Shaqila Ardhani Vriskha, mahasiswi tingkat akhir yang sedang berada di ujung kewarasan.
Enam belas kali skripsinya ditolak oleh satu-satunya makhluk di kampus yang menurutnya tidak punya hati yaitu Reyhan Adiyasa, M.M.
Dosen killer berumur 34 tahun yang selalu tampil dingin, tegas, dan… menyebalkan.
Di saat Shaqila nyaris menyerah dan orang tuanya terus menekan agar ia lulus tahun ini,
pria dingin itu justru mengajukan sebuah ide gila yang tak pernah Shaqila bayangkan sebelumnya.
Kontrak pernikahan selama satu tahun.
Antara skripsi yang tak kunjung selesai, tekanan keluarga, dan ide gila yang bisa mengubah hidupnya…
Mampukah Shaqila menolak? Atau justru terjebak semakin dalam pada sosok dosen yang paling ingin ia hindari?
Semuanya akan dijawab dalam cerita ini.
Jangan lupa like, vote, komen dan bintang limanya ya guys.
Agar author semakin semangat berkarya 🤗🤗💐
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rezqhi Amalia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Suka kamu
Sedari tadi Reyhan dan Shaqila mencari ruko yang pas namun belum satu pun yang menarik perhatian Shaqila.
Dengan mood yang hancur gadis itu membuka sosial media miliknya. Mata Shaqila yang semula nampak tidak semangat kini mendadak berbinar ketika ibu jarinya berhenti pada sebuah unggahan Instagram. Layar ponsel itu menampilkan hamparan kebun bunga dengan warna-warna yang seolah tumpah dari kanvas alam—ungu lavender, kuning matahari, merah muda mawar, dan putih bunga liar yang tumbuh berderet rapi.
Di bawah foto itu, tertulis keterangan singkat namun mengusik hatinya,
'Dijual! Kebun bunga beserta seluruh tanaman. Pemilik akan pindah kota dan tidak sanggup lagi mengurus.'
Tanpa menunggu lama, ia menggeser tubuhnya mendekat ke Reyhan dan memperlihatkan layar ponsel itu dengan antusias.
"Mas... lihat deh," ucapnya.
"Kebun bunga. Di jual karena pemiliknya ingin pindah kota," lanjut gadis itu lagi.
Reyhan menoleh, menatap layar itu beberapa detik lebih lama dari yang ia sadari. Ia melihat bukan hanya kebun bunga, tapi juga kilau di mata Shaqila...kilau yang sempat lama menghilang. Senyum tipis terbit di wajahnya.
"Yuk kita kesana," ucap Reyhan yang membuat Shaqila bersorak dan spontan memeluknya dari samping.
"Terimakasih mas," ucap gadis itu dan menyadarkan kepalanya dipundak Reyhan yang sedang menyetir. Entah dalam keadaan sadar atau tidak.
Yang jelas hal itu tentu saja membuat jantung Reyhan tidak karuan. Senyum tipis terpatri di bibirnya karena melihat Shaqila senang.
Perjalanan menuju lokasi terasa singkat. Pemandangan di luar jendela berlalu tanpa benar-benar ia perhatikan, pikirannya sudah melayang pada aroma tanah basah dan warna-warna yang ia lihat di layar ponsel tadi.
Sampai pada akhirnya mereka tiba, Hamparan bunga terbentang luas di hadapan mereka, lebih indah dari di foto.

Setelah perbincangan panjang dengan pemilik kebun, disertai tawar-menawar yang hangat dan penuh cerita, akhirnya kesepakatan tercapai. Saat pemilik lama menyerahkan kunci kecil dan surat kepemilikan, senyum Shaqila merekah begitu lebar, nyaris bergetar.
Ia melangkah ke tengah kebun, membiarkan dirinya tenggelam dalam dunia yang baru saja menjadi miliknya. Bunga-bunga berdiri anggun di sekelilingnya, seolah menyambut kedatangannya.
Gadis itu berhenti, menutup mata, lalu menghirup dalam-dalam udara yang sarat aroma—wangi tanah, daun, dan kelopak yang sedang mekar.
Angin berhembus lembut, memainkan helaian rambutnya yang terurai. Di wajahnya, ada ketenangan yang tulus, seolah segala beban yang pernah menyesakkan dadanya luruh bersama hembusan napas itu.
Reyhan berdiri beberapa langkah di belakang, memperhatikan pemandangan itu dengan hati yang hangat.
'Gadis itu cantik banget ternyata,' batin laki-laki itu.
"Kamu senang?" tanyanya.
Shaqila mengangguk, kemudian berbalik ke arah Reyhan dan berlari memeluk laki-laki itu. "Terimakasih banyak mas, aku suka banget lihatnya."
'Kenapa jantungku selalu berdetak kencang setiap di dekat dia. Rasanya senang melihat dia senang begini. Terlebih senangnya karena saya. Sudah tidak salah lagi, ini beneran cinta,'
batin Reyhan.
Ia membalas pelukan gadis itu, mencium aroma rambut gadis itu yang kini sudah menjadi candunya.
Shaqila tiba-tiba melepaskan menjauhkan dirinya saat sadar bahwa dirinya telah berani memeluk Reyhan.
Gadis itu nampak gugup, "Ma-maaf mas, saya lancang."
'Bodoh banget kau Qil, bisa-bisanya kebablasan meluk mas Reyhan. Kalo dia ilfil bagaimana,' batin Shaqila.
Reyhan tersenyum geli melihat ekspresi Shaqila yang menurutnya sangat lucu. "Tidak papa kok. Malahan saya suka."
Setelah mengucapkan kalimat itu, dia melangkah menjauh, melihat satu persatu bunga-bunga di tempat tersebut.
Sementara Shaqila membeku mendengar ucapan laki-laki itu. 'Gue tidak salah dengar kan,' batinnya.
Rasanya saat itu juga ia ingin berteriak dan melompat kegirangan.
Sampai suara Reyhan menyadarkannya.
"Kemarilah!" perintah Reyhan.
Shaqila pun melangkah dengan sangat gugup. 'Please Qila, tahan. Jangan sampai kelihatan seperti orang tidak waras lagi,' batin gadis itu.
Ia berusaha terlihat tenang walau dalam hatinya ingin berteriak.
"Ada apa mas?" tanya gadis itu.
"Sepertinya saya suka sama kamu," ucap Reyhan dan pergi meninggalkan Shaqila yang berdiri mematung setelah mendengarkan kalimat itu.
Tidak lama kemudian suara laki-laki itu kembali terdengar. Namun dari kejauhan. "Udah sore buruan kita pulang, lanjut besok lagi."
tapi aku juga jika ada di posisi Shakila stress sih