Di Pesantren Al-Ihsaniyyah, cinta, ilmu, dan takdir keluarga Ihsani bersatu. Warisan Abah Muzzamil diuji, pilihan Inayah mengubah segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blue_era, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mual Pagi, Khotmil Qur'an, dan Lindungan Suami
Keesokan harinya Ning Hana masih lemas ia tidak bisa kemana" dan sedari tadi pagi setelah subuh Ning Hana terus menerus mual, padahal hari ini juga sedang ada kegiatan tasmi' khotmil Qur'an bil ghoib di ndalem dan Ning Hana mendapat tugas sebagai penyimak atau panitia, juga ada uti akn tetapi kondisi Hana yg hamil dan masih trimester 1 dan mual" nya juga belum berhenti alhasil ia terlambat.
- (Keesokan harinya, Ning Hana masih merasa lemas. Mual-mual yang ia rasakan sejak pagi setelah subuh tak kunjung mereda. Padahal, hari ini ada acara tasmi' khotmil Qur'an bil ghoib di ndalem, dan Ning Hana bertugas sebagai penyimak sekaligus panitia. Selain Ning Hana, ada Uti yang juga bertugas dalam acara ini. Namun, karena kondisinya yang sedang hamil trimester pertama dan mual-mualnya yang belum berhenti, Ning Hana akhirnya terlambat.)
Gus Rasel selalu menjaga istrinya selama istrinya morning sickness dan saat istrinya kan mengikuti kegiatan pun awalnya dilarang tp ia juga tau kalau istrinya panitia, Hana juga tetep kekeuh karena kasihan uti sendirian dan juga akhirnya mas Rasel memperbolehkan asalkan mas Rasel juga ikut
- (Gus Rasel dengan setia menjaga istrinya selama masa morning sickness. Awalnya, ia melarang Ning Hana untuk mengikuti kegiatan tersebut karena khawatir dengan kondisinya. Namun, ia juga tahu bahwa Ning Hana adalah salah satu panitia dan merasa kasihan pada Uti jika harus bertugas sendirian. Akhirnya, Gus Rasel memperbolehkan Ning Hana untuk ikut serta, asalkan ia juga ikut mendampingi.)
- (Pagi itu, Ning Hana berusaha bangkit dari tempat tidurnya, namun rasa mual kembali menyerang.)
- Ning Hana (memegangi perutnya): "Aduh, Gusti... Mual banget."
- Gus Rasel (dengan khawatir): "Sayang, kamu nggak usah ikut acara itu ya? Nggak enak badan gini kok maksa."
- Ning Hana (dengan wajah memelas): "Tapi, Mas... Aku kan panitia. Kasihan Uti kalau sendirian."
- Gus Rasel: "Uti pasti ngerti kok kondisi kamu. Lagian, masih ada yang lain kan?"
- Ning Hana: "Tapi, Mas... Aku pengen bantu. Aku nggak enak kalau nggak ikut."
- Gus Rasel (menghela napas): "Yaudah, gini aja. Kamu boleh ikut, tapi aku ikut juga ya? Aku nggak mau kamu kenapa-kenapa."
- Ning Hana (tersenyum lega): "Beneran, Mas? Makasih ya, Sayang."
- (Beberapa saat kemudian, Ning Hana dan Gus Rasel tiba di tempat acara. Uti menyambut mereka dengan senyum.)
- Uti: "Alhamdulillah, Hana datang juga. Kirain nggak jadi ikut."
- Ning Hana (dengan wajah menyesal): "Maaf ya, Uti. Aku telat. Tadi mual banget."
- Uti: "Nggak apa-apa, Hana. Yang penting kamu udah dateng. Ada Rasel juga, jadi tenang deh."
- Gus Rasel (tersenyum): "Insya Allah, Uti. Saya jagain Ning Hana terus."
Saat menyimak setoran tasmi' beberapa pilihan juz para santri, Mas Rasel ikut menemani sang istri dan di tengah sela sela menyimak tasmi' nya tiba tiba ia kembali mual lagi sehingga ia harus pergi ke kamar mandi jadinya ia lari ke kamar mandi, disusul sang suami.
- (Ning Hana dengan khusyuk menyimak setoran tasmi' dari para santri yang memilih berbagai juz. Mas Rasel setia menemani istrinya di sampingnya.)
- (Di tengah-tengah khidmatnya acara, tiba-tiba rasa mual kembali menyerang Ning Hana. Ia merasa perutnya bergejolak dan segera beranjak dari tempat duduknya.)
- (Tanpa berkata apa-apa, Ning Hana berlari menuju kamar mandi. Gus Rasel, yang menyadari perubahan ekspresi istrinya, segera menyusulnya dengan khawatir.)
- (Ning Hana berusaha menahan rasa mualnya saat seorang santri melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur'an.)
- (Wajah Ning Hana tiba-tiba berubah pucat. Ia memegangi perutnya dan membungkuk sedikit.)
- (Mas Rasel, yang memperhatikan Ning Hana, mencondongkan tubuhnya ke arah sang istri.)
- Gus Rasel (berbisik): "Sayang, kamu kenapa? Nggak enak badan?"
- (Ning Hana menggelengkan kepalanya sebagai jawaban. Ia kemudian berdiri dan berlari keluar ruangan menuju kamar mandi.)
- (Gus Rasel dengan sigap mengikuti Ning Hana dari belakang.)
- (Gus Rasel menunggu di depan pintu kamar mandi dengan cemas. Ia mendengar suara Ning Hana yang sedang berusaha mengeluarkan isi perutnya.)
- Gus Rasel (mengetuk pintu): "Sayang, kamu nggak apa-apa? Butuh bantuan?"
- (Setelah beberapa saat, Ning Hana membuka pintu kamar mandi dengan wajah pucat dan mata berkaca-kaca.)
- Ning Hana (dengan suara lemah): "Mual banget, Mas..."
- Gus Rasel (dengan lembut): "Sini, Sayang. Aku bantu."
- (Gus Rasel memapah Ning Hana menuju wastafel dan membantunya membersihkan diri.)
- Gus Rasel (membasuh wajah Ning Hana dengan air): "Udah mendingan?"
- Ning Hana (mengangguk pelan): "Lumayan, Mas. Tapi masih lemas."
- Gus Rasel: "Yaudah, kita istirahat aja ya? Nggak usah ikut acara lagi."
- Ning Hana (dengan nada menyesal): "Tapi, Mas... Aku kan panitia. Nggak enak sama Uti."
- Gus Rasel: "Biar aku yang bilang sama Uti. Kamu lebih penting, Sayang."
- (Gus Rasel merangkul Ning Hana dan membawanya kembali ke ruangan tempat acara Tasmi' berlangsung.)
- (Saat tiba di ruangan, Gus Rasel menghampiri Uti dan menjelaskan kondisi Ning Hana.)
- Gus Rasel (dengan sopan): "Uti, maaf ya, Ning Hana nggak bisa lanjutin tugasnya. Dia lagi nggak enak badan. Mual-mualnya kambuh lagi."
- Uti (dengan pengertian): "Oh, ya Allah... Nggak apa-apa, Mas Rasel. Yang penting Ning Hana baik-baik saja. Biar saya yang handle semuanya."
- Gus Rasel: "Terima kasih banyak, Uti. Maaf sudah merepotkan."
- Uti: "Nggak kok, Mas. Justru saya yang khawatir sama Ning Hana. Tolong dijaga baik-baik ya, Mas."
- (Setelah berbicara dengan Uti, Gus Rasel membawa Ning Hana menuju ndalem untuk beristirahat.)