Manisnya Dosa Janda Penggoda: Terjerat Paman Direktur

Manisnya Dosa Janda Penggoda: Terjerat Paman Direktur

Bab 1 Aroma Kopi dan Sebuah Tatapan

Pagi itu, aroma kopi Arabika yang pahit tapi menggoda tak mampu sepenuhnya menyamarkan bau khas kantor: kertas, tinta, dan sedikit debu dari furnitur lama. Ayana menghela napas, jemarinya lincah menata tumpukan dokumen di mejanya. Jam dinding menunjukkan pukul 07.45. Lima belas menit lagi, kantor ini akan ramai seperti pasar. Ia selalu datang lebih awal, memastikan semuanya siap sebelum kekacauan harian dimulai.

Kantor Megah Jaya. Nama yang menyimpan terlalu banyak kenangan untuknya. Di sinilah ia bertemu Adnan, suaminya yang telah tiada dua tahun lalu. Di sinilah pula ia kini berjuang, mempertahankan posisinya sebagai asisten manajer pemasaran, demi satu-satunya alasan terpenting dalam hidupnya: Arsy, putri kecilnya yang berumur lima tahun.

Menjadi janda muda dengan satu anak di tengah keluarga Adnan, keluarga pemilik Megah Jaya, bukanlah perkara mudah. Setiap langkahnya terasa diawasi, setiap senyumnya ditafsirkan. Ada simpati, ya. Tapi lebih banyak lagi pandangan penuh rasa ingin tahu, bahkan kadang menghakimi. Seolah statusnya sebagai janda adalah sebuah aib, atau paling tidak, beban yang harus ditanggung orang lain.

"Ayana, sudah datang? Rajin sekali," suara melengking Vina, rekan kerjanya di departemen yang sama, memecah keheningan. Vina, dengan riasan tebal dan tas bermerek, selalu tampil sempurna. Mereka seumuran, tapi Vina sudah menikah dengan pengusaha kaya, hidupnya tampak jauh lebih santai. Ayana hanya memaksakan senyum tipis.

"Harus, Mbak Vina. Banyak kerjaan." Ia tak ingin basa-basi. Vina punya kebiasaan mengulik kehidupan pribadi Ayana, menyamar sebagai bentuk perhatian, padahal Ayana tahu itu sekadar gosip.

"Oh ya, kudengar Pak Arfan pulang dari luar negeri kemarin. Langsung masuk kantor hari ini. Sepertinya akan ada rapat direksi mendadak," Vina berbisik, matanya melirik ke arah pintu ruang direktur utama, yang kebetulan adalah kakak ipar Ayana, Harsa.

Arfan. Nama itu sontak membuat jantung Ayana berdesir tipis. Paman Adnan, paman Harsa. Adik bungsu mertuanya, Bapak Wijaya. Pria itu jarang sekali berada di Indonesia. Ia adalah Direktur Pemasaran Internasional, sosok karismatik yang selalu menjadi magnet di setiap pertemuan keluarga atau perusahaan. Usianya mungkin sudah kepala empat, tapi pesonanya justru kian matang. Ayana selalu berusaha menjaga jarak, merasa sungkan dan canggung berinteraksi dengannya.

"Mungkin saja," jawab Ayana singkat, pura-pura fokus pada layar komputernya. Ia merasakan tatapan Vina masih mengawasinya, seolah mencari reaksi yang tak ingin ia tunjukkan. Sial, kenapa harus pagi ini Arfan kembali?

Suara riuh di lobi mulai terdengar. Para karyawan satu per satu memasuki area kerja mereka. Telepon di meja Ayana berdering. "Ya, Bu Harsa?" Ia menjepit gagang telepon di antara telinga dan bahu, tangannya masih mengetik.

"Ayana, tolong siapkan data presentasi proyek London yang terakhir. Taruh di meja Pak Harsa. Lima belas menit lagi rapat," suara Ibu Harsa, istri Harsa, yang juga manajer senior di perusahaan, terdengar instruktif. Ayana mengangguk, padahal tak ada yang melihatnya.

"Baik, Bu." Ia segera beranjak, mencari folder proyek yang dimaksud. Saat ia melewati koridor menuju ruang direksi, langkahnya terhenti. Dari balik pintu kaca ruang rapat, ia melihatnya. Arfan. Pria itu berdiri di samping Harsa, mengenakan setelan jas abu-abu gelap yang pas di tubuh tegapnya. Rambutnya yang sedikit beruban di pelipis menambah kesan berwibawa, namun senyum tipis di bibirnya menyimpan kesan playboy yang belum hilang sepenuhnya.

Tatapan mereka bertemu. Hanya sepersekian detik, namun terasa seperti terperangkap dalam pusaran waktu yang melambat. Mata cokelat gelap Arfan menatapnya lurus, tidak kosong, tidak juga sekadar sapaan formal. Ada sesuatu di dalamnya, sesuatu yang terlalu dalam untuk diartikan. Sebuah kilatan yang membuat Ayana salah tingkah, bahkan merasa sedikit panas di pipinya.

