Mampukah janda muda menahan diri saat godaan datang dari pria yang paling tabu? Setelah kepergian suaminya, Ayana (26) berjuang membesarkan anaknya sendirian. Takdir membawanya bekerja di perusahaan milik keluarga suaminya. Di sana, pesona Arfan (38), paman direktur yang berkarisma, mulai menggoyahkan hatinya. Arfan, duda mapan dengan masa lalu kelam, melihat Ayana bukan hanya sebagai menantu mendiang kakaknya, melainkan wanita memikat yang membangkitkan gairah terpendam. Di antara tatapan curiga dan bisikan sumbang keluarga, mereka terjerat dalam tarik-ulur cinta terlarang. Bagaimana Ayana akan memilih antara kesetiaan pada masa lalu dan gairah yang tak terbendung, di tengah tuntutan etika yang menguji batas?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bangjoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 33: Pengkhianatan yang Menyelamatkan
Udara dingin merayapi kulit Ayana, seolah setiap hembusan membawa beban keputusan yang mematikan. Kata-kata Rio menggema, mencekiknya lebih dalam dari tali di tangannya. Antara menyelamatkan Arfan dengan mengkhianatinya, atau menyaksikan kehancuran pria yang ia cintai dan risiko masa depan anaknya.
Dosa mereka, ternyata memiliki harga yang jauh lebih mahal dari yang ia bayangkan. Matanya kembali menatap tablet, pada wajah Arfan yang tak berdaya. Pria itu, yang telah memberinya kebahagiaan terlarang, kini terperangkap dalam jebakan yang tak ia mengerti.
Sebuah pilihan yang kejam. Otaknya berputar cepat, mencari celah, jalan keluar. Tidak ada. Rio telah menutup semua pintu, membiarkan Ayana berdiri di bibir jurang tanpa pegangan.
Anakku… Bayangan senyum mungil Bima melintas. Masa depannya adalah prioritas utama. Bagaimana jika ia memilih Arfan, dan Rio benar-benar menghancurkan mereka? Arfan mungkin bisa bertahan, tapi Bima? Ia tidak akan sanggup melihat putranya menderita karena kesalahannya.
Sebuah air mata kembali menetes, membasahi pipinya yang dingin. Demi Bima. Demi Arfan. Ia harus mengambil risiko ini. Mengkhianati Arfan di depan, hanya untuk melindunginya dari belakang. Terdengar gila, tapi ini satu-satunya cara yang ia lihat.
Dengan gemetar, Ayana merogoh ponselnya, mencari nomor Rio. Setiap jari yang mengetik terasa berat, seperti sedang menuliskan takdirnya sendiri.
"Aku… setuju." Suaranya tercekat, nyaris tak terdengar. Namun, ia tahu Rio mendengarnya.
Di ujung sana, tawa Rio terdengar rendah, penuh kemenangan. "Pilihan yang cerdas, Ayana. Aku tahu kau tidak akan mengecewakanku."
"Apa yang kau inginkan?" Ayana bertanya, mencoba menguatkan diri. Ia harus tahu seberapa jauh ia harus melangkah dalam kegelapan ini.
"Datanglah ke kafe Matahari besok siang. Sendirian," perintah Rio, lalu sambungan terputus. Tanpa kesempatan untuk bertanya lebih lanjut.
Keesokan harinya, kafe Matahari terasa seperti arena gladiator pribadi bagi Ayana. Ia duduk di sudut, hatinya berdebar tak karuan. Rio datang tepat waktu, duduk di depannya dengan senyum sinis yang selalu ia kenakan.
"Jadi, sudah siap bekerja sama?" Rio menyesap kopinya, tatapannya menyapu Ayana dari ujung kepala hingga kaki, membuat wanita itu merinding.
"Apa yang kau inginkan dariku? Aku tidak akan melakukan sesuatu yang membahayakan Arfan," Ayana mencoba menegaskan batasannya, meskipun ia tahu ia tidak punya banyak pilihan.
Rio tertawa, kali ini lebih keras, menarik perhatian beberapa pengunjung. "Membahayakan Arfan? Justru kau akan menyelamatkannya, Ayana. Dari kebodohannya sendiri, dan dari kebohongan keluarganya."
Ayana mengerutkan kening. "Kebohongan apa?" Ia merasa ada sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar intrik bisnis biasa.
Rio mencondongkan tubuhnya, suaranya merendah, tapi kata-katanya menghantam Ayana seperti palu godam. "Arfan memiliki rahasia, Ayana. Sebuah rahasia keluarga yang busuk, yang sudah terkubur puluhan tahun. Dan aku… adalah bagian dari rahasia itu."
Ayana menahan napas. "Apa maksudmu?"
"Aku adalah kakak tirinya, Ayana," Rio berbisik, seringainya melebar, menikmati keterkejutan di wajah Ayana. "Anak haram dari ayah Arfan dengan wanita lain. Namaku seharusnya Rio Dirgantara. Tapi mereka membuangku, menghapus keberadaanku, demi menjaga nama baik keluarga dan garis keturunan 'resmi'."
Dunia Ayana seolah runtuh. Kakak tiri? Arfan tidak pernah bercerita apa pun tentang ini. Pantas saja keluarga Arfan begitu tertutup, begitu kaku. Ada duri dalam daging mereka, yang mereka coba sembunyikan rapat-rapat.
"Kau… kau serius?" Ayana nyaris tidak bisa bicara. Informasi ini terlalu besar, terlalu mengejutkan.
"Apa wajahku terlihat bercanda?" Rio mengeluarkan beberapa lembar dokumen lusuh dan beberapa foto lama dari tasnya. "Ini adalah akta kelahiran lamaku, surat nikah orang tuaku, dan beberapa bukti lain yang mereka coba bakar habis. Ibuku menyimpannya dengan nyawa."
