NovelToon NovelToon
BALAS DENDAM SANG IBLIS SURGAWI

BALAS DENDAM SANG IBLIS SURGAWI

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Transmigrasi / Fantasi Timur / Bullying dan Balas Dendam
Popularitas:10.9k
Nilai: 5
Nama Author: Zen Feng

Guang Lian, jenius fraksi ortodoks, dikhianati keluarganya sendiri dan dibunuh sebelum mencapai puncaknya. Di tempat lain, Mo Long hidup sebagai “sampah klan”—dirundung, dipukul, dan diperlakukan seperti tak bernilai. Saat keduanya kehilangan hidup… nasib menyatukan mereka. Arwah Guang Lian bangkit dalam tubuh Mo Long, memadukan kecerdasan iblis dan luka batin yang tak terhitung. Dari dua tragedi, lahirlah satu sosok: Iblis Surgawi—makhluk yang tak lagi mengenal belas kasihan. Dengan tiga inti kekuatan langka dan tekad membalas semua yang telah merampas hidupnya, ia akan menulis kembali Jianghu dengan darah pengkhianat. Mereka menghancurkan dua kehidupan. Kini satu iblis akan membalas semuanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zen Feng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 33: HUJAN, KENANGAN DAN PENGKHIANATAN

Kota Kageyu tenggelam dalam tangisan langit.

Hujan turun deras, menghantam atap-atap genteng dengan suara gemuruh yang tak putus-putus. Air meluap di selokan batu, mengubah jalanan menjadi sungai kecil yang keruh.

Di tengah badai itu, sesosok gadis berdiri menggigil di bawah emperan sebuah kedai mi ramen tua.

Rambut hitam panjangnya basah kuyup, menempel di pipi pucatnya yang seputih pualam. Kimono birunya yang sederhana melekat ketat pada tubuhnya, memperlihatkan siluet ramping yang rapuh namun memikat. Ia memeluk dirinya sendiri, menatap cahaya hangat dari dalam kedai dengan tatapan ragu.

Apakah ia pantas masuk?

Akhirnya, rasa dingin mengalahkan keraguannya. Ia mendorong pintu geser itu.

Kring. Lonceng kecil berbunyi.

"Selamat datang!"

Sato, pemilik kedai paruh baya dengan ikat kepala putih, menyapa ramah dari balik uap panci kaldu. Matanya menyipit iba saat melihat kondisi tamu barunya. "Astaga, Nona! Kau basah kuyup seperti kucing kehujanan. Masuklah, duduk di dekat tungku!"

Gadis itu tersenyum tipis—senyum yang sopan namun menyiratkan kelelahan mendalam. "Terima kasih, Paman."

Ia berjalan pelan ke meja paling pojok, berusaha tidak menarik perhatian. Tangannya yang gemetar mengeluarkan kantong uang kecil, menghitung koin tembaga dengan cermat sebelum memesan.

"Satu mangkuk ramen polos... tolong," suaranya lirih, nyaris tertelan suara hujan.

Sato mengangguk sambil menyiapkan mi. Namun mata tuanya yang tajam menangkap sesuatu. Cara gadis itu duduk yang waspada, bahunya yang tegang, dan tatapan matanya yang terus melirik ke pintu.

'Gadis ini... sedang melarikan diri dari sesuatu yang menakutkan,' batin Sato.

BRAK!

Pintu kedai terbanting terbuka. Angin dan hujan menyembur masuk.

Dua sosok pemuda melangkah masuk diiringi tawa renyah yang mendominasi ruangan. Pakaian latihan mereka sobek di sana-sini, wajah mereka lebam, namun aura mereka memancarkan kebanggaan.

"PAMAN SATO!"

Pemuda yang lebih muda berteriak antusias. Tubuhnya tinggi tegap, matanya tajam namun jenaka. Itu adalah Mo Han—saat berusia dua puluh tahun.

"Seperti biasa! Dua mangkuk jumbo dengan daging ekstra! Kami kelaparan!"

Di sebelahnya, pemuda yang sedikit lebih tua tersenyum lebih tenang, namun matanya memancarkan wibawa. Mo Fu, sang kakak.