Buruknya, Ayana tidak bisa langsung memutus kontak mata itu. Ada daya tarik aneh, seperti magnet tak kasat mata. Jantungnya berdebar, sedikit lebih cepat dari normal. Ia cepat-cepat mengalihkan pandangan, menunduk, dan mempercepat langkahnya, berpura-pura sangat sibuk.

Setibanya di meja Harsa, ia meletakkan folder dengan sedikit terburu-buru. Rasanya ingin segera kembali ke kubikelnya, jauh dari jangkauan tatapan yang barusan. Tapi belum sempat ia berbalik, pintu ruang rapat terbuka. Arfan keluar lebih dulu, disusul Harsa dan beberapa direksi lainnya.

"Ayana." Suara berat Arfan memanggil. Ayana menegang. Ia berbalik perlahan, berusaha memasang ekspresi profesional dan sopan. "Selamat pagi, Pak Arfan," sapanya, sedikit membungkuk.

Arfan mendekat. Aroma maskulin yang mewah dan elegan menyeruak, menguasai indra penciuman Ayana. Ia tak pernah se-dekat ini dengan Arfan sebelumnya. Pria itu memang sering hadir di acara keluarga, tapi Ayana selalu menjaga jarak, menyibukkan diri dengan Arsy atau membantu mertuanya. Kali ini, tak ada penghalang antara mereka.

"Sudah lama tidak bertemu. Kamu semakin cantik saja, Ayana," ucap Arfan, suaranya pelan, seolah hanya ditujukan untuk Ayana. Sebuah senyum tipis terukir di bibirnya, bukan senyum sopan biasa, melainkan senyum yang membuat otot-otot di pipi Ayana terasa menegang. Di belakang Arfan, Harsa dan yang lain sudah berlalu menuju ruang rapat utama.

Pujian itu, begitu tiba-tiba dan tak terduga. Membuat Ayana membeku di tempat. Ia merasa risih sekaligus anehnya, tersanjung. Hatinya berdesir lagi, kali ini lebih kuat, lebih menghangatkan dari yang seharusnya. Pujian itu terdengar begitu tulus, namun mengandung implikasi yang membuatnya waspada. Ini tidak benar. Dia adalah paman dari mendiang suaminya. Dia... keluarga.

"Terima kasih, Pak Arfan. Saya... saya permisi dulu." Ayana mencoba berbalik, jantungnya berdebar kencang. Ia harus pergi, harus segera menjauh.

Namun, Arfan meraih pergelangan tangannya, lembut namun tegas. Sentuhan itu menyetrum. Hangat, kuat, dan penuh kejutan. Ayana terkesiap, matanya membulat. Ia menatap Arfan, yang kini menatapnya dengan intensitas yang lebih dalam lagi. Senyumnya sedikit menghilang, digantikan ekspresi serius yang entah mengapa, terasa lebih berbahaya.

"Tunggu sebentar, Ayana." Suaranya rendah, nyaris berbisik. "Ada sesuatu yang ingin kubicarakan denganmu, setelah rapat ini. Berdua saja." Jemarinya membelai pelan kulit pergelangan tangan Ayana, sebuah sentuhan yang mengirimkan getaran tak karuan ke seluruh tubuhnya. Matanya memancarkan sesuatu yang bukan sekadar niat pekerjaan. Sesuatu yang terlarang, tapi terasa begitu... manis. Ayana mendapati dirinya tak mampu bergerak, terjebak dalam tatapan memabukkan itu, dan sentuhan yang baru saja melewati garis batas yang tak pernah ia sangka akan tergoyahkan.

Apa yang sebenarnya diinginkan Arfan? Dan kenapa Ayana merasa, jauh di lubuk hatinya, ada sebagian dirinya yang justru menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya?

Semoga Bab 1 ini memantik rasa penasaranmu akan kisah Ayana dan Paman Direktur yang misterius ini. Ikuti terus kelanjutannya!

