Dihina dan direndahkan oleh keluarga kekasihnya sendiri, Candra Wijaya benar-benar putus asa. Kekasihnya itu bahkan berselingkuh di depan matanya dan hanya memanfaatkannya saja selama ini.
Siapa sangka, orang yang direndahkan sedemikian rupa itu ternyata adalah pewaris tunggal dari salah satu orang terkaya di negara Indonesia. Sempat diasingkan ke tempat terpencil, Candra akhirnya kembali ke tempat di mana seharusnya ia berada.
Fakta mengejutkan pun akhirnya terkuak, masa lalu kedua orang tuanya dan mengapa dirinya harus diasingkan membuat Candra Wijaya terpukul. Kembalinya sang pewaris ternyata bukan akhir dari segalanya. Ia harus mencari keberadaan ibu kandungnya dan melindungi wanita yang ia cintai dari manusia serakah yang ingin menguasai warisan yang ditinggalkan oleh orang tuanya.
Harta, Tahta dan Wanita "Kembalinya sang Pewaris. "
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reni t, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30
Sementara itu, Candra dan Bram diam-diam mengikuti mobil yang ditumpangi oleh orang-orang yang membawa Febriana Putri. Menembus kegelapan malam dan akan bergerak apabila situasi memungkinkan. Mereka tidak ingin gegabah dalam mengambil tindakan yang akan membahayakan nyawa Febriana dan nyawa mereka sendiri. Mobil berwarna hitam itu melaju tepat di depan, kedua mata Bram nampak fokus dan senantiasa mengikuti, tidak ingin sampai kehilangan jejak mereka.
"Cepat sedikit, Bram. Jangan sampai kita kehilangan mereka," pinta Candra, duduk di jok samping seraya menatap mobil yang membawa sang ibu di depan sana.
"Iya, Pak Bos. Anda tenang, ya. Kita gak akan kehilangan mereka," jawab Bram, tanpa menoleh. Tatapan matanya nampak lurus memandang ke depan. "Saya minta Anda tidak gegabah, Pak Bos. Kita kalah jumlah, tak ada gunanya melawan mereka dengan otot, sebagai gantinya kita harus pake otak. Kita atur strategi agar bisa menyelamatkan Ibu Anda tanpa harus melawan mereka."
"Gimana caranya, Bram?"
"Setelah kita tau di mana mereka menyekap Ibu Anda, kita akan diam-diam membawa Ibu Anda keluar dari sana."
Candra menepuk pundak Bram, seraya memandang wajahnya dari arah samping. "Kamu benar, Bram. Jangan sampai mereka menyadari kehadiran kita. Eu ... terima kasih karena kamu udah mau bantu saya."
Bram tersenyum lebar. "Sama-sama, Pak Bos. Sudah menjadi kewajiban saya membantu Anda, tapi Anda jangan sampai lupa sama janji Anda."
"Pastilah, setelah masalah ini selesai dan kita berhasil menjebloskan Rosalinda ke penjara, saya akan memberikan salah satu cabang perusahaan buat kamu. Kamu tenang aja. Saya gak akan ingkar janji."
"Terima kasih, Pak Bos, tapi apa Mbak Erlin akan baik-baik aja kita tinggal di rumah itu? Saya khawatir dia--"
"Kamu tenang aja, selama Rosalinda tak mengetahui hubungan kami, semuanya akan baik-baik aja. Lagian, Erlin juga jago berkelahi, saya yakin dia bisa jaga dirinya sendiri."
Bram mengangguk-anggukkan kepala tanda mengerti. Ia sudah melihat sendiri kemampuan berkelahi wanita bernama Erlin. Di awal pertemuan mereka, dirinya sempat dibuat terpukau dan ketakutan saat wanita itu hampir saja menendang wajahnya menggunakan high heels yang dia kenakan dan itu sudah cukup menunjukkan bahwa wanita itu memiliki kemampuan bela diri yang lumayan. Semoga Erlin bisa menjaga diri dan misi mereka berhasil tanpa ada satu pun yang terluka.
"Maafin saya, Erlin. Saya terpaksa ninggalin kamu di sana. Saya gak mau sampai kehilangan jejak Ibu kandung saya," batin Candra, seraya menyandarkan punggung di sandaran jok mobil.
Sampai akhirnya, mobil tersebut mulai melipir dan memasuki pintu gerbang sebuah Rumah Sakit Jiwa. Sialnya, di sanalah orang-orang suruhan Rosalinda menyadari bahwa mereka sedang diikuti karena mobil yang ditumpangi oleh Candra turut memasuki area yang sama.
"Rumah Sakit Jiwa?" gumam Candra, kedua matanya seketika membulat sempurna. "Jadi, Ibu saya akan dimasukan ke Rumah Sakit Jiwa, padahal dia gak gila."
"Gawat, Pak Bos," seru Bram, saat melihat mobil yang mereka ikuti tiba-tiba berhenti tepat di depannya. Padahal, area parkir yang seharusnya masih berada di ujung sana.
"Ada apa, Bram?" tanya Candra, seketika mengerutkan kening seraya menatap mobil yang berhenti tepat di depan mobil yang ia tumpangi.
