Cayra Astagina, sudah terlalu sering patah hati. Setiap hubungan yang ia jalani selalu berakhir dengan diselingkuhi.
Saat ia hampir menyerah pada cinta, seorang peramal mengatakan bahwa Cayra sedang menerima karma dari masa lalunya karena pernah meninggalkan seorang cowok kutu buku saat SMA tanpa penjelasan.
Cayra tidak percaya, sampai semesta mempertemukan mereka kembali.
Cowok itu kini bukan lagi si kutu buku pemalu. Ia kembali sebagai tetangga barunya, klien terpenting di kantor Cayra, dan seseorang yang perlahan membuka kembali rahasia yang dulu ia sembunyikan.
Takdir memaksa mereka berhadapan dengan masa lalu yang belum selesai. Dan Cayra sadar bahwa karma tidak selalu datang untuk menghukum.
Kadang, karma hadir dalam wujud seseorang yang menunggu jawaban yang tak pernah ia dapatkan.
Kisah tentang kesempatan kedua, kejujuran yang tertunda, dan cinta yang menolak untuk hilang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon diamora_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21. Pagi, Sahabat, dan Sisa Tatapan
Kadang, yang paling sulit dilupakan bukan cinta yang gagal... tapi tatapan yang belum kita pahami.
...Happy Reading!...
...*****...
"Woy, Caca!"
"Bangun!"
"Caca, bangun!"
Suara itu datang bertubi-tubi, persis seperti alarm darurat yang tidak bisa dimatikan. Ditambah sensasi tubuhku diguncang seperti karung beras yang sedang diturunkan dari truk.
Saat membuka mata, yang kulihat bukan cahaya surga atau malaikat pencabut nyawa, melainkan dua wajah dari masa SMA yang tiba tiba muncul seperti adegan kilas balik.
Satu di kanan, satu di kiri. Butuh beberapa detik agar otakku bisa loading. Tapi begitu kesadaranku kembali penuh, aku langsung bisa membedakan mana yang punya suara cempreng dan mana yang senyumnya selalu kalem seperti bidadari brand ambassador skincare mahal.
Yang di kanan sudah jelas Kezira Elvardyne Arasha. Dan yang di kiri, Veysha Nakerindra Almeira.
"Woy, bangun!" Zira kembali mengguncang tubuhku, kali ini lebih brutal. Nyaris membuatku tergelincir dari kasur dan mencium realita.
Zira menarikku agar duduk. Tenaganya tidak main main. Bahkan mungkin lebih kuat dari cowok gym freak langganan reels Instagram. Tidak heran. Dulu dia atlet taekwondo peraih medali emas nasional. Sekarang, selain menjadi pelatih, dia juga influencer yang vokal soal isu perempuan. Dari kekerasan fisik sampai pelecehan online, Zira selalu lantang bersuara.
Tahun dua ribu dua puluh dua, dia mendirikan komunitas bernama NARA. Singkatan dari Nyalakan Asa, Rayakan Arti. Filosofinya sederhana tapi mengena. Menyuarakan harapan dan merayakan eksistensi perempuan. Tidak gaduh, tapi tetap menusuk.
Kalau Zira adalah definisi galak luar dalam, Vey punya pesona yang lebih kalem dan rapi. Elegan, penuh wibawa. Tapi jangan salah. Kalau sedang ngomel, bisa lebih tajam dari eyeliner waterproof. Dulu dia bekerja di perusahaan besar. Sekarang dia ibu rumah tangga yang cantik dan istri dari anak pemilik perusahaan tempatnya dulu bekerja. Menantu sultan, kalau kata netizen. Anak orang kaya dari lahir, tapi katanya pernah bangkrut. Meskipun katanya lagi, itu hanya strategi agar dia belajar hidup mandiri.
Kegiatan Vey sekarang? Aktif di komunitas sosial bersama Zira. Dia tidak ragu menyuarakan pendapatnya. Padahal saat SMA, dia dikenal angkuh dan suka memerintah. Kecuali ke aku, tentu saja. Aku kan sahabatnya. Kalau ke aku dan Zira, dia justru terkenal royal. Sering mentraktir tanpa alasan. Selain arogan, dia memang boros.
Kalau tanya aku ikut komunitas itu atau tidak, jawabannya iya. Tapi statusnya member tidak tetap. Datang kalau sedang mood, absen kalau kerjaan numpuk. Statusnya masih terdaftar. Setidaknya biar tidak dikeluarkan dari grup WhatsApp.
