tenaga.
Sejak pagi hingga matahari tenggelam, Alexa dan Yura hampir tidak memiliki waktu untuk duduk tenang.
Mereka tak pernah menyangka bahwa Yeshuki dan Ranim mengundang begitu banyak warga desa. Satu persatu datang, memberi ucapan, mengikuti rangkaian ritual, dan menyampaikan doa yang panjang.
Kini mereka berada di satu titik yang hanya ada dua cangkir teh kecil di hadapan mereka.
Alexa dan Yura duduk berhadapan dengan tetua desa yang duduk di sisi samping mereka mengucapkan kalimat-kalimat terakhir dengan suara pelan namun penuh makna.
Begitu ucapan itu selesai, tetua tersebut mengangguk singkat. Alexa dan Yura saling melirik tanpa berkata apa pun, keduanya mengangkat cangkir masing-masing dan langsung meminum isinya dalam satu tegukan.
Manis dan hangat, dan panasnya terasa cepat menyebar di dalam tubuh.
"Silakan kalian beristirahat. Kalian berdua pasti sangat lelah," ucap Ranim lembut, matanya menatap mereka dengan penuh perhatian.
Alexa sedikit menegakkan punggungnya. "Saya masih ingin ikut bergabung di sini, Pa," ucapnya jujur. "Tidak enak rasanya meninggalkan para tetua yang belum pulang."
Kalimat itu meluncur begitu saja dari mulutnya. Bahkan Alexa sendiri terkejut. Ia baru menyadari dalam hidupnya ia benar-benar merasa berada di tengah sebuah keluarga.
Ranim tersenyum kecil, lalu menepuk pelan tangan Alexa.
"Tidak perlu," katanya lembut. "Kalau kau tetap di sini, justru kau akan menderita saja."
Alexa mengerutkan kening. Ada banyak tanda tanya yang muncul di kepalanya.
Ranim kemudian menoleh ke arah Yura. "Lebih baik ajak Alexa ke kamar untuk beristirahat. Bukankah kau tadi bilang besok kalian akan kembali ke kota? Perjalanan kalian cukup jauh. Pekerjaan kalian pun pasti banyak."
Yura mengangguk pelan. Alasan itu memang ia buat sebelumnya.
Alexa menaikkan satu alisnya, menoleh ke arah Yura. Pandangannya seolah berkata banyak hal tanpa suara. Entah mengapa, Yura selalu saja mengganggu keputusannya, bahkan saat ia merasa nyaman.
Namun ia tidak membantah.
Mereka pun akhirnya berpamitan. Langkah keduanya pelan saat keluar dari ruangan. Begitu pintu terbuka, angin malam langsung menyambut.
Biasanya udara malam di tempat itu sangat sejuk, bahkan dingin. Namun malam ini berbeda.
Yura menghembuskan napas panjang. "Aneh," gumamnya. "Kenapa malam ini terasa panas sekali?"
Ia mengibas-ngibaskan pakaiannya, merasa pengap. Alexa pun merasakan hal yang sama. Kemeja yang ia kenakan terasa menempel di kulit.
"Mungkin hanya faktor cuaca," jawab Alexa singkat, meski ia sendiri merasakan ketidaknyamanan yang sama.
Yura menggeleng pelan. "Tidak mungkin. Sekarang sudah musim dingin. Seharusnya udara sedingin biasanya."
Alexa tidak menanggapi. Pandangannya tertuju ke dalam kamar saat mereka masuk. Di lantai terbentang tempat tidur beralas kain putih.
Terlihat tipis, namun tampak bersih dan rapi. Sekilas, alas itu terlihat cukup nyaman untuk meredam panas yang kini semakin terasa di tubuhnya.
Namun kening Alexa mengernyit.
"Kenapa Mama dan Papa menyiapkan tempat tidur seperti ini?" gerutu Yura pelan, menatap alas tidur itu.
Sebelum Yura melanjutkan keluhannya, suara Alexa terdengar.
"Alas ini cukup luas."
Yura sedikit terkejut.
"Aku tidak keberatan berbagi denganmu," lanjut Alexa, lalu tanpa ragu merebahkan tubuhnya dengan sikap rileks, meski napasnya mulai terasa lebih berat dari biasanya.
Yura terdiam sesaat. "Aku juga tidak keberatan," katanya kemudian. "Hanya saja… mungkin Anda kurang nyaman. Maaf."
Alexa terdiam masih dengan napasnya naik turun tidak beraturan, dadanya terasa hangat, bahkan panas.
"Sudahlah," ucapnya akhirnya, suaranya terdengar lebih rendah. "Jangan terus meminta maaf. Lebih baik kau tidur saja."