Terpopuler

Comments

Lia Kiftia Usman

Lia Kiftia Usman

lanjut...
mau baca... penasaran karakter ayana selanjutnya

2026-01-17

0

panjul man09

panjul man09

lanjuut

2025-12-17

1

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 Aroma Kopi dan Sebuah Tatapan
2 BAB 2: Jejak Dosa yang Manis
3 BAB 3: Dosa yang Memabukkan
4 BAB 4: Malam Terlarang dalam Jeratan
5 BAB 5: Teror Mata Vina
6 Bab 6 : Jebakan Kota Kembang
7 BAB 7: Dalam Pusaran Terlarang
8 BAB 8: Sarapan Penuh Kecurigaan
9 BAB 9: Tawaran yang Tak Bisa Ditolak
10 BAB 10 : Jaring Labirin
11 BAB 11: Garis Batas yang Terkoyak
12 BAB 12: Ujian Batas di Lokasi Proyek
13 BAB 13: Jebakan Hasrat yang Membekas
14 BAB 14: Undangan Berdosa
15 BAB 15: Ciuman di Atas Jurang
16 BAB 16: Api Tak Terpadamkan
17 BAB 17: Kecupan Terlarang dan Jaringan Duri
18 BAB 18: Panggilan Darurat
19 BAB 19: Cacat Pernikahan: Fondasi yang Rapuh
20 BAB 20: Bayangan Sarah Miller
21 BAB 21: Bisikan Rahasia yang Mengguncang
22 BAB 22: Retakan di Dinding Rahasia
23 BAB 23: Dosa yang Terungkap
24 BAB 24: Jerat Dosa, Tangisan Darah
25 BAB 25: Retakan Kepercayaan
26 BAB 26: Dosa yang Mematikan
27 BAB 27: Kutukan Darah dan Kebohongan Arfan
28 BAB 28: Jebakan Tak Terelakkan
29 BAB 29: Terjebak dalam Jaring Rahasia
30 BAB 30: Darah di Atas Kebohongan
31 BAB 31: Kebangkitan dari Kubur
32 BAB 32: Bayangan Masa Lalu Berbicara
33 BAB 33: Pengkhianatan yang Menyelamatkan
34 BAB 34: Kebenaran di Balik Krisis
35 BAB 35: Kebenaran yang Menghancurkan
36 INFORMASI
37 BAB 36: Masa Lalu yang Menghantui
38 BAB 37: Rahasia Sang Istri
39 BAB 38: Ledakan Rahasia: Pondasi yang Runtuh
40 BAB 39: Rahasia Berdarah Sang Paman
41 BAB 40: Jebakan Malam yang Mematikan
42 BAB 42: Dini Hari Pilihan Terkutuk
43 BAB 43: Badai di Ujung Tanduk
44 BAB 44: Pukulan Telak Pengkhianatan
45 BAB 45: Harga Sebuah Kebenaran
46 BAB 46: Terjerat Jebakan Vina
47 BAB 47: Jerat Tak Terhindarkan
48 BAB 48: Permainan Berdarah
49 BAB 49: Dosa yang Memakan Diri
50 BAB 50: Dosa Terbayar, Cinta Memilih Jalan
Episodes

Updated 50 Episodes

1
Bab 1 Aroma Kopi dan Sebuah Tatapan
2
BAB 2: Jejak Dosa yang Manis
3
BAB 3: Dosa yang Memabukkan
4
BAB 4: Malam Terlarang dalam Jeratan
5
BAB 5: Teror Mata Vina
6
Bab 6 : Jebakan Kota Kembang
7
BAB 7: Dalam Pusaran Terlarang
8
BAB 8: Sarapan Penuh Kecurigaan
9
BAB 9: Tawaran yang Tak Bisa Ditolak
10
BAB 10 : Jaring Labirin
11
BAB 11: Garis Batas yang Terkoyak
12
BAB 12: Ujian Batas di Lokasi Proyek
13
BAB 13: Jebakan Hasrat yang Membekas
14
BAB 14: Undangan Berdosa
15
BAB 15: Ciuman di Atas Jurang
16
BAB 16: Api Tak Terpadamkan
17
BAB 17: Kecupan Terlarang dan Jaringan Duri
18
BAB 18: Panggilan Darurat
19
BAB 19: Cacat Pernikahan: Fondasi yang Rapuh
20
BAB 20: Bayangan Sarah Miller
21
BAB 21: Bisikan Rahasia yang Mengguncang
22
BAB 22: Retakan di Dinding Rahasia
23
BAB 23: Dosa yang Terungkap
24
BAB 24: Jerat Dosa, Tangisan Darah
25
BAB 25: Retakan Kepercayaan
26
BAB 26: Dosa yang Mematikan
27
BAB 27: Kutukan Darah dan Kebohongan Arfan
28
BAB 28: Jebakan Tak Terelakkan
29
BAB 29: Terjebak dalam Jaring Rahasia
30
BAB 30: Darah di Atas Kebohongan
31
BAB 31: Kebangkitan dari Kubur
32
BAB 32: Bayangan Masa Lalu Berbicara
33
BAB 33: Pengkhianatan yang Menyelamatkan
34
BAB 34: Kebenaran di Balik Krisis
35
BAB 35: Kebenaran yang Menghancurkan
36
INFORMASI
37
BAB 36: Masa Lalu yang Menghantui
38
BAB 37: Rahasia Sang Istri
39
BAB 38: Ledakan Rahasia: Pondasi yang Runtuh
40
BAB 39: Rahasia Berdarah Sang Paman
41
BAB 40: Jebakan Malam yang Mematikan
42
BAB 42: Dini Hari Pilihan Terkutuk
43
BAB 43: Badai di Ujung Tanduk
44
BAB 44: Pukulan Telak Pengkhianatan
45
BAB 45: Harga Sebuah Kebenaran
46
BAB 46: Terjerat Jebakan Vina
47
BAB 47: Jerat Tak Terhindarkan
48
BAB 48: Permainan Berdarah
49
BAB 49: Dosa yang Memakan Diri
50
BAB 50: Dosa Terbayar, Cinta Memilih Jalan

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!