Bram sontak menginjak pedal rem. "Sepertinya, mereka tau kalau kita mengikuti mereka, Pak Bos. Bagaimana ini?"
"Sial," umpat Candra dengan tangan mengepal.
Empat orang pria nampak keluar dari dalam mobil tersebut, melangkah menghampiri lalu mengetuk pintu mobil dengan kasar membuat Candra dan Bram terdiam dengan perasaan berkecamuk. Rencana mereka untuk menyelamatkan Febriana tanpa harus menggunakan otot seketika gagal total dan terpaksa melawan dengan resiko yang sangat besar karena mereka kalah jumlah. Empat lawan dua, apakah mereka sanggup mengalahkan orang-orang suruhan Rosalinda dan menyelamatkan wanita bernama Febriana Putri?
Bram menarik napas panjang lalu menghembuskannya secara perlahan, seraya menatap empat orang pria bertubuh besar yang tengah melangkah menuju mobil miliknya. "Tak ada pilihan lain lagi, Pak Bos. Mau gak mau kita harus melawan mereka," ujarnya seraya menoleh dan memandang wajah Candra Wijaya.
Candra menganggukkan kepala, kedua tangannya nampak mengepal sempurna sebelum akhirnya membuka pintu mobil saat orang-orang tersebut berada tepat di luar sana.
***
Sementara itu, Erlin nampak kebingungan saat Rosalinda meminta Doni untuk membawanya. Setelah mengangguk patuh, Doni segera mencengkram kuat pergelangan tangan wanita itu dengan penuh tenaga.
"Apa-apaan ini, Nyonya? Kenapa Anda tiba-tiba seperti ini? Salah saya apa?" tanya Erlin seraya menggerakkan tubuhnya sedemikan rupa, berusaha untuk melepaskan diri.
Rosalinda mencengkram kedua sisi wajah Erlin dengan keras seraya menatap wajahnya tajam bak hewan buas siap untuk menerkam. "Apa-apaan? Apa-apaan kau bilang?" bentaknya, suaranya menggelegar hingga terdengar memantul di udara. "Kau lupa sama apa yang pernah aku katakan sama kau, hah? Aku gak akan pernah memaafkan pengkhianatan dan kau, orang yang sangat aku percaya berani mengkhianati aku!"
Tubuh Erlin seketika gemetar, dari mana Rosalinda tahu bahwa dirinya telah berkhianat? "Apa maksud Anda, Nyonya? Siapa yang berkhianat? Saya gak pernah mengkhianati Anda!" jawab Erlin dengan suara lantang.
Telapak tangan Rosalinda seketika melayang ke udara lalu mendarat di wajah Erlin keras dan bertenaga hingga wajahnya terlempar ke arah samping. "Pembohong! Berani kau membohongi aku, hah? Aku tau Erlin, aku tau kau sudah berkhianat, dan sekarang kau akan mendapatkan hukuman karena udah berani mengkhianati aku," tegas Rosalinda, lalu mengalihkan pandangan mata kepada Doni. "Cepat bawa dia dan ikat dengan kuat, jangan sampai dia kabur, Doni."
Doni mengangguk patuh. "Baik, Nyonya," jawabnya lalu hendak membawa Erlin.
Akan tetapi, Erlin tiba-tiba menyikut dada Doni dengan sekuat tenaga, memutar badan lalu hendak mendaratkan kepalan tangannya di wajah pria. Namun, gerakan tangannya seketika terhenti saat Doni tiba-tiba mengeluarkan pistol dari saku jas hitam yang ia kenakan dan mengarahkannya tepat di depan wajah Erlin. Tubuhnya terbeku, kedua kakinya seketika gemetar, perlahan menurunkan pergelangan tangannya dengan dada naik turun.
"Sial," umpatnya dengan kesal.
"Sedikit saja kamu bergerak, aku akan mengirim mu ke neraka, Erlin," ujar Doni, dengan napas tersengal-sengal karena dadanya sempat dihantam keras oleh Erlin.
Rosalinda tersenyum menyeringai, di saat bersamaan, ponsel canggihnya pun berdering, wanita paruh baya itu meraih ponsel canggihnya dari dalam saku dress yang ia kenakan, menatap layarnya sejenak sebelum akhirnya mengangkat sambungan telepon.
"Halo," sapanya, meletakan ponsel di telinga.
"Halo, Nyonya. Anu ... eu ... ta-tawanan kita lepas, Nyonya. Candra dan kawannya berhasil membawanya kabur," samar-samar terdengar suara seorang pria di dalam sambungan telepon.
Kedua mata Rosalinda seketika membulat terkejut dan murka. "Apa? Dasar brengsek," umpatnya, segera menutup sambungan telepon saat itu juga.
"Tahan, Doni. Biarkan Erlin hidup sebentar lagi," pintanya kepada Doni.
Bersambung ....
lh
sekarang ohhh ada yang sengaja niat
jahat menculik Candra jadi tukang sapu jadi viral bertemu orang tua nya yang
tajir melintir setelah hilang 29 th lalu
👍👍
jangan mendekati viona itu wanita
ga benar tapi kejam uang melayang
empat jt ga taunya menipumu Chan..😭