Alzena Jasmin Syakayla seorang ibu tunggal yang gagal membangun rumah tangganya dua tahun lalu, namun ia kembali memilih menikah dengan seorang pengusaha sekaligus politikus namun sayangnya ia hanya menjadi istri kedua sang pengusaha.
"Saya menikahi mu hanya demi istri saya, jadi jangan berharap kita bisa jadi layaknya suami istri beneran"
Bagas fernando Alkatiri, seorang pengusaha kaya raya sekaligus pejabat pemerintahan. Istrinya mengidap kanker stadium akhir yang waktu hidupnya sudah di vonis oleh dokter.
Vileni Barren Alkatiri, istri yang begitu mencintai suaminya hingga di waktu yang tersisa sedikit ia meminta sang suami agar menikahi Jasmin.
Namun itu hanya topeng, Vileni bukanlah seorang istri yang mencintai suaminya melainkan malaikat maut yang telah membunuh Bagas tanpa di sadari nya.
"Aku akan membalas semua perbuatan yang kamu lakukan terhadap ku dan orang tuaku...."
Bagaimana kelanjutan polemik konflik diantara mereka, yuk ikuti kisahnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bundaAma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
-32
Udara di pagi di sebuah desa begitu sejuk, angin pagi yang dingin menusuk kulit dengan lembut namun cepat, matahari baru saja terbit di upuk timur namun suasana sebuah rumah di desa begitu panas, suara histeris di dalam rumah berbeda dengan suasana sejuk di luar rumah.
Bu Jemi menangis histeris saat Jasmin datang ke rumah yang ia jadikan tempat pelarian nya, di tambah Bu Netty yakni ibu Dimas ikut histeris dan kebingungan dengan kabar putranya yang ikut masuk tahanan.
"Aduh ibu, kita harus gimana ini?" tanya Bu Netty di sela-sela tangisan histeris nya pada Bu Jemi.
"Kok saya serem banget dengernya, saya baru tahu kalo anak saya tuh kerja nya begini...." ujar Bu Netty dengan Isak tangis yang tak kunjung berhenti.
"Saya juga bingung harus gimana Bu, keluarga saya udah gak ada begitupula keluarga suami, di tambah suami saya udah enggak ada...." jawab Bu Jemi yang tak kalah histeris mendengar kematian suaminya.
Yah, setelah menerima informasi dari Rendi atas kematian pak Jamok beserta kejanggalannya, ia buru buru meminta Rendi mencari di mana keberadaan Bu Jemi, sampai akhirnya ia tahu jika Bu Jemi pergi ke kampung halaman Dimas untuk mengantisipasi ia takut rumahnya jadi tempat perampokan karena ia tahu betul orang orang hm.corp akan mencari bukti agar hanya suami nya saja yang terlibat dengan perusahaan hm.corp.
Namun naas saat ia mencoba agar suaminya tidak dijadikan kambing hitam, suaminya malah tewas terlebih dahulu dengan mengenaskan, tak bisa di bayangkan seberapa hancurnya Bu Jemi saat ini.
Suaminya yang menjadi satu-satunya tempat nya bersandar kini telah meninggalkan nya tanpa aba aba, padahal baru hari kemarin ia bersama suaminya baik baik saja, namun hari ini ia malah ditinggalkan sendirian.
"Tidak ada waktu untuk menangis berlarut Bu, kita harus selangkah lebih maju dari mereka..." ujar Jasmin menggenggam tangan Bu Jemi berharap agar Bu Jemi merasa sedikit lebih tenang.
"Jadi maksud mu, kamu adalah istri muda Bagas?" tanya Bu Jemi di sela sela tangisnya, yang di jawab anggukan kepala oleh Jasmin.
"Ya Tuhan!!! Mengapa semuanya menjadi mudah untuk di rangkai...." jerit Bu Jemi ketika menyatukan semua puzzle yang menjadi pertanyaan di kepalanya.
"Karena itu saya datang kepada ibu, untuk membersihkan sedikit nama baik saya, Dimas dan juga Bapak, saya berharap dengan kita bersatu setidaknya menjadi kekuatan yang menonjol meskipun hanya sedikit..." ujar Jasmin mencoba menenangkan Bu Jemi dengan mengusap usap punggung tangan nya.
"Mengapa saya harus percaya sama kamu?" tanya Bu Jemi menatap tajam Jasmin meski matanya masih bergelinang air mata.
"Karena kita sama Bu, kita sama sama korban..." jawab Jasmin dengan tenang
"Kita sama sama terjebak.. Kita hanya dijadikan kambing hitam entah untuk apa, saya pun belum tahu motifnya karena saya benar benar tidak tahu siapa pelakunya..."