Ayana meraih dokumen-dokumen itu dengan tangan gemetar. Akta kelahiran atas nama Rio Dirgantara, dengan nama ayah yang sama dengan ayah Arfan. Foto-foto seorang wanita muda dengan pria yang sangat mirip dengan Arfan di masa mudanya, memeluk seorang anak kecil yang tak lain adalah Rio. Semua tampak begitu nyata, begitu mengerikan.
"Mereka mengambil segalanya dariku, Ayana. Warisan, nama, status. Mereka biarkan aku hidup di jalanan sementara Arfan hidup dalam kemewahan. Sekarang, aku akan mengambil kembali apa yang seharusnya menjadi hakku." Mata Rio berkilat penuh dendam.
"Jadi, kau ingin… apa? Aku harus membantumu mengambil kembali warisanmu dari Arfan?" Pertanyaan itu terasa pahit di lidah Ayana. Ia akan menjadi pion dalam balas dendam yang begitu pribadi dan mendalam.
"Bukan hanya warisanku. Tapi juga kehormatan ibuku. Dan ya, kau akan membantuku. Aku butuh akses ke arsip lama perusahaan, ke beberapa dokumen keuangan, dan mungkin juga beberapa kode akses yang hanya diketahui orang dalam. Kau, sebagai janda mantan CEO, dan karyawan yang dipercaya, punya akses itu." Rio tersenyum, senyum predator yang sudah pasti melihat mangsanya terjebak.
Ayana menelan ludah. Ini jauh lebih besar, jauh lebih berbahaya dari yang ia bayangkan. Ia tidak hanya membantu Rio memeras, tapi terlibat dalam upaya perebutan kekuasaan yang bisa menghancurkan keluarga Dirgantara dari dalam. Dan Arfan, pria yang ia cintai, adalah targetnya.
"Bagaimana jika Arfan tahu?" Suara Ayana bergetar.
"Dia tidak akan tahu, jika kau melakukan ini dengan rapi. Dan jika dia tahu, itu berarti kau gagal melindunginya, dan kau tahu konsekuensinya." Rio menunjuk ke arahnya dengan jarinya. "Ingat, Ayana, Bima. Kau tidak ingin dia menderita, kan?"
Ancaman itu menusuk langsung ke jantung Ayana. Ia tidak punya pilihan. Ia harus melakukannya. Mengkhianati Arfan untuk menyelamatkannya dari musuh, yang tak lain adalah saudaranya sendiri.
Rio memberinya daftar dokumen dan informasi yang ia butuhkan. Tugas pertamanya adalah mencari laporan keuangan internal lima tahun terakhir dan arsip rapat dewan direksi yang berkaitan dengan aset luar negeri. Sebuah tugas yang akan langsung menempatkannya di jalur yang berbahaya, di bawah hidung Arfan sendiri.
Ayana kembali ke rumah dengan langkah gontai, otaknya dipenuhi informasi baru yang mengerikan. Ia masuk ke kamar Bima, memandangi putranya yang tertidur pulas. Rasa bersalah dan putus asa membanjiri dirinya. Ia telah berjanji untuk melindungi putranya, tapi harga perlindungan itu adalah mengkhianati pria yang ia cintai.
Ia merasa kotor, seperti telah menjual jiwanya. Bagaimana ia bisa menatap Arfan lagi? Bagaimana ia bisa berpura-pura mencintai pria itu, sementara ia diam-diam menikamnya dari belakang? Ini adalah neraka, sebuah jurang tanpa dasar yang ia gali sendiri. Tapi ia tidak bisa berhenti.
Keesokan paginya, dengan jantung berdebar kencang dan napas tertahan, Ayana melangkahkan kakinya ke kantor. Matahari pagi terasa sinis. Ia akan memulai pengkhianatan terbesarnya, sebuah misi berbahaya yang akan mengubah segalanya.
Langkahnya membawanya ke bagian arsip, tempat dokumen-dokumen lama tersimpan rapi. Tangannya gemetar saat menyentuh gagang pintu, seolah pintu itu adalah gerbang menuju takdirnya yang kelam. Di sana, tersembunyi di antara tumpukan kertas, adalah awal dari kehancuran atau penyelamatan yang mengerikan. Sebuah pilihan yang tidak bisa ia hindari.
"Baiklah, Ayana," bisiknya pada dirinya sendiri, seolah menguatkan seorang prajurit yang akan memasuki medan perang. "Ini demi Bima. Demi Arfan." Tetapi bisikan itu terdengar hampa, penuh keraguan. Apa yang ia lakukan ini adalah kebaikan atau justru dosa yang lebih besar?
Saat pintu arsip terbuka, kegelapan di dalamnya menyambutnya, seolah menelan dirinya bulat-bulat, siap memulai permainan berbahaya yang telah Rio rencanakan. Ayana tidak tahu bahwa di balik tugas pertamanya ini, ada mata lain yang diam-diam mengawasi setiap gerakannya. Mata yang bukan milik Rio, dan jauh lebih berbahaya.
Sebuah telepon berdering dari meja Arfan di rumah sakit. Vina mengangkatnya. Wajahnya menegang, lalu pandangannya beralih ke Ayana, yang baru saja keluar dari ruang arsip dengan raut wajah pucat dan berkeringat dingin.
"Ayana..." Vina berbisik pelan, matanya menyiratkan kecurigaan yang mendalam. "Ada yang terjadi dengan Arfan... dan aku pikir, ini ada hubungannya denganmu."
Benar2 membingungkan & bikin gw jd malas utk membaca novel ini lg
Jgn membingungkan pembaca yg berminat utk membaca novel ini