"Maafkan keributan adikku, Paman," ujar Mo Fu sambil mengibas air dari rambutnya. "Kami baru saja merayakan kelulusan dari Akademi Kultus Iblis."

Sato tertawa, meletakkan dua mangkuk besar di meja tengah. "Luka-luka itu... perayaan juga?"

"Ini medali kehormatan!" Mo Han menepuk dada bangga. "Aku baru saja menghajar tiga senior sekaligus di ujian akhir!"

"Karena aku yang melatihmu, Bodoh," sahut Mo Fu sambil mengacak rambut adiknya. Tatapannya penuh kasih sayang. "Kau adikku yang paling membanggakan."

Mo Han menyeringai lebar. "Dan kau adalah kakak terbaik di dunia! Suatu hari nanti, saat kau jadi Ketua Klan, aku akan menjadi panglima perangmu!"

Mereka tertawa bersama. Tawa yang murni, hangat, dan penuh ikatan persaudaraan yang seolah tak terputuskan.

Hingga kemudian... mata Mo Han tak sengaja melirik ke pojok ruangan.

Tawanya berhenti mendadak.

Waktu seakan membeku.

Di sana, di bawah remang lampu pojok, gadis itu sedang meniup kuah ramennya. Uap panas mengepul, membingkai wajah cantiknya yang basah. Bulu matanya lentik, bibirnya merah alami, dan ada kesedihan mendalam di matanya yang hitam pekat.

Mo Han terpaku. Jantungnya, yang tadi berdetak karena adrenalin pertarungan, kini berdetak karena alasan yang sama sekali berbeda.

'Cantik...' batinnya. Bukan cantik biasa, tapi kecantikan yang membius.

Mo Fu menyadari kebisuan adiknya. Ia mengikuti arah pandang Mo Han.

Dan saat itu juga, senyum di wajah Mo Fu pun lenyap. Ia terpana.

Merasa diperhatikan, gadis itu menoleh.

Sepasang mata hitam jernih bertemu dengan dua pasang mata pemuda Klan Mo.

Detik itu, takdir telah diputuskan.

SRAK!

Mo Han dan Mo Fu serentak membuang muka, wajah mereka memerah padam. Mo Han pura-pura tersedak mi, sementara Mo Fu sibuk meminum tehnya yang masih panas.

Sato terkekeh dari balik meja kasir. "Hahaha! Dua Tuan Muda Naga Bayangan akhirnya takluk oleh satu tatapan wanita!"

Malam itu, di perjalanan pulang. Hujan telah reda, menyisakan genangan air yang memantulkan bulan.

Mo Fu merangkul bahu adiknya. Rangkulannya erat, sedikit terlalu erat.

"Lupakan dia, Han," bisik Mo Fu tiba-tiba. Suaranya datar, tanpa nada bercanda.

Mo Han menoleh kaget. "Eh? Apa maksud Kakak?"

"Gadis itu... matanya membawa masalah," ujar Mo Fu, menatap lurus ke depan. "Lagipula, kau lupa? Ayah sedang mengatur perjodohan kita dengan putri-putri Ketua Klan Gu. Klan Racun terbesar."

Mo Han menunduk, semangatnya surut. "Perjodohan politik lagi..."

"Ini demi klan. Kita tidak punya pilihan." Mo Fu menatap adiknya tajam. "Tujuh hari lagi kau berangkat ke Ibu Kota untuk pelantikan Pasukan Iblis. Fokuslah pada karirmu. Jangan biarkan wanita asing mengganggu jalanmu."

Mo Han terkekeh hambar. "Aku tahu. Lagipula, mana mungkin gadis secantik itu mau dengan pria kasar sepertiku."

"Bagus kalau kau sadar."

Mo Fu melepaskan rangkulannya. Namun di balik kegelapan malam, ada kilatan aneh di mata sang kakak. Sesuatu yang posesif.

Namun, hati muda tidak bisa dilarang.

Tujuh hari tersisa.