Yura mengangguk pelan. Ia pun mendekat dan merebahkan tubuhnya di samping Alexa, membelakangi. Punggung mereka tidak bersentuhan, namun jaraknya sangat dekat.
Panas itu tidak berkurang, justru semakin terasa.
Yura menelan ludah. Tubuhnya terasa aneh, seolah ada sesuatu yang menjalar perlahan, membuat dadanya sesak dan pikirannya tidak fokus. Alexa pun merasakan hal serupa, meski ia berusaha tetap diam.
Panas itu semakin menekan, membuat napas keduanya tidak lagi beraturan. Yura memejamkan mata, berusaha mengabaikan sensasi aneh yang menjalar dari dada hingga ke ujung jemari. Tubuhnya terasa ringan sekaligus berat, seolah tidak sepenuhnya miliknya sendiri.
Di belakang Alexa menggeliat pelan. Tangannya bergerak lebih cepat dari pikirannya, menyentuh punggung Yura tanpa benar-benar ia sadari.
Yura menegang seketika. Bahunya terangkat, napasnya tertahan. Ia berbalik perlahan, gerakannya kaku, seolah satu sentimeter tambahan saja cukup untuk meruntuhkan sesuatu yang masih berusaha ia pertahankan. Jarak di antara mereka menyempit, terlalu dekat untuk menghindar.
Mata mereka bertemu cukup lama untuk membuat dunia di sekitar seakan menghilang.
Napas Alexa terus memburu, dadanya naik turun semakin tidak beraturan. Panas yang sama menjalar ke tubuh Yura, membuat kepalanya terasa ringan dan pikirannya perlahan kabur.
Alexa bergerak dengan wajahnya langsung mendekat, dan bibirnya menyentuh bibir Yura begitu saja.
Sentuhan itu tidak terputus seketika, melainkan bertahan, menyeret keduanya ke dalam ritme yang pelan namun semakin dalam, seolah waktu ikut melambat bersama napas mereka yang semakin menggebu-gebu.
Tangan Alexa meraih leher Yura, menarik jarak hingga nyaris tak tersisa ruang di antara mereka, sementara tangan Yura tanpa sadar bertumpu di dada Alexa.
Tanpa Yura sadari, jemarinya telah bergerak perlahan, membuka kancing pakaian Alexa satu persatu.
Gerakannya tidak ada kata ragu, namun sempat terhenti di antara napas yang memburu. Ia tetap melanjutkan seolah tubuhnya memilih berjalan sendiri.
Helaian demi helaian terbuka, dan bersama itu, batas terakhir yang mereka coba pertahankan perlahan runtuh. Janji di awal terasa jauh, nyaris tak memiliki bobot, tenggelam di antara panas yang terus mendesak dan jarak yang kian lenyap.
Kedekatan itu benar-benar pecah, digantikan oleh dorongan naluriah yang tak sempat dicegah, tak sempat dipertanyakan. Segalanya terjadi terlalu cepat, terlalu dalam, hingga logika tak lagi punya ruang.
Namun sebelum semuanya melampaui titik lebih intim lagi, Alexa sempat menahan dirinya sesaat. Pandangannya tertuju pada Yura, ada keraguan yang singkat, seperti permintaan persetujuan yang tak terucap, tergantung di antara napas mereka yang saling bertabrakan.
Yura tak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya menarik Alexa mendekat, sebuah gerakan kecil namun pasti, yang meruntuhkan sisa keraguan itu sepenuhnya.
Hening kamar seketika terbelah oleh suara lirih, teriakan yang lolos tanpa bisa ditahan, lahir dari keterkejutan dan gejolak yang bercampur menjadi satu.
Suara itu menggema sesaat, lalu lenyap, menyisakan napas yang terengah dan tubuh-tubuh yang sepenuhnya tak lagi berada di bawah kendali.
Tanpa benar-benar mereka sadari, sesuatu yang tak pernah mereka rencanakan telah terjadi, berulang kali, menenggelamkan malam dalam ketegangan yang tak bisa ditarik kembali.
ku harap rose kena karma dr perbutany sdri.trus rendra jg bs kebka mata hatiy d sukur2 sadar d bs ninggalin rose.
km dilepeh ros km menyesal tlh bersikap kejam ma yura stlh tau kebenarany ...trus km mlh pindah haluan ke yura....siap2 aj km dislepet ma alexa🤭
jadi kangen si cipit😁😁😁😁
Semangat ya otor update nya 🔥💪🥰
Apa Rose punya kelainan yg menyimpang ... seperti menyukai sesama jenis 🤔🤔 kalau itu benar sungguh menjijikan dan Rendra akan benar-benar dapat kejutan yang besar dan akan menyesal sudah menolak Yura 😩 demi seorang Rose wanita jadi"an 😅😅