Plak.
Bahuku kena tamparan ringan. Kali ini cukup nyaring. Pelakunya? Tentu saja Zira. Dan itu masih versi lembut. Kalau pakai tenaga penuh, mungkin aku sudah mencium ubin sekarang.
"Malah bengong. Ayo, buruan siap siap," katanya sambil melotot.
Aku mengerjap. Meregangkan tubuh. Mataku masih berat. Rasanya belum siap diajak bersosialisasi. "Ini masih jam berapa sih?"
"Sudah lewat jam enam. Revan aja sudah bangunin stand," jawab Zira santai seolah itu berita nasional.
"Stand apaan? Mulainya jam berapa?" Aku masih setengah sadar.
"Dari jam enam sampai jam sembilan," sahut Vey sambil melipat tangan dan menaikkan satu alis. Elegan sekali. Seperti sedang menyindir di talkshow pagi.
Aku menarik napas dalam. Oh benar. Aku hampir lupa. Hari ini kami punya jadwal turun ke taman kota. Kegiatan rutin komunitas NARA setiap Minggu pagi saat Car Free Day.
Namanya Paket Semangat. Sederhana tapi manis. Bukan brosur. Bukan orasi. Hanya sebotol air mineral, sepotong snack, dan secarik kertas bertuliskan pesan. "Untukmu yang pagi ini bangun dengan lelah, semoga harimu terasa ringan."
Sentuhan kecil, tapi hangat. Seperti pelukan diam diam dari semesta.
"Ya sudah, gue mandi dulu. Kalian ke taman kota aja duluan," ujarku sambil turun dari tempat tidur dengan langkah sisa mimpi.
"Enggak. Nanti lo malah ngilang," seru Zira cepat.
"Ya ampun. Gue kan sudah janji. Masa iya gue ingkar?"
"Kita tunggu di bawah aja deh," ucap Vey sambil menarik lengan Zira menuju pintu.
Zira sempat menoleh sebelum pintu tertutup dan berteriak seperti komandan upacara.
"Buruan mandinya. Tidak pakai lama."
Melihat tingkah mereka, aku cuma bisa tertawa pelan. Zira memang selalu on time. Tidak bisa lihat orang leha lebih dari lima detik.
Begitu kamar sepi, suara tawa mereka masih menggantung, tapi yang paling keras justru suara pikiranku sendiri.
Aku menguap. Mataku menatap langit langit kamar, seperti mencari jawaban yang tidak pernah datang. Diam. Lalu suara detak jam di dinding terdengar lebih keras dari biasanya.
Kenapa juga semalam aku jadi mikirin dia?
Padahal sudah bertahun-tahun berlalu, tapi rasanya tatapan itu masih sama.
Seolah waktu cuma lewat buat semua orang, kecuali kami berdua.
Saka Ardhananta. Pria yang baru saja kembali bertemu denganku setelah beberapa tahun berpisah. Pria yang kini menampilkan wajah dingin, nada bicara tajam, dan tatapan setajam orang yang punya dendam.
Sudah jelas bukan tipe yang bisa membuat orang tidur nyenyak. Tapi anehnya, justru itu yang terjadi. Aku tidak bisa tidur.
Pikiranku muter muter seperti drama episode delapan. Tentang caranya menatapku waktu aku ke rumahnya. Tentang caranya bertanya soal stiker kutu buku itu.
Apalagi saat dia bilang aku sebenarnya masih mengingat semuanya. Bahkan kenangan tentang dirinya. Seolah seluruh dunia harus tahu kalau dia sedang kecewa.
Gila. Aku benar benar butuh cleansing aura.
Sudahlah. Lupakan lelaki itu. Aku tidak boleh memikirkannya. Meskipun ya, dia kini jadi klien terpentingku. Dan juga alasan kenapa cintaku selalu gagal.
Tapi yang lebih penting sekarang adalah tidak membuat Zira membuka pintu dan menyeretku keluar pakai sabuk hitam taekwondo.
Aku menarik napas. Dinding kamar terasa sunyi. Tapi pikiranku justru makin ramai.
Kadang, yang paling sulit dilupakan bukan cinta yang gagal...
tapi tatapan yang membuat kita bertanya, apakah semuanya pernah sungguh ada?