Setiap sore, sepulang latihan, Mo Han diam-diam mampir ke kedai Sato.

Hari pertama:

Ia hanya duduk, memesan teh, dan mencuri pandang. Gadis itu kini bekerja sebagai pelayan. Setiap kali gadis itu lewat, aroma bunga melati yang lembut tertinggal di udara, membuat kepala Mo Han pening karena mabuk kepayang.

Hari kedua:

Keberanian terkumpul.

"Siapa namamu?" tanya Mo Han kaku.

"Ryuka," jawab gadis itu singkat. Senyumnya tipis, namun sopan.

"Ryuka... nama yang indah."

Hari ketiga:

Percakapan mulai mengalir. Mo Han yang ceria berhasil membuat Ryuka tertawa. Tawa gadis itu seperti lonceng angin—renyah dan menenangkan. Ryuka bercerita sedikit tentang asalnya dari ibu kota, tentang keinginannya hidup tenang. Mo Han bercerita tentang impiannya menjadi pendekar hebat.

Hari keempat:

Mo Han datang dengan tangan kanan diperban tebal. Tulang jarinya retak akibat latihan 'Teknik Manifestasi Qi' yang berlebihan.

"Astaga! Apa yang kau lakukan pada tanganmu?!" Ryuka panik. Wajah dinginnya runtuh, digantikan kecemasan tulus.

"Hanya... latihan kecil," Mo Han menyeringai menahan sakit.

"Dasar bodoh!" omel Ryuka. Ia menarik tangan Mo Han, membawanya duduk.

Gadis itu mengeluarkan botol kecil berisi salep hijau. Dengan telaten, jari-jarinya yang halus melepas perban dan mengoleskan obat itu ke kulit Mo Han yang lebam.

Sentuhan itu... dingin karena obat, namun membakar hati Mo Han. Ia menatap wajah Ryuka yang begitu dekat, begitu serius merawat lukanya.

'Aku mencintainya,' batin Mo Han saat itu. 'Aku benar-benar mencintainya.'

Namun, Mo Han tidak tahu satu hal.

Di luar jendela kedai, di balik bayangan pohon ginkgo, sepasang mata menatap mereka.

Mo Fu.

Ia melihat semuanya. Ia melihat tawa Ryuka untuk adiknya. Ia melihat sentuhan lembut itu.

Rahang Mo Fu mengeras. Tangannya meremas gagang pedang hingga buku jarinya memutih. Rasa iri yang gelap dan pekat merayap di hatinya, membisikkan racun.

'Kenapa selalu kau, Han? Bakat... perhatian Ayah... dan sekarang wanita ini?'

Mo Fu berbalik, pergi tanpa suara, membawa awan mendung di wajahnya.

Malam sebelum keberangkatan.

Mo Han nekat. Ia menyelinap keluar dari kamarnya saat fajar belum menyingsing. Ia harus bertemu Ryuka. Ia harus mengatakan perasaannya sebelum pergi bertugas selama dua tahun.

Ia tiba di depan kedai Sato yang masih tutup. Mengetuk pelan.

Ryuka membuka pintu, matanya melebar kaget. "Mo Han? Ini masih gelap..."

"Aku akan berangkat ke Ibu Kota hari ini," potong Mo Han cepat, napasnya memburu. "Aku... aku datang untuk pamit."

Hening sejenak. Mata Ryuka meredup. "Oh... begitu. Selamat jalan. Jadilah pendekar yang hebat."

Gadis itu berbalik, mengambil sesuatu dari meja. Botol salep hijau miliknya.

"Bawalah ini. Jangan sampai tanganmu patah lagi di sana."

Mo Han menggenggam botol itu. Hangat bekas tangan Ryuka masih terasa.

"Ryuka..."

"Ya?"

Mo Han menatap mata indah itu. Kata-kata "Aku mencintaimu" sudah di ujung lidah. "Tunggu aku" ingin ia teriakkan.

Tapi bayangan wajah ayahnya yang galak, dan peringatan Mo Fu tentang Klan Gu, menahan lidahnya.