"Untuk itu saya berharap, sebelum saya ikut masuk ke dalam jeruji besi, nama bapak bisa sedikit bersih dan Dimas sedikit terbebas dari hukumannya..."
"Ibu tidak perlu percaya pada saya, karena kita belum saling mengenal satu sama lain, ibu cukup menganggap saya teman yang saling menguntungkan..." jawab Jasmin lembut dengan wajah tenang, meskipun ia belum tahu, kemana dan apa yang harus ia lakukan setelah ini.
"Baiklah, jadi asisten suami mu bilang jika penyadap di beli atas nama Bapak?" tanya Bu Jemi menyelidik.
"Iya Bu, menurut saya itu terlalu menonjol, mungkin penjebak terlalu terburu buru hingga meninggalkan bekas tindakan nya..." jawab Jasmin yang membuat alis Bu Jemi berkerut seolah bertanya 'memang nya kenapa?'
"Padahal kita semua tahu, politisi tidak akan membeli sembarang barang atas namanya, apalagi barang yang di belinya akan di gunakan untuk musuhnya, bukankah sama saja dengan bunuh diri jika memang begitu?" tanya Jasmin dengan kepala miring dan bibir yang tersungging menyeringai.
"Aisshhh.... Sialllll... Ternyata pemikiran mu bisa sampai sana, pantas saja Bagas memungut mu menjadi istri mudanya, ternyata tidak hanya untuk ranjangnya otak nya pun berfungsi..." ucap Bu Jemi yang terdengar seperti memuji.
"Jadi maksudmu, mereka membeli atas nama suami saya, mendapatkan foto kita saat di salon, lalu membuat cerita dengan..... Bahwa kita bersekongkol untuk menyadap ruangan Bagas...."
"Saya sebagai istri pembeli alat penyadap, Dimas perantara dan kamu sebagai pekerja?" jelas Bu Leni panjang lebar.
"Yah, singkat nya begitu, namun tak habis pikir nya, mereka terlalu bergaya kampungan bukankah jaman sekarang jika memiliki niat tidak baik seseorang akan bertemu diam diam di tempat tertutup, bukan di tempat terbuka apalagi di siang bolong?,..."
"Itulah yang membuat saya yakin, jika si penjebak terlalu buru buru, entah karena apa? Jika memang mereka tidak ingin rahasia mereka terbongkar, mereka akan bekerja hati hati dan lebih teliti, bukankah ini menunjukkan jika mereka retak?" tanya Jasmin.
"Saya yakin, banyak hal yang tidak saya ketahui, dan mungkin ibu bisa menerka siapa pelaku penjebakan kira kira, saya tidak akan bertanya karena saya tahu batasan saya sebagai diri saya yang bukan siapa siapa ibu..."
"Untuk itu coba ibu pikirkan baik baik, siapa kira kira pelakunya dan apa alasannya, dan untuk saat ini silahkan temui bapak terlebih dahulu setelah itu kita pikirkan lagi kedepannya kita harus bagaimana...." ucap Jasmin panjang lebar.
Sedangkan Bu Jemi ia hanya terdiam memikirkan dan mencerna setiap kata yang keluar dari opini yang Jasmin berikan, menurut nya cukup masuk akal apa yang di ucapkan oleh Jasmin, terlalu meninggalkan jejak jika di lakukan bersama sama dan hati hati, bukankah jika seketara ini dilakukan sendirian dengan terburu buru.
Tapi seingatnya pak Barren Tidka mungkin orang yang menjebak suaminya saat ini, karena seingatnya suaminya kali ini tidak di tahan atas kasus hm.corp, apalagi di tambah ucapan Lana, Rendi dan Jasmin yang mendapat kan kabar jika pak Jamok tidak membuka mulut atas perusahaan hm.corp, yang sempat Bagas temui.
"Sial!!!! Kira kira siapa pelakunya dan apa motifnya..."
Sepanjang perjalanan menuju rumah sakit Bhakti Sarjana, Bu Jemi tak henti hentinya menebak nebak siapa yang memiliki peluang untuk menjebak suaminya, namun semakin dipikirkan kepalanya semakin berdenyut hebat karena kebuntuan.
Lana yang melihat tingkah majikan nya yang memukul mukul kepalanya merasa iba karena ia pun cukup kebingungan dengan masalah yang sedang para majikan nya hadapi.
"Mungkin kita bisa cari tahu dari mulai kapan bapak melakukan pembelian alat penyadap, dari itu kita bisa tahu kapan dan dimana bapak menanda tangani nota pembelian...." ucap Lana setius tiba tiba saja, tanpa mengalihkan pandangannya dari depan mobil yang sedang ia kendarai.
saya siap membacanya kembali