NovelToon NovelToon
Penantang : Dari Sekolah

Penantang : Dari Sekolah

Status: sedang berlangsung
Genre:Spiritual / Action / Duniahiburan / Fantasi
Popularitas:751
Nilai: 5
Nama Author: Xdit

Rio Mahadipa adalah Korban bully di sekolahnya semasa dia Berada di sekolah menengah, tetapi saat dia tidur dirinya mendapati ada yang aneh dengan tubuh nya berupa sebuah berkat lalu dia berusaha membalas dendam nya kepada orang yang membully nya sejak kecil

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Xdit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ancaman - 4

Ravel berhenti sejenak, menatap Rio yang masih berdiri dengan senyum aneh itu. Udara di sekitar mereka terasa berat, seolah menahan napas. Perlahan, Ravel kembali tersenyum, matanya tertutup rapat seperti sebelumnya, senyum yang tenang tapi menekan.

"Seperti kau yang paling berbahaya ya..!."

 Kalimat itu terdengar ringan, tapi niat di baliknya jelas tidak main-main.

Dalam satu tarikan napas, tubuh Ravel menghilang dari tempatnya. Ia melesat lurus ke depan, jarak di antara mereka runtuh dalam sekejap. Tinju besarnya mengarah tepat ke dada Rio. Mata Rio membesar, refleksnya terlambat setengah denyut.

Panik singkat menyambar pikirannya, dan ia menyilangkan kedua tangannya di depan dada untuk menahan serangan itu. Benturan keras terdengar, tubuh Rio terpental jauh ke belakang, meluncur di udara sebelum akhirnya terlempar tak terkendali.

Namun Ravel tidak memberi ruang sedikit pun. Begitu Rio terpental, Ravel sudah bergerak lagi, mengejar tubuh yang masih melayang itu. Kecepatan mereka menciptakan kesan kejam, seperti pemburu yang tidak berniat memberi mangsanya waktu untuk bangkit.

Di tengah udara, wajah Rio justru berubah. Senyum lebarnya kembali muncul, matanya berkilat tidak wajar.

  "Haha ini menyenangkan!..Hey paman Kau tidak perlu serius untuk menaklukkan seorang bocah jadi tolong di itukan lalu ini nya !..'

Detik berikutnya, semua berhenti mendadak. Tangan kanan Ravel yang besar muncul dari sisi pandangan Rio, menutupi seluruh wajahnya.

 Genggaman itu menutup cahaya, menutup napas, menutup segalanya. Tanpa ragu, Ravel menghantamkan tubuh Rio ke tanah sekali lagi. Suaranya lebih keras dari sebelumnya, menghantam bumi dengan brutal.

"Berbicaralah dengan baik,..,bocah!.."

Tubuh Rio tergeletak diam. Senyum gilanya menghilang, matanya tertutup rapat. Kali ini bukan pura-pura, bukan permainan. Dia benar-benar pingsan, tak berdaya, tergeletak di hadapan Ravel yang berdiri tenang.

Ravel menatap Rio yang tergeletak pingsan, tubuhnya tidak bergerak sedikit pun. Ia memiringkan kepalanya, ekspresinya datar dengan sedikit rasa kecewa.

"Sudah?, hanya segitu saja??.., Aku serius hanya untuk hal ini??."

Suaranya terdengar ringan, seolah yang barusan terjadi bukan sesuatu yang besar. Setelah itu, Ravel membalikkan badan, langkahnya berat namun tenang, meninggalkan Rio di tanah tanpa sedikit pun rasa bersalah.

Pandangan Ravel kini tertuju pada dua anak yang tersisa.

"Satu anak nakal telah diberi pelajaran..., tinggal dua..."

katanya santai. Ia melangkah mendekat ke arah Kris dan Liam. Liam sudah berdiri dengan napas terengah, sementara Kris masih terduduk, tubuhnya kaku.

Mata Kris tidak lepas dari Rio yang terkapar. Dalam pikirannya, serangan barusan terasa terlalu kejam. Ada ketakutan yang menyesakkan dadanya, ketakutan bahwa Rio mungkin tidak akan bangun lagi.

Liam segera berdiri di depan Kris, memaksakan tubuhnya yang juga sudah kesakitan.

"Hey Kris bangun lah!!.."

teriaknya, berusaha menyadarkan temannya. Namun Kris hanya menatap kosong, matanya bergetar hebat. Ketakutan kehilangan seorang teman membuat pikirannya kacau.

Di saat yang sama, Ravel kembali melesat, kecepatannya menghapus jarak dalam sekejap, tangannya terangkat hendak menangkap kepala Liam.

Dengan sisa refleks yang ia miliki, Liam menunduk dan bertumpu pada kedua tangannya, lalu menendang dagu Ravel dari bawah. Tendangan itu tepat sasaran.

Mulut Ravel mengeluarkan darah, kepalanya sedikit terdorong ke atas. Namun ia hanya mengerang pelan, menahan rasa sakit itu. Tangan besarnya langsung mencengkeram kaki Liam sebelum Liam sempat menarik diri.

Tanpa ampun, Ravel menghantamkan tinjunya ke perut Liam. Benturan keras terdengar, napas Liam terhenti seketika. Tubuhnya terlempar dan jatuh terkapar di tanah, tidak bergerak, pingsan seperti Rio. Ravel melepaskan cengkeramannya dan berdiri tegak kembali, seolah tidak terjadi apa-apa.

Kris menyaksikan semuanya dengan mata terbuka lebar. Amarah, takut, dan putus asa bercampur menjadi satu.

"Kenapa tubuhku tidak mau bergerak...?.." gumamnya.

Matanya bergerak liar, lalu tangannya ikut bergetar hebat.

"Kumohon bergerak lah!!.. Rio... dan Liam... Aku harus menolong mereka!!.."

teriaknya dalam hati, hampir menangis.

Ravel berdiri dengan santai setelah membuat Liam pingsan.

"Dua anak telah diberi pelajaran sopan santun."

Ia lalu menoleh ke arah Kris, senyum tipis kembali muncul di wajahnya.

"Tinggal satu anak lagi..." katanya pelan, namun terasa jauh lebih menakutkan daripada teriakan mana pun.

1
DANA SUPRIYA
kasihan Rio, sabar ya walaupun sabar itu membuat hati kesal
lyks kazzapari
ya saya bantu dg like dan hadiah 😄
Rdt: wah makasih banyak,aku jadi ngerepotin kamu jadinya 😅
total 1 replies
Hans_Sejin13
jangan lupa bantu saya kak
Rdt: oke ,udah ku bantu
total 1 replies
Rdt
peak
Anisa Febriana272
Mampir, jangan lupa mampir juga ya.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!