Jika ia melamar Ryuka sekarang, ayahnya pasti akan membunuh gadis ini karena dianggap penghalang. Ia harus kuat dulu. Ia harus punya kuasa untuk menolak perjodohan itu.

"Jaga dirimu baik-baik," ucap Mo Han akhirnya, suaranya parau menahan rasa. "Tunggu aku kembali... di kedai ini."

Ryuka tersenyum lembut, seolah mengerti apa yang tak terucap. "Aku akan menunggu."

Mo Han berbalik dan melesat pergi dengan Qinggong, meninggalkan hatinya di kedai itu. Ia tidak tahu, itu adalah keputusan paling bodoh dalam hidupnya.

19 BULAN KEMUDIAN.

Hutan Perbatasan.

Mo Han duduk di atas batu, mengoleskan sisa terakhir salep hijau ke lengannya yang tergores pedang bandit. Botol itu sudah kosong, tapi ia masih menyimpannya seperti jimat.

"Tanganmu kenapa lagi?" tanya Gu Hao, rekan satu timnya. "Kau maniak latihan."

Mo Han tersenyum, menatap botol kosong itu. "Aku... rindu rumah."

'Aku rindu Ryuka,' bisik hatinya.

Misi selesai lebih cepat. Ia punya sisa waktu cuti. Tanpa pikir panjang, Mo Han memutuskan pulang diam-diam.

Selama 19 bulan, bayangan Ryuka menjadi bahan bakarnya. Ia berlatih gila-gilaan, naik pangkat dengan cepat, semua demi memiliki kekuatan untuk menentang ayahnya dan menikahi Ryuka.

'Aku pulang, Ryuka. Kali ini, aku tidak akan diam lagi.'

Mo Han memacu kecepatannya, menembus hujan badai yang mengguyur perjalanan pulang.

Kota Kageyu, Sore Hari.

Hujan turun deras, sama seperti hari pertemuan pertama mereka. Seakan alam sedang mengulang siklus takdir.

Mo Han berlari di atas atap rumah penduduk, jantungnya berdegup kencang antara rindu dan gugup.

Kedai Sato terlihat di depan. Lampunya menyala hangat.

Mo Han melompat turun ke gang di seberang kedai, berniat memberi kejutan. Ia merapikan rambutnya yang basah, menyiapkan senyum terbaiknya.

Namun, senyum itu beku seketika.

Di depan pintu kedai, di bawah naungan atap teras, berdiri dua orang.

Satu adalah Ryuka. Lebih cantik dari yang ia ingat.

Dan satunya lagi... adalah Mo Fu. Kakaknya.

Mo Han mundur selangkah, bersembunyi di balik tembok. Napasnya tercekat.

Mereka terlihat... akrab. Terlalu akrab. Mo Fu sedang memegang payung, melindungi Ryuka dari cipratan air. Mereka tertawa kecil.

Dan kemudian, dunia Mo Han runtuh.

Tangan Mo Fu terulur, membelai pipi Ryuka dengan kelembutan yang menyakitkan untuk dilihat.

Ryuka tidak menepis. Ia justru memejamkan mata, menikmati sentuhan itu.

Mo Fu menunduk perlahan. Dan menciumnya.

Bukan ciuman paksaan. Itu ciuman penuh gairah yang disambut hangat. Tangan Ryuka melingkar di pinggang Mo Fu, memeluknya erat.

JDAAR!

Petir menyambar di langit, tapi gemuruh di dada Mo Han jauh lebih keras.

Lututnya lemas. Ia bersandar pada tembok dingin yang kasar.

Pengkhianatan.

Rasa itu dingin, tajam, dan merobek jantungnya tanpa ampun. Kakaknya sendiri. Kakak yang menyuruhnya melupakan Ryuka demi klan. Kakak yang berjanji akan fokus menjadi pewaris.

Air mata bercampur air hujan mengalir di wajah Mo Han.

Ia ingin berteriak. Ia ingin menerjang ke sana dan memukul wajah munafik kakaknya. Tapi kakinya terpaku. Rasa sakit itu melumpuhkannya.

Ciuman itu berakhir. Mo Fu tersenyum—senyum kemenangan yang belum pernah Mo Han lihat sebelumnya.

Mo Han tidak sanggup melihat lebih lama.

Dengan hati hancur lebur, ia berbalik. Mengerahkan Qinggong, ia melesat pergi menembus hujan, meninggalkan kepingan hatinya yang berserakan di depan kedai itu.

Di teras kedai.

Mo Fu tiba-tiba menoleh ke arah gang gelap di seberang jalan.

"Ada apa?" tanya Ryuka lembut.

"Seperti... ada seseorang," gumam Mo Fu. Matanya menyipit, menatap sisa jejak aura yang familiar.

"Mungkin hanya kucing liar," Ryuka tersenyum, merapikan kerah hanfu Mo Fu.

Mo Fu menatap Ryuka, lalu tersenyum tipis. "Ya. Mungkin hanya kucing yang tersesat dan sadar dia tidak punya tempat di sini."

Ia membuka payungnya. "Aku harus kembali ke klan. Ayah menunggu."

Ryuka mengangguk. Ia menatap punggung Mo Fu yang menjauh menembus hujan.

Perlahan, senyum manis di wajah Ryuka memudar.

Digantikan oleh ekspresi datar yang dingin. Matanya yang tadi penuh cinta, kini berkilat penuh perhitungan misterius.

"Rencana berjalan lancar," bisiknya pada angin hujan.

Di Tengah Hutan.

Mo Han jatuh berlutut di lumpur. Ia meraung.

"ARGGHHHHH!!"

Teriakannya kalah oleh suara guntur. Ia memukul tanah basah hingga tangannya berdarah. Botol salep hijau di sakunya terjatuh, menggelinding di lumpur.

Ia menatap botol itu. Kenangan manis itu kini terasa seperti racun.

Matanya yang dulu jenaka dan penuh semangat, kini perlahan meredup. Cahaya di dalamnya mati, digantikan oleh kegelapan yang dingin.

"Kakak..." desisnya, suaranya penuh kebencian yang baru lahir. "Kenapa...?"

Malam itu, di bawah hujan yang tak berkesudahan, Mo Han yang polos telah mati. Dan benih dendam yang akan menghancurkan kakaknya di masa depan, mulai berakar.

1
Dina Li
Mantab mo feng nerima ganjarannya
Abil Amar
bukan hot tp soplakkkk krna g up psti ujung2ny berhenti alias g dlnjutkan
Zen Feng: Sabae broo pasti lanjut kok, ini lagi sibuk kerjaan aja 😌
total 1 replies
AELION
saran bang zeng , ini lebih keren lagi kalau kata menjerit di rubah jadi meraung bang 👍. Meraung itu untuk amarah yg menggebu. dan jujur menurutku pribadi kata meraung lebih tepat. untuk setelahnya, ku serahkan balik ke bang zen 👍
AELION: /Smile/
total 3 replies
Ren
Lucunyeee wkwkwk
Santos
Makin hot 🥵
Subasa
Wahhh yaohua cantik
Zen Feng
Silahkan tinggalkan komentar kritik dan saran untuk novel ini agar saya semakin semangat menulis, wahai para pembaca 😁
Abil Amar
ah kyak cerita naruto waktu kekashi dsalip am uchiha itachi am mata sharinggan
Zen Feng: Ah iya bang terinspirasi dari itu emang 😅
total 1 replies
Ragil Prasetyo
bagus tidak membosankan
Zen Feng: Terimakasih atas komentarnya mas ragil 🫡
total 1 replies
Meliana Azalia
Pahlawan berhati iblis 😭
Meliana Azalia
Jadi orang songong banget siy
Nanik S
Ternyata Hiroshi penegak Hukum malah lebih jahat
Santos
Gara” cewek sampe perang 😭
Ren
Gara-gara cewek 😭
Ren
Emang udah jodoh wkkwkw
Ren
Sadees bener bener iblis
Ren
Uhuuy
Nanik S
Anak buah Haikun
Nanik S
Lanjutkan
Nanik S
Lanjutkan Tor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!